Sebulan kemudian. Langkah sepatu hak tinggi terdengar memasuki kediaman Vincent dengan tegas dan angkuh. Mona melangkah masuk sambil menenteng amplop cokelat di tangannya, senyum puas terpampang di wajahnya. Tatapannya menelusuri interior rumah megah itu dengan penuh rasa memiliki. Seorang pembantu rumah tangga segera mendekat dan menunduk sopan. “Nona, Anda ingin mencari siapa?” Mona menatap pembantu itu dengan tatapan meremehkan. “Di mana Vincent?” tanyanya singkat, suaranya terdengar dingin dan penuh kesombongan. “Tuan belum pulang, Nona,” jawab pembantu itu pelan, menunduk dalam menahan takut. Mona mendengus pelan sebelum tersenyum tipis. “Kalau begitu, aku akan menunggunya di kamarnya,” ujarnya tanpa izin, melangkah begitu saja melewati pembantu itu. Langkah kakinya terdengar teg

