CHAPTER 17

2264 Kata
AKU TIDAK PERNAH MERASA SETAKUT INI di seluruh hidupku. Biasanya aku paling berani dengan apa pun. Yah, bukan masalah yang asli atau bahaya ‘sih. Tapi aku, Cordelia Smith itu pecinta cerita horor, thriller, misteri, apa pun itu kau sebut saja. Supernatural atau tidak supernatural. Hal-hal yang berbau mistis dan magis. Setiap cerita tentang pembunuhan berantai atau psikopat atau kriminal kelas atas. Aku tidak pernah merasa merinding atau takut atau setidaknya, menutup mata dari adegan tersebut. Kadang, ada beberapa kasus kriminal yang memang bisa membuat aku cukup merinding dan terus memikirkan kasus tersebut, hingga aku tidak bisa tidur, atau dibuat menjadi mati penasaran dengan siapa pelaku kriminal tersebut. Seperti misalnya kasus yang masih belum terpecahkan The Black Dahlia, atau kasus di gunung Ural, Rusia yang bernama Dyatlov Pass Incident. Dua kasus itu cukup membuat aku berpikir dan takut, namun tidak setakut sekarang, saat aku mendengar suara Hunter begitu jelas dari seberang telepon. Suaranya seperti yang aku ingat. Aku sudah sangat familiar dengan vokalnya sampai aku bisa mengenal dia bahkan jika kami sedang dalam kerumunan orang. Suaranya yang berat dan serak, serta terkadang membuat lutut aku lemas karena terdengar seksi, kali ini membuat aku merinding setengah mati. “Cordelian, ada di mana kau?” Napasku tercekat. Aku tidak bisa mengatakan apa-apa. Rasanya seluruh tubuhku diatur oleh suatu kekuatan yang tak bisa aku lihat. Aku bahkan tidak bisa menoleh, apalagi jika aku harus lari dari sini. Dari orang yang masih membelakangiku. Orang yang aku pikir Hunter. Apa dia Hunter? Atau Hunter yang sekarang sedang ada di telepon? Siapa yang membohongiku? Yang mana yang Hunter asli? “Cordelia? Jawab aku. Aku mencarimu sedari tadi di seluruh pelosok sekolah tapi kau tidak ada. Kata anak yang ada di kelas terakhirmu, kau keluar dari kelar dengan terburu-buru. Apa kau ada masalah?” suara di seberang sana terus saja berbicara, semakin membuat aku tidak dapat bernapas dengan normal. Aku bisa merasakan bibirku bergetar, entah karena rasa takut, atau karena aku ingin berusaha untuk berbicara dan bertanya dan berteriak sekencang mungkin. Mataku terus tertuju pada sosok di hadapanku, sampai akhirnya orang itu berhenti. Rasanya jantungku juga ikut berhenti saat itu juga. Jika aku mati, aku tidak akan mengetahuinya. Tubuh itu berdiri di tempat untuk beberapa saat. Dia tidak bergerak, sama seperti aku. Tapi aku yakin, dia berhenti bukan karena sedang ketakutan setengah mati, tapi karena dia bingung kenapa aku tidak lagi mengikuti langkahnya yang besar-besar. Mungkin dia kesal, karena aku tidak menurut. Atau dia kesal, karena aku selalu menyusahkan seperti biasa. Lagi pula, dia Hunter yang selalu jengkel. Dia Hunter Hawkwolf, ‘kan? “Cordelia?” Mataku membesar, dua atau tiga atau mungkin lebih dari empat kali lipat dari biasanya. Jika ada orang yang mengatai mataku sipit, dia akan menyesal saat melihat mataku sekarang. Kali ini, bukan lagi Hunter yang di seberang telepon yang berbicara, melainkan Hunter yang sedang berdiri di depanku. Aku ingin berteriak saking takutnya. Tapi lagi, bibirku masih kaku. Tubuhku tidak bisa bergerak. Aku mati rasa. “Cordelia, kenapa kau berhenti?” Anehnya, dia tidak berbalik badan. Dia tidak menoleh padaku, atau melihat atas alasan apa aku berhenti dan tidak mengikutinya lagi. Aku sedikit bersyukur. Ada ketakutan yang tiada tara di hatiku kalau ketika dia menoleh ke belakang, wajah Hunter bukan lagi yang aku lihat, melainkan sebuah wajah asing yang mungkin sangat menakutkan. “Cordelia?” suara lelaki di hadapank menggema ke seluruh hutan. Pepohonan di sekitar kami bergoyang seraya angin berhilir dengan cukup kuat. Aku menggigil, karena ngeri dan karena dingin yang mendadak menusuk tulang. “Cordelia, apa kau tidak mendengarkan aku?” Aku dengar. Aku dengar, sialan! Tapi bagaimana bisa aku mengatakan sesuatu saat bibirku saja tidak bisa bergerak begini? Bagaimana aku bisa menjawabmu jika aku tidak bisa menemuka suaraku? Aku juga ingin tahu kau siapa! Kenapa kau membawa kita ke sini? Untuk apa semua ini? “Cordelia Smith, jawab aku sekarang.” Suara dari seberang telepon hampir saja membuat aku mengerang kesal, tapi aku ingat kalau aku tidak bisa mengeluarkan bunyi apa pun. Tubuhku masih membeku, dengan satu tangan membeku di sebelah telingaku. Apa dia yang membuat aku tidak bisa bergerak begini? Apa dia yang membuat aku kaku? Tapi bagaimana bisa? Bagaimana caranya kau membuat orang tidak dapat bergerak? Dengan cara apa? Siapa dia? Yang mana Hunter yang asli? “Cordelia, jika kau sedang berada di tengah bahaya, berikan aku sinyal apa saja,” Hunter berbicara dengan nada pelan, tapi mematikan. Ada ancaman dari nada bicaranya. Aku ingin sekali menjerit padanya, tapi apa daya, lidahku sudah mati rasa. “Bersuara, Cordelia. Apa pun itu.” Hunter yang di depanku masih diam. Tidak melakukan apa pun. Aku bahkan bisa melihat bahunya yang turun dan naik, seperti bernapas seperti orang normal. Sedangkan aku tidak bisa menarik napas seperti pada umumnya. Leherku masih tercekat. Tapi, jika aku bisa melihat dia bernapas, itu berarti dia orang normal, ‘kan? Dia bukan setan atau iblis atau semacamnya? Aku bukan sedang dibawa ke alam baka atau sejenisnya, ‘kan? Ini bukan . . . neraka, ‘kan? Aku merinding lagi. Menelan ludah, aku berusaha sekuat tenaga untuk memberikan sinyal pada Hunter yang di seberang telepon. Walaupun aku masih belum juga yakin yang mana Hunter yang asli, tapi setidaknya, Hunter yang sedang berada di sambungan telepon denganku menawarkan sebuah bantuan. Suara bising sekolah terdengar dari balik sambungan, dan aku yakin, Hunter yang ini pasti tidak ingin memberikan bahaya bagi diriku. Sebuah progres terjadi, saat aku sedang berusaha sekuat tenaga untuk membuka mulut, mataku yang terpejam. Yah, bukan hasil yang cukup, ‘sih. Tapi itu berarti, setidaknya tubuhku sudah bisa bergerak. Aku kedipkan mataku berulang-ulang, sampai akhirnya aku bisa membuka bibirku. Rasanya aku ingin melompat bahagia. Dengan cepat, aku berusaha untuk bersuara, tapi seperti orang bisu, tak ada yang keluar. Aku frustasi. Aku ingin menangis sejadi-jadinya. Mataku mengeluarkan air mata yang mengalir di pipiku. Rasa teror yang mematikan mulai membuat aku ingin mati. Dadaku terasa sesak, hatiku sakit karena takut dan sedih. Hunter yang di depanku mendadak berkacak pinggang, lalu bersiul pelan. “Cordelia, kau ada di mana?” Hunter terdengar cemas. Sangat cemas. Ada nada khawatir dari cara bicaranya. Dia sudah mulai gelisah dan tidak tenang. Sama. Aku juga, tapi aku tidak bisa melakukan apa-apa! Lelaki di hadapanku bersiul lebih kencang, lalu tertawa kecil. Bunyinya membuat aku meringis di dalam hati. Suara tawanya menggema. Tapi, yang membuat rasanya seluruh darah di tubuhku habis, bukan karena gema suara itu. Melainkan karena suara tawanya terdengar seperti suara tawa anak kecil yang mengejek. Aku ingin mati. Sekarang juga. “Cordelia, itu . . . barusan itu . . .” Dia tidak bisa menyelesaikan kalimatnya. Aku rasa dia mendengar suara tawa dan siulan tadi. Aku tidak heran, karena suaranya begitu lantang dan menggema. Aku ingin berkata iya! Iya! Selamatkan aku! Tapi, mengangguk saja aku tidak bisa. “Cordelia, tolong, tolong berusahalah! Beritahu aku, kau sedang di mana!” Aku berteriak dan berteriak dan berteriak lagi, hingga akhirnya suara nyaring dan penuh teror keluar dari bibirku. “CORDELIA!” “HUTAN! AKU DI HUTAN BELAKANG SEKOLAH!” Aku tidak lagi mendengar jawaban dari Hunter. Napasku kini sudah kembali, dan aku menghirup udara segar dengan serakah, menarik-narik udara agar dadaku terasa nyaman dan lega kembali. Tapi tidak, aku tidak bisa lega dengan lama. Karena begitu aku melihat ke depan, bukan lagi Hunter—atau sosok Hunter—yang berdiri di sana, menghadap ke arah aku berdiri. Seorang gadis tidak jauh dari sepuluh, atau mungkin paling tinggi dua belas tahun, sedang balik menatap aku yang memandangnya dengan tak percaya. Gadis itu mengenakan gaun merah yang panjang, menutupi tubuhnya dari atas hingga ke bawah. Dari pantulan cahaya matahari senja yang sedikit tertutupi pohon rindag, bajunya yang berwarna merah itu sekilas terlihat seperti darah yang mengalir seperti air. Aku menelan ludah, saat senyum lebar terukir di wajahnya. Rambutnya yang berwarna cokelat terang terbawa angin, dan samar-samar aku mencium wangi bunga melati yang menusuk indera penciuman aku. Apa lagi ini? Apa yang sebenarnya terjadi? Rasa takut yang terus membuat aku tak dapat bergerak—atau mungkin dia yang membuat aku tidak dapat bergerak—sangat tidak membantu. “Cordelia . . .” Aku hanya bisa menggigit bibirku agar tidak bergetar dan terlihat menyedihkan. Aku menahan isak tangis yang sudah terancam keluar. “Cordelia . . .” Mungkin jika aku tidak menggubrisnya, dia akan pergi dengan sendirinya? Kau tahu ‘kan peribahasa itu? Apa namanya? If you ignore it long enough, maybe it will go away . . . atau itu bukan peribahasa dan hanya perumpaan saja? Ah sudahlah, aku memutuskan untuk tidak menggubrisnya saja! “Cordelia . . .” Kali ini dia bernyanyi, mendengdangkan namaku dengan usil. Suara tawa itu terdengar lagi, tawa yang khas seperti di dalam film horor. Aku menutup mataku, menolak untuk percaya kalau sesuatu yang sangat aneh begini bisa terjadi padaku. “Cordelia . . .” Padahal aku sudah berjanji pada Ibu agar tidak terluka. Aku sudah bilang padanya kalau tidak akan ada yang terajdi padaku. Aku sudah meyakinkan Ibu untuk tidak khawatir, kalau tidak akan ada yang mau melukai aku. “Cordelia . . . “ Lagi pula, memangnya siapa aku? Tidak ada yang bisa diambil dari melukai aku. Tidak ada yang bisa mereka manfaatkan dari seorang Cordelia Smith. Aku hanya gadis biasa yang baru saja pindah dari luar kota. “Cordelia . . . “ Kenapa juga harus aku? “Cordelia!” Aku menjerit dan terjatuh saking kagetnya. Seluruh tubuhku lemas. Kaki aku yang kecil dan mungil tidak lagi bisa menopang tubuhku. Aku terjatuh di rerumputan, isak tangis kini sudah lepas dengan bebasnya. Aku menatap gadis kecil tadi dengan takut, ngeri, semuanya. Suaranya bukan lagi suara anak kecil, melainkan suara laki-laki dewasa yang terdengar berat dan tajam, seperti suara iblis mengerikan.. “Cordelia, jika orang memanggil, kau harus menjawab!” Aku hanya bisa menggigil dan meringis. “Aku bilang jawab!” Aku tidak bisa bersuara. “Jawab!” Saat aku membuka mulut, hanya isakan tangis yang keluar. “JAWAB CORDELIA, JAWAB!” “Kalau dia tidak ingin jawab, ya dia tidak ingin menjawab.” Suara itu! Aku menoleh ke samping, melewati tubuh gadis kecil yang berdiri tegak di atasku. Hunter sedang berdiri menatap kami, ekspresi mukanya sangat membunuh. Aku bergidik ngeri sekali lagi. Hunter terlihat begitu mengerikan dengan ekspresi wajah yang seperti itu. Dua tangannya dimasukkan ke dalam saku, sementara tubuhnya hanya menopang pada satu kaki, seperti apa yang sedang terjadi ini adalah mainan anak-anak. Bukan bahaya besar. Bukan sesuatu yang tidak dapat dijelaskan, seperti kenapa gadis kecil ini bisa terlihat seperti Hunter, atau bagaimana bisa tubuh semungil itu mengeluarkan suara iblis menakutkan. Hunter mengangkat satu alis, gaya khas yang selalu dia lakukan. Gadis kecil tadi mengebaskan rambut cokelat terangnya, sambil memutar kedua bola matanya karena kesal dan jengkel. Ada yang sudah berani mengganggunya, kira-kira begitu maksud dari raut wajahnya. “Kau.” “Senang rasanya kau tahu siapa aku, tapi bagaimana ini? Aku tidak tahu kau sama sekali. Maaf, bukannya aku bermaksud jahat atau tidak sopan, atau sebagainya lah. Tapi aku tidak tertarik untuk mengenal siapa yang tidak penting bagi aku dan hidupku.” “Beraninya . . .” “Beraninya apa?” “Berani sekali kau tidak mengenal siapa aku!” Hunter memberikan tanda damai, wajahnya tak bersalah, malah terlihat bosan dan datar. Tapi aku tahu, dari balik itu semua, Hunter sudah termakan api amarah. “Maaf, seperti yang aku bilang, aku tidak bermaksud untuk jahat tau tidak sopan, dan sebagainya. Aku hanya tidak mengenal siapa kau. Mungkin namamu masih kurang terkenal.” Gadis kecil di hadapanku tertawa. Mengejek. Penuh hina. “Aneh . . . “ “Aneh kenapa? Tidak aneh. Jika kau kurang terkenal, sudah pasti tidak banyak orang yang akan mengenal siapa kau, gadis kecil.” “Begitu?” Hunter mengangguk. “Hm . . . benar juga. Bagaimana pun juga, mungkin hanya Damon yang tahu siapa aku.” Mendadak, seluruh tubuh Hunter mengeras. Rahangnya mengatup rapat. Dia mencibir, bibirnya terangat naik di satu ujung. “You . . . “ Hunter meludah di depannya. Gadis kecil tadi hanya tertawa dan tertawa dan tertawa lagi, sampai dia membungkuk, terpingkal-pingkal. Jika aku tidak mengingat kalau dia ini makhluk aneh yang belum jelas, makhluk supernatural yang bisa meniru wajah Hunter, mengeluarkan suara iblis, dan terlihat seperti gadis kecil polos, aku pasti akan menghajarnya habis-habisan. Dia buru-buru berhenti, terkekeh geli sekali lagi, lalu mengangkat tanda damai seperti Hunter tadi, mengolok perbuatannya. “Maaf, aku tidak bermaksud jahat atau tidak sopan, dan sebagainya. Aku hanya tidak percaya, bisa-bisanya kau mengatakan kalau kau tidak mengenal siapa aku.” “Hunter . . . ?” suaraku terdengar lirih dan lemah, sangat menyedihkan. Mereka berdua menoleh padaku, tatapan si gadis kecil mematikan, menjanjikan kalau dia akan melukai aku, sedangkan Hunter menatapku dengan cemas. Dia menggeleng, menandakan agar aku diam dan tak ikut campur. “Hunter . . . “ Suara gadis kecil itu terdengar lagi, mengolok nama Hunter, seperti yang dia lakukan pada namaku. “Hunter . . . “ “Diam kau.” “Oh, Hunter Hawkwolf . . . bagaimana kabar Damon?” “DIAM!” Gadis tadi hanya tertawa keras, sangat lantang, menggema ke seluruh hutan dan penjurunya. Hunter menggeram, suara geramannya aneh dan sangat tidak manusiawi. Aku merasakan bulu kuduk di tubuhku berdiri semua. Lalu, tanpa aba-aba, gadis tadi balik lagi ke arahnya. Dia tersenyum sinis. Matanya berbinar menatapku, seperti baru saja melihat hidangan lezat yang siap dia santap kapan saja. Teriakanku terdengar kecil dan lemah saat dia menerjang ke arahku, gigi taring terlihat jelas dari mulutnya. Aku tidak tahu apa-apa lagi, tapi hal terakhir yang aku dengar adalah suara raungan yang menggelegar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN