Ternyata, makan malam untuk menyambut Indra tidaklah seramai dan semeriah yang aku pikirkan. Yang benar saja, ke mana para penyiar yang lain? Kenapa hanya ada empat orang yang tersisia? Ah, lima orang jika termasuk dengan boss. Aku heran sekali saat baru datang bersama Indra. “Maaf, Boss. Yang lain kok nggak ada?” tanyaku tidak tahan, setelah duduk di sebelah Indra dan berhadapan dengan Tere—teman terdekatku. “Saya kira semuanya pasti dateng. Apa Boss nggak ancam mereka juga, kayak tadi?” Boss menggaruk belakang kepalanya dengan bingung. “Maaf, tapi ternyata ancaman saya nggak mempan. Mereka bilang sudah ditunggu oleh keluarga, jadi saya bisa apa?” “Ah, begitu. Bagus sekali, karena keluarga saya nggak terlalu menunggu saya pulang.” Aku te

