Cemburu Buta

1667 Kata
Matahari mulai terik, Kinanti membantu Mbak Sari menjemur pakaian di lantai atas. Sambil menjemur, netra Kinanti mengamati kendaraan yang melintas, hingga pandangannya tertuju pada sepasang suami istri duduk di gazebo belakang rumah. Kinanti tahu betul siapa wanita yang duduk di dekat Sadewo. Wanita berambut panjang itu sedang memeluk erat lelaki di sampingnya. ''Hah wanita pelakor, bisa-bisanya hidup bahagia.'' Bisik Kinanti pelan "Apa Kinanti?" tanya Sari seperti mendengar sesuatu keluar dari mulut Kinanti. Kinanti terhenyak. "Eh tidak apa-apa, Mbak Sari. "Jangan banyak melamun, Kinanti." "Enggak kok, Mbak." Kinanti termangu di belakang Sari. Di balkon atas Sari masih menjemur sedangkan Kinanti duduk menunggu ia selesai. "Ada apa, Kinan?" tanya Sari penasaran kaeena sedari tadi Kinanti lebih banyak melamun. "Tak apa-apa, Mbak." Sari mendekat, duduk di samping Kinanti. "Sepertinya, Den Dewo begitu perhatian denganmu ya, Kinan." Kinanti melengos ke arah Sari. Kinanti memegang kepala dengan kedua telapak tangan. "Tahu dari mana, Mbak. Jangan aneh-aneh deh." "Berapa kali, Den Dewo mencarimu ke dapur, selama ini ia tak pernah mencari sampai ke dapur begitu." "Hanya kebetulan kan memang aku yang merawatnya selama sakit, Mbak." Kinanti berusaha membebaskan diri dari pertanyaan. Sari mengaruk kepalanya. "Iya juga ya. Yuk kita turun." Kinanti merasa lega. "Yuk." Kinanti mengembuskan napas lega saat akhirnya Sari tak curiga. Sekilas Kinanti menatap ke arah Sadewo dan Haruka yang masih bergelayut manja. *** Haruka memanggil Kinanti yang lagi bersama Sari. "Kinanti." Kinanti dan Sari menoleh ke arah suara. "Ceritakan semuanya. Aku benci kau mendekati suamiku." Kinanti mengedikkan bahu. "Nggak ada saya mengganggu suami, Anda." Haruka tersenyum sinis. "Sudah sejauh apa hubunganmu dengan, Mas Dewo?" Haruka tersenyum misterius seraya memainkan rambutnya. Kinanti terdiam lama-lama gemas juga dengan pertanyaan Haruka yang selalu menuduhnya. "Tak bisa jawab berarti benar kan, kau mau merebutnya dariku." Mendengar pertanyaannya, wajah Kinanti seketika memanas sebab teringat bagaimana ia merawat Sadewo namun balasannya tuduhan tak beralasan oleh wanita itu. "Awas kamu!" Haruka mendorong tubuh Kinanti hingga ia mau terjatuh namun dengan cepat Sadewo menopong tubuh Kinanti. Sesaat Kinanti dan Sadewo saling tatap. Suasana mendadak canggung saat tubuh Kinanti berada dalam dekapan tubuh kekar Sadewo. Rasa berdebar dibenak Sadewo belum juga sirna. Malah makin keras detaknya, saat tanpa sengaja manik netra tajam keduanya saling memandang. "Kalian." Teriak Haruka kesal. Kinanti tersadar. "Maaf." Sadewo membantu Kinanti untuk berdiri. "Ruka, apa yang kau lakukan hah, kalau Kinanti jatuh bagaimana?" tanya kesal Sadewo. Haruka mencebik dan memilih melengos ke arah lain. "Jadi, kamu lebih memilih menolongnya, Mas? Dari pada aku." Haruka bertanya usai meredam emosi. "Ruka kamu keterlaluan." Sadewo menatap Haruka kesal. "Lepaskan suamiku, Kinan." Pekik Haruka. Kinanti berdecak. Entah bagaimana cara mengahadapi Haruka itu dari dulu Kinanti selalu kalah darinya. Mau menjelaskan sebenarnya tapi Kinanti belum siap. Akan tetapi, jika tak dilawan makin menjadi perbuatannya. Sadewo mendekati Haruka. "Ayo kita pergi, Ruka." "Awas kamu." Haruka mengancam Kinanti lagi dan masih tak mau pergi. Kinanti menggeleng. "Apa yang aku perbuat, Non." Haruka mendesah. "Lo jatuh cinta beneran, ya sama suamiku?" tanyanya pada Kinanti. "Nggak." Kinanti menoleh ke arah lain. Haruka uring-uringan tak beralasan. Terlihat Haruka makin tak terkendali. "Aku tahu jawabannya adalah iya." Kinanti terdiam dan tak menjawab. "Haruka." Bentak Sadewo. "Mas membentakku, lihatlah matanya beda saat melihatmu?" Haruka terus memastikan. Sadewo membawa Haruka pergi meskipun wanita itu terus saja mengomel tidak jelas. Sadewo mungkin sudah menikah, tapi bisa saja ia tengah menjalin hubungan dengan Kinanti misalnya? Itu yang membuat Haruka cemburi buta. "Lepaskan." Sadewo merasa kesal oleh sikap Haruka yang lepas kendali. Inilah yang Haruka khawatirkan. Sadewo memiliki pesona yang kuat hingga kemungkinan menyakitinya jauh lebih besar. "Pergi dari rumah ini." Usir Haruka pada Kinanti. Kinanti terdiam kedua netranya mengembun. Sekali lagi, Kinanti menarik napas lelah. "Kinanti tak akan pergi dari sini." Ayuning datang dan sudah berada di dekat Kinanti. Haruka berdecak malas. "Aku yang mencari pengasuh untuk, Letta. Kenapa kamu mau mengusirnya. Apa kesalahan Kinanti?" tanya Ayuning kesal. Haruka terdiam. "Dia mau merebut, Mas Dewo. Mbak." Mendengar kata itu, Ayuning akhirnya mengulum senyum lebar. "Apa pesonamu mulai luntur hingga takut dengan Kinanti yang hanya seorang pengasuh?" Sindir Ayuning. Haruka terlihat kesal. "Mbak Ayuning belum tahu saja siapa, Kinanti," jawabnya enteng. "Kau mengenal Kinanti sebelumnya? Kenapa bisa kamu membenci, Kinanti sampai seperti ini. Aku perhatian ini bukan seperti kamu, Ruka." Haruka mendadak diam. Ayuning menatap Haruka. "Jelas tidak kan. Kurasa Kinanti hanya mengurus, Dewo saat ia sedang sakit. Selebihnya tidak ada kulihat ia merayu Dewo. Bukannya kamu sibuk dengan segala aktivitasmu juga seminar-seminarmu itu." Mood Haruka memang mendadak jadi buruk. Ia memilih diam lagi karena kalah telak oleh ucapan Ayuning yang benar dan menyakitkan. "Terus kenapa jadi takut? Aku pastikan Kinanti bukanlah wanita yang cari-cati kesempatan." Haruka menggeleng. Mengajak Sadewo pergi dari situ. "Ayo, Mas kita pergi." Haruka menarik tangan Sadewo. Kinanti mengangguk lagi. Lega rasanya. Dibantu oleh Ayuning membuat Kinanti tak susah-susah melawan Haruka itu. "Non, terima kasih banyak. Maaf karena saya, Non bertengkar dengan Non Ruka," pelan Kinanti bicara.l seeaya menunduk. "Aku hanya tidak suka cara dia memperlakukanmu mu semena-mena, Kinanti. Jangan diambil hati ya kamu fokus urus Letta saja." Belum sempat di jawab oleh Kinanti, dari pintu muncul Letta. Dia nampak senang menemukan Kinanti. Karena ia habis jalan sama Bu Astuti. "Mbak Kinan." Letta memeluk tubuh Kinanti. "Non sudah pulang?" tanya Kinanti terkejut. "Hu um. Rindu, Mama sama Mbak Kinanti." Gadis kecil itu sambil mendekat pada Ayuning memberi salam mencium punggung tangannya, juga dilakukan pada Kinanti. "Ma." Letta meminta gendong Ayuning. "Manja deh." Letta berulang kali mencium pipi Ayuning dengan kedua tangan melingkar di pundak. Kemudian duduk di pangkuannya. "Mbak Kinan tidur yuk ngantuk." "Baiklah, tapi bersih-bersih dulu ya." Mata Letta membulat. "Iya, lengket badan, Letta." Kinanti dan Ayuning tersenyum. "Nanti tidur di kamar Letta ya, Mbak? Biar Letta ada teman." Kinanti kaget dengan tersenyum. "Tanya mama boleh nggak nemani tidur." Dada Kinanti berdentum hebat mendengar ucapan itu. Di bawah sinar lampu dalam ruangan, Ayuning tentu melihat rona muka Kinanti yang memucat, tak enak oleh permintaan Letta juga perlakuan Haruka tadi. Kinanti sadar jika Ayuning selalu menjaganya dari serangan Haruka. Letta sambil tersenyum menatap ke arah Kinanti. "Mau ya Mbak, ikut tidur di kamar, Letta? Boleh ya, Ma." Pertanyaan itu menyulitkan Kinanti untuk menjawabnya. "Boleh, sayang." "Ayo kita tidur, nanti sambil Mbak dongengin." Nampak mata Letta berbinar senang. Setelah mencium dan memeluk Ayuning. Letta mengandeng tangan Kinanti masuk ke kamarnya. Cukup lama Kinanti mendongeng untuknya. Letta terlihat sangat gembira. "Letta sayang, Mbak Kinan." Kinanti bingung harus menjawab apa. Dan senyuman yang akhirnya Kinanti berikan. "Letta pengen dekat terus dengan, Mbak Kinan. Sudah baik, masakannya enak sering mengajar mengaji." Kinanti masih diam mendengarkan. "Makasih ya, Mbak. Mau tidur di sini." Kinanti tersenyum, sambil menyelipkan rambutnya ke belakang telinga. " Hu um. Tidurlah! Besok nggak boleh terlambat ke sekolah." "Baiklah." Perlahan mata bening itu terpejam, Kinanti terus membelai hingga Letta benar-benar terlelap. Kinanti bangun dari pembaringan. Kemudian melangkah ke meja belajar Kinanti. Merapikan buku-buku serta membersihkan sisa makanan. Tak terasa rasa ngantuk melanda Kinanti tertidur di sana. *** Sadewo meneguk air mineral, lalu botol kembali ditaruh di atas meja. Seraya menunggu Haruka tertidur. Ia lalu bangkit berjalan memeriksa laci meja kecil di samping tempat tidur dan tak menemukan obat pereda sakit kepala di sana. Sadewo berjalan ke arah dapur. "Mak, ada obat pereda sakit kepala?" "Ada, Den." Mak Tini memberikan air putih beserta obatnya. Kali ini, Sadewo mengangkat kepalanya agar lebih tinggi, lalu memaksanya menelan obat yang dibantu dengan dorongan air minum. Sadewo akhirnya menarik napas lega ketika tadi melihat Haruka sudah terlelap. Tahu bisa ia tinggalkan Sadewo memutuskan keluar kamar. "Mak bagaimana, Kinanti?" "Mak gak tahu pas kejadiannya, Den. Mak hanya dengar dari Non Ayuning. Kinanti tidur dikamar Non Letta." "Oh. Ruka memang keterlaluan, Mak." "Percuma cantik kalau jahat, Den." Mak Tini berdecak baru kali ini Mak Tini bersuara membuat Sadewo kaget. Mak Tini seraya memeriksa suhu tubuh Sadewo dan bersukur saat laki-laki ini mulai mengeluarkan keringat. "Masih sakit, Den?" tanya Mak Tini mengalihkan pembicaraan. "Gak, Mak. Aku balik ke kamar, Mak." "Nggeh, semoga cepat sembuh, Den." Sadewo tersenyum. Dia berjalan tertatih ke arah lift, saat didalam lift ia tersenyum saat mengingat Kinanti menginjak kakinya dengan kuat. "Berpikirlah, Kinanti. Cerai bukan pilihan terbaik. Tapi, aku tahu kau membutuhkan lebih banyak waktu untuk memutuskan itu semua bisa dibicarakan kan." Terlihat Kinanti tetap meremas jemarinya. "Kau dengar aku, Kinan?" "Aku dengar, Mas. Sejak dulu pernikahan kita hanya paksaan kan. Aku tahu kau hanya memanfaatkan pernikahan kita. Kita benar-benar sudah selesai bukan kau lebih memilih Haruka." Sadewo meremas rambutnya. "Haruka lagi Haruka lagi. Lalu, aku? Sadewo tertawa sinis. Kinanti bahkan tidak mempertanyakan bagaimana dengan perasaan Sadewo yang jelas-jelas menjadi korban di sini. Kinanti mengangkat bahu, lalu kembali berbalik dan meneruskan pekerjaan. "Kinanti!" Kinanti sontak berbalik ketika Sadewo tiba-tiba menarik paksa tangan Kinanti Sepasang mata laki-laki itu terlihat marah. "Pernikahan bukan mainan, Mas. Kau telah menidai pernikahan kita dengan Haruka." "Kinanti lalu kau dengan Hariz?" "Apa yang aku lakukan, hah." "Kau tidur dengannya?" Plakkk Satu tamparan mendarat di pipi mulus Sadewo. "Kita baru menikah dua tahun dan kau belum mengenalku." "Oke aku salah. Aku yang salah? Sekarang aku yang mempermainkan pernikahan? Dan aku minta maaf." "Kita telah selesai, Mas." Kinanti melangkah mundur. Dan menghilang hingga berberapa tahun. Tiba-tiba langkah Sadewo terhenti di depan sebuah kamar. Sadewo berhenti di depan kamar Letta, ia membuka knop pintu kamar Letta dengan tangan gemetaran. Ia membuka sedikit terlihat Kinanti tertidur dengan kepala di atas meja belajar Letta. Sadewo membuang pandangan saat melihat Kinanti tertidur dengan sangat manis. Tak ingin melihatnya jauh lebih terluka, Sadewo membalik badan dan mau menutup pintu tapi ia urungkan. Ia mendekat meraih selimut dan mau menutupi tubuh Kinanti. Sebelum itu Sadewo menatap wajah yang selama ini ia rindukan. Persis saat itu juga Sadewo meluruhkan diri di lantai dan menyelipkan anak rambut Kinanti yang berderai. Tanpa bisa Sadewo tahan, air matanya mengembun. Sadewo mengerjap pelan saat igauan Kinanti itu terdengar. Panik, Sadewo buru-buru bangkit dan memeriksa kondisi Kiannti, namun. Di sana, Sadewo melihat Kinanti tengah bersandar lalu kembali tertidur. Sadewo tersenyum ia selalu seperti itu kalau capek. Sadewo bangkit kembali meraih selimut dan menutupi tubuh Kinanti hingga separuh tubuhnya. ''Kau sangat cantik. Maafkan aku.''
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN