CHAPTER 14

2220 Kata
HARI ITU AKU pulang lebih awal. Jika ini hari yang lain, aku mungkin akan merasa sangat senang. Seperti terbang di angkasa. Seperti melayang ke langit yang ke tujuh. Bayangkan, di tengah hari, saat udara sedang panasnya, saat tubuh mulai lemas dan lemah dan malas, aku bisa pulang dari sekolah. Saat jam makan siang yang berantakan tadi, aku tidak merasa akan sanggup jika harus lebih lama lagi berada di sekolah. Jangankan mengikuti pelajaran yang masih dua kelas lagi, untuk berdiri saja aku sudah tidak kuat. Ketika membayangkan guru yang mengesalkan, pelajaran yang sulit, teman yang pasti akan menghakimiku di pikiran mereka karena kejadian di kafetaria itu, aku ingin muntah. Hunter dengan sigap datang menjadi penyelamat bagi aku yang sudah mulai kewalahan. Entah karena apa. Hingga hari ini pun aku masih bingung apa yang sudah mendadak terjadi padaku dan tubuhku. Aku masih bisa membayangkan rasa yang membuatku panik dan cemas itu. Penciumanku menjadi dua kali atau tiga kali lebih tinggi dari biasanya. Bahkan mungkin empat kali lebih tinggi. Aku bisa mencium wangi makanan di dapur belakang, bau tubuh para murid di sebelahku. Semuanya. Aku juga bisa merasakan hilir angin yang menderu dari jendela kafetaria. Aku bisa merasakan hangat tubuh setiap orang. Aku bisa merasakan aura tak enak yang dipancarkan oleh beberapa orang di dalam kafetaria. Dan yang lebih parahanya lagi—juga hampir membuat aku gila—adalah ketika pendengaran aku juga naik dua atau tiga atau empat, bahkan mungkin lebih dari biasanya. Aku bisa mendengar bisikan demi bisikan yang dilakukan orang-orang sekitar. Aku bisa mendengar bunyi sendok yang beradu dengan piring. Aku bisa mendengar bunyi murid mengunyah makanan. Aku bisa mendengar deru napas mereka yang tidak beraturan. Aku bahkan bisa mendengar laju mobil dari luar sekolah. Saat itu lah aku mulai kehilangan kendali, dan Hunter datang menjadi pangeran kesiangan untuk aku yang menyedihkan. Dia memeluk aku dengan erat. Dan—lagi—tanpa alasan yang jelas karena apa, begitu tubuhnya mendekap aku dengan begitu kuat dan penuh rasa protektif, semuanya kembali seperti semula. Tidak ada lagi wangi makanan dari dapur belakang. Tidak ada bau tubuh para murid yang sedang mengelilingi kami saat itu. Tidak ada rasa angin yang bergulir. Tidak ada suara bisikan atau kunyahan. Tidak ada suara deru napas setiap orang di sekitarku. Dan yang lebih baik lagi, aku mulai merasa tenang. Ketika aku merasakan panca inderaku naik berkali lipat lebih dari biasanya, aku juga merasakan rasa amarah yang memuncak. Aku ingin teriak dan menangis. Aku ingin memaki siapa saja. Aku ingin memukul wajah seseorang. Aku ingin membuat keributan. Tenggorokanku tercekat, begitu juga napasku. Rasanya seluruh tubuhku dari ujung kepala hingga ke ujung kaki memanas. Rasanya seperti dibakar oleh kemurkaan yang entah datang dari mana. Setelah itu, Hunter membawaku keluar. Tidak ada yang menahan kami. Tidak juga Xander yang tadinya bersikeras agar aku bersama dengannya. Sial. Mungkin dia berpikir aku ini aneh dan menyedihkan. Bagaimana tidak? Mendadak aku seperti orang terkena serangan panik, atau kesurupan di tengah kerumunan orang banyak. Di kafetaria saat jam makan siang pula. Jika dia tidak ingin berteman dengan aku lagi, aku tidak akan heran. Aku juga tidak akan menyalahkannya. Satu-satunya orang yang sudi dan akhirnya tahan berteman denganku hanya Axel. “Apa kau sudah merasa lebih baik?” Ibu mengintip dari balik pintu kamarku. Dia terlihat sedikit cemas, namun rasa khawatir dan terkejutnya sudah hilang beberapa hari yang lalu. Ya, kejadian di kafetaria yang sangat memalukan itu sudah lewat beberapa hari yang lalu. Dan dengan payahnya, semenjak kejadian itu aku malah sakit. Demam panas yang cukup tinggi membuat aku harus berada di rumah lebih lama dan harus tidak masuk ke sekolah. Lagi, jika ini adalah hari-hari biasa, aku mungkin akan merasa sangat senang dan bahagia karena bisa melewatkan sekolah. Masalahnya, ini terlalu absurd bahkan untuk seukuran Axel yang otaknya sudah tidak mengenal kata normal lagi. Aku mengangguk dengan lemah. “Aku rasa begitu.” Ibu kali ini masuk ke kamar. Dia memberikan aku senyum tipis keibuan. Aku langsung merasa lebih baik. “Apa kau ingin sesuatu? Butuh sesuatu? Apa yang ingin kau makan?” “Hm . . . tidak. Bagaimana jika kita memesan pizza saja dan melewatkan masak makan malam hari ini?” Ibu tertawa kecil. “Itu ide yang bagus.” “Apa kau baik-baik saja, mom?” “Kenapa aku harus tidak baik-baik saja? Aku yang harusnya menanyakan hal itu.” Aku mengangkat bahu. “Well, kau terlihat lelah. Maaf, kau harus mengurus aku yang sakit.” “Tidak apa. Aku senang bisa lebih banyak menghabiskan waktu denganmu. Lagi pula, aku sangat terkejut saat . . . saat Hunter datang dan membawamu pulang.” Jika saat itu aku tidak sedang kehilangan akal karena bingung dengan apa yang baru saja terjadi, aku mungkin akan merasa khawatir dengan kedatangan Hunter untuk yang ke dua kalinya ke rumahku. Masalahnya, Ibu sudah jelas-jelas memperlihatkan kalau dia tidak suka dengan Hunter Hawkwolf. Dan lebih parahanya, dia tidak ingin aku berteman dengan lelaki itu. Jadi bisa dibayangkan apa yang akan terjadi jika lelaki itu datang lagi ke rumah aku, ditambah aku yang lemas dan hampir ingin pingsan. Tapi ternyata insting seorang Ibu mengalahkan segalanya. Aku ingat dengan samar kalau Ibu bahkan tidak memedulikan fakta bahwa Hunter sedan membopong tubuhku yang lemah. Dia segera berlari dari teras rumah dengan wajah yang cemas dan memutih, pucat seperti kapas bersih. Aku tidak ingat lagi apa yang terjadi, tapi kata Ibu aku benar-benar kehilangan kesadaran saat sudah sampai di dalam rumah. Lalu Hunter menggendong tubuhku dengan gaya bridal dan mengangkat aku ke atas. Ibu bahkan tidak banyak bicara saat mereka berdua naik tangga dan masuk ke dalam kamarku. Setelah itu, Ibu bilang kalau Hunter menjelaskan apa yang telah terjadi. Aku harus mengingat untuk berterima kasih padanya. Hunter dengan mudahnya mengatakan apa yang terjadi pada Ibu dengan sangat rapih. Dan licik—jika aku tanya aku. Dia memberitahu tanpa menjelaskan hal yang terlah menimpaku. Memberi kebenaran, tapi juga berbohong secara bersamaan. “Bagaimana bisa kau keracunan makanan di sekolah?” Ibu menggeleng dengan tidak suka. Wajahnya menandakan kalau dia sangat ingin untuk menuntut pihak sekolah dan kafetaria, tapi untungnya saat aku tersadar di malam hari, aku berhasil meyakinkan Ibu kalau itu bukan hal yang perlu. “Mom, aku sudah menjelaskan kalau aku tidak sengaja membeli makanan yang sudah kadarluarsa saat pergi ke sekolah saat itu,” aku mengulang alasan yang aku buat secara mendadak itu. “Pihak sekolah dan kafetaria tidak ada sangkut pautnya.” “Itu lah,” Ibu memberengut. Keningnya menyatu. Aku menarik napas, sudah paham betul kalau sebentar lagi nasihat demi nasihat yang sudah Ibu ulang berkali-kali akan kembali terjadi. “Jangan sembarang membeli