Saat sampai rumah, aku langsung berbaring di kasurku yang empuk sambil memandnag langit-langit kamarku. Aku merenungkan banyak hal, terutama kata-kata Lukas tadi di kafe. Apa benar aku sejahat itu? Aku menghela napas. Sepertinya benar, aku terlalu memikirkan diriku sendiri, Aku sama sekali tidak memikirkan perasaan Lukas, karena aku kira … selama ini dia tidak sungguh-sungguh menyukaiku dan sudah menyerah. Ternyata, masih ada luka di hatinya. Luka yang begitu dalam, tanpa aku sadari. Saat aku sedang sibuk merenung, ponselku tiba-tiba bergetar. Aku mengambilnya dari dalam tas dengan susah payah, tapi saat melihat nama pacarku di layar, senyumku perlahan mengembang. “Hallo?” sapaku lemas. [Udah ketemu Lukas? Maaf ya, gue ta

