"Mak terima kasih, Mbak Elfa sudah membelikan sepeda untuk, Davin. Aku gak tahu harus bicara apa, makasih ya, Mak."
Kinanti menatap Mak Tini yang sedang memetik sayuran.
Mak Tini tersenyum. "Ya, Almarhum Bapakmu juga baik dulu sama, Mak. Mak berhutang budi sama Bapakmu dulu, Jadi sudah jangan dipikirkan ya."
"Uangnya nanti aku ganti pas gajian saja, Mak."
"Iya. Tenang saja. Kinan kayak Mak ini siapa saja. Sudah itu sepeda hadiah dariku untuk, Davin."
Kinanti tersenyum. "Mak ini berlebihan."
"Lo apanya yang berlebihan, dulu waktu suamiku sakit, Bapakmu yang membantu biaya berobat. Kinan jadi sudah anggap saja bonus dari, Mak."
"Emm, terima kasih, Mak."
"Ya. Terus kenapa mukanya sedih gitu?"
Kedua netra Kinanti mengembun. "Rindu, Davin. Mak."
"Sudah-sudah semangat. Jika kakakmu tak membebanimu mungkin kamu tak harus kerja ke sini, kan."
"Hu um. Tabunganku semua habis, Mak. Termasuk aku dikeluarkan dari rumah sakit karena ulah kakakku."
"Jadi."
"Dia berantem, Mak. Dan mak tahu sendiri kan dia dipenjara sekarang. Mungkin ada temanku yang mengadu hingga aku diberhentikan dari rumah sakit. Dan beberapa lamaramku belom juga dapat panggilan untung Mak Tini pas pulang kemarin alhamdulillah rezekinya, Davin bisa bekerja di sini."
"Benar sih tapi apa hubungannya kenapa kamu jadi di pecat?"
"Entahlah, Mak. Jadi yang berantem sama Kakakku itu anak pemilik saham salah satu di rumah sakit itu. Sepertinya ada yang tak suka aku bekerja di sana."
Mak Tini memegang bahu Kinanti. "Sudah jangan bersedih, Kinan."
"Hu um. Terima kasih, Mak."
"Sama-sama, Kinan."
Tiba-tiba suara langkah kaki menyadarkan mereka berdua yang lagi membicarakan Davin putra Kinanti. Dengan cepat mereka terdiam. Karena Kinanti menginginkan Davin untuk dirahasiakan.
"Mak, tolong bikinin kopi." Suara Sadewo membuat Kinanti bergidik nyeri.
"Nggeh, Den ditunggu."
"Mak aku ke kamar, Non Letta dulu ya."
"Ya sudah, sana."
Sekuat apa pun upaya Kinanti untuk terdengar baik-baik saja, itu hanya mustahil nyatanya kali ini ia sangat terluka.
Kinanti mengulum senyum pada Mak Tini. Lalu melanjutkan langkah. Jarak Kinanti dengan Sadewo tersisa dua langkah, Kinanti tak berhenti juga tak menoleh dan mencoba menarik napas. Kinanti berjalan tak sedikitpun ia melihat ke arah Sadewo. Hatinya begitu sakit saat melihat laki-laki itu. Ia berjalan ke arah kamar Letta, seperti biasa merapikan tempat tidur menyuruh Letta Salat Subuh menyuruhnya mandi dan mendandani Letta.
Yang pertama Kinanti lakukan adalah merapikan rambutnya yang lembap dan berantakan. Lalu menyisirnya mengepang rambutnya, merapikan baju serta membuat Letta tersenyum di pagi hari ini. Senyum Letta kini bisa menguatkan hatinya yang kini rapuh dan patah.
"Mbak aku malas ikut bimbingan belajar." Kesal Letta.
"Kenapa jika aku jadi, Non Letta aku akan senang. Karena tak semua bisa seperti, Non lo."
"Kenapa?"
"Ya, karena mereka tak punya uang buat belajar apalagi les privat itu kan mahal banget, Non. Jadi dikampung Mbak itu semua serba mahal jadi ya Non Letta harus semangat."
Letta manggut-manggut. "Oh, begitu, Mbak."
Kinanti menggeleng dengan senyum tipis. "Ya tentunya, mendapat pelajar privat bisa mendapatkan fasilitas yang bagus jadi jangan disia-sia kan, Non."
"Hemm, baiklah."
Kinanti tersenyum. Kembali ia usap pipi Letta yang juga tersenyum.
"Ayo sarapan."
"Iya, Mbak."
Kinanti mengangkat tangan untuk mengusap puncak kepala Letta. Lalu mengandeng Letta le arah meja makan yang sudah penuh dengan keluarga Pak Wijaya disana. Gaji yang ditawarkan jauh lebih besar dari gaji yang biasa Kinanti terima sebelumnya di rumah sakit. Selain itu, Davin makin butuh banyak biaya sekolah.
Kinanti menyuapai Letta dengan menu sarapan nasi goreng yang telah Mbak Dini siapkan, Kinanti hanya menunduk terus menyuapai Letta tanpa memperdulikan ucapan yang ada di ruangan itu. Tanpa ia sadari Sadewo memperhatikan Kinanti yang diam seribu bahasa.
"Mbak Kinan."
"Eh, Iya."
"Melamun saja."
Kinanti hanya tersenyum.
"Lupa aku kemarin dapat nilai sepuluh lo, Ma karena diajarin Mbak Kinan."
"Benarkah, apa itu?" tanya Ayuning.
"Jadi menghapal surah Al-Fiil. Juga artinya, Ma."
"Benarkah."
"Iya. Letta bisa menjawab semua pertanyaan guru termasuk kisah gagalnya usaha penghancuran Ka'bah oleh Raja Abrahah bersama enampuluh ribu tentaranya karena bantuan burung ababil yang diperintah sama Allah."
"Wah keren sekali anak mama, makasih ya, Kinan."
Kinanti mengangguk pelan. "Sama-sama, Non Ayuning."
Haruka terlihat tampak kesal. Begitupun Sadewo ia hanya menarik napas berat.
"Pagi semua." Suara Lingga memecah keheningan ruang makan.
"Lingga lama tak kesini kemana?"
"Sibuk, Budhe."
Kedua netra Lingga menatap ke arah Kinanti. "Wah cantik sekali siapa, Letta."
"Mbak Kinan, Om."
"Oh, cantik namanya sama kayak orangnya."
"Hmm, kebiasaan." Jelas Pak Wijaya.
Kinanti dan Letta pamit. Kinanti membisikkan pada hati sekaligus untuk menguatkan tekad. Karena sesungguhnya, memang itu kenyataannya. Pergi adalah pilihan yang paling tepat.
"Suatu saat, aku pengin punya istri selembut dia." Lingga bermonolog.
"Mimpi saja kamu ini." Ejek Ayuning.
"Lihatlah dia sangat sopan kan."
Sadewo merasa kesal dan memukul lengan Lingga.
"Aduh, kenapa benar kan apa kataku."
"Kayak gak ada wanita lain aja yang lebih kelas." Jelas Haruka.
"Yang kelas sudah banyak Mbak Ruka, yang mendua juga banyak makanya carinya yang aman-aman saja yang dari kampung misal, Mbak Ruka." Sindir Lingga.
"Lingga-Lingga sudah makan? Pagi-pagi ngelantur." Jelas Pak Wijaya.
"Ya Pakdhe."
Hati Sadewo seakan-akan tengah memastikan bahwa dugaannya benar, mantan istri nya itu memang selalu memikat, wanita yang sengaja menghilangkan diri darinya sejak sepuluh tahun lamanya. Sadewo memaksa melupa kenangan. Harus Sadewo akui, pertemuan kembali setelah sepuluh tahun begitu mudahnya melahirkan rindu lagi dalam dirinya.
"Dewo, hari ini kita berangkat pagi. Ada meeting penting." Jelas Lingga.
"Soal."
"Ketemu sama kontraktor yang akan merevisi perusahaanmu."
"Oh sekarang."
"Hu um."
Mereka akan menemui seorang arsitektur dan juga kontraktor yang Sadewo jadwalkan dari minggu lalu.
***
Jam delapan pagi, usai sampai di sebuah kafe janjian, mereka melangkah menuju tempat yang sudah dipesan.
"Masih ada yang harus saya kerjakan, Lingga. Kamu tidak apa-apa di sini sebentar?"
Lingga menaikan bahunya. Sadewo sungguh jenis laki-laki yang tak bisa menyembunyikan perasaannya. Lingga tahu jika sepupunya itu punya masalah.
"Nggak apa-apa. Ini juga kurang sepuluh menitan."
Sadewo mengulum senyum. "Nanti aku segera kembali."
"Ya."
Sadewo keluar sebentar karena ada sedikit perlu. Sementara Lingga yang menemai meeting kali ini, Sadewo percaya jika Lingga ahlinya mengenai pekerjaannya itu. Sadewo biasanya tinggal beres saja. Saat Sadewo kembali dan bersalaman kepada Kontraktor dan arsistek yang akan membangun gedungnya ia terperanjat kaget melihat siapa lelaki yang di depannya itu.
"Kau?"
"Hariz."
Hariz bangkit dari duduknya dan dengan penuh emosi ia mendorong tubuh Sadewo hingga membentur tembok lalu memukulnya dengan keras.
"Bughhh ..."
"Lepaskan, sudah lepaskan." Panik Lingga melerai Hariz yang terus memukuli Sadewo.
"Kau laki-laki breng---sek."
Sadewo kesakitan. Ujung bibirnya mengalir darah segar.
"Pak, ada apa ini? Beliau pemilik perusahaannya."
Hariz tersenyum sinis. "Oh dia pecundang ini. Katakan aku tak butuh kerja sama dengan dia." Jelas Hariz.
"Eh, apa masalahmu?" tanya Lingga panik.
Hariz lantas melepaskan cekikannya, lalu melangkah mundur.
"Tidak apa-apa, aku hanya benci lelaki pecunda**ng, tak tanggung jawab, ban**ci lo," katanya seraya mengepalkan tangan.
Perasaan Sadewo tak bisa dibilang baik-baik saja saat tangan Hariz siap memukulnya lagi.
"Sudah sana pulang. Aku tak mau bekerja sama denganmu yang bisanya hanya menyakiti wanita." Lagi-lagi Hariz merasa kesal.
"Oke, aku yang menyakiti. Bukankah kamu yang punya Affair dengannya." Pekik Sadewo.
Hariz tertawa. "Kau lic**ik. Tapi lihatlah kau telah kalah, kehilangan mutiara hanya untuk benalu seperti Haruka itu."
Kepala Sadewo mendadak sakit, ia terdiam.
"Jangan samakan aku dengan dirimu. Aku tak serendah itu. Kalaupun aku mau apa Kinan mau hah? Kau jauh mengenalnya bukan? Tapi kau terlalu naif."
Sadewo menoleh. "Kamu?"
"Apa. Aku tak butuh kerja sama denganmu. Ayo kita pergi." Ajak Hariz pada rekan pekerjanya.
"Tapi, Pak. Bukankah tadi sudah deal."
Hariz menggeleng. "Tidak usah. Aku batalkan. Aku tak mau bekerja sama dengan lelaki yang memanfaatkan wanita baik."
Hariz pergi meninggalkan Sadewo dan Lingga yang masih kebingungan.
"Ayo aku bantu, ada apa ini, Dewo?" tanya Lingga saat menuntun Sadewo duduk ke kursi
Sadewo tak menjawab.
"Bahkan kau tak membalas pukulannya. Hei ada apa denganmu, Bung?"
Sadewo terdiam. "Tak apa."
Beberapa menit kemudian, Sadewo benar-benar tak bisa menahan karena perih di pipi.
"Kita ke Dokter?" tanya Lingga.
"Pulang."
Lingga menuntun Dewo menuju salah satu mobil yang terparkir.
"Masuk pelan-pelan!" katanya setelah pintu mobilnya terbuka.
"Hmm."
"Siapa dia? Tumben tak balas biasanya kamu jagonya?" tanya Lingga penasaran.
Sadewo tak menjawab. Ia masih menyiratkan beragam emosi. Jika Hariz telah sukses kenapa dengan Kinanti mau bekerja sebagai pengasuh? Terus dulu itu?
"Ehm!" Lingga berdehem.
"Sudah bukan apa-apa."
"Ini proyek besar ya. Dengan mudahnya ia membatalkannya, Bung. Siapa wanita yang dimaksud Pak Hariz itu, hah."
Sadewo menggaruk kepala tampak salah tingkah.
"Soal wanita? Benar? Siapa?"
Sadewo menggelengkan kepala.
"Ya ampunn, Dewo."
Sepanjang perjalan menuju rumah. Sadewo dan Lingga sama-sama bungkam. Hingga mobil telah sampai di depan rumah mewah milik keluarga Sadewo.
***
Lingga menuntun Sadewo dan menuyuruhnya duduk si sofa.
"Dewo, kamu kenapa, Nak?" tanya Bu Astuti cemas.
Setelah melihat wajah dari penuh darah, Bu Astuti panik. Dengan mata menyipit, ia memandang anaknya itu dari ujung kaki sampai ujung kepala. "Dewo ada apa ini?" Teriak Bu Astuti.
"Tak apa, Bu."
"Astaga, Mak Tini panggilkan dokter, Faisol. Mak."
"Nggeh, Nyah."
Setengah berlari, Mak Tini mengambil telepon lalu memencet nomor dokter pribadi mereka.
"Lingga kenapa ini?
"Emm tadi ada orang gila ngamuk, Budhe sebelum meeting."
"Astaga, Dewo."
"Aduh maaf, Nyah. Katanya dokter Faisol lagi umroh."
"Astaga bagaiman ini? Kita ke rumah sakit ya, Nak."
"Sudah Bu. Ini hanya luka kecil besok juga sembuh."
"Sembarangan kamu ini."
"Dewo gak papa kok, Bu." Jelas Sadewo.
Bu Astuti napak panik. "Dini ambilkan air hangat ya."
"Ngeh Nyah."
"Kita minta tolong Kinanti saja, Nyah. Dia kan perawat." Jelas Mao Tini cemas.
"Perawat?"
"Ngeh Nyah."
"Panggilkan dia kalau begitu, Mbok."
"Masih mengantar, serta menemani Non Letta lomba menggambar Nyah."
"Terus bagaimana ini, telepon Pak Mus. Bawa Kinanti pulang sekarang." Perintah Bu Astuti.
"Nggeh Nyah."
Bu Astuti dilanda cemas, beliau lantas mengulurkan tangan, mengusap rambut Sadewo perlahan. Sebagai Ibu yang paling tahu bagaimana Sadewo, selama ini tak pernah bertingkah di luar batas.
"Kinanti?"
Sadewo buru-buru menoleh dan menemukan wanita itu berdiri tak jauh darinya dengan kedua tangan meremas. Tatapannya menyiratkan rasa penasaran yang sangat.
"Tolong batu, Dewo. Kinan," ucap Bu Astuti saat tiba di hadapannya.
Kinanti menatap Sadewo dengan satu alis terangkat.
"Baik, Nyah." Kinanti mengangguk. Masih dengan senyum menggantung di kedua sudut bibirnya.
Jawaban Kinanti membuat Bu Astuti mengembuskan napas lega.
Tidak bisakah membawanya ke rumah sakit? Kenapa? Tapi hanya luka luar Kinanti paham jika Sadewo pasti keukeuh tidak ingin mendapatkan pertolongan di rumah sakit. Kinanti tidak boleh diam mematung, ia tidak boleh diam jika ada Sadewo saat ini membutuhkan pertolongan. Terlebih mereka semua memaksa Kinanti untuk melakukannya. Setidaknya Kinanti bisa melakukan pertolongan pertama.
"Ambilkan saya kain kasa juga kapas. Mak," kata Kinanti sambil mendekati sofa. Dan duduk bersimpuh di samping Sadewo. Wajahnya terlihat biasa saja, seperti sudah terbiasa.
Mak Tini memberikan beberapa handuk pada Kinanti. Segera membersihkan luka dengan alkohol juga kapas, dengan pelan ia membersihakan lukanya.
"Peralatan apa yang kamu butuhkan? Biar kami persiapkan, Kinan? " Wanita paruh baya itu bicara dan menatap Kinanti penuh pengharapan.
"Maaf, saya hanya bisa melakukan perawatan tapi sebaiknnya belikan salep juga obat pereda nyerinya."
"Kamu perawat, tentu tahu bukan obat dan salepnya?"
"Iya akan aku catatkan, Nyonya."
"Terima kasih, Kinanti."
Kinanti sedang menulis resep di sebuah kertas biasa dan diberikan pada Bu Astuti. "Ini obat pereda nyeri. Semoga apotek mau memberikannya tanpa ada surat keterangan dokter, Nyonya."
"Ya semoga saja."