Bab 14: Four years

728 Kata
Empat tahun, aku berhasil menjalin hubungan dengan Lukas. Ia benar-benar mengobati sakit hatiku karena Indra. Dia selalu menghiburku saat sedih dan ikut tertawa di saat aku senang. Terkadang, aku merasa hampir bisa melupakan Indra. Melupakan cinta monyet kita dulu.             Namun, setiap aku merasa hampir bisa melupakan Indra, malamnya aku akan memimpikan Indra. Aku bermimpi Indra memelukku sangat erat sambil menangis. Saat terbangun, aku jadi merasa sangat khawatir. Apa dia baik-baik saja di sana? Walau ia tidak mau menjadi pacarku, setidaknya dia harus menghubungiku dan berkata ia masih hidup. Astaga, aku benar-benar mencemaskannya.             Kini, aku memiliki Lukas, dan ia selalu membuatku merasa lebih tenang di saat aku mencemaskan Indra. Ia berkata, Indra pasti masih hidup dan baik-baik saja. Karena aku bukan orang yang rumit, jadi aku percaya saja padanya.             Lukas dari dulu memang baik.             Lukas manis.             Lukas tidak galak.             Lukas tidak jutek.             Lukas tidak pernah marah-marah tidak jelas.             Lukas tidak pernah gengsi untuk memujiku.             Lukas ... sangat berbeda dengan Indra.             Astaga, lagi-lagi aku masih memikirkan Indra. Keterlaluan. Padahal sudah empat tahun berlalu dan aku bahagia bersama Lukas, tapi sempat-sempatnya aku memikirkan Indra tiba-tiba.             Sekarang aku bekerja di stasiun radio juga berkat Lukas. Intinya, Lukas sangat membantuku.Aku harus ... belajar mencintainya. Walau, sampai sekarang rasanya masih sulit. Aku sudah menganggap Lukas seperti adikku sendiri karena sifatnya yang kadang seperti anak kecil. Walau kita pacaran, rasanya sama saja seperti saat kita bersahabat.             It feels weird.             Dan ... aku masih sedikit berharap kalau Indra akan kembali. Menyapaku, bertanya tentang kabarku, serta menjelaskan segalanya. Alasan ia tiba-tiba menghilang tanpa kabar. Aku sungguh penasaran.             Tapi, di waktu yang sama, aku juga takut kalau Indra benar-benar kembali. Bagaimana kalau dia sedih saat melihatku dengan Lukas? Bagaimana jika ia merasa terluka?               Ah, siapa suruh dia menolakku empat tahun yang lalu?!             Tapi, aku juga bodoh. Aku menjalani hidup selama empat tahun tanpa berusaha bertanya pada Andra ataupun Deeka tentang Indra. Seharusnya, aku bertanya. TApi, maaf, harga diriku terluka jika bertanya pada mereka.                Sudahlah, lupakan! Lebih baik aku fokus menunggu minuman pesananku di kafe favoritku. Setelah aku menerima pesananku, aku berniat ingin kembali ke mejaku dengan Lukas. Dia sudah melambaikan tangan dengan bodoh, memanggilku agar cepat. Astaga, dia pasti sangat haus.             Tapi, tiba-tiba aku melihat sosok yang tidak asing memasuki kafe. Wajahnya terlihat sangat tampan dan semakin dewasa. Dengan jaket kulit hitam dan tindikan di telinga kirinya membuatnya terkesan macho.             "Indra...," gumamku pelan, minuman di tanganku sampai jatuh.             Lelaki itu melihatku, ia berjalan menghampiriku dengan senyum manis dan langsung memelukku sangat erat. Seperti yang aku mimpikan selama ini. "Akhirnya, ketemu juga."             Aku tidak bisa membalas pelukannya. Puluhan pertanyaan memenuhi pikiranku. Aku tidak menyangka, Indra akan benar-benar kembali dan memelukku tanpa rasa bersalah.             "Apa kabar, Key? Lo makin cantik, deh." Indra terkekeh, menangkup wajahku.             Aku masih tidak bisa berkata apa pun. Rasanya sesak. Air mataku mengalir tanpa bisa kucegah.             "Key? Kenapa nangis?" Indra mengusap pipiku. "Terharu, ya? Sori, karena gue baru bisa ke Jakarta sekarang. Banyak yang harus gue urus di sana. Hape gue juga dicopet pas nyampe Surabaya. Gue jadi nggak bisa ngehubungin lo."             "A-apa?" Dia tidak bisa menghubungiku karena hal itu? Bukan sengaja?             "Iya, dicopet. Pas gue udah bisa beli hape baru, nomor lo kata Andra udah nggak aktif. Gue bingung banget, sampai akhirnya gue pasrah aja. Gue percaya, lo akan nunggu gue sesuai janji lo. Iya, 'kan?"             Aku menutup mulutku, dan langsung memeluk Indra. "Maaf, Ndra."             "Maaf? Kenapa minta maaf?"             "Indra! Hei, apa kabar?" Suara Lukas membuatku berhenti memeluk Indra. Aku bahkan sedikit mendorongnya dengan kasar. Maaf.             "Baik. Wah, kalian ternyata masih deket, ya? Hebat!" Indra menepuk-nepuk bahu Lukas.             "Iya, dong." Lukas tersenyum lebar. "Kita berdua sekarang bukan sahabat lagi, Ndra. Kita udah resmi pacaran sejak empat tahun yang lalu."             Aku memberanikan diri untuk melihat ekspresi Indra. Ia langsung melihatku dengan wajah yang begitu terluka. "Gitu, ya? Selamat."             "Makasih, Ndra! Lo gimana? Udah punya pacar belom?" tanya Lukas semangat.             "Belom." Indra terkekeh hambar. Ia sepertinya sudah mengerti alasanku tadi meminta maaf.             "Kenapa? Padahal, pasti banyak cewek yang suka sama lo, Ndra."             "Banyak cewek munafik, Luk. Gue takut disakitin." Indra melirikku dan tersenyum miris.             "Wah, lo trauma? Untung aja pacar gue nggak munafik, Bro. Gue beruntung, ya?" Lukas merangkulku dengan santai.             "Iya, beruntung, kayaknya.” ucap Indra begitu dingin dan menusuk.             Aku hanya bisa menunduk dan menyalahkan diriku sendiri.             Maafkan aku, Indra.             Harusnya aku tidak terpancing emosi dan salah paham.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN