Heera terkejut sesaat, tapi buru-buru menggeleng. Tentu saja Dresthabadra bisa tahu, dia seorang Putra Mahkota dan juga seorang Raja Iblis, tentu saja pendengarannya lebih peka, terlebih dia dan Mara bercerita di atas gedung ini. Heera mendorong d**a Dresthabadra, berguling hingga pria itu berbaring telentang. Dia menggeser tubuhnya dan berbaring di atas d**a Dresthabadra, mendengarkan detak jantungnya. “Raja Iblis juga memiliki detak jantung,” ujar Heera. Dresthabadra tertawa, seraya mengetuk dahinya. “Tubuh ini masihlah tubuh manusia.” Heera mendengarkan detak jantung itu, tiba-tiba dia teringat sesuatu dan meragu. “Jadi, kau dan Putra Mahkota Yasabadra memanglah orang yang berbeda? Dia anak manusia dan kau Raja Iblis?” Dresthabadra memiringkan kepalanya, tersenyum nakal. “Heh, jadi

