Aku akhirnya memilih untuk membuat diriku sibuk. Di stasiun radio, aku berusaha kerja seperti biasa. Tertawa dan bercanda dengan teman-temanku yang lain. Bahkan boss-ku memuji pekerjaanku hari ini, katanya, aku terlihat sangat bahagia dan berbicara begitu lancar. Wajar jika dia memujiku, karena biasanya aku pasti melakukan beberapa kesalahan kecil.
Bahagia? Dia sepertinya tidak bisa melihat kesedihan yang aku sembunyikan. Aku terus berharap, semua orang juga seperti itu. Mereka tidak boleh tahu bahwa aku sedang sangat kacau.
“Seandainya gue punya pacar juga, mungkin gue akan bahagia kayak lo, Key,” ucap salah satu temanku, namanya Tere. Kami sedang minum kopi di kafe dekat stasiun radio. “Tapi, susah sih nyari cowok sebaik Lukas. Lo beruntung, Key.”
Beruntung? Aku tersenyum. “Gue udah putus sama dia kemarin.”
“Hah? Lo gila? Kenapa dia mutusin lo?!”
Aku mendengus. “Kenapa lo berpikir, dia yang pasti mutusin gue?”
“Eh? Gue nggak maksud gitu, Key.” Tere menyengir, “Cuma … kayaknya lo bahagia banget selama ini. Nggak mungkin lo yang minta putus, kan?”
“Kita berdua sepakat untuk putus baik-baik. Nggak ada yang mutusin atau diputusin,” gumamku menghela napas. “Hubungan kita tuh nggak bener, Re. Kita terlalu banyak berpura-pura, itu nggak bagus.”
Tere pun mengernyit. “Hah? Maksud lo apa sih, Key?”
“Kita nggak bahagia sebagai pasangan. Kita tetap sama kayak dulu, waktu bersahabat. Dia memang awalnya berusaha bikin gue nyaman dan move on dari cinta pertama gue dulu, tapi ternyata nggak berhasil. Saat gue akhirnya ketemu sama cinta pertama gue itu, jantung gue masih berdebar cepat.”
“Terus? Lo mau balik sama cinta pertama lo, gitu? Lo b**o banget, Key.”
“Gue tahu itu sulit, tapi setidaknya, gue mau masalah masa lalu kita berdua bisa selesai. Gue nggak akan berharap bisa jadi pacarnya, kok.”
“Lo ngelepasin Lukas, demi cowok yang nggak jelas kayak gitu. Ngapain, sih?”
“Makanya, gue mau memperjelas masalah kita dulu, Re.” Aku tersenyum masam.
“Oke, good luck. Pokoknya, lo harus berhasil. Kalau lo tetap gagal, walau udah ngelepasin Lukas, lo berarti bener-bener b**o, Key.”
“I know, gue akan berusaha semaksimal mungkin. Kita lihat aja nanti.”
“Tunggu dulu, terus kenapa hari ini lo keliatan ceria banget? Lo kan baru putus!”
“Akting gue bagus, kan?” Aku pun tersenyum miring, dan Tere langsung mencubit pinggangku.
“Kalau sedih, jangan keliatan kayak orang paling bahagia gitu! Dasar cewek sinting.”
“Gue nggak mau yang lain pada basa-basi nanya kenapa gue sedih. Makanya, gue harus akting bahagia, Re.”
“Basa-basi? Astaga, itu artinya mereka peduli kalau nanya lo gitu.”
“Nggak, lagipula gue hanya mau cerita masalah gue ke orang tertentu.”
“Whoa, gue merasa terhormat.”
Aku memandangnya dengan malas. “Diem lo. Minum kopinya, gue yang traktir.”
***
Sepulang dari siaran radio, hujan ternyata turun dengan deras. Aku jadi ingin makan mie instan kuah dengan telur setengah matang dan cabe rawit. Sial, perutku langsung berbunyi.
“Key, lo dijemput?”
Aku langsung menaikkan satu alisku, menatap Tere. “Lo ngeledek?”
“Oh iya, lo udah putus. Gue lupa, sori. Soalnya kan biasanya Lukas selalu jemput lo pakai mobil kalau hujan.”
“Lupa? Baru dua jam yang lalu gue cerita.”
“He-he, ingatan gue memang kurang bagus, Key. Percaya aja kenapa!”
“Cih, oke percaya.”
“Tunggu dulu, itu bukannya mobil Lukas? Dia tetep jemput lo, tuh?” Tere terlihat begitu heran, sedangkan aku sama sekali tidak terkejut.
“Lo bener. Dia memang terlalu baik, kan? Ya udah, gue duluan, ya!” Aku menepuk pundaknya, lalu berlari dengan tas selempang yang menutupi kepalaku.
Saat aku masuk ke dalam mobil Lukas, ia terlihat begitu lega melihatku. Mungkin, ia tidak menyangka aku akan benar-benar masuk ke dalam mobilnya setelah kejadian kemarin.
“Gue kebetulan lewat, gue kira … lo udah pulang,” ucap Lukas tersenyum canggung. “Gimana siaran hari ini? Lancar?”
“Jauh lebih lancar dari biasanya. Ajaib, kan?” Aku menyengir lalu memakai sabuk pengaman. “Ayo, jalan.”
Lukas pun menginjak gas, melaju dengan kecepatan normal. “Lo bisa tidur?”
“Hah?”
“Gue nggak bisa tidur. Gue takut, lo menjauh tiba-tiba kayak orang asing.”
AKu mendengus geli. Ada-ada saja pikiran Lukas. “Gue tidur nyenyak banget, karena gue yakin … kita bakal tetap kayak biasanya dan nggak saling menjauh.”
“Kenapa lo yakin?”
“Karena gue sangat mengenal lo, Lukas. Lo tuh nggak bisa jauh-jauh dari gue, kan? Lo bisa gatel-gatel kalau tiga hari nggak ketemu gue. Iya, kan?” Aku tertawa pelan.
Dia pun ikut tertawa. “Lo bener.”
“So, lo tenang aja. Kita akan tetap akrab, bahkan sampai tua nanti.”
“I hope so.” Dia menoleh sebentar untuk melihatku, lalu kembali melihat ke jalan raya yang diguyur hujan. “Hmm, lo laper, nggak?”
“Banget. Lo tahu apa yang gue pengin makan sekarang?” tanyaku semangat.
“Apa?”
“Mie instan dengan telur setengah matang dan cabe rawit yang banyak. Ah, itu surga dunia banget.”
“Gue padahal mau traktir lo Korean BBQ, tapi karena lo mau mie instan—”
“Astaga, gue tiba-tiba jadi pengin Korean BBQ, loh!”
Lukas mendengus geli. “Bukannya tadi lo mau mie instan?”
“Apa itu mie instan? Gue nggak tahu. Yang gue tahu cuma Korean BBQ,” jawabku mengernyit, dan Lukas hanya tertawa pelan mendengarku.
“Oke, gue juga mau nanya sesuatu nanti.”
“Nanya apa?”
“Nanti aja, gampang.”
“Sekarang aja, Luk.”
Lukas terlihat menghela napas, sebelum bertanya, “Gimana? Apa lo udah ketemu Indra? Udah ngelurusin semuanya?”
Aku menggeleng. “Gue belum siap mental, Luk. Pas gue udah sampai di depan rumahnya, kaki gue pasti ngajak gue pulang setelah sepuluh menit nunggu.”
“Mau gue temenin?”
“Jangan, yang ada dia ngamuk. Lagian, pasti bakal canggung banget.”
“Makanya, lo harus selesaiin secepatnya sendiri.”
“I know, sabar dong.” Aku mengerucutkan bibirku.
“Dan nanti, jangan sampai lo mau disudutkan sama dia. Jangan mau disalahin dan dituduh mengkhianati dia. Ngerti? Di sini, yang paling salah tuh dia karena nggak ada kabar setelah pergi ke Surabaya.”
“Oke.”
“Lo harus nuntut penjelasan yang sebenarnya, karena gue yakin, kemarin pas di kafe itu dia bohong. Lo harus minta penjelasan sejelas-jelasnya.”
“Oke.”
“Kalau dia sampai berani ngebentak lo, lo harus bales ngebentak dia. Jangan mau kalah, lo harus lebih tegas.”
“Oke.”
“Lo juga haus jelasin tentang gimana hubungan kita. Lo harus bilang, gue cuma pacaran sama lo karena nggak mau diganggu cewek-cewek gila yang ngefans sama gue di kampus. Hubungan kita nggak serius.”
“Hmm, gitu.”
“Ya, pokoknya lo harus bilang semua itu.”
“Baiklah,” jawabku menghela napas dan menyandarkan punggungku. “Akan gue inget semuanya dengan baik.”
“Good.”