Bab 9: Jatuh hati

704 Kata
Ini pertama kalinya dalam hidupku, aku bisa menyimak rapat dengan serius.             Ponselku pun dimatikan. Aku tidak tertarik bermain hape, karena di hadapanku ada yang lebih menarik dari hape.             Yaitu, Indra. Cowok itu sedang berbicara soal idenya untuk acara amal. Persetan dengan apa yang dia bicarakan, aku tidak mengerti. Tapi, yang pasti wajahnya penuh dengan ekspresi. Entah kenapa, aku merasa senang melihatnya. Aku terus bertopang dagu dan memerhatikannya yang bicara sambil menyatat sesuatu di papan tulis. Postur tubuhnya memang postur seorang atlet, lalu senyum tipisnya benar-benar membuat jantungku demo. Astaga, apa ini? Jangan-jangan … aku mulai gila? Eh, maksudku, apa aku mulai jatuh cinta? Sama Indra?             "Ah, gantengnya," gumamku tanpa sadar. Perempuan di sebelahku langsung melirikku tajam. "Apa lihat-lihat? Bukan lo yang ganteng."             "Dasar cewek aneh," tukasnya sok menyatat yang Indra jelaskan. Oh, dia sepertinya sekretaris OSIS. Ups. "Lo suka Indra, ya?"             "Bukan urusan lo," balasku santai.             "Indra punya gue. Dan gue nggak suka kalo ada cewek lain yang berusaha nyari perhatian."             What?             Aku tertawa miris. "Punya lo? Ngaku-ngaku aja, sih."             "Ya udah, kalo nggak percaya."             Aku memerhatikannya dengan serius. Wajahnya memang cantik walau jutek. Tapi, tenang! Masih tetap cantikan aku. Dan, masa sih Indra suka sama cewek begini?             "Ada pertanyaan?" Indra memandang seluruh pengurus OSIS dengan senyum yang cukup ramah. YA, memang benar. Dia tidak ramah hanya padaku. Wow. Apa itu artinya aku spesial?             Hening. Tidak ada yang bertanya. Apa aku harus bertanya? Tapi, tanya apa?             Mata Indra berhenti ke arahku. Ia menaikkan satu alisnya, seakan tau aku ingin bertanya. "Mau nanya apa, Keyra?"             Waaah, luar biasa. Dia menyebut namaku dengan lembut! Ini adalah sebuah kejadian yang sangat langka!             Aku bingung.             Tanya apa, ya?             Masa aku harus tanya nomor sepatu? Nanti dikira, aku mau beliin dia sepatu. Ogah.             Aku menarik napas dan mengembuskannya secara perlahan. Aku sudah tau harus bertanya apa.              "Indra, memangnya cewek ini pacar lo?" Aku menunjuk perempuan di sebelahku, yang tadi mengaku-ngaku jadi pacarnya Indra.             "Dinda?" Indra mendengus geli, ia langsung menatap Dinda dengan senyum miring. "Dinda, bukannya lo pacar Nino? Ngapain ngaku jadi pacar gue di depan Keyra?" Wait, what?             Dinda tertawa. "Gue cuma mau ngerjain Keyra, kok."             "Ngerjain Keyra? Kenapa?" Nada suara Indra terdengar begitu dingin dan mengancam. Kenapa Indra begitu? Kenapa dia yang kesal? Aku yang harusnya kesal!             "Erm, lagian dia kayaknya suka banget sama lo, Ndra. Lucu aja 'kan kalo gue ngaku jadi pacar lo? Gue mau lihat reaksinya aja, kok."             Aku memutar bola mataku. Aku heran, kenapa sih suara Dinda harus diimut-imutin di depan Indra? Perasaan, tadi saat bicara denganku suaranya tidak seperti itu.             "Reaksinya, ya?" Indra berjalan mendekatiku. "Coba jawab, gimana tadi reaksi lo saat dia ngaku jadi pacar gue."             Jantungku tiba-tiba berdebar lebih cepat. "Hah? Reaksi gue ... biasa aja. Soalnya gue nggak percaya dia pacar lo."             "Kenapa?"             Aku menggaruk kepalaku. "Dinda bukan tipe lo banget. Lo nggak suka sama cewek sok imut, 'kan?"             Indra menepuk kepalaku pelan, sambil berujar, "Pinter."             Aku tidak bisa menahan senyumku lagi. Baru kali ini, dia memujiku. Astaga, ini suatu kemajuan!             Indra menarik tangannya dengan cepat saat satu ruangan heboh menyoraki kami. Wajahnya begitu panik. Tapi, itu sangat lucu di mataku. Jadi, aku hanya tertawa.   *** "Lukas, Lukas, Lukas! Lo nggak bakal percaya apa yang baru aja Indra lakuin!" pekikku saat memasuki kelas.             Biasanya, Lukas selalu duduk manis membaca komik dan menungguku kembali dari rapat. Tapi, hari ini mejanya dikelilingi banyak perempuan.             "Selamat ya, Lukas! Lo keren banget!"             "Astaga, lulus SMA nanti, lo pasti bakal jadi terkenal!"             "Band lo keren, deh!"             Band? Band apa?             Aku menghampiri mejaku dan Lukas. "Misi, misi! Ngapain sih pada ngumpul di sini?"             "Lo nggak tau ya kalau band Lukas diundang acara musik yang ada di TV?" tanya teman perempuan sekelasku, dengan nada yang meremehkan.             "Hah?" Aku langsung melirik Lukas. "Kok lo nggak cerita ke gue, Luk?"             Lukas tersenyum tipis. "Niatnya sih, biar surprise."             "Sekarang udah nggak surprise! Parah banget sih, Lo!" Aku melipat tanganku, dan membuang pandanganku dengan angkuh.             "Maaf, Key. Lo lagian keliatan sibuk mulu sama Indra. Gue nggak mau ganggu..." Aku heran, kenapa nada suara Lukas terdengar sedih begitu?             "Gue nggak pernah merasa terganggu. Lo 'kan BFF gue, Luk! Lo tuh masih jauh lebih penting daripada Indra!"             Lukas tersenyum lebar. "Lo serius, Key?"             "Iya, lah!" Aku tertawa hambar. Entah kenapa, perasaanku tiba-tiba menjadi tidak enak.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN