HUNTER HAWKWOLF akan terlihat menggemaskan jika bukan karena situasi yang sedang tegang dan tak karuan begini. Wajahnya memerah, pipinya menggembung saking kessalnya. Bibirnya yang tebal itu memberengut, tapi juga terlihat sangat seksi. Aku melihat matanya. Mata cokelat keemasan itu satu-satunya hal yang tidak terlihat menggemaskan. Aku bisa melihat pancaran membunuh yang terlihat jelas dari matanya. Jika tatapan bisa menghabisi seseorang, maka siapapun yang sedang ditatap oleh Hunter pasti sudah akan mati.
Dan orang itu adalah Xander. Bedanya, Xander bukan manusia biasa. Dia bukan orang normal. Karena, bukannya mundur atau menyerah atau merasa tidak enak di bawah tatapan mematikan seorang Hunter Hawkwolf, lelaki itu malah semakin marah. Dia semakin berani dan tidak mundur seribu langkah. Pegangannya pada pergelangan tanganku menguat.
Aku sudah lama menyerah pada kenyataan ini. Kenyataan yang mempertanyakan ada apa sebenarnya yang terjadi di antara Hunter Hawkwolf dan Xander Deathbone. Apa mereka tidak pernah akur sebelumnya? Apa mereka memang sudah seperti ini dari awal? Jika iya, apa yang menyebabkan hal itu terjadi? Apa yang membuat Hunter begitu membenci Xander, dan Xander yang sangat tidak suka dengan eksistensi Hunter?
Jika aku terus mempertanyakan hal itu, aku yakin aku akan tua sebelum waktunya. Atau lebih parah lagi, mati sebelum waktunya. Rasa penasaran dan rasa bingung yang menyatu membuatku hampir tidak kuat jika harus memikirkan hal tersebut. Ditambah lagi ibu! Aku menyerah.
Berhubung tidak ada yang bisa aku tanyakan, dan tidak ada yang memiliki informasi jelas, aku harus terima untuk tetap berada di kegelapan. Mungkin benar kata orang banyak. Ignorance is a bliss.
“Cordelia tidak akan pergi ke mana-mana. Tempatnya di sini.”
Satu deklarasi dari Xander itu sudah cukup untuk membuat semacam keonaran di dalam kafetaria ini. Mendadak, aku merasa seperti sedang berada di dalam perang bersaudara di tengah-tengah kafetaria sekolah. Di jam makan siang pula! Civil war ini sudah jelas tidak akan berakhir dengan manis.
Sekumpulan teman Xander berdiri. Tubuh besar mereka seperti menara bagiku. Banyak dari mereka bahkan maju satu langkah. Satu orang lelaki yang terlihat dekat dengan Xander berdiri dan menghampiri Xander hingga berhenti di belakangnya. Seperti seorang back up. Seperti mengatakan, aku siap melakukan apa saja untuk Xander.
Di ujung sana, sekumpulan teman Hunter tidak mau kalah. Mereka sudah sibuk meninggalkan makanan masing-masing. Orion, Owen, dan Archer sudah lebih dulu berdiri dan berjalan ke arah kami. Wajah mereka penuh determinasi. Sama seperti satu lelaki yang tadi berdiri tepat di belakang Xander, tiga orang tersebut juga memberikan aura kalau mereka siap melakukan apa saja demi Hunter.
Seandainya mereka harus melemparkan diri mereka untuk menghalangi peluru dari Hunter, mungkin mereka akan melakukan hal itu.
“Lucu,” Hunter mendesis. “Terakhir kali aku cek, Cordelia bisa memilih sendiri di mana tempat dia berada.”
“Kenapa aku harus memilih? Di mana saja tidak masalah bagiku.” Aku berkata dengan lirih, kepalaku menunduk. Aku tidak ingin melihat reaksi orang. Mereka pasti sudah mejadikan aku dan Hunter dan Xander sebuah tontonan gratis. Lumayan ‘kan, di tengah hari yang panas begini, di saat semuanya sedang jenuh dengan pelajaran, dan di jam bebas pula, ada dua kelompok yang saling berkelahi.
Kalau aku yang menjadi penontonya ‘sih, aku juga ingin ikut melihat apa yang sedang terjadi. Masalahnya, aku yang sedang berada di posisi selain itu. Aku yang sekarang menjadi tontonan para murid yang menakutkan. Dan jika dilihat dari gerak-gerik Hunter dan Xander, begitu juga sekumpulan grup masing-masing, mereka tidak keberatan dijadikan bahan tontonan banyak orang.
“Maksudmu?” Hunter mengalikan perhatiannya padaku. Tatapan membunhnya sedikit luluh.
“Maksud aku, yah, di mana saja aku tidak masalah.”
Aku mencoba melepas pegangan mereka, tapi tentu saja usaha itu tidak membuahkan hasil. Malah, aku merasa tanganku semakin nyeri. Aku bahkan tidak bisa menepis pegangan Xena. Mana bisa aku menepis dua orang yang besar dan kekar begini? Aku harus memotong pergelangan tanganku dulu agar bisa lepas dari mereka.
Dan aku rasa, dalam detik ini, aku akan melakukan apa saja agar bisa pergi dan menghindari masalah ini.
“OK, kalau begitu kau ikut aku.” Hunter menarik pergelangan tanganku tanpa aba-aba. Tapi tentu saja, tarikannya tidak terjadi, karena di satu sisi yang lain, Xander masih bersikeras untuk menahanku.
Pada titik ini, Owen, Orion, dan Archer sudah berdiri di belakang Hunter. Mereka memberikanku senyum tipis yang diharapkan terlihat ramah. Tapi dari sini, aku hanya melihat senyum itu terlihat begitu miris. Mereka terlihat kikuk, antar ingin menyapa aku yang sedang dalam posisi aneh—menjadi tarik tambang di antara dua lelaki yaitu Hunter dan Xander—atau memasang wajah ganas dan mematikan sama seperti kelompok grup Xander.
Lelaki yang tadi berdiri tepat di belakang Xander memajukan wajahnya. Bibirnya berhenti tepat di kelopak telinga lelaki yang sedang menahanku agar tidak ditarik oleh Hunter itu. Mungkin dia bermaksud agar tidak ada yang mendengar suaranya, namun aku bisa menangkap samar-samar suara yang sama berat, tapi tidak serak seperti Hunter.
“Xander . . . “
Satu kata itu bukan main-main. Itu terdengar seperti peringatan. Seperti seruan seorang teman kepada temannya yang lain temannya itu tidak melakukan sesuatu yang bodoh atau mengambil langkah yang salah. Jika Xander tidak suka dengan gestur tersebut, dia tidak memperlihatkannya. Xander tetap berdiri tegak, tak menghiraukan apa yang dikatakan lelaki tadi.
Kali ini suaranya lebih besar dari yang sebelumnya, “Xander.”
“Liam.”
Hanya dengan satu patah kata itu, lelaki tadi diam. Laki-laki yang baru aku ketahui bernama Liam tersebut terbungkam seribu bahasa. Seperti anak anjing yang patuh dengan majikannya, dia menunduk dan menelan ludah. Aku menaikkan alisku, merasa hal yang sangat familiar baru saja terjadi.
“Tapi Xander—“
“Aku bisa mengatasi ini. Tenang saja.” Xander memotong ucapan Liam.
Aku tersadar. Aku tahu kenapa adegan ini terlihat sangat familiar. Beberapa hari yang lalu, saat aku terbaring lemah di bangsal rumah sakit milik Hunter di rumahnya yang besar seperti istana itu, aku melihat kejadian yang sama. Dean yang lemah dan terkapar dan dipenuhi luka bertingkah sama persis seperti Liam kepada Xander. Dean yang waktu itu babak belur dan berniat mengatakan sesuatu padaku, harus diam dan tunduk hanya karena beberapa patah kata saja dari Hunter.
Apa Hunter dan Xander itu seperti seorang pemimpin atau semacamnya? Mengapa banyak sekali orang yang tunduk dan menurut pada mereka? Seperti tuan muda saja. Memangnya mereka pikir mereka siapa?
Aku fokus dengan rasa jengkel itu. Berkat rasa kesal yang mendadak memenuhi hatiku, dan entah kekuatan yang datang dari mana, aku menepis dua tangan mereka. Aku melihat Hunter dan Xander terkesiap melihat aku yang berhasil melepas tangan besar mereka. Begitu juga aku. Dan Xena. Dan Orion, Owen, Archer. Dan Liam.; Dan semua yang melihat apa yang baru saja terjadi.
Aku merasakan jemariku bergetar. Kekuatan yang tak aku mengerti membuatku kewalahan. Rasanya aku ingin berlari, melompat, atau berteriak sejadi mungkin. Sambil menutup mata, aku mencoba memusatkan atensiku pada satu perasaan. Tenang.
“Cordelia, apa kau baik-baik saja?” suara Hunter terdengar sangat cemas. Dia memegang bahuku dengan pelan, tapi aku langsung mundur beberapa langkah ke belakang, seperti pegangan tangan Hunter sudah membakar tubuhku.
Aku tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya. Sepertinya seluruh tubuhku terbakar dengan sesuatu yang sangat panas dan mematikan. Napasku tercekat, tak ada yang keluar dari hidung mau pun mulutku. Apa ini yang namanya serangan panik? Tapi aku tidak pernah terkena serangan panik sebelumnya. Dan aku rasa, hal ini bukan akan membuatku terkena serangan panik melainkan rasa jengkel yang membuatku naik pitam.
Apa ini amarah? Tapi kenapa aku bisa semarah ini? Xander dan Hunter memang sedang melakukan hal sesuai dengan tindakan mereka sendiri, tanpa memikirkan aku, tanpa memikirkan grup mereka sendiri, tanpa memikirkan murid yang mulai berkumpul di sekitar kami. Mereka berdua tidak peduli dengan ponsel yang mengarah ke wajah mereka, merekam apa yang sedang terjadi, dan mungkin mengunduh video tersebut ke internet. Dan tanpa bisa kami tahan, kami sudah menjadi bahan tontonan orang banyak. Bukan hanya di sekolah, tapi juga seluruh dunia.
Aku kan tidak mau dilihat menjadi tali dari tarik tambang antara Hunter dan Xander?
Aku mundur dan mundur dan mundur. Mataku aku pejamkan dengan kuat. Kepalaku tertunduk, menahan rasa sakit yang membuat gendang telingaku berdengung. Mataku terasa panas, telingaku terasa panas, bibirku terasa sakit. Dan leherku seperti sedang tercekat entah karena apa.
Tubuhku bergetar bukan main. Aku tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Tapi rasanya aku sangat marah. Aku tidak suka. Aku tidak ingin berada di sini. Semuanya terdengar begitu lantang. Begitu kencang. Begitu kuat. Bukan hanya hawa tubuhku yang aku rasakan, tapi juga hawa tubuh orang banyak yang mengelilingi kami. Aku bisa merasakan hawa tubuh Hunter, aku bisa merasakan hawa tubuh Xander, dan Xena, Orion, Owen, Archer, Liam, dan semuanya.
Apa yang sedang terjadi? Ada apa denganku?
“Cordelia!” Hunter berseru. Dia mengambil langkah maju lagi, tapi aku terus mundur, menjauhi tubuhnya yang tinggi, jauh di atas tubuhnya yang mungil. “Cordelia, bicara padaku. Apa yang sedang terjadi? Apa kau baik-baik saja?”
Aku tidak menjawabnya. Aku terus fokus pada setiap hal di keliling aku. Rasanya seperti semua hal menjadi dua kali lipat lebih dari biasanya. Aku bisa mendengar bunyi sapu, aku bisa mendengar bunyi sendok bertemu piring, aku bisa mendengar bisikan orang, aku bisa mencium bau makanan di dapur belakang, aku bahkan bisa merasakan hilir angin yang berhembus dari jendela kafetaria sekolah.
“Aku tidak tahu. Aku tidak tahu. Aku tidak tahu.”
Aku hanya bergumam. Mengatakan aku tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Aku ingin lari. Ingin pergi. Ingin menjauh dari semua orang dan pergi meninggalkan tempat ini. Aku ingin marah. Marah karena Xena sudah mengajak aku ke sini. Marah karena semua murid di kafetaria mengerubungi kami. Marah karena Xander harus mengatakan hal itu. Marah karena Hunter terus mencari masalah. Marah karena Hunter dan Xander selalu saja membuat keributan.
Dan aku selalu berada di tengah perkelahian itu.
“Cordelia, tenanglah. Tenang . . . tenang . . . tenang . . . Easy.”
Aku tidak menggubris perkataan Hunter. Yang bisa aku dengar hanya bisikan demi bisikan orang yang ada di sekitarku. Mereka mengatakan aku aneh, mereka mengatakan Hunter sudah berlebihan, mereka mengatakan Xander sangat berani untuk menantang Hunter, mereka mengatakan kenapa Xena mau mengajak aku ke meja kafetarianya, mereka mengatakan bagaimana aku bisa berakhir bersama kumpulan ini.
Aku juga ingin bertanya tentang semua itu. Aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Aku ingin tahu kenapa Hunter begitu menakutkan bagi orang banyak. Kenapa Dean tunduk dan sangat menurut padanya. Kenapa semua orang menganggap dan memperlakukannya seperti seorang pemimpin dan raja. Aku ingin tahu itu semua. Kenapa dia dan Xander selalu berkelahi, kenapa mereka tidak pernah bisa akur, dan kenapa mereka selalu memperebutkan aku. Tapi aku tidak mengatakan itu semua. Tidak.
Aku terlalu sibuk mencoba untuk mengabaikan semuanya. Rasa, pendengaran, penciuman. Seluruh indera tubuhku berjalan seperti dua, tiga, empat kali lipat dari biasanya. Seperti mendadak aku menjadi anjing pelacak. Seperti mendadak aku mendapat sebuah kekuatan super yang sangat keren, dan sekarang aku bisa mendengar dari jarak jauh, mencium dari jarak jauh, dan melihat dari jarak jauh.
Sebelum aku bisa mengatakan apa-apa, Hunter sudah lebih dulu maju dan mendekap aku ke dalam pelukannya. Tubuhku tersentak ke dalam dua tangannya yang besar dan kekar dan sangat nyaman. Kepalaku terkubur di dadanya. Aku tidak bisa lagi mencium bau yang entah datang dari mana. Aku tidak bisa lagi melihat apa yang ada di depanku. Dan yang lebih baik lagi, aku tidak lagi mendengar semua bisikan, omongan, dan deru napas juga hilir angin di sekitar kami.
Rasanya, dengan satu dekapan dari Hunter yang sangat mendadak itu, segala hal yang baru saja terjadi ini tidak ada artinya. Rasanya aku tidak baru saja merasa marah. Semua hal yang negatif yang ada di dalam diriku seperti terkuras habis. Menghilang begitu saja bersamaan dengan pelukan hangat dari Hunter.
Aku bisa mendengar detak jantungnya. Deg . . . deg . . . deg . . .
Suara dan rintim yang beraturan itu membuatku secara otomatis kembali bernapas lega. Setiap detaknya membuatku tenang. Membuat aku kembali tersadar dari apa pun itu yang baru saja terjadi padaku. Bunyi detak jantungnya membuat aku rileks kembali, seperti semua masalah yang ada di dunia, atau hanya masalahku saja hilang ditelan bumi.
Sebelum aku bisa menahan diriku sendiri, aku sudah lebih dulu memeluk Hunter balik. Sekuat tenaga. Sekuat yang aku bisa. Aku mengubur kepalaku jauh lebih dalam di dadanya, dan dari gerak gerik Hunter, aku bisa merasakan bahwa lelaki itu tidak keberatan. Dieratkannya pegangan tangannya yang penuh otot itu di leherku.
Aku bergumam dengan lirih, “Tolong berhenti seperti ini. Sebentar saja.”
Hunter mengangguk, dagunya berhenti di ujung kepalaku. Saat ini, detik ini, aku tidak peduli apa yang akan orang katakan. Aku tidak peduli dengan kamera ponsel mereka. Aku tidak peduli dengan bisikan, atau lirikan murid di sekeliling kami. Saat ini, detik ini, yang aku pikirkan hanyalah Hunter.
“Aku tidak akan ke mana-mana.”