CHAPTER 10

2017 Kata
HARUS AKU AKUI, aku cukup terkejut begitu kalima itu terlontarkan dari bibir Ibu. Itu bukan serigala sembarangan. Memangnya ada berapa jenis serigala hingga serigala yang aku temui itu bukan serigala biasa? Serigala Asia? Serigala Afrika? Serigala jadi-jadian? “Bukan serigala sembarangan?” tanyaku dengan heran. Rasa marah, rasa tidak adil, rasa kesal dan jengkel akibat perminataan Ibu yang tidak masuk akal sama sekali. Jika aku pikir lagi, memang permintaan Ibu itu tidak bisa dipikirkan secara logika dengan benar. Ibu hanya bertindak egois, itu saja. Apa yang sudah dilakukan oleh Xander dan Hunter? Tidak ada. OK, mungkin hari ini aku diserang dengan hewan buas dan mematikan yang entah mengapa bisa masuk ke dalam rumah Hunter, tapi itu ‘kan bukan salahnya. Bukan juga salahku. Itu bukan salah siapa-siapa, bukan juga salah serigala itu, karena, yah, dia hanya seekor hewan tanpa akal. Mana dia tahu rumah Hunter itu tempat yang terlarang untuk dia masuki? Sedangkan Xander . . . Ya ampun, anak itu bahkan hanya bertemu dengan Ibu tidak lebih dari limat menit. Yang dia lakukan hari ini hanya menepati janjinya untuk mengajakku minum kopi di kedai terdekat di kota ini. Malah, aku sedikit merasa nyaman dan bahagia di kota menyedihkan ini untuk yang pertama kalinya berkat Xander. Dia adalah orang yang baik yang mau lebih dulu mengajakku berteman dan membelaku dari Hunter. Tidak ada yang perlu ditakutkan pada Xander Deathbone. Jadi kenapa Ibu begitu bersikeras? “Tidak . . . hm . . . maksudku . . .” Ibu terbata sambil belangsatan. Aku menatapnya dengan bingung dan heran dan terus terang, semakin kesal. Tadi dia begitu penuh ambisi untuk melarangku bergaul dengan temanku yang sudah aku buat dia kota yang ingin dia tempati ini. Sekarang dia malah terbata dengan bodohnya. Ada apa dengan orang-orang dan mendadak menjadi gagap? Tadi Dean yang entah mengapa mendadak tunduk dan takut dan gagap di depanku dan Hunter. Sekarang Ibu yang mendadak salah tingkah dan gagap seperti salah bicara saat sedang membicarakan Hunter. Tunggu dulu. Kenapa semuanya berhubungan dengan Hunter Hawkwolf? Sial. Ada apa sebenarnya dengan laki-laki itu? Kenapa rasanya dia pemeran utama di sebuah buku atau film romansa yang misterius, padahal ini adalah duniaku? Ini tidak adil. Bahkan orang-orang yang tampan sepertinya pun bisa mencuri lampu terang di dunia dan ceritaku sendiri. Ibu hanya mengedikkan bahunya, “Sudahlah, itu tidak penting.” “Sudahlah, Cordelia. Itu hanya binatang buas yang nyasar dari hutan di belakang rumah ini. Kau lihat hutan belantara yang terbentang luas di belakang sini ‘kan?” Pikiranku langsung kembali lagi pada kejadian beberapa saat yang lalu ketika aku masih terduduk dengan lemah di tempat tidur salah satu bangsal rumah sakit rumahnya Hunter yang besar dan megah. Saat aku bertanya padanya tentang serigala tidak normal dan tidak masuk akal yang bisa nyasar dan masuk ke dalam pekarangan rumahnya, dia malah berkata agar aku melupakannya. Sudahlah. Apa hobi orang-orang untuk mengesampingkan perasaanku dan membuatku mati penasaran? Apa sulitnya bagi mereka untuk mengatakan apa pun itu yang sebenarnya terjadi? Apa sulitnya bagi Ibu untuk mengatakan padaku alasan kenapa dia sangat ingin agar aku tidak lagi bergaul dengan dua temanku alias Xander dan Hunter? Apa sulitnya bagi Hunter unutk membiarkan Dean mengatakan apa itu yang ingin dia beritahu padaku atau mengatakan padaku bagaimana caranya bisa seekor hewan buas yang ukurannya sangat tidak lazim itu bisa berakhir di pekarangan rumahnya? Memangnya perasaanku tidak penting bagi mereka? Apa susah untuk menjawab pertanyaanku? Apa aku memintar terlalu banyak dan hal itu tidak dapat mereka lakukan karena, yah, perasaanku tidak penting bagi mereka? “Cordelia, dengar, Ibu minta maaf jika permintaan Ibu sangat tidak masuk akal dan kau tidak bisa melakukan apa yang aku inginkan itu. Tapi kau harus ingat, aku melakukan segala hal hanya dengan satu pikiran di otak aku. Yaitu agar kau bahagia dan nyaman dan aman. Aku hanya ingin kau berteman dengan orang yang benar, itu saja. Aku tidak akan kau terjerumus dan berada dalam bahaya.” Rasanya aku ingin berteriak di depan Ibu, tapi aku menahan diriku. Ayah bilang, jika kita bicara baik-baik, maka lawan bicara kita juga akan menjawab dengan hati dan pikiran yang dingin. Jadi, melainkan berteriak dengan kesal dan jengkel, aku hanya membuang napas panjang dan berat. Aku menatap Ibu dengan tatapan yang aku harap sangat menyedihkan agar Ibu bisa mengerti dan merasa iba padaku. “Ibu, mereka itu tidak berbahaya sama sekali. Ibu ingin aku mendengarkanmu ‘kan? Kalau begitu, aku juga ingin kau mendengarkan sisi ceritaku dulu. Aku ingin kau mendengarkan pendapatku dulu, bagiamana jika begitu?” Aku sudah menduga akan mendapat balasan yang tidak masuk akal lagi. Aku berpikir Ibu akan tetap keras kepala dan bersikeras kalau pendapatnya tentang Xander dan Hunter itu benar. Kalau mereka memang berbahaya dan aku harus menjauh dari mereka. Tapi Ibu hanya berdecak. Dia membasahi bibir bawahnya lalu menjatuhkan diri di sofa dengan napas yang tertahan. Bibirnya memberengut, tapi aku tahu itu tanda bahwa Ibu akan dia dan mendengarkan apa yang ingin aku katakan. Dengan sigap dan berusaha agar kesempatanku ini tidak sia-sia, aku ikut duduk di sampingnya. “Saat aku pertama kali datang ke sekolah, aku tidak punya teman satu pun, Mom. Kau tahu sendiri aku tidak terlalu pandai dalam bersosialisasi dan membuat banyak teman ‘kan?” Ibu hanya diam. Matanya tidak menatapku, melainkan hanya menatap karpet bulu kami seperti karpet itu adalah hal paling menarik di dunia ini. Tapi aku tidak mundur, aku melanjutkan, “Dan aku merasa sangat tersesat hari itu. Ditambah lagi, wanita yang seharusnya berjaga di kantor sekolah mendadak berbeda, dan aku harus berususan dengan seorang perempuan staf sekolah yang baru. Satu-satunya teman yang aku miliki hanya Axel dan aku selalu gugup jika aku harus sendirian di tempat umum. Tapi hari itu, saat aku masuk kelas, Xander yang lebih dulu menyapaku dan mengajakku berkenalan.” Aku meninggalkan fakta bahwa aku sebenarnya lebih dulu bertemu dengan Hunter, tapi berhubung pertemuan kami itu sangat tidak menarik dan parahnya lagi, tidak baik juga, aku tidak akan mengatakan itu pada Ibu dan menambah keyakinannya kalau Hunter itu tidak baik dan aku harus menjauhinya. “Saat di kelas dia begitu baik dan ramah dan tidak membuatku merasa seperti orang luar. Dan terus terang, aku sangat suka dengan sifatnya itu.” “ Lalu Hunter?” Ibu akhirnya bereaksi. Dia mendongak dan menatapku. “Hunter . . . well, dia lebih rumit saat di awal.” Aku akhirnya mengakui hal itu. “Pertama kali kami bertemu, aku akui aku sedikit jengkel padanya. Kami tidak sengaja tabrakan di depan kantor sekolah dan dia berperilaku cukup mengesalkan—“ sebenarnya sangat mengesalkan, tapi Ibu tidak perlu tahu itu. “— dan yah, berhubung aku belum tahu siapa dia, aku juga jadi kesal. Tapi setelah itu, aku mulai tahu bahwa Hunter tidak seburuk itu. Terlebih tadi pagi saat aku ke rumahnya. Aku diundang ke rumahnya yang sangat besar—apa kau tahu mereka memiliki danau sendiri?—Ya, danau! Dan taman patung! Dan—“ aku menahan diri sebelum Ibu tahu kalau aku benar-benar terkesiap dengan rumah itu. “—aku bertemu dengan saudaranya yang lucu dan menyenangkan. Hunter tidak seburuk yang kau pikirkan, Mom. Dan aku sedang berteman dengannya.” “Tapi—“ “Walaupun hari ini harus berakhir seperti itu. Tapi ‘kan tidak ada yang bisa menabak apa yang akan terjadi. Memangnya Hunter tahu kalau serigala akan mendadak nyasar dan masuk ke dalam pekarangan rumahnya? Terlebih lagi bisa sampai ke kamar tidurnya segala?” Ibu menarik napas, mencoba untuk sabar. “OK, aku paham. Mereka berdua orang yang baik dan raman dan membuatmu nyaman. Tapi tetap saja, Ibu tidak yakin dengan mereka. Mereka berdua itu terlihat seperti magnet masalah.” “Mom, kau tahu?” aku meliriknya. “Aku tahu kapan kau berkata jujur dan kapan kau berbohong.” Ibu membeku di tempatnya. “Cordelia, aku tidak berbohong.” “Tidak. Aku tahu bukan itu alasan asli kenapa aku ingin agar aku menjauh dari Xander dan Hunter. Dan bukannya aku juga tidak tahu, tapi aku memilih diam. Tapi sekarang aku benar-benar ingin meminta penjelasan padamu. Apa yang membuatmu begitu ingin agar aku tidak lagi bergaul dengan mereka?” “Aku sudah bilang kalau mereka itu magnet bahaya, dan aku tidak ingin putriku berada dalam bahaya.” “Bahaya apa?” aku melempar dua tanganku di udara, merasa sangat frutasi pada Ibu yang terus berputar pada kalimatnya di awal. Karena mereka berbahaya. Apanya yang bahaya? Memangnya apa yang akan Hunter atau Xander lakukan padaku? Aku bisa terluka karena apa akibat mereka? Mati mendadak karena serangan jantung, iya. Berhubung mereka begitu tampan dan sangat tidak normal. Tapi lagi, Ibu menghindari menjawab pertanyaanku itu. “Pokoknya, Ibu ingin kau tidak lagi bermain dengan mereka. Titik.” “Tidak!” aku bersikeras. “Jika begitu, aku juga memilih untuk tidak pindah ke sini dan kembali ke Doveport agar bisa bersama dengan Axel. Titik.” “Tidak bisa begitu.” Ibu tidak ingin kalah. Nada bicaranya tidak lagi tenang, begitu jga aku. Kami sudah mulai termakan emosi. Sementara Ibu yang masih duduk di sofa, aku sudah berdiri sambil berkacak pinggang. Kepalaku terasa sangat berat dan jujur saja, aku hanya ingin bersih-bersih dan tidur nyenyak. “Bagaimana tidak? Kau bisa memaksakan kehendak padaku, tapi aku bahkan tidak bisa meminta sebuah permintaan padamu?” “Cordelia!” “Sudahlah.” Kataku mengulang kalimatnya yang sangat membuatku kesal itu. “Aku akan ke kamar dan tidur. Selamat malam.” “Bagaimana dengan makan malam?” sahut Ibu dari ruang tamu. Aku yang sudah sampai di kamar hanya mendengus. “Aku tidak lapar.” *** Sejujurnya aku lapar, tapi aku tidak akan membiarkan Ibu puas dan mengetahui hal itu. Rasa lapar yang mulai memakan semua organ tubuhku membuatku tidak bisa tidur. Dengan kesal, aku meraih ponsel yang terletak di meja tidur dan membuka kontal telepon. Aku mencari nama yang sudah sangat familiar bagiku, dan menghubunginya. Butuh waktu beberapa lama dan beberapa kali percobaan hingga telepon akhirnya diangkat. “Halo.” Suaranya serak dan penuh kantuk. Jika aku tahu diri, aku pasti akan merasa bersalah. Tapi aku tidak tahu diri, dan aku tidak merasa bersalah. Terlebih lagi aku sudah sangat dekat padanya. “Apa kau tidur?” tanyaku sambil menatap langit-langit kamar. “Tadinya,” jawabnya dengan pelan dan malas. “Hingga ada manusia menyedihkan yang mengganggu tidurku, membuyarkan mimpiku, dan membuatku terbangun.” Aku hanya tertawa. “Axel, yang kau mimpikan pasti hanya Sofia Vergara lagi, Sofia Vergara lagi.” Axiel hanya mendengus dengan kesal dari balik telepon. “Jika kau hanya ingin menghubungiku untuk mengataiku dan membuat hidupku semakin susah lagi, lebih baik kau menutup sambungan telepon dan pergi tidur, Del. Aku sedang tidak ingin diganggu. Mimpiku sangat indah.” “Mimpi tentang apa memangnya?” tanyaku penasaran. “Sofia Vergara.” Aku terkekeh geli. “Kau harus segera melupakan obsesimu pada Sofia Vergara, Axel. Itu tidak akan pernah terjadi. Dan parahnya, kau bahkan tidak ingin mengakui kalau dia itu sudah punya anak laki-laki.” “Heh, memangnya kau bisa percaya seseorang sepert Sofia Vergara ternyata sudah punya anak sebesar itu?” balas Axel. “Aku terkejut.” “Begitu juga semua orang yang lain.” “Ada apa?” “Aku ingin cerita.” “Ya sudah.” Dengan begitu, aku menumpahkan setiap kejadian yang sudah terjadi beberapa hari belakangan ini. Mulai dari awal aku sekolah, bertemu dengan Hunter, lalu pegawai yang mendadak ganti, lalu bertemu Xander, dan acara minum kopi kami di kedai. Lalu Hunter yang mendadak muncul di rumahku dan mengajakku ke rumahnya yang—by the way­—aku benar-benar menumpahkan segalanya pada Axel sampai aku puas. Lalu kejadian dengan serigala tidan normal dan tidak masuk akal itu. Aku tidak meninggalkan satu detail pun dari Axel dan dia mendengarkan dengan hikmat tanpa menyelak atau membuatku terdiam. Untuk sesaat, aku pikir dia sudah tertidur lagi, tapi dari napasnya yang menderu, aku tahu dia masih bangun. Lalu aku pikir dia akan begitu khawatir dan cemas padaku akibat apa yang terjadi dengan serigala tadi pagi, tapi yang terjadi hanya sebuah kalimat yang membuatku ingin memukulnya dengan kencang. “Aku rasa Hunter dan Xander suka padamu.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN