“Hey, Sayang! Gue boleh nebeng pulang, nggak?" Aku berniat mengejutkan Indra. Tapi, sepertinya ia tidak terkejut. Tidak seru! Tapi, tunggu dulu. Kenapa mukanya dua kali lebih ditekuk dibanding biasanya? Bahkan, tadi saat rapat, dia sudah terlihat baik padaku.
Kenapa tiba-tiba kembali cemberut?
"Nggak," balas Indra memakai helm. "Pulang aja sana sama Lukas."
"Kok Lukas? Dia udah gue suruh pulang duluan."
"Kenapa? Bukannya dia BFF lo? Kok malah disuruh pulang duluan? Jahat banget."
"Lo kenapa jadi makin ketus gini, sih? Kayaknya kemarin udah baikan..." Aku memandang Indra bingung.
"Gue cuma baik sama orang yang baik. Lo harusnya ngaca," tukas Indra tajam. "Kita emang taruhan sampai acara amal selesai, tapi ... kayaknya gue udah yakin sama keputusan gue."
"Keputusan lo? Maksudnya?"
"Keyra, gue nggak akan pernah suka sama lo."
Deg.
"Lo mau menghentikan taruhan kita? Kenapa, Ndra?!"
"Karena lo jahat! Puas?!"
Jahat?
"Gue? Jahat?"
"Berhenti mainin perasaan Lukas dan gue, Key. Gue capek. Ah, lo nggak perlu khawatir. Gue nggak akan nyuruh lo hapus medsos lo, kok."
“Kenapa?” tanyaku datar.
“Karena, cuma itu yang bisa lo banggain, kan?”
Jleb.
Aku sulit berkata-kata, aku hanya memandangnya dengan bingung. Dia tidak terlihat menyesal setelah mengatakan hal sejahat itu.
“Gue duluan.” Motor Indra melaju, meninggalkan aku yang masih mematung.
“What’s wrong with him?” gumamku tidak habis pikir.
***
Indra tiba-tiba menghilang.
Aku tidak melihatnya di sekolah hari ini. Apa dia sakit? Atau, dia sengaja tidak skeolah, karena malas bertemu denganku? Malas membahas masalah kemarin, mungkin?
Ah! Aku 'kan punya nomor adiknya Indra.
Namanya ... Andra.
Untung saja aku menyimpan nomornya. Kalau tidak, mungkin aku bisa mati penasaran karena tidak bisa mengetahui keadaan Indra. Semoga dugaanku salah. Dia baik-baik saja, kan?
"Hallo?"
"Andra, abang lo kenapa nggak masuk sekolah? Dia sakit, ya?"
"Iya, demam parah. Kak Keyra ke sini aja kalo penasaran." Andra malah tertawa.
"Beneran demam? Kok lo malah ketawa?"
"Ah, nggak. Gue lagi nonton film lucu, Kak."
"Oh, terus? Kenapa lo nyuruh gue dateng?"
"Jenguk Bang Indra. Siapa tau, dia nanti langsung sembuh."
Aku mendengus. "Mana mungkin bisa begitu. Yaudah, kirimin alamat rumah lo aja. Gue langsung ke sana, deh."
"Serius? Wah, oke!"
"Ya udah, bye."
"Bye, Kakak Ipar."
Wait, what? Kakak ipar? Seperti biasa, belum aku menjawabnya, dia sudah duluan mematikan telepon. Aku padaal kan mau bilang BYE JUGA sekali-kali.
Ya sudahlah, aku pun memberhentikan taksi di depan sekolah. Andra juga untungnya cepat mengirimkan alamat rumahnya. Setelah memberitahu supir taksi alamat yang dituju, aku pun bersandar sambil memasang earphone di kedua telingaku. Rumahnya jauh ternyata. Jadi, aku harus mendengarkan musik.
Mulutku terbuka lebar saat taksi akhirnya berhenti di depan alamat rumah yang aku berikan. "Beneran di sini, Pak?"
"Iya, Mbak."
Wow. Indra ternyata benar-benar orang kaya. Rumahnya besar sekali! Bahkan, ada pos satpam di dekat gerbang.
Setelah membayar taksi, aku turun dengan langkah gemetar. "Astaga, gue merasa kayak gembel nyasar..."
Aku berjalan mendekati gerbang rumah Indra. Terlihat ada dua satpam yang sedang mengobrol. "Permisi..."
"Maaf, Neng. Nggak terima sumbangan."
Hah? Tuh, 'kan! Aku dianggap gembel! Tapi, mana ada gembel pakai seragam SMA!
Aku berusaha menahan emosiku. "Sa-saya temannya Indra, Pak. Indra ada di rumah?"
"Oh, astaga. Maaf ya, Mbak. Tadi kita nggak ngeliat wajah Mbak. Kirain orang minta sumbangan..."
"Gapapa, Pak." Aku tersenyum kecut. "Saya boleh masuk?"
"Boleh, dong. Mbak temennya Den Indra? Bukan pacarnya, nih?" ejek salah satu satpam yang entah namanya siapa. Aku tidak berniat kenalan.
"Soon to be his girlfriend." Aku menyengir. "Eh, bercanda."
Mereka tertawa saja. Sepertinya tidak mengerti Bahasa Inggris.
Setelah gerbang terbuka, aku perlahan berjalan menuju pintu utama. Jaraknya lumayan jauh, halaman rumah Indra luas sekali. Bahkan ada kolam air pancur!
Saat aku ingin memencet bel, tiba-tiba pintu terbuka.
"Kok lo ke sini? Siapa yang nyuruh? Tau alamat rumah gue dari mana? Kenapa lo—"
Aku memeluk Indra yang terlihat sehat dan tampan dengan baju yang keren. "Kangen, deh. Syukurlah, lo keliatan sehat..."
"Kata siapa gue sakit, hah?"
“Kata Andra, lo sakit.”
“Andra lo percaya." Indra memutar bola matanya. "Bocah itu emang suka banget ganggu privasi gue. Padahal gue cuma izin karena tadi ada panggilan siaran mendadak."
Aku terkekeh. "Oh, gitu."
Indra mendengus. "Oh iya, gue masih marah sama lo."
"Lo sebenernya marah kenapa, sih? Kok mendadak banget?" Aku menekuk wajahku.
"Lagian--" Indra melirik sekeliling ruang tamu. "Ayo, kita ngobrol di tempat lain. Di sini banyak yang nguping."
"Ah, Abang jahat!"
"Pelit banget sih, Bang!"
Dan keluarlah dua makhluk unyu yang ternyata dari tadi menguping.
Wait, yang satu itu 'kan Deeka.
Jadi, yang satunya lagi itu Andra?! Gila, ganteng banget! Mirip boyband Korea! Kalian tahu Cha Eunwoo? Ya, begitulah kira-kira kegantengan Andra.
"Wah, Kak Keyra ternyata cantik banget!" Andra mengajakku salaman.
Aku menerima tangannya dengan gerogi. "Ah, lo juga ternyata nggak kalah ganteng dari Indra. Gue nggak nyangka."
"Emang banyak yang bilang begitu, Kak. Oh, iya. Gue baru kelas satu SMA. Jadi, lo dilarang naksir gue. Oke?"
Sialan nih bocah.
"Ha-ha, gue juga nggak doyan sama brondong."
"Cie, doyannya sama Bang Indra, ya?" ledek Deeka tertawa. Bocah itu memang minta ditimpuk banget, ya.
"Udah, udah. Ayo, Key!" Indra menarik tanganku, dan mengajakku menaiki tangga.
Wait, aku mau diajak ke mana?!