CHAPTER 11

2346 Kata
“AKU RASA HUNTER DAN XANDER SUKA PADAMU.” Jika dipikir lagi, kalimat yang dilontarkan oleh Axel itu tidak terlalu berlebihan. Dia hanya menyimpulkan dari kaca mata seorang lelaki, dari sudut pandang pria yang sama dengan Xander dan Hunter. Tapi bagi aku, yang hanya memiliki pengalaman interaksi laki-laki hanya bersama Axel, tentu saja perkataan itu begitu menyimpan banyak kontroversi. Bukannya aku tidak ingin juga mereka berdua suka padaku, tapi rasanya tidak mungkin. Hunter Hawkwolf itu salah satu laki-laki paling populer di sekolahku yang baru, di sekolah yang sekarang ini. Ibarat hollywood, Hunter itu bagaikan Chris Evans yang memikat banyak hati wanita. Seluruh perempuan ingin menjadi kekasihnya, atau barang kali hanya ingin menjadi seseorang yang berada di dekatnya. Paling kecil, yah, menjadi seseorang yang dia kenal saja sudah bagus. Seluruh pria ingin menjadi temannya. Ingin berada dalam lingkaran pertemanan Hunter. Tapi dari itu semua, dia juga ditakuti dan disegani oleh mereka semua. Jadi, bukan hanya mereka ingin berteman dengan Hunter, tapi para murid ini juga menghormatinya sehingga aku bingung. Apa yang membuat Hunter begitu disukai dan ditakuti secara sekaligus oleh begitu banyak orang? Sedangkan Xander Deathbone itu salah satu laki-laki yang juga populer di lingkaran pertemanan sekolah. Jika Hunter bagaikan Chris Evans, maka Xander ini seperti Chris Pine. Dua Chris yang sama tampan dan seksi dan menggiurkan, namun keduanya berada di dua pihak yang berbeda. Chris Evans berada di sisi Marvel Universe yang digandrungi banyak orang dan penggemar fanatik itu, sementara Chris Pine berada di sisi DC Cinematic Universe yang tidak kalah banyak penggemarnya. Jika Hunter berada di satu sisi kepopuleran sekolah, maka Xander berada di sisi yang lain. Tapi aku juga melihat begitu banyak gadis yang melirik dan menginginkan Xander untuk memerhatikan mereka. Dan begitu banyak murid pria yang ingin menjadi temannya. Intinya, Xander dan Hunter itu dua orang yang bertolak belakang denganku. Aku hanya gadis biasa dari Doveport yang terlihat kikuk dan jutek dan menyedihkan. Aku bahkan tidak bisa berjalan tanpa tersandung, tidak bisa bicara tanpa terbata, dan yang lebih parah lagi, aku tidak bisa bersosialisasi seperti orang normal pada umumnya. Jika harus dibandingkan, Hunter itu Chris Evans, Xander itu Chris Pine, dan aku hanya bagian pemeran pendukung yang mungkin hanya berperan menjadi pohon bohongan atau orang yang lewat atau korban yang mati akibat alien jelek dan jahat, atau semacamnya lah. Jadi, ketika Axel mengatakan hal tidak mungkin itu, yang bisa aku lakukan hanyalah tertawa dan tertawa dan tertawa lagi. Baru ketika aku ingat bahwa mungkin Ibu sudah tidur dengan pulas dan nyenyak, aku berhenti dan tertawa dengan pelan. Napasku rasanya akan habis saking kencangnya aku tertawa, dan perutku terasa sakit. Bisa-bisanya, dari segala respon yang ada, Axel malah mengatakan hal tersebut. Temanku ini selain sangat terobsesi dengan Sofia Vergara, ternyata memang gila dan tidak waras. Dia butuh bantuan yang sangat hebat. Axel tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya menungguku dengan sabar, hingga tawaku reda. Tawa yang terdengar seperti anjing laut—dan kalau kata Axel, tawaku juga terdengar seperti bunyi orang mengelap jendela dengan kuat—akhirnya berhenti. Axel membuang napas kencang, suaranya menggema di pengeras suara ponselku. “Apa kau sudah selesai?” tanyanya dengan nada bicara sedikit kesal. Yah, mau bagaimana lagi? Aku sudah mengganggu tidurnya yang mungkin sangat pulas, ditambah mimpinya tentang Sofia Vergara—artis kesukaannya itu—dengan tanpa belas kasih. Tanpa merasa bersalah pula. Dan sekarang aku malah menertawakannya seperti seorang iblis jahat. Aku terkekeh lagi, tapi buru-buru menjawab sahabat lelaki terbaikku itu. “Maaf,” jika dia ada di sini, pasti dia akan melempar bantal melihat wajahku yang cengengesan. “Habisnya, kau berkata begitu percaya diri dan tanpa merasa ragu sama sekali.” “Lalu? Memangnya aku bercanda?” “Axel, sayang, cinta, istanaku, teman terbaikku, sahabatku yang paling tampan sedunia bahkan hingga ke galaksi yang lain,” ujarku dengan gaya yang dilebihkan. “Itu tidak mungkin. Tidak bahkan jika ditunggu seratus tahun lagi. Jika dunia runtuh. Jika matahari mendekat. Jika seluruh es di Antartika sudah mencair.” “Apanya? Kalau Xander dan Hunter menyukaimu?” “Tentu saja!” seruku tak habis pikir. Aku mengatakan pendapatku tentang dua orang tadi, dan membandingkan mereka dengan diriku yang sangat absurd ini. “Jadi, tidak mungkin ‘kan mereka bisa suka padaku?” “Ternyata memang benar ya . . .” Ucap Axel dengan suara pelan. “Apanya?” tanyaku mengutip perkataannya sendiri. “Kau tidak akan bisa menerima fakta bahwa seseorang suka padamu jika kau tidak menyukai dirimu sendiri.” Aku terdiam cukup lama, memikirkan perkataan Axel. Aku timbang kalimat itu dengan serius dan seksama. Kau tidak akan bisa menerima fakta bahwa seseorang suka padamu jika kau tidak menyukai dirimu sendiri. Artinya, kau tidak akan pernah bisa percaya bahwa ada seseorang yang bisa dan kapabel dalam menyukai dirimu sendiri jika kau sendiri tidak menyukai siapa kau sebenarnya. Sial. Kenapa Axel harus telak begitu? Yah, bukannya aku sangat membenci diriku sendiri. Tapi aku ini remaja yang terbilang sangat biasa dan absurd di tengah society yang seperti ini. Segalanya serba mewah dan berkelas dan cantik. Gadis-gadis seumuranku semuanya berbentu model yang bisa terkenal di mana saja, ya i********:, atau tumblr, atau bahkan youtube. Semuanya begitu menawan dan sangat rupawan. Begitu juga dengan kaum Adam yang tidak kalah kerennya. Mereka begitu banyak memiliki teman, bisa berkelanan ke mana saja, bersenang-senang dengan hidup mereka yang penuh kebahagiaan. Sedangkan aku? Aku selalu mengunci diri di kamar dan satu-satunya teman yang aku miliki hanya Axel. Dan bukannya aku mengatai diriku sendiri begitu jelek atau buruk rupa atau semacamnya, tapi lagi, aku juga sangat tidak cantik atau rupawan. Wajahku biasa saja. Sangat biasa. Bahkan bisa dibilang wajahku ini sangat pasaran. Jadi bukannya aku membenci diriku sendiri, tapi yah, aku tidak terlalu suka dengan siapa diriku. Aku tidak percaya diri. Aku tidak berpikir jika aku bisa diterima dengan tulus oleh seseorang—kecuali Axel, tapi ‘kan dia hanya sahabatku. Apa benar perkatan dia? Kau tidak akan bisa menerima fakta bahwa seseorang suka padamu jika kau tidak menyukai dirimu sendiri. Tapi memang benar ‘kan? Mana mungkin seorang Hunter Hawkwolf dan Xander Deathbone menyukai aku. Terlebih kita baru kenal hanya beberapa minggu saja! “Del, jangan bilang setelah kau membuatku terbangun sekarang giliran kau yang tidur dan meninggalkan aku di sini sendirian.” Kata Axel setengah kesal setengah tak percaya. Aku tertawa tipis. “Tidak, aku masih di sini. Aku hanya sedang berpikir.” “Aku benar ‘kan?” “Jangan sengak,” selaku cepat. “Lagi pula, bukannya aku membenci diriku sendiri atau apa . . . hanya saja . . .” “Kau membenci dirimu sendiri.” “Tidak! Bukan begitu.” “Lalu apa?” Axel mulai tak sabar. “Cordelia, kau harus mulai sadar kalau kau tidak seburuk yang kau pikirkan. Kau itu cantik dan lucu dan menarik. Kau juga tidak buruk. Kau baik hati dan tidak sombong dan tidak pelit . . .” “Axel, kau terdengar seperti anak kecil yang memuji temannya di kelas lima sekolah dasar.” “Intinya,” Axel menegaskan, kesal karena sudah aku potong. “Memangnya kenapa jika Xander atau Hunter menyukai dirimu? Ada banyak yang bisa disukai darimu, Cordelia.” “Seperti apa misalnya?” tantangku berani. “Apa yang bisa mereka sukai dariku?” “Kau . . . hm . . .” Axel terdiam. “Sudahlah.” Kataku untuk yang kesekian kalinya. “Kau harus menerima kenyataan kalau apa yang kau katakan itu tidak masuk akal.” “Intinya, Cordelia, jika kau tidak bisa melihat kalau dirimu juga berarti, kau tidak akan pernah sadar bahwa sudah ada yang menaruh hati padamu, tapi kau terlalu sibuk menghakimi dirimu sendiri.” *** “Halo.” Seorang gadis yang aku kenali saat hari pertama aku masuk sekolah mendadak menyapaku dengan wajah yang ramah dan senyum lebar. Aku berusaha terlihat sama ramahnya dan memaksakan senyum lebar yang mungkin terlihat sangat kikuk dan menyedihkan. Aku melambaikan satu tangan padanya saat dia mendekat padaku di loker. “Cordelia ‘kan?” Aku mengangguk. “Iya, itu aku. Kau . . . hm . . .” Aku berusaha mencari namanya yang terkubur di dalam memori aku yang memiliki sel otak sangat tidak berfungsi, namun aku tidak juga mengingat namanya. Gadis itu hanya tersenyum, tidak merasa tersinggung sama sekali. Aku membuang napas lega dan mengeluarkan tawa yang gugup. “Maaf, aku tidak mahir dalam mengingat wajah dan nama orang.” Dia mengangguk, menerima dengan baik hati. “Tak apa. Tak semua orang harus segera mengingat siapa yang mereka temu saat hari pertama masuk sekolah. Aku perkenalkan diriku lagi—“ dia mengulurkan tangannya. “Aku Xena.” Aku tersenyum. “Ah, Xena! Aku ingat. Kau yang menunjukkan di mana arah kantor sekolah, bukan?” “Iya!” katanya dengan antusias. “Itu aku.” “Halo, senang bertemu denganmu lagi.” “Tentu saja.” Xena tersenyum lagi. Senyumnya sangat menular. “Apa kau akan ke kafetaria?” “Iya . . .” Jawabku ragu. “Aku rasa begitu.” “Kalau begitu, kau ingin pergi dan makan bersama?” tawar Xena dengan semangat. Aku mengangguk tanpa menunggu lama. *** Di kafetaria, aku terdiam cukup lama di ambang pintunya. Xena sudah lebih dulu msuk dengan langkah ringan dan tanpa masalah sama sekali. Bagaimana tidak? Dia cantik dan tinggi dan sudah pasti pintar dan sangat keren. Intinya, Xena itu tipikal gadis idola di sekolah menengah atas. Tidak akan sulit bagi seorang Xena untuk mendapat kursi populer di kafetaria, atau setidaknya diberikan antrian paling depan saat mengambil makanan. Xena tidak akan merasa minder atau tidak percaya diri di antara ratusan murid yang selalu saling menghakimi. Aku tidak mengikutinya masuk, melainkan memperhatikan keadaan di sekitarku. Sudah terlihat jelas bahwa pemandangan yang aku lihat adalah tipikal keadaan kafetaria sekolah pada umumnya. Bukan, bukan ramai atau padat atau berisik atau semacamnya lah. Tapi terbagi menjadi beberapa grup pertemanan. Sejujurnya, aku benci hal itu. Mengapa makan pun harus di pisah segala? Apa kalian tidak bisa saja duduk di tempat yang tersedia, tanpa memilih meja dan kursi dan membuat kafetaria terbagi menjadi beberapa bagian begini? Di bagian paling tengah dan tempat paling startegis tentu saja dipenuhi oleh anak-anak atau murid populer. Yah, klise, aku tahu. Tapi memang begitu adanya. Mereka memenuhi beberapa meja di bagian tengah kafetaria. Mereka juga merupakan bagian kafetaria yang paling berisik. Terisi dari para atlet sekolah, mulai dari para pemain lacrosse, lalu ada juga para pemain football yang tubuhnya tinggi dan besar dan kekar semua, lalu para atlet basket, dan tentu saja jika ada para atlet yang sangat ribut, di sana ada para cheerleaders yang entah mengapa mengenakan seragam mereka di tengah hari begini padahal tidak ada kegiatan olahraga sama sekali. Selain mereka, ada beberapa gadis dan pria idola sekolahan yang gayanya sangat borjuis dan mewah. Mereka mengenakan pakaian yang mungkin seharusnya kena sangsi dari para guru karena bertolak belakang dengan peraturan sekolah, namun sudah jelas karena mereka anak orang kaya yang mungkin memegang beberapa saham di sekolah terkutuk ini, mereka lepas dari masalah sepele seperti itu. Di sebelahnya, tidak jauh dari para anak populer, adalah murid-murid teladan yang tidak kalah terkenal juga. Sejujurnya, mungkin jika bukan karena titel yang mereka pegang di sekolah, atau karena prestasi dan keberhasilan yang sering mereka dapatkan, mereka tidak akan dikenal banyak orang. Tapi bisa dibilang juga, mereka itu cukup bersosialisasi dan juga ingin ditemani banyak orang. Mereka juga tak kalah berisik, namun omongan mereka lebih berbobot ketimbang para anak populer yang sibuk meneriakkan nama tim mereka, berkelahi tentang opini siapa yang lebih penting, dan apa yang harus mereka lakukan di akhir pekan. Para anak pintar dan cerdas dan tidak kalah populer ini sibuk membicarakan tentang pelajaran tentu saja, lomba yang akan mereka ikuti, dan bergosip tentang guru atau kenalan yang mereka ketahui. Intinya, yang mereka pedulikan hanya urusan sekolah dan masa depan. Sisanya, yah, apa yang mereka akan bicarakan? Mungkin hanya seputar urusan dunia politik yang bahkan tidak aku ketahui. Yang aku tahu tentang politik hanya siapa presiden kita saat ini. Itu saja. Di bagian paling belakang pojok, terdapat anak-anak atau murid yang, yah, bagaimana aku menggambarkannya? Mereka kurang populer? Atau yah, kurang keren bisa dibilang. Mereka anak yang anti sosial. Terkadang mereka disebut anak buangan, tapi aku tidak suka dengan sebutan itu. Mereka duduk diam, sesekali berbicara dengan teman mereka sendiri untuk mengisi kekosongan. Mereka tak banyak bertingkah, hanya ingin makan siang dengan tenang dan melewati hari di sekolah tanpa masalah. Aku juga ingin seperti itu, tapi aku rasa aku tidak ingin menjadi bagian para murid anti sosial. Bisa-bisa aku kena target rundungan para anak populer dan sisa hidupku di sekolah menengah atas akan menjadi neraka. Sisanya, hanya orang-orang yang tak masuk dengan tiga kategori itu. Mereka orang-orang netral. Murid yang bisa masuk ke dalam golongan mana saja. Anak-anak yang tidak peduli dengan urusan keanggotaan sekolah atau semacamnya, tidak peduli juga dengan menjadi populer dan sebagainya, tapi juga bukan anak-anak anti sosial dan korban rundung. Mereka hanya murid biasa yang dengan selamat bisa melewati sekolah menengah atas tanpa masalah. Lalu setelah mereka, ada dua grup yang duduk dari ujung ke ujung yang lain. Grup Hunter dan grup Xander. Aku menaikkan alisku melihat kejanggalan itu. Mereka duduk di dua sisi yang berbeda, dengan kumpulan yang terlihat sangat tidak suka satu sama lain. Aku melihat sekumpulan Hunter yang lebih santai dan tidak tegang. Beberapa orang aku kenal, Orion, Owen, dan Archer. Tidak ada Talon atau Damon dan Wyatt. Di bagian Xander, mereka terlihat sedikit tegang. Bukan tegang, tapi mereka tidak seakrab sekumpulan grup Hunter. Aku tidak mengenal satu orang pun yang duduk di bagian kumpulan Xander dan aku rasa aku tidak ingin tahu juga mereka siapa. Orang-orang di sana tidak terlihat seramah dan sebaik saudara Hunter. Aku tahu, aku menghakimi dari luarnya saja, tapi ‘kan aku bisa melihat dari wajah mereka yang tidak terlihat ramah. Xena akhirnya melihatku yang masih berdiri dengan bodohnya di pintu kafetaria, dia memanggil namaku, dengan lantang pula. Otomatis, semua mata tertuju padaku, terutama Hunter yang langsung duduk tegak, dan Xander yang menoleh dan menatapku tajam. Xena berjalan ke arahku, menarik tanganku, dan mengajakku ke tempatnya. Tempatnya adalah grup Xander.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN