CHAPTER 15

2347 Kata
AKU MULAI BERPIKIR kalau kota ini terkutuk. Mungkin ada yang membenci kota ini dahulu sekali, lalu dia berpikir untuk membuat siapa saja yang tinggal di kota ini untuk sengsara dan hidup dengan tidak tenang. Mungkin siapa pun yang mengutuk kota ini merasa kalau hidupnya di New Cresthill sangat tidak bahagia dan tidak menyenangkan. Kemudian dia memilih untuk membuat orang lain merasakan hal yang sama, agar dia tidak sendiri di dunia ini. Parahnya lagi, aku merasa semenjak aku pindah ke kota kecil dan terkutuk ini, hidup aku juga mulai terasa tidak menyenangkan dan begitu penuh dengan hal yang sangat tidak beruntung. Pertama, aku harus bertemu dengan Hunter Hawkwolf. Lelaki yang selalu berperilaku seenaknya. Merasa kalau dirinya adalah penguasa setiap penjuru kota New Cresthill, terutama setiap pelosok sekolah. Gayanya selalu angkuh dan tidak tahu diri. Dan lebih parahnya lagi, semua orang memang memperlakukan dia selayaknya seorang pemimpin yang pantas untuk dipuja dan diikuti. Semua orang hormat padanya, dan selain itu, mereka juga tunduk pada seorang Hunter Hawkwolf. Kedua, aku bertemu Xander Deathbone yang tidak kalah aneh dan sama membingungkannya. Dia mungkin tidak berperilaku sangat angkuh atau semacamnya, tapi dia juga tidak bertingkah seperti orang yang di bawah. Berbeda dengan orang lain yang bertingkah seperti orang inferior dari Hunter, lelaki yang menjadi teman pertama dan orang yang sudi menyapa aku lebih dulu itu tidak melakukan hal yang sama. Hunter dan Xander selalu berkelahi entah karena masalah apa. Hal yang sampai hari ini, detik ini, di momen ini, masih belum aku ketahui. Mereka selalu terlibat adu mulut, beradu argumen yang tidak penting, dan berakhir dengan saling pukul. Xander sangat membenci Hunter, dan yang dibenci pun juga merasakan hal yang sama. Lebih parah dari itu semua, aku selalu terlibat dengan perkelahian menyedihkan mereka. Aku selalu berada di tengah-tengah mereka. Dan entah kenapa---sungguh, aku benar-benar tidak tahu apa-apa di sini, segalanya selalu entah mengapa bagi aku—mereka berdua sangat ingin menjadi orang yang aku pilih. Yah, bukannya aku sok atau apa, tapi memang begitu kenyataannya. Sejak pertama, Hunter selalu mengatakan kalau aku miliknya—hal yang sangat absurd. Aku ingin menghajar wajahnya yang tampan dan seksi itu jika tidak mengingat kalau aku melakukan itu, maka kemungkinan besar tanganku yang akan babak belur. Lalu Xander tidak pernah rela jika aku berdekatan dengan Hunter. Dia melakukan apa saja agar aku tidak bersama dengan lelaki itu. Sering aku berpikir kalau Xander hanya melakukan hal ini untuk membuat Hunter kesal atau jengkel atau cemburu—bisa ‘kan dia merasa cemburu karena aku?—dan membuatnya naik pitam. Tapi belakangan, aku mulai percaya kalau Xander memang ingin berteman denganku. Dan dia berpikir kalau Hunter itu bukan teman yang baik untuk aku—atau semua orang ‘sih. Sudah semua itu, sekarang harus ada kasus mengerikan begini. Di saat aku pindah ke sini, ada saja yang harus tejadi Beberapa hari sudah lewat semenjak aku merasa seperti orang gila di kafetaria, Hunter mengantar aku pulang, Ibu menyuruhku istirahat dan tidak sekolah, lalu dia memberitahu aku kalau gadis yang seharusnya bekerja di kantor sekolah—dan menjadi orang yang menyambut aku di sana untuk pertama kalinya—ditemukan sudah tewas . . . menjadi beberapa bagian. Aku rasanya ingin mengunci diri saja di dalam kamar. Tapi tentu saja, jika aku merasa demam dan mendadak pingsan di saat jam makan, maka Ibu merasa aku harus tidur di rumah, istirahat yang cukup, dan tidak sekolah dulu untuk beberapa hari. Namun, jika ada kemungkinan hewan buas yang lepas atau kabur dari hutan, atau kemungkinan ada pembunuh sadis yang berkeliaran, aku tidak harus tinggal di rumah dan menghindari sekolah atau tempat umum. Aku tidak mengerti logika Ibu, tapi hei . . . siapa aku untuk melawan? Energiku sudah habis untuk membantah Ibu tentang permintaannya yang tidak masuk akal. Jangan bergaul dengan Xander atau Hunter. Aku tertawa tipis. Ibu massih saja tidak memberikan aku alasan yang pasti. Dia hanya berkata kalau Xander atau Hunter itu membawa pengaruh yang buruk. Jika aku bergaul dengan mereka, maka aku akan berada dalam bahaya. Ya tapi, dari mana Ibu bisa menarik kesimpulan begitu? Sekolah hari ini berjalan dengan biasa. Tidak terlalu biasa ‘sih, tapi aku tidak mengerti bagaimana bisa orang-orang ini terlihat tenang dan santai. Seperti mereka tidak baru saja mendapat berita kalau gadis yang dulu pernah bekerja di tempat ini telah ditemukan tewas mengenaskan. Aku ulang, tewas mengenaskan, dengan beberapa bagian tubuh sudah tidak menyatu lagi di tempatnya. Saat aku berjalan ke arah loker, aku melihat beberapa pasang mata mengikuti langkahku. Mungkin mereka masih memikirkan kejadian aneh saat aku merasa setiap panca indera yang ada di tubuhku meningkat dua atau tiga atau empat kali lipat. Aku memalingkan wajahku dari tatapan mereka yang terlihat menghakimi, dan sibuk mengeluarkan buku pelajaran dari dalam loker. Sebuah tangan terulur, dan aku menoleh sambil terkejut. Hunter mengangkat satu alisnya. “Kaget?” “Tidak,” aku sudah terbiasa dengan tingkahnya yang sok dan mengejek, jadi kebohongan itu keluar dengan begitu mudahnya. “Untuk apa aku kaget?” “Karena kau melihat keturunan dewa Yunani di pagi hari begini.” Aku hampir saja mencibir dengkil. Tapi aku tahan hal itu. Aku tidak ingin mencari ribut di pagi hari. Berkelahi di lorong koridor sekolah, bukanlah hal yang menarik untuk di lakukan saat kelas jam pertama saja belum dimulai. Akhirnya, aku hanya menyipitkan mataku padanya. “Jangan memulai.” “Aku tidak mengatakan apa-apa. Apa aku berbohong? Tidak.” Hunter mengedikkan bahunya dnegan santai. “Aku hanya mengatakan fakta.” Sialnya, itu memang fakta. Tidak bisa dipungkiri laki-laki yang sedang berdiri di hadapanku ini memang terlihat seperti titisan dewa Yunani atau semacamnya. Kalian tau demigod? Bukan manusia, bukan juga dewa. Tapi mereka setengah manusia, dan setengah dewa. Keturunan dari para dewa atau dewi Yunani yang membuat anak dengan manusia biasa. Hasilnya, mereka membuat keturunan dewa atau dewi yang memiliki kekuatan berbeda dengan manusia pada umumnya. Ya, aku tahu semua itu dari membaca buku karya Rick Riordan yang berjudul Percy Jackson. Dan aku mulai yakin, jangan-jangan Hunter ini adalah seorang demigod. Bagaimana lagi seseorang bisa setampan dan semenarik dia, jika bukan karena dia keturunan dewa? Aku mendengus. “Iya . . . ya . .. katakan apa saja yang akan membuatmu tidur dengan nyenyak di malam hari.” “Percaya padaku, aku selalu tidur nyenyak di malam hari.” “Bagaimana aku bisa percaya itu?” “Apa kau sudah melihat wajahku?” tanya Hunter sambil menunjuk wajahnya sendiri. “Butuh tidur yang cukup agar kau bisa terlihat seperti ini. I always need my beauty sleep.” Kali ini aku benar-benar mencibir, tak bisa lagi menahan hal itu. “Apa kau selalu narsis begitu?” “Hm . . . terkadang.” Aku menggeleng dan meneruskan kegiatanku yang sibuk mengeluarkan buku dan memeriksa jadwal. Saat Hunter terdiam saja di sampingku, aku mulai merasa tak enak. Aku meliriknya. Lelaki itu ternyata sedang memandang aku dengan serius. Seperti aku ini soal matematika yang tidak bisa dia pecahkan. Seperti aku ini sebuah permainan yang harus dia selesaikan. Seperti aku ini sebuah misi yang harus dikejakan dengan teliti. Aku mendorong bahunya dengan halus. “Apa yang kau lihat?” “Apa kau baik-baik saja?” “Kenapa aku harus tidak baik-baik saja?” Bohong. Tentu saja aku tidak baik-baik saja. Siapa yang bisa bertingkah normal saat ada korban yang tewas mengenaskan beberapa hari yang lalu? Aku melirik sekitarku. Setiap orang bertingkah biasa. OK, mungkin kota ini memang sangat aneh dan terkutuk. “Kau tahu . . . tentang berita itu.” Aku terdiam, tidak tahu harus merespon perkataan Hunter seperti apa. Di satu sisi, aku ingin mengatakan kalau hal itu memang sangat mengganggu bagi aku dan Ibu. Tapi di satu sisi, aku ingin terlihat kuat dan normal, seperti murid yang lain di depan Hunter. Jadi aku hanya mengangkat bahuku tinggi. “Jika kau butuh seseorang untuk diajak bicara . . . aku ada di sini.” “Tentu saja.” “Kau paham itu?” “Iya, Hunter . . . “ “Kau berjanji?” “Janji apa?” Hunter berdecak dengan tidak sabar. “Janji kau akan bicara dengan aku jika kau ada yang dipikirkan. Jika kau takut atau cemas atau mencurigai sesuatu.” “OK . . .” Jawabku pelan, tak tahu harus memberikan reaksi apa terhadap perminataan Hunter tersebut. Setelah itu, bukannya pergi, Hunter malah masih diam di sampingku. Menunggu aku yang masih sibuk memeriksa jadwal, dan memastikan kalau aku sudah memiliki setiap buku catatan dan buku pelajaran yang aku butuhku untuk semua kelas hari ini. Hunter bersandar di loker samping milikku, matanya tak pernah lepas dari wajahku sama sekali. “Ada lagi yang kau butuhkan?” “Hm . . . ?” “Ada lagi yang kau butuhkan dari aku?” Aku mengulang perkataanku dengan heran. Aku rasa aku tidak akan pernah mengerti apa yang dia pikirkan. Begitu juga setiap sikap yang dia lakukan. “Tidak.” “Lalu untuk apa kau masih berdiri di sini?” tanyaku. “Memangnya ada yang melarang?” alisnya terangkat naik lagi, gaya khas yang dia lakukan setiap menantang seseorang atau melihat sesuatu yang tidak dia sukai. Aku mengerutkan keningku. “Well, tidak . . . tapi untuk apa kau berdiri tanpa sebab begitu? Apa kau tidak ada kelas untuk didatangi?” “Sekarang hari senin, kita memiliki kelas pertama yang sama.” Sial. “OK . . . “ Lagi-lagi aku hanya bisa menjawab dengan tidak yakin, bingung setengah mati dengan perilaku Hunter yang sangat tidak normal. Aku akhirnya menutup pintu loker aku dengan satu bantingan yang disengaja agar Hunter bisa mengerti kalau aku sedang kesal dan jengkel. Namun, yang dia lakukan hanya tersenyum lebar, menyeringai aku yang sedang melotot ke arahnya. Senyum kotaknya yang menggemaskan itu hampir saja meluluhkan hati aku, tapi aku buru-buru mengatur ekspresi wajah agar tetap terlihat kesal. “Sekarang?” “Sekarang apa?” tanya Hunter dengan wajah sok polos. Kedua tangannya dia masukkan ke dalam celana, tubuhnya menyondong ke samping. “Kau mau apa sekarang?” “Bukankah sekarang kita harus masuk ke kelas?” Aku hanya mencibir sambil melengos dan pergi lebih dahulu, meninggalkan Hunter yang terdengar sedang cekikikan dari arah belakang aku. Dengan langkah cepat, aku berusaha menghilangkan Hunter dari jejak yang aku buat, tapi memang dasar kakinya yang panjang dan tubuhnya yang tinggi, sudah jelas kaki pendek dan kecil yang aku miliki ini tidak ada tandingannya. Tanpa usaha yang berat, dia sudah lebih dulu menyamakan langkah dengan aku. Aku memutar kedua bola mataku dengan kesal. Memang benar kami memiliki kelas yang sama, tapi apa dia harus berjalan denganku sampai masuk kelas? Aku tidak ingin diganggu pagi-pagi begini. Tapi tentu saja, Hunter tidak pernah bisa mengerti arti tersirat dari wajah atau ekspresi orang. Atau mungkin dia memang tidak peduli. Dengan wajah yang masih sok polos dan berlagak tidak bersalah sama sekali, dia berjalan di sampingku, sambil tersenyum manis ke arahku, mencoba membuat aku semakin jengkel lagi. Itu berhasil, karena aku semakin kesal. “Hunter . . . “ “Hm . . . ?” “Kenapa kau selalu mendekatiku?” tanyaku akhirnya, saat kami belok ke arah koridor sekolah yang cukup kosong dan lengang. Aku membuat langkahku yang tadinya buru-buru dan cepat, menjadi pelan dan santai. Aku melihat Hunter menghisap bibirnya ke dalam, memikirkan jawaban dari hal yang aku pertanyakan. Hunter mengedikkan bahunya. “Aku hanya ingin.” “Hunter . . . apa artinya yang kau katakan padaku di hari pertama kita sekolah?” Hunter mendadak membeku di sebelahku. Langkahnya kini sudah berhenti, tidak lagi mencoba menyamakan jalannya dengan aku. Karena itu, secara refleks aku juga ikut berhenti bersamanya. Kami berdua saling berdiri di tengah koridor dengan perasaan masing-masing yang tak dapat aku gambarkan. Aku bisa melihat Hunter sedang berkelahi dengan pikirannya sendiri. Matanya penuh konsentrasi, melihat sepatunya yang mendadak menjadi sangat menarik. Atensinya tidak terarah padaku, tapi pada sesuatu yang tidak dapat aku tebak. Dia terlihat seperti sedang berdebat, tapi dengan siapa? Aku ingin memegang lengannya, membuat dia kembali tersadar dan fokus pada realita. Tapi sesuatu memberitahuku bahwa aku tidak boleh melakukan itu. Maka dari itu, aku tetap berdiri, tanganku dikepalkan di samping tubuhku. Aku sudah siap untuk lari atau kabur, jika Hunter seketika memutuskan untuk naik pitam dan menghardik aku yang sudah bertanya seperti itu. Aku sudah pernah melihat bagaimana Hunter jika dia sedang emosi dan kehilangan kendali. Aku tidak ingin menjadi orang yang menerima imbas dari amarah dan rasa kesalnya. Jika orang seperti Xander saja pernah dibuat terkejut dan sedikit menunduk pada Hunter, bagaimana denganku? Akhirnya, lelaki memutus pandangannya pada sepatu yang terlihat biasa saja itu. Perhatiannya kembali padaku, matanya mencari-cari pupil mataku yang sempat dia lepaskan. Aku menahan napas saat aku melihat mata emas dan kecokelatan miliknya. Mereka bersinar terang, sangat terang bahkan saat di tengah koridor yang dipenuhi sinar matahari seperti ini, matanya tidak kalah terang. “Apa maksudmu?” tanya Hunter. Suaranya serak dan basah. Aku tidak mengerti kenapa dia mendadak menjadi salah tingkah dan tidak tahu harus berbuat seperti apa begitu. Memangnya pertanyaan dari aku sebegitu susahnya untuk dijawab? Lagi pula, dia yang mengatakan hal itu, kenapa dia yang tidak tahu harus menjawab apa? Melihat rekasi darinya, aku sedikit minder. Aku pikirkan untuk mundur dan mengatakan kalau aku hanya berbicara yang tidak-tidak saja, tapi rasa penasaran yang sudah memenuhi benak dan pikiran aku semenjak hari pertama aku sekolah dan dia mengatakan hal itu padaku, membuat aku tidak mundur begitu saja. Aku menelan ludah. Tenggorokan aku terasa kering, begitu juga dengan bibirku. Aku membasahinya, lalu menjawab Hunter dengan mantap. “Saat pertama kali kau bertemu dengan aku.” “Lalu? Ada apa?” “Kau mengatakan itu.” Kataku pelan. Sial. Aku tidak sepercaya diri yang aku inginkan. Harusnya aku lebih tegas dan tidak mau kalah dengan lelaki di depanku ini. “Apa yang aku katakan, Cordelia?” Hunter menatap mataku dengan tajam. Aku menarik napas panjang, lalu memutuskan untuk berani. “Kau bilang . . .” “Apa?” “Kau bilang mate.” Hunter terdiam seribu bahas. Lalu aku mengulang kembali pertanyaanku. “Apa artinya saat kau mengatakan padaku kalau aku ini mate?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN