Dua penyihir itu dengan menggebu-gebu mulai menyerang sosok gelap dan kejam di depan mereka. Mereka menyerang dengan pedang sihir mereka dalam sekaligus, tapi berhasil ditahan oleh saber sosok itu tanpa bergerak sedikit pun. Mereka masih terus menyerangnya, tapi sosok itu masih berdiri dengan aura membunuhnya yang semakin kuat. Dia hanya menjentikkan satu tangannya yang bebas dan dua penyihir itu terpental jauh sampai menabrak tembok. Mereka terbatuk darah di tanah. Heera menatap Putra Mahkota yang saat ini dipenuhi dengan aura membunuh yang membara. Dia sudah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Dresthabadra melangkahkan kakinya mendekati dua penyihir yang mulai bangun itu, pedangnya masih menggesek jalan berbatu dengan kuat hingga dengungannya membuat kepala pusing dan perut mual. H

