Sebuah ruangan dengan dinding dan langit-langit dari kristal es, semuanya kosong hanya ada rasa dingin yang menusuk sampai ke tulang. Heera berdiri menggigil, sedangkan Yasabadra terlihat seakan tak merasakan dingin. Mereka hanya berdua di ruangan itu. melihat Heera yang menggigil dengan wajah memerah, Yasabadra mendekatinya dan memeluknya kembali. Suhu tubuhnya terasa hangat dan secara ajaib bisa menghangatkan tubuh Heera. “Tubuhmu seperti kompor, ajaib,” komentarnya seraya memeluk lengan Yasabadra di perutnya. Yasabadra tak mengatakan apa pun, dia membawa tubuh Heera ke sebuah pintu es, lalu menekannya hingga terbuka, menampilkan ruangan berdinding es lainnya. Ruangan itu lebih besar lagi, dengan sebuah peti mati es diletakkan di tengahnya. Yasabadra mengibaskan tangannya hingga lilin-

