Yasabadra berdiri dengan pandangan mengedar, menatap seluruh tempat ia berada. Tempat itu semuanya putih, sejauh mata memandang hanya ada warna putih yang kosong. Sejauh dia berlari, semuanya akan sama. Dia tidak menghabiskan energinya, dia hanya berdiri di tengah dengan wajah tanpa ekspresi. Di hadapannya ada sosok yang serupa dengannya, tak ada perbedaan apa pun seperti dia bercermin, hanya ekspresi dari dua wajah mereka yang berbeda. Yang satu datar, dan yang lainnya penuh kekejaman. Dresthabadra berdiri dengan angkuh dan penuh aura kelam. Matanya berkilat-kilat licik. “Aku masih memegang syarat yang pertama.” Yasabadra berdiri dengan sama angkuhnya, tapi hanya ada wajah datar. “Aku masih menolaknya,” jawabnya. “Baiklah, bagaimana kau bisa mengetahui rencanaku?” tanya Dresthabadra.

