Mimpi Manis

1987 Kata
Bulu mata lentik Kinanti berkedip-kedip sebelum terbuka sempurna. Sadewo melihatnya sambil tersenyum, ia lalu berdiri dan berlari kearah samping sofa. Menatap ke arah Kinanti yang terbangun seraya mengucek kedua netranya, ia tersadar melihat ada selimut di tubuhnya. Kinanti tersenyum mungkin ini adalah ulah Letta. Kinanti kemudian berjalan ke arah pintu mengunci pintu dan kembali tertidur ia merasakan ngantuk luar biasa. Tak mungkin juga Kinanti satu ranjang dengan cucu majikannya itu, ia tak enak hati memilih tidur lagi di tempat semula. Sepuluh menit, tiga puluh menit hingga empat puluh menit, Sadewo berjalan lagi ke arah Kinanti, menatap wajah itu cukup lama, wajah yang mempu membuatnya bergetar tak karuan saat berdekatan dengannya. Sadewo terdiam di tempat. Pandangannya mengedar, melihat sekeliling yang tampak seperti dipengaruhi kerinduan yang menghangatkan. Sadewo melihat wajah Kinanti yang tertidur pulas. Ia melirik ke arah pergelangan tangan Kinanti, mencoba memahami yang sebenarnya apa yang terjadi tentang kebenciannya padanya selama ini. Tangan Sadewo membelai anak rambut Kinanti, cukup lama dengan tenang, sebelum beberapa menit kemudian dia tersadar dari lamunan yang begitu memikat. Dengan hati-hati, Sadewo berjalan mengangkat tubuh Kinanti menggendongnya menuju ranjang. Pelan ia menidurkan Kinanti di atas ranjang. Sekuat tanaga Sadewo berusaha tidak menyentuhnya, namun keinginan itu terbantahkan oleh naf**su dengan pelan ia mengecup kening Kinanti sangat lama. Lelaki itu memilih diam dan terus menatap Kinanti. Kinanti kembali menggeliat dan tak ingin terbangun dengan rasa pusing yang luar biasa. Kinanti seperti sedang mimpi, seolah-olah baru merasakan mimpi manis dalam tidurnya. Kinanti melanjutkan kegiatan tidur malamnya. Sadewo menghela napas, sedikit tercekat. Dia memandangi wajah cantik yang tak asing, seolah-olah jiwanya telah hidup kembali setelah lama terasa mati. Sadewo meregangkan tubuhnya. Hal yang sama, sebelum lelaki itu tercekat, menyadari bahwa meskipun kini dekat dirinya kini begitu jauh dengan Kinanti. Seolah belum cukup memandangi Kinanti yang tertidur Sadewo berjalan ke arah sofa. Tidak habis pikir dengan yang tengah mereka hadapi, Sadewo hanya bisa terdiam mematung tatkala menyadari pernikahannya dengan Kinanti telah selesai. Pagi hari Kinanti merasakan pusing ia bangun membangunkan Letta. "Selamat pagi, Non Letta," sapa Kinanti bingung kenapa ia ada di tempat tidur. "Pagi, Mbak Kinanti." Letta bangkit dari tempat tidur, kemudian masuk ke dalam kamar mandi. Sementara Kinanti mengemas ranjang sebelum mengajak Letta Salat Subuh. Setelah tempat tidur sudah rapi. Mereka berdua menjalankan Salat Subuh bersama, Selesai mendandani Letta rapi, Letta dan Kinanti mendengar suara di balik dinding dekat pintu. Karena dari luar terdengar ada suara bicara. Kinanti dan Letta ingin ke dapur untuk sarapan. "Dewo. Dari mana kamu?" tanya Bu Astuti pada Sadewo yang berjalan mengendap-endap. "Emm, dari kamar sebelah," jawab Sadewo gugup. "Kamu makin aneh tiap hari, kamu bertengkar lagi sama, Ruka?" tanya Bu Astuti. Sadewo menggelengkan kepala. "Nggak lagi bercanda atau berbohong kan sama Ibu. Kamu serius?" "Serius, Bu. Sudah ya ayo ke bawah." Ajak Sadewo yang mengalihkan pembicaraan. "Kamu baik kan?" "Baik, Ibu." "Aku mau ketemu, Kinanti di dalam." Sadewo menggeleng ia takut jika ketahuan. Jika semalaman ia tidur di kamar Letta "Nanti saja, Bu." Yang sejujurnya ia semalam ketiduran di sofa saat mengumpat waktu Kinanti terbangun dan bingung kenapa ada selimut yang menutupi tubuhnya. Setelah menidurkan Kinanti dalam ranjang Dan setelah itu Sadewo terjebak tidur di sofa. Sepagi ini, Sadewo sudah dibuat spot jantung oleh pembicaraan Bu Astuti. Sadewo menahan keterkejutan yang berubah jadi sesak dibenak. "Yuk kita turun." Bujuk Sadewo "Tapi ...." "Ayolah, Bu." *** Semalam Sadewo tidak bisa tidur nyenyak. Ada yang mengganggu pikiran. Wajah polos Kinanti membayangi. Mata sayu dengan bulu mata lentik, hidung bangir dan bibir tipis yang bila tersenyum menciptakan lesung pipit di belahan pipi kirinya. Sadewo menatap Haruka yang masih tertidur. Meskipun ia bersama wanita itu namun tidak dengan hatinya. Perlahan Sadewo mengambil ponsel di dalam saku celana semalam ada foto Kinanti yang baru diambil saat ia tertidur, Sadewo masih menyimpan dalam aplikasi f*******: dan menguncinya khusus. Ada beberapa foto Kinanti yang ia disembunyikan di sana. Sengaja, biar tidak ada seorang pun yang tahu selain dirinya. Dari foto pernikahan siri mereka sampai saat masih sama-sama bersama. Hal-hal yang sebelumnya dibenci Sadewo karena Kinanti memilih pergi ketimbang bersamanya, namun, usahanya tidak membuahkan hasil pelan-pelan Sadewo mulai menyukainya lagi. Dan perasaan itu masih kuat menduduki posisi tertinggi di hati Sadewo. Sadewo tidak suka melihatnya. Benci tiap kali melihat Kinanti. Namun saat Hariz marah dan memukulnya sejenak membuat Sadewo sadar mungkin saja bahwa Kinanti dengan Hariz tidak ada apa-apa. Sadewo harus menyelidiki. Apa mungkin Haruka yang memisahkannya dengan Kinanti? "Mas!'' Panggilan Haruka menyadarkan Sadewo yang masih melamun. Belum selesai mengenang masa lalu, Haruka sudah memanggilnya. "Hmm" "Semalam, Mas Gak tidur di sini?" Sadewo tak menjawab. "Dari tadi melamun terus. Mikirin siapa? Kinanti!" Kesal Haruka. "Cukup aku malas berdebat, Ruka." Haruka terlihat kesal ada atau tidak adanya Kinanti ia selalu tersisih. Bahkan dua tahun menikah bisa dihitung jari Sadewo menyen**tuhnya. *** Kinanti tersenyum seraya menatap gadis kecil itu. "Mau sarapan sekarang?" "Hu um. Tapi aku ambil tas dulu, Mbak." Kinanti mengangguk. Menatap Letta yang berjalan ke arah meja belajar mengambil tas, kedua netra Letta menatap ke arah jam tangan yang jatuh di samping meja. Letta mengerutkan dahi mengambil jam itu kemudian berjalan lagi ke arah Kinanti. "Mbak, kok ada jam tangan ya. Sepertinya ini punya, Om Dewo deh." Kinanti menahan jantung yang hampir melompat karena rasa kaget dan tidak percaya. "Jam?" tanya Kinanti penasaran. "Hu um, nih." Kinanti meneliti jam tangan tersebut, ia Juga tahu itu jam yang sering dipakai Sadewo, apa semalam Kinanti tudak sedang bermimpi bahwa Sadewo mengecup keningnya. Kinanti mendadak beku. "Mbak Kinan, yuk." Kinanti terkejut ia sibuk melayani perasaan sendiri. "Eh, yuk." Pada akhirnya, Kinanti mengerti. Bahwa hidup tidak bertopang pada masa lalu. Sekelam apa pun itu, masa depan akan selalu ada untuk anak semata wayangnya. Di meja makan Kinanti masih asyik menyuapi sarapan nasi goreng telur mata sapi. Letta pun tidak bersuara, hanya asik menikmati suapan demi suapan Kinanti. "Kinanti, nanti temani aku ya." Pinta Bu Astuti pada Kinanti "Nggeh, Nyonya." "Kemana sih, Bu?" tanya Haruka curiga. "Cuma mau ajakin ke rumah, Tante Selin. Kamunya juga sibuk kan, sekarang mana bisa kamu temani Ibu." Haruka mendengus kesal. "Hmm." Letta telah selesai sarapan. Gadis kecil itu mengambil gelas berisikan s**u lalu meminumnya. Setelah itu akan berpamitan pada papanya, mamamnya dan semua keluarga. "Pagi semua." Suara Lingga memecah keheningan. "Pagi." "Sudah di sini saja pagi-pagi." "Emm, mau lihat yang cantik-cantik, Budhe." Lingga tersenyum senang menatap genit ke arah Kinanti. Sadewo sangat kesal oleh sikap tengil Lingga sepupunya itu. "Kinanti maksudmu yang cantik?" tanya Ayuning. Lingga hanya ngengir kuda. 'Tenang, Kinanti. Jangan seperti perempuan bodoh. Tenang dan kuasai diri. Anggap perkataan Lingga hanya gurauan semata' guman Kinanti dalam hati. "Jangan genit deh, Lingga." Sahut Bu Astuti lagi. "Kejanjenan kamu, Lingga. Level dan selera kamu terlalu kampungan." Haruka menyahut. Kinanti mengambil air minum di gelas. Dan meneguknya separuh. Sejuknya air yang mengalir di kerongkongan membuatnya sedikit tenang dari ejekan Haruka. Lingga tersenyum mengejek Haruka. "Ga papa demi gadis cantik ini, bukankah cinta butuh di perjuang kan." Beberapa kali Sadewo berdehem yang membuat Kinanti semakin salah tingkah. "Lingga kamu ini ya ada-ada saja." Seru Bu Astuti. Semua diam. Sejenak mereka dibekap kebisuan. Suasana hening, hanya embusan angin yang terdengar lirih dari arah gazebo belakang. Letta memecah keheningan saat pamit akan berangkat ke sekolah. "Kami permisi, Nyonya." "Ya hati-hati Kinanti, Letta." Kinanti dan Letta mengangguk. "Berangkat bareng, Om saja ya. Letta?" Letta mengangguk patuh. "Boleh." "Asyik. Semuanya aku permisi ya." Sadewo mengusap kepala. Membenahi rambut yang sudah tertata rapi hanya untuk merasakan ketidaknyamanan. Bola mata Sadewo membulat mendengar jika Lingga mengantar Kinanti. Rasa panas menjalar ke seluruh tubuh. *** Haruka tertawa licik menatap Sadewo. Ia harus bisa meracuni Sadewo. "Kalau dipikir-pikir, Lingga cocok juga sama Kinanti ya," tukas Haruka menatap ke arah Sadewo yang fokus menyetir. Sadewo tak menjawab. "Kamu cemburu, Mas?" Sadewo masih fokus menyetir. "Dasar keras kepala!" Perjalanan menjadi hening. Sadewo melepaskan satu napas lelah. Pikirannya kembali terbagi. Memalingkan wajah menatap keluar. Langit tampak gelap. Sebentar lagi sepertinya akan turun hujan. Di dalam hatinya hanya dipenuhi Kinanti bagaimana keadakannya jalan bareng dengan Lingga. "Mas." "Hmm." "Anterin ke rumah mama ya." Napas Sadewo terembus. "Kamu mau apa?" "Aku akan temani mama. Ke luar negri." Sadewo melirik tidak suka. Sadewo tersenyum menagkap raut jengkel yang tampak dari wajahnya. "Mas itu pribadi yang menyebalkan tau," lanjut Haruka mengoceh tak jelas. Sadewo hanya menaikkan bahu. Ia fokus mengemudi. Sepertinya Sadewo enggan menanggapi celotehan Haruka. "Baiklah. akupun berhenti berbicara untuk mengganggumu." "Bagus." Layar ponsel dalam genggaman tangan Haruka menyala mengalihkan atensi Haruka yang makin kesal. Bu Hana : Mama tunggu di Bandara, Ruka. Cepat susul mama ke sini. Haruka: Mama sudah di sana? Bu Hani: Hmm, cepat ya. Haruka: Baiklah, Ma. Sebenarnya ajakan berlibur sang mama sama sekali tidak membuatnya berminat. Haruka menarik napas panjang dan mengusap wajah kasar. Mengingat jika ia pergi berlibur makin banyak waktu luang dan memberi kesempatan antara Kinanti dan suaminya. Saat ini Haruka tidak bisa berfikir dengan baik. Haruka mencintainya sepenuh hati, meski yang ia rasakan sekarang adalah sakit hati karena sikap acuh Sadewo jika ia tak sering berlibur maka ia bisa gil--a dibuatnya. "Mas aku di ajak mama liburan." Sadewo mendesah pelan. "Ya." "Makasih, Mas," ucapan Haruka itu hanya Sadewo balas dengan senyum tipis. Tak lama Sadewo menepikan mobil ke kiri. Dia menempatkan mobilnya di parkiran Bandara di sana Ibu mertuanya sudah menunggu, sesampainya di sana Sadewo langsung izin pulang untuk bekerja. *** Lingga tersenyum menatap ke arah Kinanti. "Terima kasih sudah diantar." "Gak mau diantar pulang?" tanya Lingga memohon. Kinanti tersenyum. "Tidak usah, masih ada yang harus aku kerjalan, Den. Letta minta saya membelikan sesuatu." Lingga manggut-manggut. "Ya baiklah." "Hati-hati, Den Lingga." "Hu um. Aku duluan ya." Kinanti mengangguk dan melambaikan tangan. Kinanti berdiri menatap mobil Lingga yang menjauh. Akhirnya Kinanti memutuskan ke mini market terdekat. Mendorong pintu kaca memasuki mini market. Membeli roti juga air mineral juga s**u pesanan Letta. Kinanti sudah menenteng satu botol air mineral juga beberapa snack. "Ada lagi, Mbak?" tanya mbak kasir seraya menerbitkan senyum ramah. "Sudah." Kinanti membayarnya dan kembali berjalan ke arah jalan raya, berniat ingin menyebrang namun kendaraan masih ramai. Dirasa sudah sepi Kinanti menyeberang. Langkahnya hampir sampai di pinggir suara klakson mengagetkan Kinanti. Bahkan ia baru mencapai pinggir jalan ketika merasakan jantungnya berdetak tak karuan. Sadewo menginjak pedal rem, dan panik ia melihat seseorang di depan mobilnya sedang terjatuh. "Astaga! Apa itu manusia?" Sadewo membuka pintu dan berlari ke arah depan, jantungnya naik turun, Usai menarik napas, Sadewo melihat gadis menunduk dengan memegangi kepalanya ia ketakutan. "Maaf aku tak sengaja." Sadewo mengenali wanita itu yang tertunduk ketakutan. "Kinanti hei. Kamu?" tanya Sadewo cemas. Kinanti terdiam. Tak mau tinggal diam Sadewo mengangkat tubuh Kinanti yang dingin. Membawanya menjauhi tempat itu. Sesampainya di kursi Sadewo menurunkan tubuh Kinanti dengan sangat hati-hati di kursi. "Kinanti itu bahaya. Kenapa kamu asa di sini hah?" "Emm, tadi aku lihat sepi." Tangan Kinanti bergetar. "Ada yang sakit?" "Hum kaki aku." "Duduk dulu, makanya jangan ceroboh, Kinan, nah kan ini banyak darahnya lo," titahnya seraya cemas. Kinanti memalingkan wajah, malas menatap Sadewo. "Astaqfirullah. Ini." Sadewo panik. "Mau ke dokter ya. Banyak darah ini." Kinanti berdesis menahan perih. "Sudah ini hanya luka kecil, Den. Sepertinya hanya luka luar saja." "Coba kalau mobil lain. Padahal tadi mobil aku pelan jalannya." "Iya, maaf." Sadewo bangkit masuk ke dalam mobil dan entah mencari apa. Kinanti duduk sambil menunduk, menatap kakinya benar ternyata berdarah. Saat sedang terus menunduk sambil meratapi keadaan kaki. Suara langkah rusuh terdengar mendekat. "Maaf lama. Aku nyari dulu kotak P3K di mobil." Kinanti tersenyum. "Ini tak apa, Den." "Diam lah." Sadewo kemudian berjongkok dihadapan Kinanti. Dan mulai mengobati kakinya. Sesaat Kinanti mendadak kaku, ia terpana melihat bagaimana Sadewo begitu telaten mengobati luka di kakinya. Mengelap darah dan meniup-niup luka di kaki. "Lukanya hanya lecet saja, Den." Tukas Kinanti. "Ini cukup dalam, Kinan. Diamlah." Kinanti terdiam. Ia hanya menatap bagaimana cara Sadewo membalut lukanya dengan plester, begitu hati-hati dan sangat lembut. "Gimana udah enakkan kakinya?" Kinanti mengangguk. "Sudah." "Lain kali hati-hati, kalau jalan di lihat. Untung aku tadi pelan, maaf ya." Diam-diam Kinanti tersenyum dalam hati. "Hmm."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN