CHAPTER 16

2400 Kata
HUNTER HAWWOLF itu ibarat batu yang selalu datar dan tidak bergerak. Sangat kuat dan tidak mudah rapuh. Terkadang, saat dibanting dan ditendang dan dirusak, batu tidak akan dengan cepat hancur. Begitu juga Hunter. Ekspresi wajah Hunter tidak pernah bisa ditebak. Jika kau mencoba untuk melakukan itu, sudah bisa aku duga, pasti hasilnya akan tidak berhasil. Aku sudah melihat Hunter yang memasang wajah sangat datar dalam setiap keadaan apa pun. Mulai dari berbicara dengan teman, adu mulut dengan guru, membalas orang yang kurang ajar, bahkan saat berkelahi pun, Hunter akan tetap terlihat datar dan dingin. Maka dari itu sangat sulit untuk bisa menebak dan mengatahu isi hari lelaki yang tingginya sangat beda jauh dengan aku itu. Hunter tidak pernah memperlihatkan emosi aslinya. Pada siapa pun. Aku rasa dia juga tidak pernah benar-benar memperlihatkan seperti apa yang ada di dalam hatinya. Bahkan pada saudaranya sekali pun. Aku hanya bisa menunggu, melihat Hunter yang terdiam seribu bahasa. Bisa aku bilang, ini adalah pertama kalinya aku melihat dia yang kehabisan kata-kata. Saat Hunter terlihat tidak akan mengatakan sesuatu pada waktu yang dekat, aku mendengus dan berjalan untuk pergi. Tapi belum juga aku sempat mengambil beberapa langkah maju, menjauh darinya yang berdiri seperti patung tak bergerak sama sekali, lelaki itu menggapai lenganku dan menarik aku kembali menghadap tubuhnya. “Tunggu dulu . . .” Dia membasahi bibirnya. “Aku . . .” “Jika kau tidak ingin menjawab, maka tidak perlu. Aku mengerti.” “Bukan begitu, Cordelia. Aku hanya . . .” Dia kembali tergagap, tangannya keringat dingin. “Aku ingin menjelaskan hal itu padamu, tapi bukan di sini.” “Lalu, memangnya kenapa?” Aku melihat sekeliling kami. Jam kelas pertama akan segera mulai, dan aku rasa bel sekolah pun akan segera berbunyi. “Tidak ada siapa-siapa di sini.” Dan memang benar, di sekitar kami tidak ada satu orang pun yang akan mendengar apa yang akan Hunter katakan. “Aku tidak akan mengatakan hal sepenting ini di tengah lorong koridor sekolah,” Hunter menatap aku seperti aku baru saja meminta sesuatu yang gila. “Memangnya kau mau berbicara di sini, sambil berdiri begini?” Aku mengerutkan keningku, sampai aku yakin alisku sudah keriting. “Apa yang aku tanyakan sepenting itu?” “Tentu saja.” Hunter bersikeras dengan wajah yang tidak kalah bingung, karena reaksi aku yang biasa saja. “Aku . . .” Napas yang aku buang begitu panjang dan dalam. “Sudahlah Hunter, lupakan saja.” “Cordelia tunggu!” “Hunter . . . aku harus masuk kelas.” “Kelas kita sama.” Aku ingin menendang kakinya yang jnejang itu barang sekali saja. “Benar juga. Ya sudah, kau jalan duluan.” Hunter mencibir, tidak menyangka apa yang baru saja aku lakukan. Panggil aku kekanak-kanakan atau apa lah, yang jelas, aku benar-benar sudah kelewat frustasi dengan makhluk yang bernama Hunter Hawkwolf. “Apa kau sungguh-sungguh?” Lagi-lagi aku membuang napas karena frustasi. “Sudahlah.” Aku melangkah duluan, meninggalkan dia yang aku dengar tertawa halus, mungkin merasa aku tidak akan menangkap hal itu tapi aku tidak akan memberikannya kepuasan dengan memberi reaksi kesal. Aku tetap maju, mengabaikan kelakuan Hunter yang membuatku naik pitam. Tetapi tentu saja, dengan kakinnya yang jenjang dan tidak sebanding dengan kaki malangku, dia dengan mudah menjajarkan langkahnya di sampingku. “Kenapa kau marah?” “Tidak. Siapa bilang aku marah?” “Kau sedang berusaha untuk menjauhiku sekarang,” Hunter menyeringai aku yang menolak untuk melihat wajahnya, agar tidak menambah tensi darahku naik. “Aku hanya sangat tidak suka denganmu sekarang.” Jika aku tidak salah lihat, Hunter terlihat sedikit tersinggung dan sedih ketika aku mengatakan kalau aku sedang tidak suka dengannya saat ini. Tapi seperti yang aku bilang, dia selalu bisa menjaga air mukanya agar tetap terlihat netral. Bahkan datar dan dingin. “Wow . . . menarik. Itu hal yang baru pertama kali aku dengar di dunia ini.” Aku mencibir. “Maksudmu?” “Yah, aku tidak pernah mendengar ada orang yang mengatakan kalau dia tidak suka padaku. Biasanya aku mendengar orang mengatakan kalau mereka sangat suka padaku atau mencintai aku atau ingin melakukan apa saja yang kau inginkan, asalkan aku mau menjadi teman bahkan pacara mereka.” Sekarang, aku ingin menonjok wajahnya yang mirisnya, sangat tampan dan seksi itu. Untung saja aku memiliki kontrol diri yang cukup tinggi dan bisa dipercaya. Kalau tidak, aku pasti sudah membiarkan tanganku melayang ke mukanya yang bisa membuat lututku lemas itu, dan meninggalkan lebam yang cukup dalam. Untung saja. “Kau tahu, narsisme itu salah satu tanda dari orang yang sosiopat.” “Benarkah? Hm . . . tapi aku rasa aku tidak sosiopat.” “Bagus lah.” Aku melirik pintu kelas yang semakin dekat. Untung saja. “Kenapa bagus?” “Jika kau sosiopat, aku rasa setiap orang yang membuatmu kesal akan berakhir mati.” Hunter mengerutkan keningnya, kali ini memang terlihat tersinggung. “Dan?” “Dan kau selalu marah.” *** Dua hari kemudian, Ibu masih juga tidak bisa berhenti cemas dan khawatir dengan kemungkinan hewan buas atau pembunuh sadis yang berkeliaran. Aku mencoba untuk membuatnya mengerti kalau kita berada di lingkungan yang baik dan aman, tapi kepala aku terus membayangkan kejadian penuh horor yang aku rasakan di rumah Hunter. Aku memang tidak bisa memungkiri kalau kemungkinan ada hewan buas yang berkeliaran dan turun dari hutan. Tapi aku rasa Ibu tidak perlu tahu tentang fakta itu. Satu, dia bisa mengurung aku di rumah. Dua, dia bisa menjadi kelewat panik dan paranoid tinggi. Aku tidak ingin Ibu menjadi orang yang selalu melihat ke belakang karena takut ada sesuatu yang menyerangnya secara diam-diam. Dan yang paling terakhir, aku tidak ingin membuat Ibu mendapat alasan baru mengapa aku tidak bisa bergaul dengan Hunter. Bagaimana pun juga, aku diserang di rumah Hunter. Saat aku membantah Ibu dan pergi dengannya. Dan lebih parahnya lagi, aku diserang di dalam kamar Hunter pula. Jika aku mengatakan hal itu, bisa-bisa Ibu berpikir kami sedang melakukan sesuatu di dalam kamarnya. Kalau soal pembunuh sadis yang sedang berkeliaran di kota kecil dan terkutuk ini . . . aku bergidik ngeri. Aku bahkan tidak ingin memikirkan pilihan itu. Aku lebih memilih hewan buas dari pada manusia sadis yang tidak tahu ampun. Kau bisa lari dari hewan tak punya akal, tapi kau tidak bisa lari dari psikopat gila yang terobsesi dengan korbannya. “Cordelia, apa kau pikir kita harus menentukan jam pulang?” Aku menoleh pada Ibu yang sibuk meracik bumbu di panci, sementara aku sibuk memotong sayuran di sebelahnya. “What do you mean?” “Aku sangat merasa tidak aman dengan keadaan kota sekarang.” “Mom, aku sarankan, kau jangan terlalu banyak memikirkan tentang kejadian itu. Kau bisa menjadi stres nantinya.” Kataku penuh cemas. Selain tidak ingin Ibu menjadi banyak pikiran dan paranoid, memikirkan sesuatu yang kemungkinan besar tidak akan terjadi pada Ibu atau aku atau orang di sekitar kami, aku juga mana mau jika diberikan jam pulang malam. Sejujurnya, Ibu dan Ayah tidak terlalu menjadi orangtua yang begitu protektif atau semacamnya. Yah, mereka cukup membuat aku kewalahan juga ‘sih dengan segala macam aturan dan rasa khawatir yang begitu tinggi dari mereka semua. Tapi, mereka tidak pernah menetapkan jam malam atau sejenisnya. Mereka tidak memberikan aturan di mana tempat aku boleh datang, dengan siapa aku boleh berteman—kecuali sekarang, saat Ibu tidak membolehkan aku bergaul atau berteman dengan Xander dan Hunter. Axel sudah cukup bagi mereka untuk percaya bahwa aku akan aman dan selamat. Dan mereka juga sangat percaya pada Axel, yang sudah jelas tidak akan melakukan apa-apa padaku. Jika dia akan berpikiran tentang hal seperti itu, sudah jelas, yang akan terluka adalah dirinya sendiri. Memangnya dia pikir aku akan diam saja jika dia melakukan hal itu? “Bagaimana bisa aku tenang? Seseorang baru saja dibunuh, Cordelia.” Napasku mendadak terasa sesak. Aku tidak ingin memikirkan tentang pembunuhan yang terjadi dalam jarak dekat dengan kami. “Itu urusan polisi. Aku rasa mereka akan melakukan sehebat yang mereka bisa.” “Well, kita juga harus mencoba yang terbaik. Kau tahu? Tidak ada salahnya menghadapi segala kemungkinan. Selama sesuatu yang membuat gadis malang itu belum juga terungkap dan ditangkah oleh pihak yang berwajib, aku tidak akan pernah bisa tenang. Terutama jika kau beraktivitas di luar, Cordelia.” “Lalu, kau mau apa? Kau mau aku tidak sekolah saja?” Tentu saja aku mau itu. Tapi, jika aku harus ketinggalan pelajaran dan tidak masuk sekolah, lalu harus mendapat pekerjaan rumah yang menumpuk dan melakukan ulangan secara buta karena tidak paham teori, aku lebih memilih pergi ke sekolah tiap hari dan mengambil resiko bertemu dengan apa pun itu yang membuat si gadis malang—Olivia. “Tentu saja tidak,” Ibu membalas dengan cepat, wajahnya merengut dengan keriput yang mulai terlihat. Aku tertawa tipis melihat Ibu yang mendadak sangat sewot dan terkejut mendengar apa yang aku katakan. “Aku hanya tidak ingin kau berlama-lama di luar. Tidak baik. Dan keadaan sedang sangat tidak aman sekarang. Bahaya ada di mana-mana.” Aku melontarkan senyum yang kecil, lalu memberikannya sayuran yang sudah aku potong dengan rapih untuk dimasukkan ke dalam masakan. Ibu menaruh wadah yang aku berikan, lalu dia sibuk mengaduk sup yang sedang kami buat. Untuk beberapa lama dia tidak mengatakan apa-apa. Saat dia sudah merasa puas, Ibu menutup tempat masakan itu, lalu menoleh padaku yang sibuk memperhatikannya. “Bagaimana menurutmu? Aku rasa jika hari sudah malam, lebih baik kita masuk rumah dan jangan keluar lagi. Berkeliaran di luar saat hari sudah mulai gelap bukanlah hal yang baik.” “Mom, bagaimana bisa aku berteman dengan yang lain, atau menelusuri kota yang masih asing bagi aku ini, jika aku harus selalu pulang ke rumah saat hari sudah mulai gelap? Jam pulang sekolah saja sudah sangat sore. Bisa-bisa, yang aku lakukan adalah hanya bangun, pergi ke sekolah, belajar, lalu langsung pulang lagi ke rumah, dan tidur.” “Tapi . . . “ Ibu menghela napas panjang. Dia berkacak pinggang di sebelahku. “Ibu merasa tidak enak. Rasanya sesuatu yang buruk sedang terjadi. Dan aku takut jika sesuatu menimpa kamu, sayang.” “Tidak akan ada yang terjadi pada aku, Mom.” “Bagaimana kau tahu itu?” Aku mengangkat bahu. “Aku tidak begitu penting. Siapa yang ingin melukai aku?” Ibu mencibir padaku. “Kejahatan itu tidak perlu niat atau selalu dengan rencana yang matang dan sempurna. Kejahatan bisa dilakukan siapa saja, di mana saja, pada siapa saja, jika ada kesempatan yang terbuka.” “Benar juga . . .” “Berjanji pada aku kalau kau akan selalu berhati-hati?” “Tentu saja . . .” Ibu hanya terdiam dan mengalihkan atensinya pada masakan yang sedang mendidih di atas kompor. Aku tersenyum padanya. Bingung harus melakukan apa, aku akhirnya beralih pada meja makan yang masih kosong dan belum ditata sama sekali. Saat menoleh pada Ibu dan dia terlihat sedang serius dengan masakannya, aku memutuskan untuk mengambil piring, sendok, dan gelas yang akan kita butuhkan untuk makan. Aku menata meja makan dengan cepat. Sebelum aku selesai, Ibu bahkan sudah selesai dengan masakannya. Hari ini kami membuat makanan khas Korea Selatan yang sangat kami sekeluarga suka. Lidah kami cocok dengan bumbu dan rasa makanan Korea Selatan, sehingga kami sering membuat bermacam-macam makanan tradisional mereka. Mulutku terasa berair saat melihat Ibu yang menuang Sssamgyetang ke mangkuk besar untuk kami berdua. Ayam yang kami berdua buat dengan susah payah itu terlihat begitu gurih dan lezat. Aku buru-buru cuci tangan begitu Ibu suruh, diikuti dengannya yang terlihat sama senangnya. Kami berdua duduk dengan semangat, melupakan fakta bahwa kami berdua baru saja berdiskusi tentang bahaya yang terjadi di dekat kami. Sebuah pembunuhan—entah pembunuhan atau bukan—yang bisa saja dilakukan oleh orang sakit jiwa, atau hewan buas ganas yang turun dari hutan. Entah opsi mana yang lebih baik, tapi seperti yang aku katakan, aku lebih baik dikejar hewan buas dari pada psikopat yang gila. “Hm . . .” Aku langsung mendesah bahagia, begitu masakan khas yang sudah sering kami buat dan menjadi menu sehari-hari kami mendarat di lidahku. “Enak sekali, Mom. You did great.” “Tentu saja. Jika aku menggagalkan ini, aku akan sangat malu. Ini masakan yang sudah sangat sering kita buat.” Ada rasa bangga yang keluar dari bibir Ibu. Aku hanya memberikannya senyum lebar sambil terus melahap masakan enak ini. “Cordelia . . .” Ibu memegang tanganku di tengah makan. “Ada apa lagi, Mom?” Aku mencoba untuk tidak terdengar kesal dan frustasi. “Kita kembali lagi ke masalah yang sama?” “Tidak . . .” Kali ini Ibu hanya membuang napas, mengalah. “Berjanji padaku, kau akan selalu hati-hati.” “I promise, Mom.” *** Janji yang aku buat untuk Ibu tidak berlangsung lama. Beberapa hari setelahnya, aku diajak oleh Hunter pergi ke suatu tempat. Dia bilang, dia akan menjelaskan padaku tentang apa arti kata yang dia lontarkan padaku di pagi hari. Aku yang memang kelewat penasaran, dan heran kenapa seorang Hunter harus sepusing dan susah begini untuk menjelaskan satu kata saja, ikut dengan suka rela. Aku tidak menyangka kalau jalan kami akan mendadak berubah arah, dan dia secara tidak langsung membawa aku masuk ke dalam hutan yang gelap dan rimba. Aku mulai tidak merasa enak. Keringat dingin berjatuhan di keningku. Aku merasa dingin, menggigil, dan mati rasa. Tapi anehnya, tubuhku terus berkeringat bukan main. Aku melihat punggung Hunter yang berjalan dengan ringan dan santai, seperti kami tidak baru saja memasuki daerah hutan yang dalam. Kabut mulai terlihat dari bawah kaki kami begitu pepohonan yang rindang mulai terlihat. Aku ingin meraih Hunter, tapi entah mengapa aku tidak bisa berkata apa-apa. Lidahku terasa kaku. Bibirku terus menutup. Tubuhku merasa tak enak, instingku mengatakan untuk berputar dan kembali ke tempat yang familiar, tapi lagi, entah mengapa dua kakiku terus berjalan mengikuti langkah Hunter. Ponsel aku bergetar di kantung, membuatku hampir saja melompat tinggi jika bukan karena perasaan aneh yang menjalar di seluruh tubuhku untuk tetap berjalan mengikuti Hunter. Setiap gerak tubuhku seperti sudah ditentukan, namun dengan sisa tenaga aku mengeluarkan benda kecil itu dari saku, lalu menjawab dengan satu gesekan tangan yang aku bisa. “Halo?” sapaku untu siapa saja yang berada di seberang sana. Namun, begitu aku mendengar suaranya, suara yang sudah sangat familiar di telingaku, rasanya seluruh darah di tubuhku membeku. Hunter berkata dari seberang telepon, “Cordelia, di mana kau?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN