“APA YANG KAU LAKUKAN, DEAN?”
Suara itu bukan hanya membuatku terlonjak, namun juga membuat seluruh bulu kuduk yang ada di tubuhku berdiri. Ketika aku melihat reaksi Dean yang sedang duduk dengan lemah di tempat tidur di hadapanku, aku rasa bukan hanya aku yang merasa sama saat mendengar suara tersebut.
Hunter berdiri di ambang pintu dengan satu alis terangkat, tangan dilipat di depan tubuh, dan berdiri dengan bertumpu pada satu kaki. Sial. Begini saja Hunter terlihat begitu tampan dan menggirukan. Hampir saja aku cegukan.
“Tidak . . .” Dean terbata. Matanya belangsatan, menari antara aku dan Hunter, lalu berhenti pada lelaki yang sedang berdiri dengan postur sengak dan wajah yang galak itu. Dean menunduk, “Aku tidak mengatakan apa-apa . . .”
“Belum.”
“Hunter, aku hanya—“
“Sudahlah,” Hunter mengibaskan tangan kanannya dengan malas. Dia berjalan masuk, langkahnya pelan dan mematikan. Aku hampir saja memutar kedua bola mataku tinggi melihat aksinya yang sangat sombong dan begitu diva. “Aku tidak perlu penjelasan darimu.”
Dean menunduk lebih dalam lagi. “Maaf . . .”
OK, sampai di sini batas sabarku. Untuk apa Dean minta maaf padanya? Maksudku, aku tahu mungkin Dean ini memang melakukan sesuatu yang salah berhubung tadi dia dinyatakan kabur atau sebagainya. Ditambah, lelaki yang melaporkan kalau dia kabur terlihat sangat khawatir dan cemas dan sedikit takut. Ditambah lagi, Hunter juga sama cemasnya, dan memaksaku untuk tinggal di kamar tidurnya pula. Dean mungkin melakukan sesuatu yang cukup buruk, atau sangat buruk. Tapi ‘kan, saat ini Hunter tidak melakukan apa-apa. Yang dia lakukan hanya akan mengatakan sesuatu padaku! Bukannya dia melukai dan mencuri dan membunuh dan segala macam bentuk kriminal.
Aku menyipitkan mataku pada Hunter yang menarik kursi besi di samping tempat tidurku, dan duduk tanpa merasa bersalah sama sekali. Wajah Dean semakin ditekuk dan lesu dan sedikit takut. Dean terlihat sangat inferior dibandingkan Hunter, dan aku sedikit tidak suka dengan perlakuan seperti itu. Hunter terdiam, melihatku dari ujung kepala hingga ujung kaki, memeriksa jika lukaku parah atau semacamnya. Yang aku lakukan hanyalah menatap dia dengan wajah datar dan alis terangkat satu. Napasku berat dan tidak beraturan.
Aku kesal.
“Kenapa kau? Apa kau punya masalah bernapas? Apa aku perlu memanggilkan perawat? Apa kau butuh oksigen?” tanya Hunter penuh cemas. Tangannya sudah terulur ke arahku, untuk memeriksa apa yang salah namun aku menepisnya. Rasa terkejut terlihat jelas dari sorot mata Hunter. Mata keemasannya terbuka lebar, pupil hitamnya yang sangat gelap terlihat sangat menakutkan di depanku, namun aku tidak ambil pusing.
Aku hanya melengos dan menatap Dean dengan seksama—yang by the way—Dean masih saja menunduk seperti seorang anak anjing yang sangat patuh pada majikannya.
“Dean . . .” Ucapku dengan suara serak. “Apa yang akan kau katakan padaku tadi?”
Dean gelagapan. Dia salah tingkah. Tangannya meremas seprai tempat tidur sementara kakinya yang sudah dibalut seperti seorang mumi jaman dahulu itu menegang. Aku meringis melihat Dean yang cukup tidak nyaman, tapi, yah, aku tidak peduli. Aku ingin tahu apa yang tadinya ingin dia katakan padaku sebelum orang menyebalkan tidak tahu aturan ini datang dan bersikap seperti seorang bos mafia yang menguasai dunia dan segalanya.
“Aku . . . aku . . . hm . . .” Matanya melirik Hunter dengan gugup. Bibirnya bergetar tidak karuan. Aku tahu aku harus melepaskan topik ini jika Dean sebegitu tidak nyamannya untuk kembali bercerita, tapi aku sudah kepalang penasaran!
Dan lagi, kenapa dia berhenti saat Hunter datang? Kenapa dia mundur saat Hunter bertanya apa yang sedang dia lakukan? Kenapa dia tidak jadi mengatakan apa pun itu yang tadinya ingin dia katakan saat Hunter melotot padanya? Memangnya siapa Hunter? OK, jika teoriku benar tentang Dean yang seorang tukang kebun dirumah ini, maka otomatis Hunter memang majikannya, tapi ‘kan, bukan berarti dia bisa menyuruh orang untuk diam seenaknya!
“Kenapa mendadak jadi terbata begitu? Ayo, ceritakanlah. Tak apa, jangan hiraukan orang besar di antara kita ini. Enak saja dia masuk dengan gaya sengak dan memerintahkan yang tidak-tidak pada kita. Memangnya dia siapa?”
Dean menganga, mulutnya terbuka lebar hingga aku cemas sebuah serangga menjijikan akan masuk ke dalam. Lelaki itu tampak tak percaya dengan apa yang baru saja aku lakukan. Ya ampun, apa sebegitu menakutkannya seorang Hunter Hawkwolf? Apa tidak ada yang pernah berlaku begini padanya? Apa semua selalu tunduk dan menurut padanya seperti Dean tadi? Jika iya, ini benar-benar masalah besar. Tidak ada di dunia ini yang pantas diperlakukan seperti itu. Jika memang benar, Hunter sudah keterlaluan.
“Dean, jawab aku . .” Aku mendesak dengan cepat. Ya ya, aku tahu, aku sangat menjengkelkan. Jika orang tidak ingin bicara, maka jangan dipaksa. Tapi kalau kalian jadi aku, bisakah kalian menyalahkanku? Aku begitu penasaran! Terlebih lagi, hei, aku baru saja diserang oleh binatang buas dan menakutkan. Serigala besar yang tidak normal dan tidak masuk akal. Aku ingin tahu apa yang terjadi, dan apa yang Dean ingin katakan.
“Hm . . . tidak jadi. Lupakan saja apa yang tadi aku bicarakan.” Jawab Dean, tapi sorot matanya masih melihat ke arah Hunter. Rasa takut dan tunduk jelas terpancarkan dari wajah Dean itu.
“Bagaimana bisa?” aku merentangkan tanganku lebar, sengaja menabrak Hunter yang duduk manis di depan tempat tidurku. “Kau bahkan belum mengatakan apa-apa untuk aku bisa melupakan perkataan itu!”
Dean terbungkam, ekspresi mukanya memperlihatkan tanda “Benar juga . . .” tapi dia tetap diam dan tidak menjawab pertanyaanku.
Hunter yang menengok, menatapku dengan tajam dan mungkin mencoba untuk menakutkan, tapi, ha—aku baru saja diserang serigala! Aku tidak akan pernah berhenti mengatakan kalau aku baru saja di serang oleh serigala besar yang tidak normal dan tidak masuk akal. Memangnya dia pikir dia bisa membuatku takut dengan tatapan matanya itu? I literally saw a giant wolf’s eyes on top of me, dan dengan posisi yang sedang menginjak dadaku pula!
“Apa?” tanyaku ketus. Hunter terlihat kaget untuk beberapa saat, tapi postur tubuhnya kembali seperti semula.
“Berhenti bertanya, tidak ada gunanya. Lagi pula, jika aku menjadi kau, aku tidak akan mendengarkan apa pun yang keluar dari bibirnya. Dean itu tidak bisa dipercaya, dan dia tidak bisa dikontrol.”
DIKONTROL? MEMANGNYA DIA ANJING PELIHARAAN?
Tapi tentu saja seruan itu hanya terjadi di dalam hatiku, tidak benar-benar aku teriakkan dengan kencang dan lantang. Aku tidak akan membiarkan Hunter membuatku tensi darahku naik tinggi dan membuatku otomatis hipertensi dan mati. Hunter menatapku dan dua alis terangkat, menantangku untuk membantah perkataanya.
Dengan gigi yang gemeretak, aku melipat kedua tanganku di d**a. “Aku yang akan menilai apakah perkataan Dean bisa dipercaya atau tidak.”
“Lalu bagaimana dengan perkataanku? Apa kau tidak akan mendengarkan apa yang aku bilang?” sergah Hunter dengan kesal. Dia mulai duduk dengan tegak, merasa dikecilkan karena aku membela Dean yang jelas-jelas mungkin lebih banyak salahnya dibandingkan lelaki yang baru aku kenal beberapa minggu belakangan ini.
“Yah, jika aku berperilaku seperti itu, memangnya kau pikir aku bisa percaya apa yang kau katakan?”
“Tentu saja!”
“OK,” aku menantangnya. “Kalau begitu, katakan padaku, kenapa kau melarang Dean untuk mengatakan apa pun itu yang akan dia katakan? Tadi pagi, atau kemarin, atau kapan lah aku tidak ingat kapan terakhir aku sadar! Kenapa kau begitu cemas? Dean kabur? Kenapa dia kabur? Dan kenapa kau bersikeras jika aku harus diam dan tinggal di kamarku karena kamarku lebih aman.”
Hunter tidak bisa berkata apa-apa. Mungkin terlalu kaget dengan pertanyaanku yang membabi buta, atau mungkin sangat ilfeel, karena aku mendadak menjadi seorang ratu menyebalkan yang banyak permintaan. Tapi, sekali lagi, aku tidak akan pernah lelah mengatakan kalau aku baru saja diserang oleh seekora hewan buas dan menakutkan alias serigala tidak normal dan tidak masuk akal! Aku berhak meminta apa saja!
Dean meringis saat aku menyebutkan dirinya yang kabur tadi pagi atau kemarin, atau beberapa hari yang lalu, atau kapan saja lah itu terakhir kalinya aku sadar!
“Kau tidak perlu tahu.” Jawab Hunter sekenanya.
Aku hampir saja mengumpat dengan bahasa yang sangat aku ketahui dan hapal. Jika tidak mengingat kalau aku sedang tidak dalam keadaan yang baik, di depanku ada orang yang kemungkinan besar akan terkena serangan jantung jika mendengar serangakai kata penuh kreativitas dariku, aku pasti akan menyumpah dengan bebasnya. Hunter tidak terlihat merasa bersalah sama sekali, yang ada, dia malah terlihat menang, seperti sudah bisa memenangkan argumen ini dengan perkatan yang tidak ada hubungannya sama sekali.
Aku baru saja bertanya dengan puluhan pertanyaan yang seharusnya memang pantas aku pertanyakan, tapi dia hanya menjawab dengan sebuah kalimat yang pendek dan dingin dan sok penuh kekuasaan seperti itu? Hunter Hawkwolf harus tahu jika seorang wanita marah, bahkan gunung pun bisa kami pindahkan.
Melihat situasi yang mulai kehilangan kendali, Dean berusaha untuk melerai kami. Tubuhnya yang lemas itu terlihat sangat menyedihkan, namun aku harus mengakui jika usaha yang dia berikan ada bagusnya juga.
“Guys, hm . . . bisakah kalian tidak berkelahi di sini?”
Hunter menole padanya begitu cepat aku sedikit cemas dia akan mematahkan lehernya. Dean langsung otomatis menunduk, menghindari tatapan mata Hunter yang mendadak seperti orang kesetanan. Wajahnya memerah, menandakan dia marah.
“Apa yang kau bilang?” Hunter menekankan setiap katanya.
Lagi, aku ingin sekali memutar kedua bola mataku, tapi kau tidak ingin membawa suasan bertambah buruk. Ditambah lagi, Hunter memang sedikit terlihat mengerikan seperti itu. Mata cokelat dan keemasan dan bersinar indah itu terlihat seperti terbakar api yang panas, dan aku tidak ingin menjadi penerima pandangan mematikan itu.
Untuk sesaat, aku merasa iba pada Dean.
“Hanya saja . . .” Lelaki itu kembali tergagap dengan bodohnya. “Aku . . . kepalaku pusing! OK? Aku butuh istirahat. Kakiku akan copot sedikit lagi, tanganku nyeri, dan dadaku sakit. Tubuhku penuh lebam dan aku sangat tidak ingin menyaksikan pertengkaran tidak jelas di hadapanku.”
Semua itu dia katakan dengan mata yang tertutup, dan tangan yang dikepalkan di samping tubuhnya. Jika tidak mengingat kalau keadaan sedang tidak bagus dan sangat tegang, aku mungkin akan menganggap tingkah Dean lucu dan menggemaskan. Dia terlihat seperti anak kecil yang sedang diomeli dan berusaha untuk membela diri, namun juga takut pada orangtuanya.
Aku tahan senyum yang akan keluar dari bibirku. Sebagai gantinya, aku hanya menekuk wajahku, bibirku memberengut untuk menandakan kalau aku tidak suka padanya. Dean dan Hunter.
Dua-duanya menyimpan sesuatu dariku.
“Kalau begitu, aku hanya ingin bertanya ini.” Kataku akhirnya, ketika merasa iba melihat Dean yang akhirnya kembali tidur, dan tubuhnya lemah tak berdaya. “Bagimana caranya serigala sebesar itu bisa berakhir di pekarangan rumah kalian, dan bisa masuk lalu sampai ke kamar Hunter?”
Dua laki-laki yang tadi banyak bicara dan penuh permintaan mendadak diam seribu bahasa. Aku kali ini tidak bisa menahan diriku dan merotasikan kedua bola mataku dengan jengkel. Jika disuruh bicara, mereka diam. Jika tidak aku minta untuk berbicara atau mengatakan apa yang aku inginkan, mereka hanya berkata banyak tanpa sesuai dengan apa yang kami bicarakan.
“Kenapa diam?” tanyaku penuh dengki.
“Sudahlah, Cordelia. Itu hanya binatang buas yang nyasar dari hutan di belakang rumah ini. Kau lihat hutan belantara yang terbentang luas di belakang sini ‘kan?”
Tentu saja aku melihat itu, tapi memangnya aku akan percaya? Tapi saat ini aku sedang tidak memiliki kekuatan. Aku membiarkan topik itu termakan udara sejuk yang masuk dari dalam jendela bangsal rumah sakit.
“Rumahmu ada rumah sakitnya?” tanyaku.
“Hm . . .” Dia hanya mengangkat bahunya, kembali menghadapku dan meninggalkan Dean yang sudah menutup matanya, menghindari pembicaraan kami. “Yang tinggal di rumah ini mayoritas lelaki semua. Kami sering terluka, bahkan hanya karena hal-hal yang tidak penting.”
Dean mendengus, tapi tidak membuka matanya atau menoleh pada kami. Hunter tidak menghiraukannya dan terus berbicara, “Tenang saja, kejadian itu baru tadi pagi. Sedikit lagi jam makan malam, apa kau sudah mendingan?”
“Iya, aku hanya ingin pulang.”
“Kepalamu?”
“Oh iya! Kepalaku!” dengan cepat aku memegang bagian belakang kepalaku.
Hunter terkekeh geli. “Kepalamu tak apa, tadi hanya sedikit berdarah, tapi kata dokter itu hanya luka biasa. Kau pingsan dari rasa takut yang tinggi.”
Oh, aku pikir aku sudah akan cedera otak bak kejadian-kejadian epik di buku atau film.
“Kalau begitu kau ingin pulang sekarang?”
Aku hanya mengangguk lemah.
***
Seperti yang sudah bisa aku duga, Ibu murka. Dia tidak memberikanku waktu sedikit saja begitu Hunter pergi meninggalkan pekarangan rumah kami. Saat kami sudah masuk ke dalam rumah, Ibu langsung menyemburku dengan segala macam amarah dan ancaman yang membuat kepalaku semakin saja pening.
Saat aku menceritakan apa yang terjadi, ya ampun, wajah Ibu memerah sampai aku sempat cemas jika darahnya sudah membeku di mukanya. Aku menyuruh Ibu untuk duduk dan tenang, tapi wanita itu menolak dan menatapku dengan tajam.
Nada bicaranya sangat serius dan mematikan. “Cordelia, dengarkan Ibu. Aku mengatakan ini untuk kebaikanmu sendiri. Cordelia, berhenti bergaul dengan Xander, dan Hunter. Ibu bersungguh-sungguh. Jika kau mencintai Ibu, kau akan mendengarkan apa yang aku katakan.”
“Tentu saja aku mencintai Ibu! Tapi apa yang Ibu minta sangat egois. Setidaknya aku butuh penjelasan! Kenapa Ibu begitu tidak suka dengan Xander dan Hunter? Apa yang membuat Ibu sangat tidak ingin aku bergaul dengan mereka lagi?”
Aku menahan nada bicaraku untuk tetap tenang, namun sudah bisa terdengar jelas bahwa aku sudah frustasi. Ibu tidak pernah sekeras ini, dan Ibu tak pernah membuatku memilih antara dirinya atau teman.
“Kau lihat apa yang terjadi tadi ‘kan?” Ibu menjawab. “Jika kau bergaul dengan mereka, bahaya akan terus bertemu denganmu. Ibu tidak ingin itu terjadi.”
“Bahaya apa, Mom? Itu hanya hewan buas yang nyasar!”
“Itu bukan serigala sembarangan, Cordelia!”