Tak diberi pilihan

1596 Kata
Setelah selesai membersihkan dan menutup luka pakai kain kasa. Kini tugas Kinanti selesai. Pak Mus juga sudah datang dengan resep obatnya tadi. Kinanti membersihkan wadah tadi, membuang kapas yang penuh darah ke dalam kantung pastik lalu memberikan pada Mbak Sari. "Mak Ti kasih makan dulu buat, Den Dewo. Dia harus makan. Setelah itu Mak Ti baru boleh menyuruhnya minum obat." Mak Tini mengangguk dan berjalan ke arah dapur mengambil makanan untuknya. "Apa lukanya serius, Kinan?'' tanya cemas Pak Wijaya. Kinanti tersenyum. "Hanya luka luar, Tuan. Besok juga sudah kempes luka memarnya." Pak Wijaya mengangguk. Bu Astuti mengelus rambut Anaknya. "Syukurlah kalau begitu." Mak Tini datang dengan nasi sayur juga ayam kecap. "Makanlah, Anda harus minum obat," bujuk Kinanti. "Mana obatnya?" "Anda harus makan dulu, Den Dewo karena ini obat keras." "Aku bisa minum obat tanpa makan," elaknya. "Jangan keras kepala. Saya tidak ingin di salahkan jika terjadi sesuatu dengan, Anda. Den Dewo." Kesal Kinanti. Bu Astuti menggelengkan kepala. "Dewo, nurut lah kalau tidak kita ke rumah sakit." "Aku tak akan mati semudah itu. Bu." "Hust, Dewo." Bentak Pak Wijaya. Akhirnya Sadewo mau makan meski tidak dihabiskannya. Kini giliran Kinanti memberikan beberapa obat pereda nyeri, antibiotik. "Dewo kemana lagi istrimu itu?'' tanya kesal Pak Wijaya. Sadewo terdiam. "Suami sakit eh pergi. Istrimu itu Kinanti apa Haruka sih?'' Glek. Sadewo terdiam. "Yowis. Jaga dia, Mak Tini." "Nggeh, Nyah." "Saya permisi dulu, Nyonya, Tuan." Pamit Kinanti. "Ya terima kasih Kinanti." "Sama-sama, Nyonya." *** Bu Ayuning menatap ke arah mak Tini. "Mak." "Nggeh, Nyonya." "Jadi Kinanti itu perawat toh?" tanya penasaran Bu Astuti. "Eloh, bukanya ada di surat lamarannya yang waktu itu, Nyonya?" Bu Astuti menggelengkan kepala. "Aku gak ngeh sih hanya tahu yang kulihat hanya lulusan, SMA saja, Mbok. "Dia lulusan keperawatan, sudah lama juga bekerja di rumah sakit. Desis yang berembus jika ia di keluarkan karena tak mau di madu oleh pemilik rumah sakit itu, Nyonya." Sadewo menatap ke arah Mak Tini, meski nyeri akibat lukanya. Namun telinganya masih bisa mendengarkan jelas cerita Mak Tini. Bu Astuti nampak kesal. "Apa. Di madu?" Mak Tini mengganguk. "Nggeh, tapi Kinanti gak mau." "Oh." "Kinanti gak jujur kalau, Mak tanya kenapa keluar? Katanya ada yang gak suka begitu saja." "Jarang lo, Mak. Wanita bisa memegang prinsip begitu." Kuping Sadewo perih mendengarnya. Semua ucapan Mak Tini membuat Sadewo ingin menjerit. Di sini Sadewo hidup berkecukupan, memiliki istri, serta keluarga utuh, tapi sayangnya Sadewo telah jauh dan tak bisa memiliki jiwa dan raga Kinanti. "Nah itu Nyonya. Beberapa lamaran kerjanya juga ditolak karena pemilik itu mengancam rumah sakit lain jika menerima Kinanti. Makanya saya bawa ke sini, Nyonya. Kasihan." "Ya. Keputusan, Mak Ti benar." "Jangan sampai Kinanti tahu, Nyonya. Mak hanya kasihan saja jika ia menginggat semuanya." Bu Astuti mengangguk. "Ya siap, Mak." Sadewo hanya memperhatikan pembicaraan Ibunya dan Mak Tini. Sudah lama ia tak memperhatikan kehidupan Kinanti, bahkan jika Kinanti bersama Hariz tak mungkin Hariz memperbolehkannya bekerja sebagai pengasuh. Ada apa sebenarnya dengan Kinanti? Lalu Vidio saat Kinanti ditaman dengan Hariz itu? Entahlah, Sadewo begitu lama telah kehilangan jejaknya. *** Malam hari Kinanti membantu Mbak Dini setelah ia menidurkan Letta. "Jadi gak papa lukanya, Kinan?" "Gak parah kok, Mbak Dini." "Syukur deh." "Kenapa, ya itu, Den Dewo?" tanya Kinanti balik. "Entahlah. Kulihat setiap malam, Den Dewo tak pernah tidur. Saat malam sekitar jam setengah tiga aku bangun mengantar Sari ke ruangan belakang. Saya melihat, Beliau ada di balkon kamarnya, Kinan." "Maksudnya kamar, Den Dewo dan Non Haruka?" "Em begitu sih yang kami lihat." 'Astaga ada apa ini? Apa hubungan mereka berdua baik-baik saja?' "Kinan badan, Den Dewo menggigil panas." Adu Mak Tini yang baru saja datang. "Panas?" "Iya." "Baiklah, siapkan makanan untuk, Den Dewo biar aku yang bawakan Mbak Dini." "Baik." Kinanti diantar Mak Tini ke kamarnya Sadewo. Mereka berdua masuk dan Sadewo terbaring diatas ranjang king size. Begitu Kinanti perhatikan benar, ia memang terlihat pucat. Sementara lelaki itu terdiam di tempatnya menatap Kinanti sekilas. Dia masih tampak shok atas apa yang terlihat dan terjadi di hadapannya mungkin karena melihat Kinanti. Kemudian dia perlahan memalingkan wajahnya. Ruangan bersuhu dingin itu tiba-tiba berubah memanas. Kinanti menunduk dengan jari jemari meremas. Kinanti gelisah. Sementara Mak Tini menaruh makanannya disamping meja dekat ranjang. "Ikuti apa kata, Kinanti. Dewo agar kau cepat pulih." Suara Bu Astuti dari belakang Kinanti terdengar. Sadewo terdiam. "Apa boleh di injeksi atau impus, Nyonya?'' "Lakukan jika menurutmu bagus, Kinan." Kinanti mengangguk. "Ibu harus pergi, Kinan tolong jaga ya. Pastikan Sadewo meminum obatnya." "Nggeh Nyah." Sekali lagi Sadewo terdiam menatap Ibunya pergi, beberapa saat Sadewo dan Kinanti saling beradu tatap nyaris ia tak berkedip menatap Kinanti. Hingga akhirnya ia mulai bertanya. "Aku mau muntah?" Kinanti mendekat dan mengambil baskom, Sadewo muntah dan Kinanti memijit leher belakangnya dengan pelan. Tangannya mencengkeram lengan Kinanti kuat-kuat. Selesai Mak Tini membawa baskom itu keluar, dan Kinanti mulai memijit pundaknya lalu Kinanti lumuri pelipisnya dengan minyak kayu putih. Kasihan juga menyaksikan Sadewo muntah sampai kehilangan tenaga, wajahnya juga bersimbah keringat dingin. Kinanti pikir Sadewo lebih baik, ia mencoba untuk menyuapinya meskipun awalnya ia berontak tak mau. Akhirnya ia menurut Kinanti seperti menyuapai anak kecil usia dini. Kinanti mengambil jarum suntik yang memang telah di beli oleh Pak. Mus. Kinanti melirik matanya memejam saat jarum suntik menembus kulitnya. "Minumlah obatnya, Den." Kinanti mengambilkan beberapa butir pil ke atas telapak tangannya dan mengambilkan air mineral dalam gelas. "Kenapa harus minum obat? Kan sudah disuntik tadi?" Kesalnya. "Biar, Anda cepat pulih, Den." Sadewo hanya diam, mungkin mengiyakan. Ia lalu meminum obatnya lalu kembali berbaring. Matanya terpejam entah mungkin karena obat sudah beraksi. Kinanti menatap wajah polosnya perasaan aneh apa itu, Kinanti tekan dalam-dalam dadanya agar tak terasa sesak. Kinanti menutupi tubuhnya dengan selimut sampai ke d**a. Dan membersihkan bekas makanan juga bekas sampah obat tadi. Mak Tini masuk dan mengambil makanan yang hanya berkurang separuh saja. Kinanti berjalan ingin keluar kamar. "Jangan pergi," cegahnya, dengan mata terpejam Kinanti duduk canggung di sofa. Ternyata semua tak sesulit yang Kinanti bayangkan, mengingat perkataan Sadewo yang begitu menyakitkan kemarin. Tata bahasa manapun belum pernah mampu mencairkan hubungan mereka akhir-akhir ini, meski dalam kondisi terpaksa seperti sekarang. Kepala Kinanti begitu berat hingga tak Kinanti sadari mengucek mata yang masih mengantuk, karena semalaman tak begitu tidur. Sekilas Kinanti melihat samar jika lelaki itu memandanginya membuat Kianti terkejut kaget. "Maaf, Den. Saya ketiduran." Sadewo terdiam. Kinanti bangkit dan malu bisa-bisanya ia tertidur. Memeriksa suhu badan Sadewo yang sudah tak demam lagi, dan menganti infus yang telah habis. Ia hanya diam dan sesekali menatapnya penuh tanya. "Sampai kapan impusnya dilepas?" Lelaki itu memandang Kinanti. "Sampai, Anda benar-benar sehat, Den." Lelaki itu mengangguk. Tanpa ada pertanyaan lagi. "Saya permisi, Den." Sadewo terdiam ia mengikis rasa sakit itu hanya sendirian. *** Tak seorang pun wanita di dunia ini menginginkan status pernikahan hancur dalam hidupnya. Sayang, Kinanti tak diberi pilihan. Entah karena alasan hingga ia berpisah. Tak pernah mereka pikirkan soal hati yang hancur, entah karena alasan apa. Dari situlah awal mula Kinanti hidup terlunta-lunta apa lagi saat ia hamil. Kinanti ingin marah, tapi tak tahu pada siapa. Jadi saat Kinanti sedih ia hanya diam kemudian menangis sejadi-jadinya dalam kamar. "Haruka ...." Wanita paruh itu terlihat cemas sekali berlari menemui Haruka, dengan wajah panik. Kali ini Kinanti menarik napas panjang, lalu pergi tanpa menghiraukanya. "Suamimu sakit, Haruka. Sempat-sempatnya ya tak pulang gimana sih?" tanya Bu Astuti. Wanita itu tak nampak terkejut. "Iya kah? Sakit apa, Bu?" Bu Astuti menaikkan bahu. "Jaga suamimu sebelum ia meninggalkanmu, Ruka." Rasanya seperti ditimpa beban berat di hati Haruka mendengar ucapan mertuanya. "Ruka." Tekan Bu Astuti "Iya ... iya. Maaf, Bu." Haruka bukannya ke kamar suaminya malah memilih ke dapur melangkah menuju ruangan tempat di mana Kinanti berada, langkahnya terhenti saat ada seorang Kinanti di sana. Kinanti terkejut, sesaat Haruka membeku menatap ke arahnya. Tangan Kinanti memegang erat waslap yang ia pegang, berharap gugup yang Kinanti rasakan mencair. Kinanti kembali membantu Mak Tini, kemudian berlalu dari hadapan wanita itu. Masih sempat Kiannti tangkap binar tanya dari sorot matanya. Seperti hendak menanyakan sesuatu. "Kinanti." Kinanti menghentikan langkah dan terdiam. Menunggu apa ia tak salah dengar? Hentakan sepasang kaki bersepatu hak tinggi bewarna hitam mengkilap berjalan mendekati Kinanti dan berada tepat dihadapkannya saat ini. "Kau yang bernama, Kinanti?" Kinanti menatap ke arah Mak Tini yang sudah tak ada di tempat. "Kau amnesia?" tanya balik Kinanti. "Kau masih merayu, Mas Dewo?" tanyanya membuat Kinanti tersentak keget. Kinanti menatap wajah wanita itu, seperti ada amarah yang siap meledak kapan saja. Jika Kinanti membalas bicara keras ia pasti emosinya akan naik satu tingkat. "Tidak." Wanita itu tersenyum sinis ke arah Kinanti. "Apa perkataanmu bisa dipercaya?" Kinanti menghela napas berat. "Saya hanya seorang pembantu, Non. Apa Anda percaya jika, Den Dewo menyukaiku." Wanita itu menatap Kinanti tajam. "Aku ingatkan, jika kau bertingkah pekerjaanmu taruhannya." Kinanti menggelengkan kepala. "Apa saya mengganggumu atau Den Dewo. Silahkan cek jika itu keraguanmu." "Jangan karena, Ibu dan Letta baik padamu kamu makin nggak tahu diri, ya." Ada yang teriris di dalam sana. Seolah air mata siap meluncur bebas namun Kinanti masih menahan. Ia memejamkan mata sejenak, lalu memutuskan untuk menjawab. "Jangan khawatir, saya bukan wanita penggoda." "Kinanti." Panggil tiba-tiba Ayuning. "Iya, Non." "Bisa ikut aku sebentar." "Nggeh, bisa Non." Mak Tini tersenyum, Kinanti tahu ini ulah Mak Tini yang membantunya dari serangan wanita ular itu. Kinanti tersenyum ke arah Mak Tini dan berjalan mengekori Ayuning, Kinanti seperti wanita yang kehilangan arah. Berjalan meninggalkan Haruka yang masih mematung dengan segudang kekecewaan. Apa Kinanti harus kecewa, tapi kecewa pada siapa? Melanjutkan hidup dan membesarkan anaknya adalah kewajiban sebagai seorang hamba bukan. Kenapa ia harus mengalami takdir seperti ini? Kenapa tidak seberuntung wanita lainnya yang bahagia memiliki keluarga kecil?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN