CHAPTER 18

2250 Kata
SEMUANYA GELAP. Ke mana pun aku mencoba untuk melihat, segalanya hanya berwarna hitam. Tak ada cahaya sama sekali. Butuh waktu beberapa bagi aku untuk menyadari kalau ternyata dua mataku tertutup rapat. Dengan panik, aku mencoba unttuk membuka mata dan melihat sekeliling aku. Tapi nihil. Usahaku sia-sia. Dua mata ini tak bisa dibuka. Aku mulai panik, rasanya seperti ditelah oleh lubang hitam yang dalam. Semuanya terasa hampa dan kosong. Aku merasakan kesepian yang begitu keras. Telingaku tak bisa mendengar apa-apa. Hanya bunyi suara detak jantungku yang bisa aku tangkap. Aku mencoba untuk meraba atau meraih atau memegang apa pun, tapi rupanya tubuhku juga tak bisa digerakkan. Aku benar-benar membeku seperti patung yang tak bisa berjalan. Sampai akhirnya aku mendengar sayup-sayup suara mesin. Seperti bunyi dentingan yang membuat aku meringis di dalam hati. Aku mendengar kursi yang digeret. Lalu aku mendengar suara helaan napas dari seseorang. Aku ingin berteriak, menjerit, meraih atensi siapa pun itu yang sedang berada dalam jarak dekat dengan aku. Tapi tidak bisa. Aku masih terdiam. Aku hanya bisa melayang di dalam kegelapan. Gelap. Semuanya gelap. Lalu aku kehilangan kesadaranku lagi. *** Kali ini bukan hanya suara helaan napas, tapi aku juga bisa merasakan kalau ada beberapa orang di dekatku, suara mereka terdengar pelan, namun aku bisa menangkap apa yang mereka bicarakan. Salah satu dari mereka mengerang kesal, sementara yang lain hanya bisa pasrah dan berdecak kesal. “Apa yang kau maksud dengan itu?” tanya suara yang terdengar kesal dan jengkel. Lawan bicaranya membuang napas panjang. Aku bisa menebak kalau dia sudah mulai menyerah dan putus asa. “Aku hanya mengatakan, mungkin belum saatnya.” “Tidak,” yang satunya lagi tetap bersikeras. Aku mendengar dia bersandar di sebuah kursi yang tidak jauh dari aku. “Aku rasa sudah saatnya bagi dia untuk segera tahu yang sebenarnya.” “Lalu, bagaimana dengan Ibunya?” Mom? Ada apa dengan Ibu? “Aku tahu siapa dia,” jawab si pemilik suara yang jengkel. “Dia tahu kita siapa.” “Apa maksudmu?” “Maksudku, dia tahu tentang kota ini. Dia tahu betul siapa kita. Apa rahasia kita. Dia tahu segalanya,” jelasnya lebih panjang. “Yang ingin aku bilang adalah, dia salah satu dari kita.” “Tidak mungkin.” “Mungkin tidak,” kali ini si pemilik suara kesal setuju dengan apa yang lawan bicaranya katakan. “Mungkin dia hanya darah setengah. Atau mungkin, miliknya tak pernah bangun.” “Atau ditinggalkan . . .” “Jika ditinggalkan, ada sesuatu yang lebih besar lagi yang terjadi di sini.” Aku tidak mendengar apa-apa lagi. Mereka berdua terdiam, hanya suara bunyi mesin yang sama seperti yang aku dengar pertama kali. Setelah beberapa saat, salah satu dari mereka mendesah dengan pasrah. “Baiklah . . .” “Aku mengatakan ini padamu agar aku bisa mendengar apa pendapatmu. Bukan harus melihat kau begitu mudah setuju dengan aku.” “Mau bagaimana lagi? Aku sudah menjelaskan pun, kau masih tidak mau mendengar. Bukannya aku menurut denganmu, tapi aku rasa, kau yang paling tahu harus melakukan apa. Pada akhirnya, keputusan dan perasaanmu sendiri yang paling penting.” Lelaki yang tadi kesal dan tak tahu harus bagaimana, sekarang terdengar sudah kehabisan kata-kata. Aku berusaha untuk membuka mataku untuk yang kesekian kalinya, tapi usahaku sia-sia. Aku masih saja berada di ambang kesadaran dan kegelapan. Segalanya masih tidak berbentuk, tidak ada raga. Aku masih melayang di suatu dimensi yang semuanya hitam. Aku berusaha berteriak, tapi tidak ada suara yang keluar. Lagi-lagi, aku kembali kehilangan kesadaranku. *** Untuk yang ke tiga kalinya, aku kembali tersadar. Lagi, aku hanya melayang di kegelapan. Tanpa arah, tanpa kejelasan apa pun. Dan lagi, yang bisa aku dengar hanya sebuah suara sayup dari bunyi mesin rumah sakit—setidaknya itu yang aku pikirkan—dan sebuah suara helaan napas dari seseorang. Kali ini sepertinya dia sendiri. Lelaki yang sebelumnya ada bersama dia, kini sudah tidak ada lagi. Aku berusaha untuk menggapai dan meraih dan memegang siapa saja orang ini, tapi aku masih tidak bisa. Aku tetap berada diambang antara kesadaran dan ketidaksadaran. “Cordelia . . .” dia berbisik pelan dan lirih. Nada bicaranya sangat terdengar lelah. Aku mencoba mengingat suara siapa itu. Sekilas, vokal tersebut sangat familiar di telingaku. Pikiranku mencoba menerka siapa sosok dibalik pemilik suara yang berat dan serak itu, tapi nihil. “Cordelia . . . “ Lagi-lagi dia menyebut dan memanggil namaku dengan lirih. Aku ingin memeluknya. Ingin memegangnya di dalam dekapan tubuhku. Aku ingin meyakinkan siapa pun dia kalau aku baik-baik saja, aku tidak terluka, dan siapa pun orang itu tidak perlu cemas dengan keselamatan aku. Aku ingin memberitahunya kalau aku ada di sini. Ini aku. Aku Cordelia . . . “Cordelia, tolong . . . bangunlah.” Ini aku! Aku bangun! Entah karena apa, aku merasa sangat ingin membuat siapa pun orang itu untuk berhenti khawatir. Berhenti merasa cemas. Aku ingin dia merasa tenang. Aku ingin dia tidak lagi sedih dan berhenti bersuara dengan lirih. Karena itu, aku berusaha sekuat tenaga untuk membuka mata. Aku meraih dan meraih dan meraih lagi, mencari dari alam bawah sadarku, kesadaran yang ada di sana, tapi tak bisa aku genggam. “Cordelia . . . aku minta maaf. Seharusnya aku ada di sana, tapi aku terlalu lama. Aku terlambat. Aku tidak bisa menolong kau dengan tepat waktu. Aku minta maaf. Seharusnya ini tidak terjadi padamu. Cordelia, aku mohon bangunlah . . .” Aku juga ingin bangun! Tapi apa daya, kesadaran itu terus melayang di atas tubuhku, mengolok dan mengejek, mengatai aku yang lemah. Aku yang kembali tertelan dalam kegelapan dan kehilangan kesadaran. *** Hari ini sesuatu yang berbeda terjadi. Begitu aku merasakan setitik kesadaran itu, aku melihat cahaya yang terang. Aku melihat langit-langit yang putih bersih. Aku melihat tirai putih seperti tulang. Aku melihat cairan yang berada di dalam sebuah infus, mengalir melalui pipa kecil yang terhubung ke pergalangan tanganku. Aku melihat tubuhku yang terbaring lemah. Selimut tebal berwarna putih kecokelatan menutupi aku dari dinginnya ruangan. Bunyi mesin yang ternyata tersambung di dadaku, masih terdengar jelas. Aku meringis melihat begitu banyak kabel yang terhubung padaku. Butuh beberapa saat bagiku untuk tersadar, kalau aku sedang terbaring di tempat tidur rumah sakit. Segalanya begitu rapih dan bau antiseptik yang menusuk. Namun, saat aku melihat ke sekeliling, tidak ada orang lain lagi yang terbaring sama denganku. Hanya ada aku di sini, satu tempat tidur, dan sebuah pintu di pojok ruangan. Aku mengerutkan alisku saat melihat kalau ini tidak seperti kamar rumah sakit pada umumnya. Aku berada di sebuah kamar yang privat dan sendirian. Saat aku mencoba berpikir dan mengingat apa yang terjadi, mendadak bunyi mesin yang terhubung dengan tubuhku mengeras, mengeluarkan bunyi yang berputar dengan cepat, seperti mendadak menangkap sesuatu yang berubah. Aku merasakan detak jantungku berdebar kencang. Aku mengingat hutan. Hunter membawaku ke sana untuk menjelaskan apa yang aku tanyakan padanya beberapa hari yang lalu. Aku mengingat merasa aneh karena kami semakin dalam masuk ke hutang yang terlarang. Aku mengingat mendadak tidak dapat bergerak. Aku mengingat mengangkat telepon dan mendengar suara berat nan serak dari Hunter. Orang yang seharusnya berada di depanku, di hadapan aku yang sedang berdiri mematung, adalah orang yang sama di sambungan teleponku. Mendadak, ada dua Hunter yang saling memanggil namaku. Aku tidak bisa bergerak, dan tahu-tahu saja, Hunter—aku menggelengkan kepalaku (yang ngomong-ngomong membuat aku sakit kepala dan meringis kesakitan)—aku tidak ingin mengingat kejadian itu. Karena satu alasan saja, tidak mungkin Hunter bisa berada di dua tempat sekaligus ‘kan? Tidak mungkin Hunter . . . Hunter yang berada di depanku berubah menjadi . . . gadis kecil? Rasanya tubuhku mulai mati rasa lagi, tapi dengan segenap tenaga yang aku punya, aku menepis perasaan aneh itu. Aku membuang jauh memori itu dari dalam pikiranku. Aku menolak menerima kenyataan aneh yang baru saja aku alami. Itu tidak mungkin. Tidak ada hal supernatural aneh di kota ini ‘kan? Aku tidak mungkin menjadi salah satu orang yang cukup tidak beruntung bisa berakhir dengan sebuah makhluk mengerikan dan bisa berubah wujud—walaupun bentuk aslinya hanya seorang gadis kecil (tapi ‘kan tetap saja, dia gadis kecil yang bisa berubah wujud!). Karena teringat Hunter, aku juga mengingat kalau rumahnya yang besar seperti sebuah istana dari jaman kerajaan Eropa itu memiliki fasilitas rumah sakit sendiri. Tapi waktu itu, aku bersama dengan Dean—orang yang sampai saat ini masih tidak jelas apa salahnya, entah dia seseorang yang telah berkhianat, atau aku yang sudah salah berpikir yang buruk tentangnya. Saat ini, aku hanya sendiri, tanpa ada tempat tidur lain di sebalahku. Aku memaksa diriku untuk bangun, menjadi posisi duduk dengan susah payah. Rasanya dadaku sangat berat, seperti baru saja diterkam oleh sesuatu yang berat dan ganas. Aku merasa nyeri di punggung dan tulang kakiku. Sesuatu memberitahuku kalau aku tidak ingin melihat seperti apa bentuk pergelangan kaki yang terasa sangat perih itu. Setelah aku sudah berhasil duduk, aku menelan ludah dan memikirkan bagaimana caranya memanggil siapa pun—dan jika aku berada di situasi yang aman, bukan terjebak bersama . . . gadis kecil tadi. Tapi, belum saja aku melakukan sesuatu, pintu di ujung ruangan terbuka lebar, hingga membentur tembok. Aku terlonjak, tubuhku melompat di tempat tidur. Rasa teror langsung memenuhi seluruh tubuhku. Aku berpikir tentang segala skenario buruk yang bisa menimpa diriku. Mulai dari seorang psikopat yang berdarah dingin telah mengurung aku di ruangan aneh ini, sampai iblis jahata yang bisa berubah bentu sudah menghabisi nyawaku, dan sekarang ini hanya tempat para nyawa berkumpul sebelum mereka menyeberang ke dunia yang lain. Tapi tidak. Aku kembali bernapas lega dan bahuku melemah saat aku melihat sosok yang begitu aku kenal. Seseorang sudah familiar dan menghabiskan banyak waktu dengan aku dan yang lain. Hunter menghambur ke arahku, tubuhnya menegang. Rahangnya mengatup. Aku tidak sempat mengatakan apa-apa saat dia sudah lebih dulu memegang kedua bahuku dengan erat. Mulutnya terbuka, dan keringat berjatuhan dari pelipisnya. “Cordelia! Cordelia!” tangannya kali ini berubah, dari memegang bahuku, naik ke atas. Wajahku dia usap dengan hati-hati. “Cordelia . . . Cordelia . . . kau sudah bangun. Kau sudah bangun.” Aku mengangkat alisku tinggi. Ini bukan reaksi yang wajar. Iya kan? Tidak mungkin dia sebegitu khawatirnya dengan aku dan keadaanku? Hunter melepas wajahku. “Cordelia . . . apa kau baik-baik saja? Apa yang terjadi?” “Apa kau baru saja berlari?” “Apa?” “Kau baru saja berlari begitu cepat hingga napasmu berantakan dan keningku penuh dengan keringat begitu? Hanya untuk melihat dan memeriksa keadaan aku?” Hunter melihat aku seperti aku baru saja mengatakan hal yang aneh. “Tentu saja.” Dia terdengar sangat yakin dan percaya diri. Aku mendadak merasa tersipu. Dengan sigap, aku menyembunyikan wajahku darinya. Dia melirik mesin yang terhubung dengan tubuhku, lalu kembali bertanya, “Apa kau baik-baik saja?” “Iya . . . aku rasa begitu.” “Lalu kenapa mesinnya menangkap pegerarakan yang bahaya?” “Oh.” Aku mengingat mesin tadi yang mendadak membunyikan suara yang nyaring dan cepat. “Aku hanya memikirkan tentang . . . kejadian tadi.” “Kejadian apa?” “Yang di hutan.” “Oh.” Hunter menjadi tak berselera. Raut mukanya tidak bisa aku baca, tapi dari gerak geriknya yang terlihat aneh, aku bisa mengetahui dia sedikit panik dan salah tingkah. “Itu . . . aku tidak-” “Hunter, jika kau mengatakan kalau kau tidak bisa menjelaskannya sekarang dan butuh tempat lain, aku akan benar-benar marah padamu.” “Cordelia.“ “Tidak. Aku tidak ingin mendengarnya . . . aku hanya butuh penjelasan, Hunter Hawkwolf! Sekarang!” “Kau sedang lemah. Kau baru saja tersadar, Cordelia. Apa kau pikir kau bisa menerima faktanya saat ini?” “Tentu saja,” aku bersikeras, tidak mundur sama sekali. Semakin Hunter menjauh dan menolak dan menyembunyikan apa yang sedang terjadi padaku, semakin aku penasaran dan ingin tahu apa yang dia sembunyikan itu. Aku ingin tahu segalanya. “Apa pun itu, aku bisa menanganinya.” Hunter mendesah kesal. Dia membasahi bibirnya—sesuatu yang biasanya membuat lututku lemas—dan duduk di kursi samping tempat tidurku. Untuk beberapa saat, dia terdiam sambil melihat aku yang duduk, menunggu penjelasannya dengan sabar. Lalu Hunter membuka mulutnya. “Aku tidak tahu harus mulai dari mana.” “Hunter . . . seriously? Di mana saja! Mulai dari kenapa kau memanggilku mate, dari kenapa kau selalu bertingkah aneh dan merasa seperti kau memiliki aku, siapa itu Dean, kenapa dia begitu bahaya bagi kalian, siapa yang ada di hutan? Siapa dia? Gadis kecil yang bisa berubah menjadi wajahmu itu?” “OK, satu-satu . . .” “Baiklah, cepat katakan. Dari yang paling utama. Masalah dari segalanya. Sumber kenapa semua keanehan ini terjadi, apa pun itu. Aku bisa gila.” “Baiklah . . . jika itu yang kau mau.” Aku mengangguk. “OK, aku siap.” “Pertama, aku ingin kau berjanji padaku.” Kata Hunter pelan. “Berjanji apa?” “Kau harus berjanji kalau kau mau mendengarkan segalanya sampai habis. Kau tidak akan menghakimi aku. Kau tidak akan lari. Kau tidak akan . . . takut pada diriku.” ‘Tentu saja . . . “ Jawaban dari aku itu terdengar tidak yakin dan tidak percaya diri. “Untuk apa aku takut padamu?” Hunter hanya tersenyum tipis. “Itu selalu terjadi.” “Aku berjanji hal itu tidak akan terjadi. Ayolah, katakan yang sebenarnya.” “Baiklah.” Hunter menelan ludah, lalu mengunci atensi matanya pada mataku. “Cordelia . . . aku ini seorang manusia serigala.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN