Ruang aula itu masih dibanjiri ucapan selamat dari para pejabat dan anggota Kerajaan lainnya untuk Heera. Kini Heera sepenuhnya sudah tersadar, dia menatap Raja Wikrama sambil menggeleng. “Your Majesty, saya tidak ingin menjadi Ratu kedua,” ujar Heera. Raja Wikrama menatapnya dengan pandangan yang tak terbaca. Dia berbisik pada Heera, “Kenapa? Aku akan mencintaimu, aku akan memanjakanmu. Kau boleh melakukan apa pun sesukamu. Kau ingin hidup bebas, bukankah kau suka kebebasan? Aku akan mengabulkannya. Jika perlu kita bisa hidup berdua saja dan jauh dari istana.” Heera mengerutkan dahinya tak percaya memandang Raja Wikrama. Dia seorang Raja, tapi ada yang salah dengan semua perkataannya, Raja terlihat begitu bersemangat namun juga ada keputusasaan, dia tak mengerti mengapa Raja bisa mengu

