Bab 19: Partner

1309 Kata
Sebelum memulai siaran, aku mengajak Indra ke restoran depan stasiun radio. Setelah memesan pasta dan jus stroberi, aku bertopang dagu memandang Indra. Dia pun menaikkan sau alis dan ikut bertopang dagu juga di hadapanku.                 “Kenapa? Baru sadar ya kalau gue ganteng?”                 Aku mendengus geli. “Sejak kapan lo jadi narsistik gini?”                 “DIajarin adek-adek gue tercinta,” jawab Indra mengedikkan bahu. “Oh, iya. Lo nggak nanya?”                 “Nanya apa?” tanyaku bingung. Apa ada yang harus aku tanyakan?                 “Lo lupa, gue udah nggak ngabarin lo sebulan?” Indra pun tersenyum miring. “Dari tadi gue nunggu lo nanyain loh.”                 “Oh iya! Sebenernya, lo ke mana selama sebulan ini? Apa ada masalah?”                 “Ya, ada masalah keluarga, Key.”                 “Kalau lo nggak mau cerita, nggak masalah kok.”                 “Gapapa, kali ini gue mau cerita. Kita udah pacaran, kan? Jadi, nggak seharusnya gue nyimpen rahasia dari lo. Begitu juga sebaliknya, ya.” Indra menyipitkan mata di kalimat terakhirnya.                 Aku mengangguk, tersenyum geli. “Iyaa, gue nggak akan nyembunyiin apa pun dari lo.”                 “Good girl,” puji Indra tersenyum sangat manis. Lalu, tiba-tiba ekspresinya jadi terlihat sedih. “Jadi gini, Deeka ternyata divonis penyakit yang sama kayak nenek. Gue nggak mau menyesali apa pun, jadi selama sebulan ini gue terus jagain Deeka di rumah sakit. Penyakitnya belum parah, sih, tapi gue mau lebih sering ada buat dia. Sorry, gue bahkan jadi nggak sempat ngabarin lo.”                 Aku mengangguk mengerti, walau sedikit terkejut karena mendengar fakta bahwa Deeka sakit Ataksia seperti neneknya. Pasti Indra jauh lebih terkejut lagi. “Gue ngerti, kok. Tapi gue nggak nyangka alasan lo akan semengejutkan itu. Terus gimana keadaan Deeka sekarang? Masih di rumah sakit? Gue boleh jenguk, nggak?”                 Indra tersenyum tipis. “Dia udah pulang, makanya gue disuruh kerja aja sama nyokap gue. Sekarang, nyokap dan Andra bisa jagain Deeka dua puluh empat jam. So, gue nggak terlalu khawatir lagi.”                 “Syukurlah, kapan-kapan gue mau ketemu Deeka, boleh?”                 “Boleh, lah. Lo kan calon kakak iparnya, masa nggak boleh?”                 Astaga, pipiku terasa mulai panas. “Oke.”                 “You’re so cute,” Indra memandangku dengan tatapan yang begitu manis. “And I’m so lucky to have you.”                 “Aw, sejak kapan lo jadi romantis gini?”                 “Kenapa? Aneh, ya? Apa lo lebih suka kalau gue dingin kayak waktu SMA?”                 Aku terkekeh. “Tentu aja gue lebih suka sama lo yang sekarang. Asalkan, lo romantic gitu cuma kalau sama gue. Oke?”                 “Astaga, Key. Tingkat kesetiaan gue itu sangat tinggi. Lo nggak perlu khawatir.” Indra pun menggenggam tanganku, mengusapnya dengan lembut. “Dari dulu, sampai sakarang … cuma lo yang gue suka.”                 “Oh, cuma suka?” tanyaku mengernyit curiga.                 Indra terkekeh pelan. “Suka banget, sayang banget, cinta banget. Gimana? Udah bener?”                 “Nice.” Aku tertawa pelan, menahan malu. Aku merasa begitu bahagia, seperti ada banyak kupu-kupu di perutku.                 Saat pesanan kami datang, Indra langsung melepaskan tanganku. Aku sedikit kecewa, tapi di sisi lain, tidak mungkin juga kami makan sambil berpegangan tangan. Baiklah. Tidak apa-apa.                 “Enak?” tanya Indra saat aku baru menyuapi makanan ke mulutku.                 Aku mendengus geli. “Belom dimakan, Ndraaaa.”                 “Ya udah, makan dong biar tahu rasanya enak apa nggak.”                 “Iya, Tuan. Saya mengerti.” Aku mengangguk sopan, lalu mencoba pasta carbonara pesananku. “Hmm, enak banget. Tapi, lebih enakan kalau buatan gue, lho.”                 Indra mengernyit. “Sejak kapan lo bisa masak?”                 “Gue belajar empat tahun yang lalu, pas lagi patah hati karena seseorang. Gue berusaha bikin diri gue sibuk dnegan nyoba masak satu menu setiap hari. Hebat, kan?”                 “Wah, ada gunanya juga gue ngilang gitu, ya?” Indra malah terkekeh mengejek.                 “Iya, terima kasih, lho. Berkat lo, gue jadi bisa masak. Tapi, pas awal mulai belajar masak, mecahin telor aja gue gagal terus. Sampai-sampai nyokap gue frustrasi dan gemes sendiri.”                 “Ah, kebayang sekali.” Indra mengangguk sambil mendengus geli. “Gue jadi penasaran sama rasa masakan lo. Beneran enak?”                 “Lo nggak percaya?”                 “Belom, karena belom ada bukti.”                 “Oke! Besok gue bawain lo bekal, ya. Lo harus nyoba masakan gue langsung.”                 “Dengan senang hati,” balas Indra. “Walau nggak enak, gue juga akan tetap makan sampai habis, kok.”                 Aku tersenyum senang. Pacarku memang sangat manis. Bahkan lebih manis dari popcorn caramel kesukaanku. “Makasih, Sayang.”                 Indra langsung berhenti makan, gerakannya terhenti selama beberapa detik. “Apa? Sayang?”                 “Iya. Sayang. Kenapa?”                 “Bisa diulang lagi? Mau gue rekam, biar bisa gue dengerin lagi nanti.” Indra mengeluarkan ponselnya, membuatku terkekeh geli.                 “Nggak ada siaran ulang.”                 “Ih, sekali lagi aja, Key.”                 “Nggak mau, ih. Malu.”                 Tawa canda terus terlontar dari mulut kami selama makan, mungkin membuat beberapa orang di restoran iri. Mereka terlihat melirik-lirik ke arah kami. Membuatku merasa tidak nyaman, tapi melihat senyuman Indra yang begitu lepas … membuatku merasa lebih baik.                 Selesai makan, kami pun buru-buru pergi kembali ke stasiun radio. Sebentar lagi kami harus memulai siaran, astaga! Semoga kami tidak terlambat.   ***                 Untungnya, siaran mulai tepat waktu dan lumayan lancar. Mungkin karena kami sudah mengenal cukup lama, jadi aku sama sekali tidak canggung saat siaran bersama Indra. Biasanya, aku sering sekali gugup jika siaran berdua dengan orang lain. Tapi, Indra bukanlah orang lain bagiku. Iya, kan?                 Aku mengajak Indra tos, setelah siaran kami selesai. “Good job!”                 “Lo udah berapa lama kerja di sini?”                 “Baru beberapa bulan, kok. Kenapa?”                 “Lo nggak keliatan kaku, kayak udah lama banget jadi penyiar radio. Gue lumayan kaget, lho.” Indra mendengus geli.                 Aku menggaruk belakang kepalaku, merasa sedikit malu dengan pujiannya. Benarkah aku sejago itu? Perasaan, aku sering dimarahi oleh boss. “Nggak, kok. Biasanya nggak selancar ini. Mungkin, karena partner gue itu lo. Makanya, gue jadi lancar banget ngomong tanpa gerogi.”                 “Ah, masa? Tapi, kenapa lo milih jadi penyiar radio?”                 “Yah, ketahuan deh.” Aku membuang muka, “sebenernya, gue mau jadi penyiar radio karena mau mengikuti jejak lo dulu. Dan, biar gue bisa puterin lagu favorit lo. Alesannya lebay, ya?”                 “Pantes. Gue merasa aneh pas awal-awal dengerin lo siaran setiap hari. Selalu lagu kesukaan gue yang diputer,” ucap Indra tersenyum haru.                 “Oh, ya? Lo dengerin gue siaran selama ini?”                 “Iya, awalnya nggak sengaja. Pas naik mobil temen kampus gue, radionya nyala dan gue denger suara lo. Gue kira, mungkin suaranya aja yang mirip. Eh pas siarannya berakhir dan lo nyebut nama lo, gue jadi nggak bisa nahan senyum. Akhirnya gue nemuin cara biar bisa merasa dekat sama lo.”                 Aku merasa tersentuh mendengar cerita Indra. “Syukurlah, itu artinya gue berhasil. Gue juga selalu berharap, biar suatu hari, lo akan dengerin siaran gue.”                 “Selamat, kalau gitu.” Indra mengcak rambutku, lalu kembali merapikannya setelah aku menatapnya dengan mata menyipit. “Ayo, kita istirahat. Ada siaran lagi pas malem, kan?”                 “Iya, tapi kan cuma gue yang nanti malem siaran. Lo udah boleh pulang, Ndra.” Aku menunduk sedih.                 “Memangnya, kalau gue nggak ikut siaran, gue nggak boleh duduk dan nemenin lo?” tanya Indra lembut, dia mengangkat daguku, membuatku bisa melihat matanya yang kecokelatan. “Boleh, kan?”                 Aku pun menganggk. “Bo-boleh.”                 “Good. Ayo, kita istirahat. Gue mau ngajak lo jalan-jalan.” Saat Indra mau menggenggam tanganku, pintu ruangan siaran tiba-tiba terbuka. Ternyata boss-ku yang masuk, membuat kami kaget dan pura-pura sibuk sendiri.                 “Great job! Siaran kalian tadi mendapat bayak pujian, karena lucu dan seru. Saya juga bisa merasakan chemistry kalian yang sangat kuat. Wow, hebat! Padahal ini siaran pertama kalian berdua!”                  Kami hanya mengangguk canggung sambil tersenyum. Boss sangat berlebihan.                 “Oh iya, malam ini akan ada makan malam bersama untuk penyambutan penyiar baru kita! Kalian harus datang, oke?” boss-ku mengusap kepalanya yang botak, lalu memelototi kami. “Ini wajib, perintah dari saya.”                 Aku tiba-tiba merasa merinding. “O-oke, Boss. Saya dan Indra pasti datang, terima kasih!”                 “Iya, boss,” sahut Indra singkat.                 “Baiklah, sampai ketemu nanti, ya! Awas kalau kalian ada yang kabur, gaji kalian saya potong.”                 Aku dan Indra terkekeh hambar.                 “Iya, Boss. Kami nggak akan kabur, kok.” Indra berkata begitu halus, hingga si boss terlihat luluh dan tidak banyak bicara lagi.                 “Baiklah, saya mau kembali ke ruangan saya, ya.”                 “Daah, Boss!” Aku dan Indra berucap kompak sambil melambaikan tangan. Lalu, kami pun tertawa setelah boss pergi.                 “Boss kamu, tuh,” ejek Indra jail.                 “Heh, boss kamu juga!” Eh, kenapa tiba-tiba kami berbicara aku-kamu begini? Ah, aneh rasanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN