Bab 8: Hampir

658 Kata
Keesokkan harinya, aku ada tugas sama Indra ke beberapa panti asuhan yang akan menerima sumbangan dari acara amal tiga minggu lagi. Tiba-tiba, aku teringat perkataan adiknya Indra yang bernama Andra. Dia bilang, ada foto cewek cantik di galeri hape Indra. Hmm, apakah itu aku? Atau, cewek lain? Aku ingin memeriksa untuk memastikan hal itu. Jika ternyata cewek lain, akan aku tabok si Andra.             "Ndra, boleh pinjem hape?"             Indra menaikkan satu alisnya. "Lo mau nelepon siapa?"             "Gue cuma mau lihat galeri foto di hape lo."             Mata Indra sedikit melebar. "Ngapain?!"             "Kok lo panik? Nyimpen foto p***o, ya?" Aku tertawa.             "Nggak, lah! Astagfirullah."             "Yaudah, lihaaat."             "Nggak boleh!"             Aku menggembungkan pipiku dan menahan napas. Indra kembali menaikkan satu alisnya. Belum mengerti maksudku menahan napas. Ha, ini adalah senjataku jika meminta sesuatu.             "Lo ngapain?"             Aku tidak menjawab. Aku terus menahan napasku.             "Lo sinting, ya? Fine!" Indra mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celana putih abu-abu. "Nih! Lihat aja sepuas lo."             Aku kembali bernapas sambil tersenyum lega, menerima hape Indra. "Makasih, Sayang!"             "Pala lo kayang."             "Hah? Ah, jayus." Aku terkekeh, sambil membuka ponsel Indra (yang sangat mahal).        Saat aku buka galeri, isinya malah foto-foto selfie Deeka.             "Ini hape lo atau hape Deeka? Kok banyak foto dia?"             Indra menghela napas. "Dia sering minjem buat selfie. Katanya, pakai hape gue lebih bagus hasilnya."             "Deeka emangnya pakai hape apaan?" tanyaku penasaran. Mereka kan orang kaya, masa hapenya Deeka lebih jelek sih?             "Sama kayak gue."             Jawaban Indra membuatku menghela napas. "Lah? Kenapa dia bilang fotonya bagusan di hape lo?"             "Namanya juga bocah. Iyain aja biar seneng."             Aku mendengus geli. Indra terdengar begitu menyayangi adiknya. Sangat manis. Aku kembali memerhatikan foto-foto yang ada di hape Indra. "Kok nggak ada foto gue sih, Ndra?"             "Ngapain gue nyimpen foto lo? Emangnya penting?" Indra tertawa sinis, bahkan memutar bola matanya seperti pemain anatagonis.             Saat aku kesal setengah mati karena adiknya Indra memberikanku harapan palsu, tiba-tiba aku menemukan album yang berjudul Kunci.             Saat aku buka album itu, senyum miringku tercipta....             "Album apa ini, Ndra?"             Indra mengernyit, merebut ponselnya. "Dih, ini foto-foto siapa?"             "Itu foto-foto gue! Lo pasti ngambil dari i********: gue, 'kan? Ngaku!"             Indra masih memasang wajah sok-cool-minta-ditabok. "Emangnya gue punya i********:? Lagian, buat apa gue nyimpen foto lo?"             Iya juga. Buat apa? Dia 'kan membenciku.             "Terus gimana ceritanya ada foto-foto gue di hape lo?" tanyaku bingung.             "Nggak tau." Indra mengedikkan bahu. "Kerjaan Deeka, kali. Dia 'kan sering iseng."             "Deeka? Jadi, bukan lo?"             "BUKAN. Jangan kepedean, deh. Lihat muka lo aja gue males." Indra berbalik badan, meninggalkanku yang menatap punggungnya dengan kecewa.             "Gue kira, ada harapan."             Sial. Seharusnya, aku tidak memeriksa hape Indra. Tapi, masa sih Deeka yang menyimpan fotoku di hape Indra? Untuk apa? Deeka 'kan juga punya hape. Dasar keluarga yang aneh.             “Woy! Malah bengong! Ayo, cepetan masuk!” Indra memanggilku dengan suara sekencang toa. Aku hampir lupa, tugasku belum selesai. Aku pun berlari menyusulnya.             Saat aku memasuki panti asuhan, aku langsung melihat Indra dikelilingi oleh anak-anak. Mereka terlihat lucu, tapi aku tidak terlalu suka anak-anak. Mereka terkenal berisik, bukan?             Namun, melihat anak-anak itu tersenyum senang bersama Indra yang sedang membagikan makanan ringan, hatiku entah mengapa terasa lebih hangat. Entah anak-anak itu atau Indra yang membuat hatiku hangat, aku tidak yakin.             “Key, bantuin!”             Oh, iya. Aduh, aku harus membantunya agar tidak dimarahi lagi. Aku pun ikut membagikan makanan ringan kepada anak-anak. Wah, mereka terlihat lebih manis jika dari dekat. Aku tanpa sadar ikut tersenyum, apalagi setiap mereka berterima kasih. Aku bisa melihat kepolosan mereka dengan jelas. Manisnya.             “Jarang banget gue lihat lo senyum selepas itu,” gumam Indra, mencibirku.             “Heh, ngaca. Ini juga pertama kalinya gue lihat lo senyum. Lo selalu cemberut selama ini,” balasku tak mau kalah.             “Masa? Gue cemberut kalau sama lo doang, kali.”             Aku mendengus. “Segitu malesnya liat muka gue, ya?”             “Iya, baru tau?”             “Apa gue kurang cantik?”             “Kenapa semua harus dikaitkan sama fisik, sih? Nggak ada hubungannya.”             “Jadi, lo nggak mandang fisik?”             “Nggak.”             “Terus?”             “Rahasia. Lo nggak perlu tau.”             Dih, dasar pelit.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN