Bab 17: Try and try

1212 Kata
Setelah mengumpulkan keberanian untuk bertemu Indra, akhirnya hari ini aku datang ke rumahnya untuk mengajaknya bicara. Ingat, jangan pulang lagi seperti kemarin-kemarin. Hari ini, masalahku dan Indra harus selesai. Aku tidak mau dihantui rasa penasaran dan bersalah lagi. Oke, semangat, Keyra!             Aku memencet bel, lalu seorang satpam keluar dengan wajah yang ramah. "Pak Satpam, Indra ada di rumah?" tanyaku pada satpam rumah Indra. Semoga dia mengingatku.             "Nama Mbak siapa?"             "Keyra."             Satpam itu meringis. "Den Indra nyuruh saya ngelarang Mbak Keyra masuk. Maaf, Mbak."             "Kok gitu?"             "Kata Den Indra, Mbak Keyra jahat."             Hah, segitu bencinya ya Indra padaku?             "Oh, ya udah. Saya nunggu sini aja, gapapa." Aku tidak akan pergi, sebelum bisa bertemu dengan Indra. Kali ini keputusanku sudah bulat! AKu tidak akan pulang seperti pecundang.             "Bentar lagi hujan, Mbak."             "Biarin!" Biarin aja aku kehujanan. Siapa tau itu bisa membuat Indra muncul, 'kan? Lima menit, sepuluh menit, hingga setengah jam aku menunggu ... tapi, Indra tidak mucul juga. Hujan rintik-rintik mulai turun, membuatku memandang langit dengan putus asa.             Ya Tuhan, bukakanlah pintu hati Indra...             Saat aku memejamkan mata beberapa detik, aku merasa hujan berhenti turun membasahiku. Tiba-tiba?             "Lo mendingan pulang." Suara ketus Indra membuatku langsung membuka mata. Aku melihatnya dengan perasaan begitu lega. Dia ternyata masih saja terlihat tampan. Apalagi saat ini dia dengan gentle memayungiku. "Indra..."             "Jangan sebut nama gue lagi," ujar Indra menatapku kesal. "Ambil payung ini, terus cepat pergi. Jangan balik lagi."             Indra memaksaku memegang payungnya. "Nggak! Kita harus bicara!"             "Bicara apa lagi? Gue nggak akan terkejut kalau lo mau ngasih undangan pernikahan atau semacamnya. Go away."             "Gue udah putus sama Lukas!" teriakku kesal.             "Oh, terus? Lo berharap gue akan bilang apa, hah? Gue nggak peduli."             "Ndra, gue cuma cinta sama lo. Plis, dengerin penjelasan gue sekali aja."             "Gue udah muak, Key. Jangan bikin gue tambah muak lagi. Please, just go away..."             Dia mengusirku, tapi aku dengan berani malah memeluknya erat. "Maaf, Ndra."             "Lo selalu tau kelemahan gue selama ini.” Indra berdecih, mendorong tubuhku pelan. "Tapi, sayangnya pelukan lo udah nggak mempan, Key."             "Oke, gue akan pergi. Tapi, besok gue akan tetap nunggu lo di restoran Itali favorit lo jam tujuh malam."             "Gue nggak akan dateng."             “Gue akan tetap nunggu.” Aku berbalik badan dan menjatuhkan payung pemberiannya. Bukannya tidak butuh, tapi tanganku licin. Aku ingin mengambilnya kembali, tapi harga diriku lebih penting. Aku pun terus berjalan sambil memeluk diriku sendiri. Ayo dong, dia seharusnya mengejarku.             Tiba-tiba ada yang menarik lenganku. “Lo ini keras kepala banget, sih!”             “Baru tahu, hah?”             “Ikut gue, kalau lo nggak mau pakai payung.” Dia pun menarikku masuk ke dalam rumahnya. Dalam hati, aku tersenyum senang. Tapi, aku terus memasang wajah sedih di depannya. “Tunggu sini, gue ambilin handuk dan baju ganti.”             “O-oke.”             Astaga, dia masih mengkhawatirkanku! Itu artinya, aku ada kesempatan, kan?             Aku menunggunya sambil melihat-lihat foto keluarga yang berada di ruang tamu. Fotonya terlihat baru. Empat tahun yang lalu, belum ada foto itu. Benar-benar terlihat begitu harmonis dan sempurna keluarga Indra.             Indra memiliki orangtua kaya dan rupawan, juga kedua adik yang menarik sekali. Pasti hidup Indra begitu hangat dan ramai. Aku heran, kenapa terkadang ia bisa sebeku es batu?             “Nih, cepet ganti di kamar mandi.” Indra mengulurkanku handuk bersih dan baju ganti; kaus putih polos yang terlihat besar dan celana olahraga. Apa itu bajunya?             “Nggak ada baju cewek?”             “Ada, punya nyokap gue. Mau?” tanya Indra berdecak.             “Nggak, makasih. Ini udah lumayan, kok.” Aku pun cepat berjalan ke kamar mandi.             Aku bersandar di pintu kamar mandi, merasa begitu senang dengan perhatian Indra. Aku mencium kaus putih polosnya, “Wangi laundry. Dasar orang kaya.”             Setelah berganti pakaian, aku mengeringkan rambutku dengan handuk sambil memandang pantulan diriku di cermin kamar mandi. Bajunya jelas kelonggaran di badanku yang mungil ini. Astaga. Aku tidak mungkin pulang jalan kaki dengan menggunakan pakaian ini.             Saat aku keluar kamar mandi, seseorang mengejutkanku. Aku nyaris mengumpat kasar, ya ampun. “Maaf, siapa, ya?”             “Oh, saya asisten rumah tangga rumah sini, Non. Kata Den Indra, baju yang basah bisa kasih ke saya aja. Nanti langsung saya cuci.”             “Oh, Indra bilang gitu?” Aku punmengeluarkan bajuku yang basah dari dalam tas. “Makasih ya, Bi.”             “Sama-sama, Non. Ini memang tugas Bibi, kok.”             “Tapi saya kan orang asing, jadi merasa nggak enak.”             “Non kan temannya Den Indra, jadi nggak apa-apa.” Bibi tersenyum begitu ramah.             Teman, ya? Ya, aku memang hanya teman Indra. Kenapa aku harus merasa sedih coba?             Aku pun berjalan mencari Indra di ruang TV, dia terlihat duduk bersandar di sofa dengan mata yang terpejam. Wah, dia juga sudah berganti pakaian. Tapi, apa dia tidur?             “Ndra?” panggilku pelan, mengibaskan tanganku di depan wajahnya.             Saat matanya terbuka, aku cukup kaget. Dia langsung memandangku dari atas sampai bawah. “Not bad, ternyata baju Andra cocok di badan lo.”             “Ini … bukan baju lo? Celana olahraganya juga?”             Indra menggeleng. Lalu menyuruhku duduk. Aku pun hanya menurutinya seperti anjing yang terlatih. “Lo laper?”             Aku tanpa malu mengangguk. “Ada mie instan, nggak? Gue bisa bikin mie instan yang enak, lho.”             “Lo duduk aja di sini.”             “Lo mau buatin mie buat gue?” tanyaku penuh harap.             “Nggak, lah. Gue mau minta tolong ke Bibi.” Indra pun berjalan melewatiku, hawa dingin masih terasa saat ia lewat.             Aku menunggu sekitar lima belas menit, sampai akhirnya Indra kembali dengan memegang semangkuk mie rebus yang panas. “Awas, awas.”             Dia meletakkan di meja dengan hati-hati, lalu terlihat berjalan kembali ke dapur. Mungkin untuk mengambil miliknya. Dia terlihat repot sekali, aku jadi merasa tidak enak.             “Makan, gih.” Ternyata Indra kembli dengan membawa segelas teh hangat.             “Lo nggak makan?”             “Bareng lo, gitu? Nggak, gue udah kenyang.”             Aku menggembungkan pipiku, lalu menghela napas memandang mie yang begitu menggoda. “Oke, gue makan, ya.”             Aku duduk di lantai dengan mie yang ada di atas meja, sedangkan Indra seperti menjaga jarak dariku. Dia duduk di sofa dengan jarak yang cukup jauh, membuka laptop dan terlihat sibuk mengetik.             “Lo lagi ngapain? Nulis novel?” tanyaku sambil meniup mie yang akan masuk ke dalam mulutku.             “Bukan, nulis lamaran kerja.”             “Ooh, lamaran kerja di mana? Kenapa nggak coba di stasiun radio tempat gue kerja aja?” Aku langsung menyesal berkata begitu, setelah melihat tatapan Indra yang menusuk.             “Ngapain gue kerja di tempat yang sama kayak lo? Memangnya gue gila?”             Aku berdecak, tidak bisa menahan kesal. “Ndra, sebenernya bukan cuma gue yang harus minta maaf. Lo juga salah. Apa lo nggak tahu kesalahan lo apa?”             “Hah?” Dia mengernyit.             “Kecopetan? Nggak bisa ngehubungin gue? Lo tahu, masih banyak cara untuk bisa tahu nomor baru gue. Lo bisa nanya Andra, kan? Dia pasti bakal nyari tahu nomor baru gue, kalau lo suruh. Tapi, lo sama sekali nggak nyuruh dia.”             “Oh, jadi lo nanya ke Andra?” Indra berdecak. “Jadi, kue red velvet itu dari lo?”             “YA, kenapa? Nggak suka?” Aku balik menantangnya.             “Lo sendiri, kenapa ganti nomor?”             “Gue … marah karena lo nggak langsung ngehubungin gue. Puas?”             “Terus lo pacaran sama Lukas, buat bales dendam? Atau biar bisa ngelupain gue?”             “Kita nggak bener-bener pacaran. Gue jadi pacarnya, biar nggak ada cewek gila yang ngejar-ngejar dia di kampus. Kita berdua masih kayak sahabat.”             “Oh, ya? Lo pikir gue bakal percaya?”             “Lo mengalihkan pembicaraan. Lo belom jawab pertanyaan gue, Ndra. Kenapa lo nggak berusaha ngehubungin gue selama empat tahun ini?”             “Besok. Besok akan gue jelasin,” jawab Indra dengan datar, “habisin mie lo, habis itu gue anterin pulang.”             “Janji? Berarti, besok lo harus dateng.”             “Ya, janji.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN