Bab 3: Tidak sopan

886 Kata
Aneh sekali, kenapa aku jadi terus memikirkan Indra, ya? Segitunya bencinya, ya? Kata-kata menyelekitnya terus terputar ulang di kepalaku. Bagaikan kaset rusak dan berhasil membuatku semakin kesal. Aku bahkan sampai tidak memperhatikan materi yang dijelaskan oleh guru Matematika, untung saja Lukas mau menjelaskan ulang. Lihat? Aku tidak terlalu malas, kok. Nilaiku juga tidak bisa dibilang jelek, karena masih di atas nilai rata-rata banyak siswa yang lain.             Indra memang sok tahu, asal menilai orang dari luarnya saja. Jahat sekali, bukan? Padahal ada kalimat terkenal bahwa jangan menilai sesuatu dari covernya saja. Dia seharusnya tahu kalimat itu, jika dia memang sangat pintar. Cih, dasar cowok kurang asem bermulut pedas.             "Luk, lo kenal Indra?" tanyaku, saat kami berdua berjalan menuju parkiran. Waktu memang berlalu begitu cepat, tanpa sadar kelas sudah berakhir.             "Oh, Indra. Kenal, Key,” jawab Lukas sambil mengunyah permen karet.             "Kok gue nggak pernah lihat dia ya sebelumnya?"             Lukas tertawa. "Makanya, jangan liat handphone mulu. Indra segede itu sampai nggak keliatan."             "Emangnya dia terkenal?" tanyaku berdecak heran.             "Dia kapten sepak bola, Dodol. Banyak cewek yang suka sama dia, tapi ... dia ketus banget sampai para cewek mundur.”             "Wow, kapten sepak bola? Pantes aja badannya bagus. Eh, maksud gue--"             "Wah, lo baru tau Indra, ya?" Mata Lukas membulat sempurna.             "Iya. Ternyata pengurus OSIS juga. Tapi, katanya jarang ikut rapat."             "Iyalah, dia tuh super sibuk."             "Luk, kok lo tau banget tentang Indra, sih? Jangan-jangan..."             "Eh! Jangan mikir yang aneh-aneh! Adeknya Indra itu sahabat adek gue, Si Roni. Gue jadi dapet info gitu tentang Indra dari Roni."             "Oh!" Aku cukup terkejut, mengetahui fakta itu. "Terus? Dia itu sibuk apaan, sih?"             "Dia punya pekerjaan yang lumayan banyak. Salah satunya, penyiar radio."             "Hah? Really? Terus selain penyiar radio, dia kerja apa? Dia nggak keliatan kayak orang nggak mampu, ah. Ngapain dia kerja?”             “Hmm, kalau nggak salah, dia itu sering ke panti asuhan gitu. Nyumbang makanan, baju, bahkan mainan buat anak-anak yatim piatu di sana. Hampir setiap hari, kayaknya. Terus, dia juga jadi guru private Bahasa Inggris anak SD.”             “Why? Kenapa dia harus sesibuk itu?” Aku mengernyit. “Gue lihat sepatunya, keliatan mahal.”             Lukas terkekeh, menepuk punggungku. “Dia kerja bukan nyari duit, tapi nyari pengalaman dan menolong sesama. Iya, dia sebaik itu, gue juga heran.”             “Really? Tapi kok sikapnya ke gue sama sekali nggak baik, ya?” Aku sungguh heran.             “Mungkin, karena belom kenal. Temen gue ada yang akrab sama dia, katanya Indra asik dan setia kawan.”             “Aneh, bener-bener aneh.” Aku menggeleng tidak percaya. “Gue jadi penasaran.”             “Penasaran?”             “Kira-kira, kalau gue bisa deket sama dia, apa dia bisa bersikap baik dan manis?”             Lukas malah mendengus geli. “Dasar. Menurut gue, susah buat dekat sama dia, Key.”             “Kenapa memangnya?”             “Dia terkenal milih-milih kalau berteman. Cuma orang tertentu yang bisa jadi temannya, Key. Jadi, jangan terlalu berharap, oke?”             “Wah, sombongnya.” Aku mendengus kesal. “Fine, gue nggak mau jadi temannya.”             “Bagus.”             “Gue mau jadi pacarnya aja.” Aku tersenyum miring.             “Hah? Lo serius?” Lukas terlihat terkejut.             “Nggak, lah. Cuma main-main, kok. Gue nggak mungkin suka beneran sama orang sombong kayak dia. Dih, amit-amit.”             “Bayar gocap, ya, kalau lo sampai beneran suka sama dia.”             “Gocap doang? Seratus ribu juga gue berani.”             “Oke, gue catet!”             Saat aku mau naik ke atas motor Lukas, Indra muncul dengan headset yang terpasang di kedua telinganya. Dia berjalan dengan lurus menuju … ke sebuah mobil?             Aku kira, dia naik di kursi penumpang. Ternyata dia mengeluarkan kunci untuk membuka pintu mobil merah tersebut. Aku berdecak kagum, tanpa sadar.             “Dia beneran orang kaya, Luk?”             “Iyalah, bokapnya punya perusahaan penerbitan terkenal.”             “Enak, ya, terlahir kaya.” Jujur, aku selalu iri dengan orang seusiaku dan memiliki orangtua yang kaya. Kenapa? Tentu saja karena aku tidak terlahir seperti itu. Apa lagi alasan lain yang masuk akal coba?             “Dia beli mobil bukan pakai uang orangtuanya, Key.”             “Hah? Really? Lo pasti bercanda, kan?!”             “Dia nabung sejak lama, dari gajinya.”             “GILA, nggak mungkin.” Aku tidak percaya. “Lo tahu dari siapa?”             “Roni, dan adek gue itu tahu dari Deeka. Nggak mungkin anak kecil bohong, kan? Buat apa coba?”             “Bener juga. Oke, gue akui dia sedikit keren.”             Walau sulit, tapi aku akui dia memang keren. Di usianya yang masih muda, dia bisa mempunyai mobil dengan hasil usahanya sendiri. Tidak merengek seperti orang kaya lainnya. Dan, berkat Lukas, aku juga jadi tahu bahwa dia memang tidak sejahat yang aku kira.   ** Aku jarang sekali menggunakan telepon rumah. Bahkan, hampir tidak pernah. Tapi kali ini, aku harus menggunakannya untuk menelepon lelaki jutek itu. Terpaksa, oke?             "Hallo?" Terdengar suara anak lelaki. Bukan suara Indra.             "Ya, hallo. Ini siapa, ya?" tanyaku sopan.             "Lah, harusnya saya yang nanya gitu, Kak." Anak lelaki itu terkekeh.             "Saya ... temannya Indra. Bisa panggilin Indra, Dek?"             "Oh, Bang Indra. Bisa-bisa. BANG! Nih ada telepon dari ... gebetan Bang Indra."             Gebetan? Kurang asem nih bocah.             "Ada apa, Key?” Suara Indra terdengar tanpa emosi             Dia tahu, aku yang menelepon?             "Kok lo tau kalo gue yang nelepon?"             "Karena cuma lo yang tau nomor telepon rumah gue."             Entah kenapa, aku merasa bangga. Cuma aku?             "Oh, sebenernya gue nelepon mau nanyain sesuatu."             "Soal acara amal?"             "Bukan. Ini rada pribadi."             "Oke, apa?"             "Lo penyiar radio, ya?"             "Lo tau dari mana?"             "Dari Lukas."             "Oh."             "Jadi, lo beneran penyiar radio? Terus, lo katanya punya kerjaan lain juga. Hebat banget bisa kerja sambil sekolah. Gue nggak nyangka banget."             "Hmm. Udah ngocehnya?"             Dasar nyebelin.             "Tunggu!"             Tut ... tut ... tut             Sialan. Dia matiin.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN