Bab 15: Putus

1018 Kata
Indra pergi setelah mengatakan ia sibuk dan harus ke tempat lain. Ia bahkan tidak jadi membeli minuman. Dia terlihat buru-buru, tapi aku tahu, dia ingin cepat pergi karena merasa muak denganku. Jika aku jadi Indra, aku juga pasti muak astaga. Yang membuat aku kecewa adalah kenapa dia tidak mau mendengarkan penjelasanku dulu? Dia harusnya menarikku ke luar kafe dan menuntutku penjelasan. Bukan pergi seperti tadi.             “Jangan diaduk terus, nanti jadi nggak enak.” Lukas terlihat santai, seolah ia tidak tahu ada masalah apa denganku dan Indra. Padahal, dia tahu. Sangat tahu, karena aku sudah menceritakan semuanya sejak awal kami berpacaran. Lalu katanya tidak apa-apa jika aku masih menyukai Indra, semuanya akan baik-baik saja.             “Lo sengaja, kan?”             Lukas berhenti menyedot minumannya, lalu tersenyum menatapku. “Apa yang sengaja, Key?”             “Sengaja ngomong kayak gitu ke Indra. Ngapain, sih? Biar gue aja yang bilang! Lo pikir, gue nggak akan ngasih tahu Indra tentang hubungan kita? Damn it, ngapain gue nutup-nutupin hal itu?!” Aku memukul meja cukup keras, hingga pelanggan kafe yang lain menoleh.             “Calm down, Key. Gue nggak ada maksud jahat saat bilang lo dan gue udah pacaran. Gue cuma pengin bikin dia sadar, kalau dia udah terlambat empat tahun. Dia udah menyia-nyiakan lo, jadi dia harus merasa menyesal.”             “Why? Dia nggak salah, ternyata dia dicopet saat sampai stasiun. Dan pas dia mau ngehubungin gue lagi, nomor gue udah nggak aktif. Jadi, semuanya itu salah gue.”             Lukas tiba-tiba mendengus. “Lo percaya? Semudah itu?”             “Lo nuduh dia bohong, gitu?” Aku menaikkan satu alisku.             “Iya, karena alasan dia nggak masuk akal. Dan apa lo lihat wajahnya tadi? Apa dia terlihat menyesal pas ketemu lo? Dia seenaknya tersenyum lebar tanpa dosa dan meluk lo. Apa lo nggak marah? Lo harusnya nampar dia!”             Aku menutup wajahku dengan kedua telapak tangan. Sebagian dari diriku merasa yang dikatakan Lukas memang benar. “Mana mungkin gue bisa nampar dia?”             “Lo mau gue nonjok dia, mewakili lo?” Tawaran Lukas membuatku langsung memelototinya. “Iya, iya, ampun.”             “Lukas, gue jahat banget, ya?”             “Sama Indra?”             “Bukan. Tapi, sama lo. Gue merasa jahat banget.”             Lukas mengernyitkan alisnya. “Apa? Apa yang membuat lo merasa jahat?”             “Semuanya. Semua yang udah kita lakuin, gue merasa … egois banget. Gimana bisa lo bertahan selama ini, Luk? Pacaran sama cewek yang nggak bisa move on.” Aku menghela napas sesaat, “pasti berat jadi lo.”             “Akhirnya, setelah empat tahun, akhirnya lo sadar.” Lukas terkekeh. “Iya, berat banget. Tapi, gue merasa sedikit bahagia setiap berhasil bikin lo tersenyum.”             “Sedikit? Hanya sedikit?” Aku mengernyit.             “Selama ini, gue nggak berusaha jadi pacar yang baik. Gue tetap bersikap sama, seperti sahabat. Karena … gue sadar, walau sepuluh tahun, mungkin gue nggak akan bisa bikin lo ngelupain Indra. Itu mustahil.”             “Hah?” Aku masih bingung dengan maksud Lukas.             “Gue berada di sisi lo selama ini, sebagai sahabat. Pacar itu Cuma status biar gue nggak diganggu cewek-cewek gila.” Lukas tersenyum jail.             “Oh, ya? Jadi?”             “Lo belum suka sama gue, kan?”             Aku bingung menjawab pertanyaannya. “Hmm, Luk, sebenernya … selama ini juga gue nggak merasa kita bener-bener p ague.”             “Iya, kan? Syukurlah, bukan Cuma gue yang merasa kayak gitu.” Lukas tiba-tiba terkekeh. “So? Lo boleh mutusin gue, kok. Gue nggak akan marah.”             “Wait, apa maksud lo?”             “Hubungan kita nggak bisa lanjut, karena kalau kita terus bersama dan pura-pura menjadi pasangan yang bahagia … nanti ada saatnya kita akan terluka. Gue nggak mau kita terluka. Itu aja.”             “Lo mau putus?” tanyaku merasa sedikit terkejut.             “Bukan. Lo yang harus mutusin gue. Ayolah, gue ini terlalu baik untuk mutusin cewek. Gue mana mungkin tega nyakitin harga diri lo yang sangat tinggi itu?”             Aku mendengus. “Lo bener-bener aneh.”             “Pokoknya, kita harus putus. Terus, lo harus lurusin semua masalah lo dan Indra. Minta dia alasan yang sejujurnya, jangan kayak alasan anak kecil gitu. Oke?”             “Oke. Kita putus.”             “Senang berpacaran dengan Anda, Keyra,” ucap Lukas mengulurkan tangan.             Aku menerima tangannya, tapi tanpa sadar aku sedikit meneteskan air mata. “Oke, senang berpacaran dengan Anda juga, Lukas. Maaf, untuk semuanya. Semua hal yang membuat lo sakit, tanpa gue sadari.”             “Dimaafkan, jangan khawatir.” Lukas pun tertawa, walau matanya berkaca-kaca. *** Keesokan harinya, aku datang ke rumah Indra. Namun, aku hanya berdiri di depan pagar rumahnya. Tiba-tiba aku merasa takut. Aku menggeleng, menghela napas dengan berat. “Jangan hari ini.”             Tanpa aku sadar, aku terus melakukan hal yang sama selama satu minggu penuh. Aku selalu datang di malam hari ke rumah Indra, berdiri di depan pagar selama sepuluh menit, lalu kembali pulang.             Ini hari ke-delapan usahaku untuk bertemu dengan Indra. Pagar rumahnya terlihat begitu rapat, aku juga ragu satpam rumah ini mengingatku atau tidak. Karena … sekarang, aku jauh lebih cantik. Ha-ha. Oke, kenapa tiba-tiba aku jadi narsistik di saat seperti ini?             “Kak Keyra, bukan? Wah, long time no see!”             Aku terkut saat melihat cowok tampan membuka pagar dan menyapaku. “Andra?”             “Wah, Kak Keyra inget nama gue ternyata!”             Astaga!             Aku menaruh telunjukku di mulut. “Sssttt, plis, jangan kasih tahu Indra kalau gue dateng. Oke?”             “Kenapa nggak boleh?” Andra memiringkan kepalanya, terlihat bingung.             “Pokoknya nggak boleh! Bisa gawat kalau dia tahu!”             “Jadi, gue harus menyembunyikan kejadian ini dari Bang Indra? Wah, itu sulit. Dia tuh suka curiga, Kak.”             “Lo mau apa? Gue beliin.” Tawaranku sepertinya berhasil, mata Andra melebar,             “Apa?! Menurut Kak Keyra, p ague nggak punya uang? Hah, astaga. Apa Kak Keyra nggak lihat rumah gue segede apa? Mana mungkin—”             “Kue red velvet yang gede, gimana?” Aku memotong omongannya.             “Deal! Wow, gimana Kak Keyra bisa tahu kalo itu favorit gue?” Mata Andra berbinar-binar seperti anak kucing.             “Dari mana lagi? Dari abang lo, lah.”             “Jadi, gue digosipin ya?” Andra tersenyum jail, lalu merangkulku. “Ayo, kita jalan kaki ke toko kue kesukaan gue.”             “Lo seneng ya, karena mau bikin dompet gue tipis?”             “Senang sekali, rasanya seperti menari di atas awan, Kak!”             “Shut up.” Aku terkekeh.             “Okay, boss! Pokoknya mulai sekarang, gue ada di pihak lo, Kak!”             “Good. Inget, jangan sampai Indra tahu kalau gue dateng tadi.”             Andra tertawa. “Kalian berantem, ya? Tunggu dulu, selama empat tahun terakhir, apa kalian masih berhubungan?”             “Nggak.”             “Kenapa nggak?”             “Nggak tahu, An. Semuanya terasa rumit.”             “Butuh bantuan?” Andra menaikkan satu alisnya.             Aku pun tersenyum. “Mungkin, nanti.”             “Gue tungggu, Kak. Kapan pun, bilang aja.”  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN