"Jangan di dengarkan dan dimasukkan dalam hati, jika Non Ruka bicara, Kinanti." Mak Tini bicara seraya membersihkan dapur.
Kinanti terdiam menatap ke arah Mak Tini lekat. "Tapi, Non Ruka keterlaluan, Mak."
"Iya, Mak tahu. Tapi mengalah lebih baik. Kita ini cuma bekerja di sini, kan Kinanti. Tak ada gunanya melawannya."
Kinanti menatap Mak Tini yang juga menatapnya. "Ya, Kinan tahu, Mak."
"Juga jangan kecil hati dengan status kamu. Mengerti kan kamu baik dan cantik." Mak Tini menatapnya dalam.
Kinanti menggeleng. Bukan hanya kecil hati, lebih dari itu. Saat gunjingan para tetangga tahunya jika Kinanti hamil diluar nikah dan Davin adalah anak haram. Itu yang membuat Kinanti tak bisa berkutik saat itu. Merasa jika dunia mengucilkannya, untung saat itu Asih juga Hariz selalu mendukungnya, membuat Kinanti bisa bertahan hingga detik ini.
"Sabar ya, Kinan." Mak Tini merasa bersalah telah berbicara dengan Kinanti, bagaimanapun Kinanti sangat sopan dan tak pernah membantah orang tua kalau bicara.
"Tapi, Mak ini aku memang janda." Suara Kinanti menggantung di udara.
"Sudah. Jangan membuka luka lama. Sudah ya lupakan perkataanku tadi."
"Mathur suwun, Mak begitu baik pada Kinanti." Suara Kinanti tersekat di tenggorokan.
Mak Tini memeluk Kinanti erat. "Sudah ya. Mak juga minta maaf."
Mendapat dukungan dari Mak Tini, perasaan Kinanti jauh lebih tenang. Meski tak bisa menikmati hari-hari bersama buah hatinya kini karena berjauhan.
***
Kinanti diantar Pak Mus dengan mobil menuju sekolahan Letta. Hari ini tugas Kinanti menjemput Letta. Kinanti menatap jalanan yang terlihat lancar hingga beberapa menit ia sudah sampai di depan gerbang sekolah Letta. Kinanti berjalan dan duduk di bawah pohon rindang menunggu Letta pulang.
Sepuluh tahun lalu, dua garis merah yang terpampang jelas pada alat tes kehamilan seketika membuat Kinanti menangis histeris. Dadanya mendadak terasa begitu sesak. Ia berharap apa yang dilihatnya hanyalah mimpi belaka. Akan tetapi, sekali lagi ia memperhatikan tespack itu tetap sama saja ada dua garis biru, Ia meremas benda tersebut, lalu memukul tembok kamar mandi dengan keras.
"Tidak, tidak aku tidak hamil."
Dinyalakannya shower. Tangisnya semakin menjadi-jadi seiring air shower mengguyurnya. Ia terduduk lunglai di lantai dengan bahu berguncang. Kinanti memukul perutnya, satu jam berada di kamar mandi membuat Kinanti kedinginan, ia bangkit mengusap wajahnya dengan kasar, lalu melangkah pelan ke sisi ranjang. Tangannya gemetar meraba perutnya yang sudah mulai buncit.
"Kinan, kau di dalam?" tanya Asih saat itu panik. Mendengar suara tangisan dari dalam kamar kost.
Kinanti masih terdiam.
"Kinanti. Ada apa denganmu?" tanya Asih lagi sahabat Kinanti yang curiga mendengar suara tangisan makin keras.
Tak ada jawaban.
"Kinan ....!"
Asih menekan knop pintu, dan pintu ternyata tidak dikunci. Asih melihat Kinanti duduk meringkuk memegangi lutut seraya menangis membuat Asih berlari ke arah Kinanti. Asih mendengar suara air mengalir diluar kost. Ia pun berlari dari ranjang dan mengetuk pintu kamar kost Kinanti yang ada di sebelahnya.
"Hei astaga kau kenapa Kinanti?" tanyanya panik.
Kinanti terdiam, lalu memeluk tubuh Asih erat.
"Kenapa?'' tanya Asih ikut panik dan sedih.
"Aku hamil, Asih."
Asih terkejut mendengar jawaban Kinanti. "Apa? Kau melakukannya dengan Dewo?"
Kinanti mengangguk.
"Astaga bukankah kalian punya komitmen tidak bersentuhan sebelum lulus, hah."
"Hu um kami khilaf, Asih."
"Ya gak salah sih. Kalian kan memang sudah menjadi suami istri. Lalu Dewo sekarang dimana?"
"Kami sudah putus."
Asih menggeleng tak percaya terakhir mereka masih jalan bersama-sama. "Astaghfirullah, bagaimana ini. Apa perlu ia tahu."
Kinanti menggeleng pelan. "Tidak."
"Dewo harus tanggung jawab kan. Itu darah dagingnya."
Kinanti memukul perutnya di depan Asih. Dadanya bagai dihimpit bebatuan besar sehingga merasa begitu sulit bernapas dengan benar. Ia kembali memandangi tespack di genggamannya. Kepalanya terasa berdenyut. Kepala Kinanti begitu berat hingga ia tak sadarkan diri.
"Kinan hei bangun. Bangunlah kamu harus kuat."
Asih tampak panik.
"Kinan, kau dengan aku, Kinan."
Asih berteriak sambil menangis karena panik. Ia memanggil-manggil temannya karena Kinanti tidak sadarkan diri.
"Ada apa?" Seorang pria yang baru saha datang. Ia terkejut melihat sahabatnya pingsan.
"Ini pingsan," jawab Asih cemas.
"Kinanti ...!" panggilnya, panik.
"Hariz gimana ini?"
"Ayo kita bawa ke rumah sakit."
"Gak usah di rumah saja." Asih takut jika Hariz tahu soal kehamilan Kinanti.
Posisi Hariz ada di depan pintu dan segera ia masuk ke kamar. Lalu mengendong tubuh Kinanti, lalu membawa ke atas ranjang.
Asih mengoleskan minyak kayu putih, dileher tengkuk juga kening Kinanti. Sesaat kesadarannya berangsur-angsur pulih. Ia menyadari berada dalam posisi yang cukup dekat dengan Hariz.
"Kinan, hei kau sudah sadar?"
"Hu um."
"Tenang, Kinan. Mau diantar ke dokter?"
Kinanti menggelengkan kepala.
Hariz terlihat khawatir. "Ada apa, besok kita wisuda. Kinan jangan sampai kamu sakit."
"Iya aku hanya masuk angin saja kayaknya, Riz."
"Makanlah aku bawakan makanan." Hariz mberikan nasi kotak untuk Asih juga Kinanti.
"Hu um."
Nafsu makan Kinanti mendadak hilang saat mengingat tentang kehamilannya. Namun ia tetap memakan nasi agar terlihat baik-baik saja di depan Hariz juga Asih.
Keesokan harinya Kinanti terdiam membisu, menatap lurus bangunan kampus tempat ia menimba ilmu. Berharap semua bisa dilewati dengan tabah. Kehilangan suami tapi juga harus melanjutkan hidup demi cita-cita bukan? Karena ada nyawa dalam tubuhnya ia harus kuat.
Tekad Kinanti sudah bulat. Ia sudah berdandan rapi dengan kebaya warna cream yang pernah di belikan oleh Sadewao waktu itu. Kinanti memegangi perut masuk ke dalam kampus bersama Asih karena hari ini adalah wisuda D3 kebidanan.
"Selamat ya Kinanti. Kita bisa lulus." Ucap Asih semangat dan senang.
"Alhamdulillah. Iya. Selamat juga untuk kamu juga ya."
"Iya."
Satu jam kemudian Kinanti dan Asih sudah selesai di wisuda kini saatnya mereka berfoto. Kinanti senang karena Neneknya datang ikut menemani Kinanti wisuda.
"Mbak Kinanti." Teriak Letta membuat Kinanti terjaga dari lamunan.
Letta muncul di hadapannya membuat Kinanti tersadar dari lamunan. Segera Kinanti mengalihkan pandangan ke arah taman sekolah, mengusap air matanya yang mengalir deras di pipi.
"Mbak Kinanti kenapa? Kok nangis?"
Kinanti duduk sejajar dengan Letta. "Tidak hanya rindu kampung halaman."
"Oh."
"Mau makan di mana?" tanya Kinanti tanpa sedikit pun mengalihkan tatapan ke arah Letta di hadapannya.
Letta mendekat dan berbisik di telinga Kinanti. "Ikan bakar."
Kinanti tertawa pelan. "Tapi kali ini kita izin ya."
"Kalau gak boleh bagaimana, Mbak?"
Kinanti tersenyum."Mbak akan rayu, Mama kamu."
Letta tertawa dan mengangguk.
Kinanti: Halo, Non Ayuning. sapa Kinanti usai menempelkan ponselnya ke telinga.
Ayuning: Iya, Kinanti. Ada apa?
Kinanti: Maaf, Non Letta minta Ikan bakar, Non. Apa boleh mampir ke lesehan?
Ayuning: Boleh Kinanti, nanti kamu share alamatnya ya, kalau sempat aku nyusul.
Letta menahan senyum. "Boleh, Mbak."
"Hu um."
"Asyik." Bisiknya.
Kinanti: Baik, Non.
Ayuning: Oke, sip.
Senyum Kianti mengembang. "Oke kita boleh makan, Non Letta."
"Yee."
Kinanti menyimpan ponsel ke dalam tas. Ponsel pemberian Ayuning kemarin.
Kinanti dan Letta di antar Pak Mus ke lesehan dimana ada beberpa menu ikan bakar. Mereka turun dan berjalan ke arah dalam lesehan.
"Pak Mus ikut yuk." Ajak Kinanti.
"Saya di sini saja, Mbak Kinan."
"Baiklah nanti saya pesankan ya."
"Nggeh, Mbak."
Kinanti dan Letta masuk ke dalam Pramusaji datang mengangguk, lalu memberikan menu makanan, Kinanti dan Letta menyebut pesanan ikan bakar gurameh pada pelayan yang telah menunggu dengan buku catatan di tangannya.
Tak lama ketika pelayan berlalu, ponsel Kinanti berdering. Sesaat, dahinya berkerut tatkala menatap layar di tangannya jika Ayuning dan Rama ikut menyusul ke tempat lesehan yang dikirim dalam sebuah chat.
Pelayan datang membawa pesanan Kinanti dan Letta. Aroma khas masakan ikan bakar menggoda selera Letta dan Kinanti keduanya muali menikmati makanan itu. Kebetulan Letta ingin makan sendiri.
"Enak?"
"Enak sekali, Mbak."
"Pelan-pelan makannya dan habiskan ya."
"Iya, Mbak."
Tak lama, Rama dan Ayuning datang bergabung karena Kinanti sudah memesankan masakan. Mereka pun menikmati makan itu dengan lahab.
"Enak ya, Mas."
Rama mengangguk. "Iya enak."
"Letta saja habis, Ma."
Ayuning mengangguk. "Pinter anak, Mama."
Usai makan siang, Ayuning dan Rama kembali bekerja sementara Kinanti dan Letta pulang. Lima ikan bakar di bungkus untuk di bara pulang ke rumah. Pak Mus mengantar mereka pulang. Dan, sepanjang jalan Letta kembali menggenggam tangan Kinanti.
"Makasih, Mbak Kinan."
"Untuk?"
"Karena Mbak Kinan. Letta jadi suka berburu kuliner."
Kinanti tersenyum. "Jadi suka makan ya."
"Hu um."
Kinanti tersenyum. "Memangnya dulu tak pernah jajan kuliner?"