makanan.” “Iya, aku tahu. Lagi pula, aku membelinya di mini market. Mana aku tahu kalau makanan yang mereka jual akan kadaluarsa?” “Setiap kau membeli sesuatu dari mini market, kau harus selalu melihat tanggal kadaluarsa makanannya. Jangan pernah lupa memeriksa itu.” “Iya, mom.” Aku membuang napas panjang. “Aku akan melakukan itu lain kali.” “OK, pizza rasa apa yang ingin kau makan?” *** “Aku tidak percaya kau bisa sebodoh itu hingga bisa keracunan makanan.” Axel tertawa mengejek dari seberang sambungan telepon. Aku mendesis dengan jengkel. “Jangan memulai, ya. Aku sedang tidak selera meladenimu dan gurauan yang mengesalkan.” “Serius, Cordelian. Bagaimana bisa kau keracunan makanan?” “Yah, aku rasa aku sedang tidak enak badan. Atau aku kurang fokus. Aku kehilangan akal. Entahlah.” “Kau pikir aku akan percaya itu?” Aku terdiam beberapa lama saat mendengar Axel mengatakan hal tersebut. Sial. Aku lupa. Ini Axel. Dia tahu aku luar dan dalam. Bahkan hanya dari sambungan telepon pun dia bisa mengetahui jika aku sedang berbohong. Aku ingin mengumpat. Lalu aku merasa bersalah. Aku sudah berbohong pada sahabatku. Satu-satunya perjanjian di antara kami adalah untuk tidak saling menyukai satu sama lain, dan jangan pernah berbohong. Selama kami berteman, dua aturan itu tidak pernah sekali pun kami lerai. Lagi pula, hubungan kami sangat platonik. Sekedar teman yang sangat dekat dan akrab. Platonic soul mates. Jadi, mudah bagi kami untuk tidak membawa urusan masalah percintaan ke dalam pertemanan ini. Axel menunggu reaksi dari aku dengan sabar. Aku bisa mendengar kalau dia sedang mengunyah sesuatu. Aku menimbang masalahku dengan serius. Jika aku memberitahu Axel, maka aku harus menjelaskan apa yang aku rasakah saat itu. Memberitahu Axel bukanlah masalah. Yang menjadi beban pikiranku adalah apakah dia akan percaya dengan apa yang aku katakan. Aku rasa bahkan Axel pun akan menganggap aku sudah kehilangan akal. Bagaimana bisa seorang gadis normal mendengar suara dari dapur belakang yang sangat jauh? Bagaimana bisa aku mendengar deru napas setiap orang? Bagaimana bisa aku mencium wangi makanan? “Aku . . . aku tidak tahu.” “Tidak tahu bagaimana?” Axel bertanya dengan pelan. “Hari itu, bahkan aku sendiri pun tidak memiliki penjelasan yang jelas.” “Memangnya apa yang sudah terjadi padamu, Cordelia?” Suara Axel tidak terdengar menghakimi sama sekali. Terdengar netral dan mau untuk dengan sabar membuatku luluh dan menceritakan apa yang terjadi. Aku sangat berterima kasih dengan kehadiran Axel yang seperti itu. Dia selalu tahu apa yang harus dikatakan dan apa yang harus dilakukan. Hanya dengan satu kalimat seperti itu saja, aku sudah bisa merasakan hatiku luluh padanya. Maka dari itu, aku menceritakan segalanya. Mulai dari Xena yang mendadak menggeret aku ke kafetaria. Xena yang menggoda kami berdua. Xander yang entah bagaimana bisa dengan berani berkata kalau dia ingin berkencan denganku. Hunter yang datang dengan marah. Lalu mereka berdua berkelahi—lagi. Dan apa yang terjadi pada tubuhku. Axel terus mendengarkan segalanya serius, tanpa berkata satu patah kata pun. Saat aku mengakhir ceritaku, dia hanya membuang napas yang panjang dan berat. “Whoa.” “Ya . . . whoa.” “Jujur, aku tidak tahu harus berkata apa.” Untuk pertama kalinya, seorang Axel kehilangan kata-kata. Aku tidak tahu harus merasa bangga atau heran karena aku bisa membuat seorang Axel menjadi bisu. Hal ini sangat tidak masuk akal hingga kami berdua pun tidak bisa memikirkan penjelasan yang masuk akal secara ilmu pengetahuan, secara umur, atau bahkan secara supernatural sekali pun. Memangnya apa ynag sudah terjadi padaku? Mendadak aku punya kekuatan super? Mendadak aku berubah jadi sesuatu yang jadi-jadian, begitu? Tidak mungkin. “Apa kau sudah bicara dengan salah satu dari mereka?” tanya Axel akhirnya. “Maksudmu? Mereka siapa?” “I don’t know . . .” Aku bisa membayangkan Axel mengedikkan bahunya. “Hunter . . . Xander . . . atau siapa temanmu itu, Xena?” Aku menggeleng, lalu menjawab dengan keras, “Tidak.” “Kenapa? Jangan bilang kau tidak memiliki nomor telepon mereka.” OK, satu, itu memang benar. Tapi, dua, aku tidak tahu harus mengatakan apa jika aku memang memiliki nomor telepon mereka. Apa yang harus aku lakukan? Menghubungi mereka secara mendadak dan bilang maaf karena aku sudah bertingkah seperti orang gila hari itu? Meminta agar mereka tidak menjauhiku dan memohon untuk tetap berteman dengan aku yang sepertinya mulai tidak sehat secara mental ini? Aku rasa jika aku melakukan itu, mereka akan benar-benar membuang aku dan membuatku duduk di meja paling belakang kafetaria bersama para murid anti sosial. Aku bergidik ngeri. “Aku hanya tidak tahu harus berkata apa.” “Kenapa harus tidak tahu?” Axel berdecak. “Katakan saja kalau kau waktu itu kewalahan atau semacamnya.” “Apa mereka akan percaya?” “Kau tahu, ada yang namanya serangan panik. Mungkin saat itu kau sudah kehilangan kendali dari segalanya. Kau tahu lah, kau selalu memikirkan segalanya dengan berlebihan. Mungkin karena itu juga semua panca inderamu bertingkah aneh.” Axel mengatakan itu semua, tapi aku tahu dia sendiri tidak percaya dengan apa yang baru saja dia katakan. Begitu juga aku. Memangnya apa yang membuatku hingga sampai harus kehilangan kendali dan mendadak mendapat serangan panik? Bukannya aku merendahkan atau apa, tapi aku rasa aku tidak setakut dan secemas itu pada saat Hunter dan Xander membuatku menjadi tali tambang di antara perkelahian mereka. Lahgi pula, jika memang benar aku terkena serangan panik yang datang secara tiba-tiba, aku yakin seratus persen, serangan panik tidak terlihat seperti apa yang baru saja terjadi padaku. Aku yakin serangan panik tidak mendadak memberikanmu kekuatan super dan membuta semua panca indera yang ada di tubuhm naik dua atau tiga atau empat kali lebih tinggi dari biasanya. Yah, kecuali jika kau seorang pahlawan atau semacamnya. Aku rasa jika superman mendadak terserang serangan panik, akan lebih buruk dari apa yang sudah terjadi padaku hari itu. “Intinya, kau harus segera berbicara pada mereka. Jika tidak, mungkin mereka akan berpikiran yang tidak-tidak.” “Aku hanya ingin menjalani sisa masa sekolah mengeah atas dengan tenang, dan pergi kuliah bersama denganmu. Apa itu terlalu berlebihan?” Axel tertawa tipis. “Tidak. Tapi, jika aku ingin melewati masa sekolah dengan tenang, kau butuh setidaknya satu atau dua teman untuk membuatmu tetap waras.” Aku hanya mengerang. Ibu muncul dari balik pintu, membuat aku menutup telepon dengan Axel. Satu lirikan yang pasti, aku melihat wajah Ibu penuh cemas. Rasa takut terpancarkan dari mukanya yang awet muda. Aku mengerutkan keningku padanya, “Ada apa, mom?” “Kau ingat petugas kantor sekolah yang kau bilang mendadak diganti?” Aku mengangguk. Tiba-tiba aku merasa tidak enak. “Gadis itu ditemukan di dalam hutan dengan tubuh yang sudah . . . menjadi beberapa bagian.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN