Aku berangkat pagi-pagi buta, karena ada siaran jam tujuh pagi bersama Tere. Saat aku membuka pagar, ada sebuah mobil di depan rumahku. Aku kira, mungkin tetangga yang menumpang parkir. Namun, aku langsung diklakson saat jalan melewati mobil bagus itu. Aku berjengit kaget, lalu berdiri di dekat pintu pengemudi. “Heh, siapa, sih?!” Saat kaca jendelanya terbuka, aku tidak bisa menyembunyikan senyuman. “Kaget, ya? Maaf, Sayang.” “Tumben bawa mobil? Hmm, lo jemput gue, nih? Memangnya jadwal siaran lo jam berapa?” tanyaku salah tingkah. “Memangnya aneh ya kalau gue mau anterin pacar gue kerja?” Indra mendengus geli. “Apa gue harus pulang lagi?” “Nggak, kok. Gue malah senang.” Aku tersenyum semakin lebar.

