CHAPTER 12

2249 Kata
AKU TIDAK BISA MENGELAK saat mendadak Xena menarik tanganku, melaju dengan langkah yang pasti, tanpa memedulikan fakta bahwa banyak mata yang melirik kami dengan perasaan yang penuh penasaran dan menginginkan agar sesuatu yang menarik terjadi untuk dijadikan tontonan asyik saat sedang jam istirahat begini. Tidak, Xena berlagak seperti semua itu tidak terjadi dan dengan mudahnya membuatku berjalan ke arah meja grup Xander. Sungguh, saat aku bilang dia dengan mudah menarikku, dia memang benar-benar dengan mudah membuat tubuhku berjalan dan menggeret aku yang mungkin lebih besar dan lebih berat ketimbang tubuhnya yang mungil dan kurus dan sangat feminin itu ke tempat grup Xander. Aku bisa merasakan hawa tidak enak muncul dari arah lain kami. Mungkin dari para meja populer, mungkin mereka tidak suka fakta bahwa si murid baru yang menyedihkan dan tidak pantas masuk ke dalam grup Xander yang isinya bagaikan model-model semua ini bisa dengan mudah digeret ke arah sana, bersama dengan Xena yang tidak kalah modelnya pula. Atau mungkin itu bagian dari arah grup Hunter. Aku tidak akan terkejut jika mereka tidak suka melihat adegan aneh ini. Toh bukan rahasia lagi jika Hunter dan Xander itu tidak akur. Entah apa yang membuat mereka menjadi rival yang selalu berkelahi dengan sengit. Entah aku ingin tahu juga atau tidak. Tapi yang jelas, mengingat hari-hari pertama Hunter bahkan tidak suka melihat aku yang berbicara dengan Xander, sudah jelas tidak akan menerima dengan gampang jika aku duduk bersama dengan lingkaran pertemanan mereka. Dengan satu lirikan yang penuh berani, aku menoleh ke ujung ruangan berbeda dari tempat aku berdiri sekarang. Di sana, Hunter bukan lagi duduk dengan tegak, melainkan sudah berdiri dengan gigi yang gemeretak dan rahang yang menngatup kencang. Tubuhnya menegang. Aku bisa melihat urat ototnya yang tak lagi tenang, melainkan penuh dengan rasa kesal. Aku menelan ludah melihat hal itu. Saat aku akan berkata pada Xena, justru Xander yang mematahkan pandanganku pada Hunter lebih dulu. “Halo, Cordelia.” “Hai,” ujarku dengan pasrah. “Xander, apa kabar?” Dia tertawa kecil, matanya membentuk bulan sabit. Rambutnya tersibak rapih, memperlihatkan keningnya yang lebar dan mengkilat. “Kita baru bertemu akhir pekan kemarin, Cordelia.” Aku meringis mengingat kejadian itu. Akhir pekan kemarin bukanlah memori yang paling menyenangkan bagiku. Aku rasa begitu juga bagi Xander yang harus menerima perilaku tidak sopan dari Ibu. Terlebih, mendadak saat kami pulang dari minum kopi dan sarapan di kedai yang dia perkenalkan padaku, Hunter sudah ada di teras rumahku, bersandar di salah satu pilar dengan santai dan gaya yang sengak. Sehabis itu, dia membawaku ke rumahnya dengan seenak hati, dan yah, aku diserang oleh serigala besar yang tidak normal dan tidak masuk akal. Ya, aku masih akan terus mengatakan hal itu sampai fakta tersebut terdengar normal dan masuk akal di pikiranku. “Ah, benar juga. Terima kasih untuk kopinya.” Kataku dengan senyum tulus yang tidak aku buat-buat. Aku melihat beberapa dari anggota grup Xander menoleh dengan mata terbuka lebih besar dari biasanya, menandakan mereka cukup terkejut dengan apa yang baru saja aku katakan. Begitu juga Xena saat dia melirik aku dan Xander bergantian, mulutnya terbuka sedikit. Matanya juga sama terbelalak, namun tidak seperti anggota yang lain, dia malah memekik pelan, menandakan rasa kagetnya. “Kalian berdua kencan kopi dan aku tidak tahu?” tanya Xena dengan nada bicara bercanda. Dia memegang dadanya seperti orang tersinggung berat, tapi kau tahu dia tidak benar-benar tersinggung dan sedang bermain denganku dan Xander. Aku memutar kedua bola mataku dengan sengaja, membuat Xena terkekeh geli sementara Xander hanya tersenyum dan tersipu malu. Entah bagaimana seorang Xander Deathbone bisa tersipu malu, tapi nyatanya, di sini, sekarang ini, di depanku dan di depan lingkaran pertemanannya, dia sedang tersipu karena digoda oleh Xena yang jauh lebih kecil dari tubuhnya. Aku ingin mencubit pipinya karena gemas tapi aku tidak akan melakukan itu jika aku masih ingin hidup dan menyelesaikan sekola menengah atas. Bisa-bisa para anggota grupnya yang lain yang tersinggung, dan membuatku menyesal karena sudah bersikap sok dan tidak sopan pada salah satu di antara mereka. “Itu bukan kencan,” gumam Xander pelan. Pelan sekali hingga aku hampir tidak bisa mendengarnya. “Kita hanya minum kopi dan sarapan di kedai seperti teman. Dan aku berniat untuk membawanya keliling kota, itu saja.” “Apa?” Xena sekali lagi menggodanya, berpura-pura tidak mendengar apa yang baru saja dia katakan tadi. “Aku tidak bisa mendengarmu.” “Jangan ngaco, Xena. Aku ada di depanmu.” “Apa seorang Xander sedang bergumam dan tidak memiliki kepercayaan diri?” balas Xena tak mau kalah. Xander membuang napas panjang, antara kesal dan malu, atau semacamnya. Dia menggeleng dengan tak percaya, menyipitkan matanya pada Xena yang tersenyum puas, lalu mengulang perkataannya, kali ini dengan lebih jelas dan lantang. “Aku tidak berkencan dengan Cordelia. Itu hanya minum kopi dan sarapan di kedai seperti teman biasa, OK? Aku hanya ingin mengajaknya keliling New Cresthill.” “Oh,” Xena memajukan bibirnya. “Jadi jika itu kencan pun, kau tidak keberatan?” Kali ini anggota yang lain tidak hanya membelalakan matanya atau membuka mulut atau terkejut di tempat masing-masing. Kali ini mereka menoleh dengan penasaran, ingin melihat reaksi salah satu teman mereka. Apakah Xande akan mengelak atau malah ikut dalam permainan aneh yang sedang dilakukan oleh Xena? Sementara aku? Aku berharap aku ditelan bumi sekarang juga. Saat ini juga. Detik ini juga. Siapa pun! Kubur aku sekarang juga! Telan aku bumi! Bawa aku ke tempat lain sekarang juga. Di mana saja selain di sini. Aku tidak ingin tahu apa reaksi dari Xander. Walaupun sudah jelas jawabannya akan tidak—mana mungkin dia mau berkencan dengan gadis tidak berbobot seperti aku?—tapi tetap saja, aku akan mati, karena malu secara tidak langsung ditolak oleh lelaki sekeren Xander di depan temannya dan di tengah kafetaria begini. “Xena, apa yang kau bicarakan?” aku berbisik dengan kesal pada gadis yang baru saja menjadi temanku belum lebih dari satu jam itu. Rasanya aku ingin memutus pertemanan dengannya saat ini juga. “Apa?” Xena berlagak bodoh lagi. “Aku hanya bercanda;. Lagi pula, Xander terlihat tidak keberatan.” Tidak, tapi wajahnya sekarang sudah terlihat jelas memerah dan tidak nyaman. Ya ampun, apa fakta bahwa dia berkencan denganku sebegitu mengerikannya sehingga dia menjadi tidak nyaman dan terlihat sangat ingin pergi dari sini? Temannya yang lain masih tidak bicara, namun aku bisa melihat mereka juga sama, menunggu reaksi dari Xander. Aku menelan ludah, melihat salah satu dari mereka melirik aku dengan mata yang merendahkan. Perempuan itu meneriakkan raut wajah superior yang sudah jelas menandakan, dia ingin aku pergi dari hadapannya. Yah, aku juga ingin pergi, tapi bagaimana caranya jika Xena memegang pergelangan tanganku dengan erat begini? Sungguh, apa sih yang dia makan? Aku juga ingin menjadi kuat begini, dengan tubuh yang tidak besar. “Hm . . . aku . . .” Xander menggaruk kepalanya dengan salah tingkah. Merah wajahnya semakin dalam, dan aku hampir saja merasa iba padanya jika mengingat seharusnya aku yang menerima empati dari orang-orang di sini. Aku yang paling malu. Aku bukan siapa-siapa. Orang baru yang sama saja dengan orang asing. “Kau tidak perlu menjawab itu,” ucapku cepat. “Jangan hiraukan Xena.” “Tidak, bukan begitu.” Xander menyela ucapanku. “Hanya saja . . .” “Apa Xander?” Xena menyeringai lelaki yang sedang salah tingkah itu. Aku menunggu apa yang akan dia katakan dengan perasaan campur aduk. Aku ingin tahu, tapi kau juga tidak ingin tahu. Bisa-bisa aku malu dan mati berdiri di sini. “Well . . . aku tidak keberatan jika bisa berkencan dengan Cordelia . . .” Mataku rasanya terbuka lebar, tidak pernah selebar ini. Aku tidak sempat melihat reaksi yang lain, anggota grupnya atau pun reaksi Xena. Aku tidak ingin melihat bagaimana mereka menerima informasi ini. Lagi pula aku lebih sibuk mengurus reaksi sendiri. Aku memberitahu diriku untuk tetap tenang dan tidak berlaku seperti orang bodoh, namun aku tidak bisa menahan diriku yang semakin lama semakin merasa tidak enah dan malu dan ingin terbang secara bersamaan. Kakiku terasa ringan dan lututku lemas. Seorang Xander Deathbone yang sangat tampan dan keren dan populer dan memiliki lingkaran pertemanan yang mendapat meja sendiri di kafetari baru saja mengatakan kalau dia tidak keberatan jika bisa berkencang denganku. Bukan janji minum kopi, bukan juga janji sarapan, atau pun janji mengajak aku berkeliling di New Cresthill. Melainkan mengatakan kalau dia ingin berkencan denganku. Aku. Cordelia Smith yang baru pindah beberapa minggu yang lalu dari Doveport. Yang seharusnya tidak menerima atensi sebanyak ini, bahkan jika datang dari para anggota anti sosial di ujung sana sekalipun. Aku tidak menyangka reaksi itu, jadi aku hanya diam. Aku bisa merasakan rasa panas yang menjalar dari leher, hingga telinga, dan memutar di seluruh wajahku. Tidak perlu seseorang yang jenius untuk tahu jika wajahku sudah pasti memerah dan terlihat seperti tomat busuk saat ini. Lebih parahnya lagi, sekarang giliran Xena yang salah tingkah, tidak seperti dirinya lah yang baru saja membuat topik ini muncul dan membuat Xander terpaksa mengakui hal itu—hal yang by the way mungkin hanya bercanda. Dia tidak berkata apa-apa, tapi aku bisa merasakan pegangan tangannya mengeras di pergelangan tanganku, dan tubuhnya mendadak menegang di sebelahku. Aku ingin memutar kedua bola mataku padanya, dan berteriak kalau dia yang sudah memancing pembicaraan absurd ini dan memulainya. Aku ingin membuat dia sadar dan mencairkan suasana agar kembali seperti semula. Tapi saking malunya, dan saking kikuknya, aku hanya bisa diam. Diam dan diam dan diam saja. Sementara perempuan yang tadi terlihat tidak suka padaku, sekarang terlihat sangat ingin membunuhku di tempat. Matanya tajam, eyeliner hitam yang tebal membuatnya terlihat seperti bos mafia tanpa ampun. Bibir merahnya yang juga tak kalah tebal seperti ingin menggigitku dan menghabiskan setiap darah yang mengalir di tubuh kecilku ini. Aku meringis di dalam hati, rasanya ingin menangis dan menjerit padanya. Terlihat jelas jika perempuan itu sudah menandakan teritori pada Xander. Jadi, dia tidak suka jika ada anjing kecil yang menyedihkan masuk ke dalam batasan normalnya. “OK . . . sekarang adalah waktu yang tepat untuk siapa saja mengutarakan sebuah candaan atau apa pun.” Kata Xander dengan kikuk. Wajahnya masih memerah, mungkin kami terlihat seperti pasangan kembang yang menyedihkan. Aku tidak menghiraukannya, melainkan melihat setiap anggotanya. Tidak ada yang berbicara, tidak ada juga yang melakukan sesuatu. Apa deklarasi jika dia ingin berkencan denganku segitu tidak masuk akalnya? “Aku hanya ingin mengatakan kalau aku benar-benar tidak menyangka kau akan seberani itu mengatakan hal tersebut di depan kami, di depan Cordelia sendiri, dan di tengah kafetaria yang dipenuhi banyak orang,” Xena menekankan kata terakhirnya. “Aku hanya bercanda.” Xander mendongak dan menatap Xena penuh sangsi. “Kau yang memulai, kau yang memaksa, kau yang mengungkap hal ini. Kau yang membawa-bawa masalah ini, dan sekarang kau ingin menyalahkan aku seperti itu?” Aku mengerutkan keningku. Apa mereka masih mempermasalahkan topik yang sama? Kenapa mendadak aku merasa kalau topik mereka sedikit berbeda dari yang aku mengerti? “Hei,” Xena mengangkat kedua tangannya di udara, kali ini melepaskan pegangannya pada pergelagan tanganku. Aku mengelus tanganku, sedikit meringis karena merasa tekanan yang cukup kuat dari tangan Xena yang entah mengapa sangat kuat itu. “Seperti yang aku bilang, aku tidak menyangka kau akan dengan bodohnya benar-benar mengatakan hal itu. Aku pikir kau akan mundur, atau berbasa-basi atau semacamnya.” Xander menggeleng dengan kesal. “Sudahlah, lagi pula aku tidak peduli.” Aku membuang napas, menemukan kembali kekuatan untuk berbicara walaupu suaraku terdengar serak dan lemah. “By the way, aku masih di sini. Kalian membicarakan aku seperti aku tidak berada di antara kalian.” “Ya, sedang apa kau berada di antara kami?” sahut perempuan yang jelas memiliki masalah denganku itu. Aku hanya menatapnya dengan kesal, tidak tertarik dengan perkelahian ala murid sekolah menengah atas yang menyedihkan. Aku menoleh pada Xander, tapi aku terkejut melihatnya yang sedang melototi perempuan itu dengan jengkel dan tidak suka. “Heather, jaga bicaramu. Cordelia bisa berada di sini jika dia mau. Kapan saja dia mau. Dia selalu diterima di sini. Dan kau lebi baik mengurus perilakumu itu agar tidak selalu galak dan tidak sopan pada orang.” Aku hampir saja terkekeh geli mendengar Xander yang membelaku di depan perempuan yang ternyata bernama Heather itu. Nama yang tidak cocok dengan perilakunya. Jika mengingat lagu Heather dari Conan Gray, sudah jelas dia tidak pantas menyandang nama sempurna itu. Heather itu wanita sempurna yang baik hati dan pintar dan sempurna. Intinya sempurna. Dia adalah idola banyak orang dan pantas dijadikan panutan. Sedangkan Heather yang ini? Ya ampun, semoga tidak ada yang menjadikannya seorang panutan. Aku akan mengatakan sesuatu ketika aku merasakan rasa tidak enak menjalar di tubuhku. Rasanya seluruh bulu kuduk di tubuhku naik dan berdiri dengan tegak. Aku merasakan punggungku terbakar, seperti dilihat dengan tajam oleh seseoang dari belakang. Tidak perlu seorang jenius untuk tahu ada seseorang yang sedang menghampiri kami yang sedang berkumpul di bagian meja grup Xander. Aku berharap seseorang itu bukan siapa yang aku pikirkan. Namun, melihat dari reaksi teman-temannya, Heater, Xena, dan tentu saja Xander sendiri, aku rasa yang datang memang benar orang yang sedang aku pikirkan. “Cordelia, apa yang kau lakukan di sini?” Aku menoleh pada Hunter lalu menelan ludah. Dia terlihat sedang tidak main-main. “Hm . . . makan siang?” “Tidak di sini. Ikut denganku.” Dia akan menarik tanganku, namun aku merasakan seseorang juga memegang pergelangan tanganku yang satunya lagi. Aku mengumpat di dalam hati. Xander balas berbicara dengan nada rendah dan berat. “Cordelia tidak akan pergi ke mana-mana. Tempatnya di sini.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN