Aku menunggu Indra hampir satu jam, seperti orang bodoh. Sendirian dan cokelat panas yang aku pesan sudah dingin dan hampir habis. Menyebalkan. Apa Indra lupa dengan janjinya? Apa dia membenciku dan ingin membuatku sedih?
Aku menghela napas, berusaha pasrah pada kenyataan kalau Indra tidak akan datang.
Tapi, ternyata akhirnya aku melihatnya.
Indra masuk dengan jaket kulit dan jeans yang robek-robek. Wajahnya tanpa ekspresi dan matanya langsung melihatku dengan tajam.
"Gue kira, lo lupa sama janji lo dan nggak akan dateng." Aku tersenyum kecil menatapnya.
"Gue kebetulan lewat," ujar Indra sangat santai, lalu duduk.
"Oke. Bisa kita bicara sekarang?"
"Terserah lo." Indra mengedikkan bahu.
Saat mulutku baru mau terbuka untuk menjelaskan segalanya, tiba-tiba ada suara yang tidak asing memanggil Indra.
"Lah? Bang Indra? Hey, Bang! Apa kabar?"
Indra menoleh, langsung menghela napasnya. "Astagfirullah. Kenapa tuh bocah bisa ada di sini juga, sih? Sial amat gue."
Aku terkekeh pelan. Indra sepertinya tidak suka kalau ketahuan oleh Deeka.
"Abang! Kok ke sini nggak bilang-bilang? Katanya mau pulang malem karena ada kerjaan baru?" tanya Deeka, sudah menghampiri mejaku dan Indra.
"Deeka, ya?" Aku tersenyum memandang bocah SMA itu. Wajahnya sangat mirip dengan Indra. Hanya versi lebih muda dan polos.
"Hmm, Kak Keyra, ya?" Ternyata, Deeka masih mengingatku. “Tambah cantik aja, Kak!”
Aku tertawa pelan. “Wah, kamu sekarang udah tinggi. Mirip banget sama Indra."
Deeka tertawa. "Ah, gantengan gue. By the way, kalian lagi kencan?"
"Hah? Nggak!" jawab Indra tegas. Ia bangkit berdiri. "Jangan asal nuduh, Dee."
"Bang Indra mau ke mana?" tanya Deeka, saat Indra terlihat membawa tasnya kembali.
"Pulang. Gue nggak punya urusan lagi sama dia."
Apa? Padahal aku dan Indra belum membahas apa pun. Aku memandang Indra dengan sedih, tapi ia hanya memandangku sebentar lalu pergi begitu saja meninggalkan restoran.
Aku ikut bangkit berdiri, dan berpamitan pada Deeka. Ia terlihat merasa bersalah. Oh, manisnya. Padahal, Indra mungkin memang tidak mau menemuiku hari ini.
Saat aku keluar restoran, aku melebarkan mataku waktu melihat Indra bersandar di dinding depan restoran sambil merokok. "Lo nungguin gue?" tanyaku ragu.
Asap rokoknya mengepul di udara. Indra membuang rokoknya dan menginjak rokok itu sambil berdecih memandangku. "Menurut lo?"
"Indra, gue minta maaf, tapi apa lo segitu malesnya buat jelasin ke gue apa yang terjadi empat tahun yang lalu? Kenapa saat itu lo seakan sengaja untuk menghilang?" Air mataku jatuh tanpa bisa kutahan lagi.
Indra terlihat menghela napas, ia melangkah mendekatiku. "Mungkin lo bener, gue juga salah karena menyia-nyiakan lo dulu. Oke, gue sengaja nggak ngehubungin lo sama sekali dan juga ganti nomor. Tapi, itu demi menuruti permintaan nenek gue."
Apa?
Aku mengernyitkan alis. "Kenapa gitu? Nenek lo?"
“Nenek gue mau … gue fokus kuliah dan tanpa pacaran. Katanya, gue boleh pacaran kalau udah sukses aja. Itu permintaan satu-satunya dari nenek gue, sebelum beliau meninggal. Jadi, mana mungkin gue nolak permintaannya?” Indra terlihat bersalah, ia mengusap tengkuknya. “Apa lo menunggu telepon dari gue? Maaf.”
“Tentu aja, Ndra! Terus, kenapa lo harus menghilang tanpa kabar kayak gitu? Lo bisa jelasin dulu ke gue dan gue akan nunggu lo dengan sabar.”
“Mana bisa? Gue nggak mau maksa lo nunggu dengan setia, jadi gue berusaha percaya aja. Gue kira, lo nggak akan jadian sama Lukas. I know, gue bodoh banget, ya?” Indra mendengus.
“Gue nggak bisa mencintai Lukas,” ucapku yakin. “Lukas juga tahu hal itu, makanya kita putus baik-baik.”
“Gue tahu. Lukas juga udah ceritain semuanya ke gue beberapa hari yang lalu. Tapi, entah kenapa, gue tetap mau menjauh dari lo.”
“Kenapa? Why?” Dadaku terasa semakin sesak.
Indra tersenyum miring. "Balas dendam. Tapi, aneh. Kenapa gue merasa tetap nggak bahagia, ya?" Aku menangis semakin histeris dan Indra langsung memeluk tubuhku. "Gue nggak bisa membenci lo, Keyra."
"Kalau begitu, jangan."
“Oke. Maaf, karena gue berusaha membenci lo.”
“It’s okay.”
***
Tidak, kami belum berpacaran.
Dia hanya mengantarku pulang dan sampai sekarang, ia tidak menghubungiku lagi. Aku juga tidak mau menghubunginya duluan, karena Indra bilang dia yang akan menghubungiku.
Namun, sudah hampir satu bulan, aku tidak melihatnya. Dia sebenarnya ke mana? Apa dia pergi lagi dan tanpa mengabariku? Keterlaluan, jika sampai terjadi seperti itu. Ah, tapi waktu itu dia terlihat sudah benar-benar memaafkanku! Jadi, dia tidak mungkin pergi lagi.
Aku kadang sampai berkhayal, bisa bertemu dengan Indra tanpa sengaja di suatu tempat. AKu tahu, sepertinya itu tidak mungkin.
Aku hari ini ke stasiun radio untuk siaran, seperti biasa. Tapi, langkahku terhenti saat melihat punggung lelaki yang terlihat tidak asing.
"Keyra! Cepat ke sini!" Boss-ku memanggil.
Aku berlari dengan cepat. "Ya, Pak?"
"Kenalkan, rekan siaran kamu yang baru." Boss-ku menepuk bahu lelaki itu.
Aku akhirnya berani melihatnya. Dia tersenyum kecil padaku. Astaga, bagaimana mungkin?
"Nama gue Indra. Salam kenal." Indra mau pura-pura tidak kenal denganku? Rasanya, ini pernah terjadi dulu. Dulu sekali. Aku sangat ingat.
"Hey, gue Keyra." Aku menjabat tangannya. "Salam kenal."
"Bagus! Kalian harus berkerja sama, ya. Semoga siaran kalian hari ini bisa sukses!" Boss menepuk bahuku dan Indra secara bersamaan.
Aku dan Indra mengangguk pelan.
Setelah boss pergi, Indra masih menatapku dengan tatapan yang sulit aku artikan.
"Hey, Partner." Indra mendengus geli.
"Hey. Kok lo bisa kerja di sini?"
"Terpaksa."
"What?" Aku menaikkan satu alisku.
"Terpaksa. Biar gue bisa ketemu lo setiap hari." Indra tersenyum kecil, lalu mengulurkan tangan. "Semoga kita bisa bekerja sama dengan baik, ya."
Aku terkekeh, menjabat tangannya lagi. "Ya, semoga."
Sedetik kemudian, tanganku ditarik oleh Indra. Tubuhku hampir saja menabraknya. Saat aku hampir menjerit, Indra mencium bibirku dengan cepat.
Aku membeku. Kalau ada yang melihat kami, aku bisa-bisa dipecat!
Setelah Indra menciumku, ia mengusap bibirku dengan ibu jarinya. "Awas aja kalo lo dicium cowok lain lagi."
Aduh, apa Lukas menceritakan bagian ia menciumku juga? Lukas memang terlalu jujur.
Aku meringis. "Kenapa? Emangnya lo siapa gue?"
"Gue? Partner hidup lo." Indra tersenyum kecil, menepuk kepalaku. "Ayo, kita pacaran."
"A-apa?"
"Lo nggak mau jadi pacar gue?" Indra memandangku dengan mata menyipit.
"Mau!"
"Kalau begitu, pinjem hape lo." Indra merebut ponselku yang dari tadi aku pegang di tangan kiriku.
"Buat apa? Lo mau ngapain?!"
"Gue sita hape lo. Ingat? Gue nggak mau pacar gue jadi generasi yang suka menunduk." Indra menyengir, lalu langsung kabur dengan cepat meninggalkanku.
"Indra! Hape gue!"
Kami pun kejar-kejaran di stasiun radio seperti anak kecil. Sungguh memalukan.
Pacarku itu memang ada-ada saja. Ah, finally!
Akhirnya, aku bisa menyebut Indra sebagai pacarku.