Molly terus menuruni anak tangga darurat dengan langkah tergesa. Napasnya tersengal, dadanya terasa sakit menahan kelelahan. Namun ia tidak peduli. Yang penting sekarang adalah melarikan diri dari Vincent dan menyelamatkan bayinya. Begitu tiba di lantai dasar, matanya menangkap pintu besar menuju lobby rumah sakit. Dengan cepat ia berlari ke arah pintu itu. Tangannya meraih gagang pintu dan menariknya terbuka. Namun sebelum sempat melangkah keluar, tiba-tiba lengannya ditarik kuat dari samping. “Aahh!” teriak Molly kaget saat tubuhnya terangkat dengan mudah. Dalam sekejap ia sudah berada di pundak Vincent, posisinya terbalik menatap punggung pria itu. “Lepaskan aku! Aku tidak mau aborsi!” teriak Molly sambil memukul punggung Vincent dengan tangan kecilnya. Namun pria itu tidak bergeming