Mendengar pertanyaan Kinanti, letta menggeleng. "Tidak, Mbak. Bisa dihitung dengan jari."
"Masa?"
Letta melirik. "Iya."
Sampai rumah tatapan Kinanti lantas tersentak saat menyadari ada yang memperhatikan dari kamar atas. Kinanti berpikir apakah itu kamar Sadewo. Apa itu tadi Sadewo yang memperhatikan dirinya?
Tak ingin ambil pusing, Kinanti bergerak membuka pagar. Kinanti menarik napas setelah itu masuk bersama Letta.
"Letta sudah pulang?" tanya Bu Astuti.
"Sudah Eyang."
"Nyonya dapat kiriman Ikan bakar dari, Non Ayuning." Jelas Kinanti membawa bungkusan Ikan bakar.
"Ikan bakar? Wah itu kesukaan Dewo. Tolong kamu beri Mak Tini agar mengenatarkan ke kamar Dewo ya, Kinan."
Kinanti mengangguk. "Nggeh, Nyah."
***
Kinanti berjalan ke arah dapur ia melihat Sadewo duduk di dekat Mak Tini yang sedang memetik sayuran.
"Assalamu'alaikum, Mak."
"Wa'alaikumsalam. Kinanti sudah pulang."
Kinanti tersenyum. "Sudah, Mak. Ohya ini ada Ikan bakar untuk, Den Dewo. Mak."
Sadewo hanya diam.
"Oh, baiklah sini, Mak ambilkan nasinya."
"Biar Kinan saja, Mak."
Kinanti mengambil piring juga nasi lalu membuka Ikan bakar dan menaruhnya di depan Sadewo.
Kinanti menunduk. "Makan, Den."
Sadewo lantas menatap piring makan. Ia mengangguk setelah sebelumnya meneguk air.
Mak Tini menatap ke arah Dewo. "Makanlah, Den."
Sadewo terdiam.
Mendadak Kinanti diserang rasa bersalah. Bagaimana mungkin ia tega melihat Sadewo yang tak bisa makan mungkin.
Mak Tini menggeleng. "Mau di suapi, Den?"
"Dewo malas makan, Mak."
"Lhoo gak boleh gitu, kan harus minum obat, tinggal hari ini saja kan minum obatnya."
Sadewo terdiam.
Kinanti duduk di samping Sadewo lalu mengambil ikan menyuapi Sadewo.
Pasrah, Sadewo pasrah makan dengan lahap karena di suapi oleh Kinanti.
"Terima telah menyuapiku, Kinan."
Kinanti mengangguk dan bergerak membawa piring ke wastafel.
"Aku ke kamar Non Letta dulu ya, Mak."
Mak Tini mengangguk. "Iya."
"Kinanti, tunggu!"
Kinanti terhenti saat Sadewo menahannya.
"Ya?"
Kinanti mematung dan seperti lupa bagaimana cara bernapas.
"Kapan ini di lepas." Tunjuknya ke arah luka di wajahnya.
Kinanti memalingkan wajah. Ia berjalan ke kamar lalu kembali lagi membawa alat yang saat itu di belikan Pak Mus. Kinanti dengan pelan menyeka luka dengan alkohol setelahnya ia melepas plester itu dan memberikan salep pada luka yang sudah mulai mengering.
"Aghh, sakit."
Tangan lentik Kinanti menyentuh luka itu dengan pelan, mengoleskan salep. "Ini sudah kering, Den. Sudah sembuh sepertinya."
"Iya kah."
"Hu um. Sudah kering lukanya."
Dada Sadewo di serang gugup, antara Kinanti dan Sadewo hanya berjarak sejengkal saja.
Pada akhirnya Sadewo menyerah. Menyerah untuk tidak berharap banyak pada Kinanti yang sudah merawatnya selama ia sakit. Namun sentuhan jemari lentik perempuan berparas ayu itu membuat Sadewo tahu jika ada yang disembunyikan di balik wajah Kinanti yang terlihat begitu gugup dan penuh luka.