Deeva berlari dan langsung menghentikan taksi begitu ia sampai di luar teritori sekolah. Rey yang melihat kepergian Deeva dengan cepat melayang mengikuti Deeva. Seakan teringat sesuatu ia menghentikan tujuannya untuk mengejar Deeva. Pengejarannya terasa sia-sia. Pikiran Rey berputar cepat. Pikirannya mengatakan kalau Deeva sedang butuh waktu sendiri. Ya, dia benar. Tubuh Rey berbalik mencoba membiarkan Deeva menumpahkan segala emosinya sendiri. Seorang diri. Namun, di sisi lain Rey tidak rela meninggalkan Deeva rapuh sendiri. "Apa boleh buat gue gak tahan untuk ketemu dia," *** "Deev! Kok lo langsung masuk kamar sih?” Seruan itu terdengar bersamaan dengan gedoran pintu yang cukup keras. Deeva sama sekali menggubrisnya. Tak ada niatan untuk bangkit bahkan untuk bersuara. Untuk apa

