Jantungku semakin berpacu dengan cepat seiring dengan langkah kaki orang-orang itu yang semakin mendekati mobil kami. Kulirik ke arah Flinn, dia masih memasang wajah datarnya dengan tatapannya yang sulit untuk diartikan. Tapi dia tak terlihat takut sedikit pun, sangat berbeda denganku yang sudah ketakutan setengah mati sampai tubuhku gemetaran. Jujur saja aku belum mau mati, aku merasa usiaku masih terlalu muda. Masih banyak yang belum aku ketahui tentang dunia ini, aku bahkan belum menikah. Tiba-tiba saja ku rasakan sesuatu yang hangat melintas di pipiku, tentu saja air mataku lah penyebabnya. Air mata ini meluncur dengan sendirinya, cukup menjadi bukti bahwa aku sangat ketakutan saat ini. “Ck, kau cengeng sekali.” Sebuah suara dari arah sampingku, sukses membuatku terhenyak. Kulirik

