"Kamu ke kamar Letta saja, biar Ruka tak menganggumu."
Kinanti terharu oleh sikap Ayuning yang begitu mengayomi. "Memangnya boleh, Non?" tanya Kinanti senang.
"Boleh Kinan. Kan Letta juga baru berangkat sekolah."
Kinanti tersenyum. "Terima kasih, Non."
"Sama-sama ya. Kamu tidurlah pasti capek semalaman nungguin, Dewo 'kan?"
"Gak juga, Non."
"Sudah istirahatlah, nanti kalau sudah gak ngantuk baru bantuin, Mak Tini ya."
"Nggeh, Non."
Ayuning tersenyum dan pergi, Kinanti lega pasti tadi Mak Tini yang mengadu pada Ayuning. Kinanti telah sampai di kamar Letta dan tak menyia-yiakan waktu karena semalam ia menjaga Sadewo dan baru bisa tertidur selesai Salat subuh.
***
Matahari masih terik, Kinanti sudah terbangun ia akan menjemput Letta, Kinanti sudah bersiap-siap, lalu berjalan mendekati pintu dapur. Mak Tini masih sibuk di dapur.
"Karin, mau memeriksa, Den Dewo?" tanya Mak Tini.
Karina menggelengkan kepala. "Mau jemput, Non Letta sih, Mak."
"Non Ayuning pesan jika Non Letta ia yang jemput. Saatnya, kamu kasih makan dan minum obat untuk Den Dewo. Sejak kecil dia sulit sekali minum obat." Jelas Mak Tini
"Masa sih, Mak?" tanya Kinanti tak percaya.
"Iya, bahkan waktu disekolah. Saya selalu menemani, Den Dewo nangis kalau mau imunisasi. Karena takut sama jarum suntik." Jelas Mak Tini seraya tersenyum.
Kinanti tertawa kecil. "Ohya ada ya begitu, Mak?"
Selama bersama Kinanti dulu hampir Sadewo tak pernah sakit hanya demam sedikit saja. Makanya Kinanti belum begitu faham soal keanehan Sadewo yang takut jarum.
"Iya. Jadi, Mak suka sedih kalau, Den Dewo sakit, Non."
"Ya tenang saja, Mak. Akan saya urus."
"Siap, Kinanti."
"Mak tapi, temani aku masuk ke dalam ya."
"Yowes, Mak temani kamu."
Mereka berdua berjalan mendekati kamar Sadewo. Setelah sempat membuka pintu Kinanti begitu terkejut, saat melihat Haruka telah berbaring disamping suaminya itu, entah hati Kinanti menjadi tak karuan. Sejenak Kinanti mengatur napas mau pergi tapi sudah kepalang tanggung, juga saatnya lelaki itu meminum obat.
"Gimana, Mak?"
"Apa kita kembali saja?" tanya Kinanti gugup.
"Lebih baik begitu sih."
"Ayolah, Mak."
Mata Kinanti panas dan merebak. Air mata mulai menggenang dan hampir jatuh, tapi Kinanti buru-buru menyekanya. Tepat saat mereka di depan pintu Sadewo.
Mak Tini dan Kinanti berbalik arah kembali lagi tak mau menganggu istirahat mereka. Kinanti tersenyum kecut melihat pemandangan yang tak biasa. Hatinya berdenyut nyeri entah kenapa Kinanti bisa sesakit itu. Tidak akan hilang dari ingatan meski sudah sepuluh tahun berlalu. Kinanti yang mencintai dengan cara berbeda. Pun seperti saat ini, saat dia dengan memadu kasih membuat Kinanti begitu sakit.
"Kinanti?" panggil Bu Astuti membuat Kinanti menoleh.
Kinanti dan Mak Tini pun berhenti berjalan karena Bu Astuti memanggil.
"Dewo sudah makan?" tanyanya.
Kinanti menggeleng. "Masih tidur, Nyah."
"Lo, kok."
"Gak enak, Nyah. Ada Non Haruka di sana."
Bu Astuti manggut-manggut. "Aku temani ke sana ya."
Mak Tini dan Kinanti saling tatap. Lalu beralih menatap Bu Astuti dan mengangguk.
Mereka mengikuti langkah Bu Astuti. Sampailah dikamar milik Sadewo dimana Haruka masih memeluk tubuh Sadewo erat.
"Selamat sore. Waktunya minum obat, Dewo."
Mak Tini dan Kinanti ikut mendekat. Kinanti membawa nampan di tangan ikut mendekat.
"Maaf aku ketiduran, Bu?"
"Em, ini sudah sore, Ruka. Mandilah"
"Ya."
Hening, hanya suara detak jam dinding yang terdengar samar. Satu detik, dua detik hingga beberapa detik.
Kinanti beranjak masuk, dan Sadewo bangkit dari tidurnya.
Mereka melangkah beriringan mendekati ranjang besar itu. Di sana, terlihat Haruka dengan senyum manisnya tersenyum sinis kearah Kinanti. "Periksalah, aku permisi dulu."
Kinanti mengangguk dan Haruka berjalan menjauh meninggalkan kamar suaminya. Kinanti tersadar dan memberikan makanan selesai makan Kinanti mengambilkan beberapa pil dan kapsul untuk diberikan kepadanya. Ia pun menurut meminumnya sekali teguk.
"Kapan infusnya dilepas, ini sangat menganggu." Suara itu akhirnya keluar juga dari bibir lelaki itu.
Kinanti mengembalikan minuman dan menatapnya. "Kalau Anda sudah sembuh, baru di lepas. Makanya rajin minum obat biar badannya kembali pulih, Den." Jelas Kinanti.
"Apa ini masih lama?" tanyanya sinis.
"Wajah, Anda masih pucat, juga kondisi tubuh Anda juga masih lemas."
Lelaki itu menandang Kinanti tanpa bicara. Dan berusaha untuk bangkit.
"Mau dibantu?"
Lelaki itu mengangguk. Kinanti tahu pasti ia akan ke kamar mandi, Kinanti mendekati lalu menuntunnya ke kamar mandi. Bu Astuti dan Mak Tini hanya diam dan Kinanti masih terjaga di depan pintu, setelah di buka ia membantunya kembali ke ranjang dan Kinanti bantu untuk berbaring, lalu menyelimuti tubuhnya dengan selimut.
"Istirahatlah."
Sorot mata itu menatap Kinanti penuh tanya. Perlahan perempuan itu meraih lengan Sadewo, lalu menusukkan jarum suntik pada selang infus yang menempel di sana.
"Aku bosan di infus, Kinanti?" Sadewo protes.
"Ayolah, hanya menghabiskan ini saja, Den." Refleks, Kinanti menoleh pada Sadewo.
Bukan hanya tatapan yang aneh, kemudian senyum tipis pun terlihat dari wajah tampannya. Seolah ingin menyampaikan sesuatu yang tak Kinanti mengerti sore itu. Membuat Kinanti ingin bergerak untuk cepat meninggalkan ruangan itu.
"Iya, saya permisi, Den."
Kinanti berbalik berjalan keluar kamar dan menutup pintu, ditemani Mak Tini. Mak Tini ke dapur dan Kinanti berjalan mengikuti Bu Astuti.
"Kinanti kamu istirahat biar, Mak yang bereskan."
"Tak usah Mak merepotkan. Mak istirahat saja biar saya yang mencucinya."
"Aduh jangan, Kinanti. Tugas kamu kan hanya menjaga Non Letta."
Kinanti menggeleng pelan. "Oh, baiklah kalau begitu, Mak."
Kinanti berjalan ke arah kamar Letta, menemaninya belajar. Selesai menemani Letta, Kinanti berjalan bersama Sari mereka berjalan ke arah dapur, ternyata disana ada Haruka yang sedang makan malam.
"Mak Tini bagaimana jika suamimu direbut?" tanya Haruka membuat Kinanti dan Sari saling tatap.
"Sayangnya suami, Mak setia, Non." Jelas Mak Tini.
Haruka tersenyum sinis. "Kalau, Mak ini andai?" tanyanya lagi.
"Ya tak akan aku biarin lah, Non."
"Benar sekali, aku juga tak akan biarain suamiku direbut, Mak."
"Lagian siapa yang akan merebut, Non?"
"Wanita genit lah, Mak." jawab Haruka kesal.
Kinanti dan Sari tertawa lirih dan pergi ke arah lain malas mendengarkan ocehan Haruka.
"Eitt ... tunggu dulu, Kinan."
Kinanti dan Sari saling tatap dan berhenti.
"Kamu tak berniat merebutnya kan?''
Kinanti tertawa kecil. "Saya, Non. Saya dari dulu bukan tipe perebut, Non. Entah kalau Non Haruka perebut atau bukan?"
"Kau."
"Kan saya hanya menjawab pertanyaannya, Non."
Sungguh, Kinanti iri dengan mudahnya Haruka merebut Sadewo darinya kala itu. Yang hanya seorang sahabat dekatnya saja. Kinanti iri pada Haruka yang jahat namun bisa berbalik arah membuat Sadewo takluk dengannya.
"Apa apaan ini."
Mak Tini menggelengkan kepala berharap Kinanti tak membantahnya. "Aku seperti melihat ketulusan pada mata Non Ruka. Non Ruka memiliki aura teduh yang tidak dimiliki wanita lain. Jadi tak mungkin suamimu itu mendua, Non." Sindir Kinanti.
Haruka membuang pandang.
"Jangan pikirkan itu, berusahalah menjaga suamimu dan aku tak akan menjadi perebut. Saya permisi, Non."
Haruka membanting gelas hingga berhamburan ke lantai membuat Mak Tini kesal dan kaget. Mak Tini heran kenapa bisa Haruka begitu membenci Kinanti.
***
Bu Astuti menatap Kinanti curiga, apakah ia sudah mengurus Sadewo putranya.
"Kinanti."
"Nggeh, Nyonya," jawab Kinanti sedang menyuapai Letta.
"Dewo sudah makan?" tanya Bu Astuti pagi-pagi.
Kinanti menggelengkan kepala.
"Lo, bukannya ini sudah waktunya sarapan pagi?"
Mak Tini datang mendekati Bu Astuti. "Sama Non Ruka gak boleh, Nyah. Katanya biar dokter saja yang tangani, Den Dewo."
"Gimana sih, Ruka? Ko bisa gitu. Bukankah dokter Faisol masih umroh ya."
Mak Tini menggeleng. "Entahlah, Nyah."
"Kinanti ayo aku temani ke kamar, Dewo." Ajak Bu Astuti.
Kinanti mengangguk patuh. "Nggeh, Nyah."
Sampai di ambang pintu, Bu Astuti mengetuk pintu sesaat Mak Tini dan Kinanti masuk membawakan sarapan dengan nampan. Kinanti menghela napas panjang sebelum menghampiri Sadewo yang berdiri menghadap cendela balkon, dia berbalik tertegun saat mendapati mereka berada di kamarnya saat ini.
"Sarapan dulu, Dewo."
"Gak lapar, Bu."
"Dewo."
Pandangan Sadewo berpaling.
"Ayo sarapan. Jangan buat Ibu marah."
"Iya ya,Bu." Sadewo menurut dan berjalan mendekati ranjang.
"Saya suapi, Den." Tawar Kinanti.
Kedua netranya menatap ke arah Kinanti. Ia mau membuka mulutnya. Mereka terdiam hanya terdengar suara piring yang beradu dengan sendok. Selesai ia sarapan Kinanti memberikan obat seperti biasa, lalu melepas infusnya, karena keadaan Sadewo sudah membaik.
Kinanti memakai sarung tangan, meraih tangannya yang dingin. Kinanti kembali menunduk membasahi plester yang menempel pada kulit dengan kapas alkohol. Lalu melepas plester dan kassa dari kulit menekan tempat tusukan jarum dengan kapas alkohol dan menarik jarum pelan-pelan. Terakir menekan kapas alkohol dengan plester.
"Kenapa? Sakit, Den?" Kinanti bertanya tepat di depan wajahnya, saat Sadewo sempat meringis. Refleks Kinanti menghentikan kegiatannya.
Kinanti tersenyum. "Sudah, aku nggak apa-apa!"
Sadewo terdiam. Dia menatap ke arah Bu Astuti yang duduk do sofa tak jauh darinya.
"Tapi masih harus rajin minum obat agar luka itu cepat kering, Den."
Lelaki itu hanya diam menatap Kinanti, memperhatikan setiap langkah yang mondar mandir membereskan alat dan merapikan bekas infus. Melepas sarung tangan dan mencuci tangan di wastafel kamar mandinya.
"Kemana lagi, Haruka?" tanya Bu Astuti.
Sadewo terdiam.
Bu Astuti nampak kesal. "Pergi kerja lagi, astaga ini kamu sedang sakit lo, Dewo. Bisa-bisa nya ia pergi."
"Entahlah, Ma."
"Keterlaluan."
Kinanti kembali, meraih selimut menutupi tubuh Sadewo hingga se bahu.
"Sudah selesai, Den. Anda harus banyak istirahat biar cepat pulih. Saya permisi."
"Terima kasih." Pandangan mereka saling bertemu.
"Sama-sama, Den."
Ada rasa hangat mengalir di dalam d**a saat menyadari pandangannya terus tertuju pada Kinanti.
"Tunggu."
Bu Astuti berhenti. "Apa lagi, Dewo."
Sadewo mendengus malas. "Gak papa, Bu."
Kinanti berjalan meninggalkan kamar Sadewo, sejujurnya ia kasihan di sisi lain ia tersenyum senang, "Nikmatilah hidup degan Haruka wanita pembohong itu, Mas." Gerutu kesal Kinanti puas dengan penderitaan Sadewo.