CHAPTER 19

2414 Kata
TAWAKU LEPAS SEBELUM aku bisa menahannya. Walaupun perut dan kepala dan punggung tubuhku terasa nyeri dan sakit semua, aku tetap tertawa keras. Kepalaku terasa akan pecah saking besarnya. Aku merasakan air mata yang keluar dari kelopak mataku. Manusia serigala? Siapa yang ingin dia bodohi? Lagi pula, memangnya dia pikir, dengan begini dia terlihat lucu? Aku tahu aku seharusnya marah karena dia telah meremehkan permintaan aku yang meminta penjelasan, tapi aku tidak bisa menahan untuk tertawa lebar. Hunter memilih untuk mengatakan kalau dia manusia serigala. Kenapa tidak yang lain? Seorang agen rahasia misalnya? Memangnya dia pikir aku bisa tertipu dengan mudah? Atau dia pikir, aku akan merasa terhibur dengan candaan itu? Well, aku memang sedang tertawa sekarang. Tapi tetap saja, aku kesal karena dia sudah melucu di dalam keadaan yang sedang serius ini. Dan aku kesal karena aku sudah percaya padanya. Saat tawaku terhenti, Hunter menaikkan satu alisnya—gaya khas yang selalu dia lakukan saat sedang menantang sesuatu, kesal, atau marah (yang by the way, dia selalu marah). Aku menatap lelaki itu sambil berusaha mengatur kembali napasku yang terengah. Aku memegang perutku sambil meringis, lalu terkekeh geli lagi. Rasa sakit itu terlupakan begitu aku mengingat wajah polos Hunter yang gugup dan salah tingkah, sambil mendongak dan menatapku. “Cordelia . . . aku ini seorang manusia serigala.” Begitu katanya. Aku teringat pesannya sebelum dia memutuskan untuk memberitahu aku tentang penjelasan segalanya. Jangan takut, ya. Jangan lari, ya. Jangan menghakimi, ya. Aku berjanji harus mendengarkan segalanya sampai akhir. Apa ini maksudnya? Apa dia mencoba mengingatkan aku kalau dia akan bercanda yng kelewatana? Maksudku, alasan macam apa itu manusia serigala? Memangnya dia pikir ini buku laris manis dari Stephanie Meyer? Dia pikir ini Twilight? Jangan ngaco. Setelah aku benar-benar sudah kembali normal, dengan posisi duduk sambil memegang perut, aku menatap Hunter lekat. “Kau pikir kau lucu?” Sekali lagi, yah, aku tahu aku tertawa, tapi tetap saja, itu sangat menjengkelkan. Fakta bahwa dia sudah bercanda di saat begini—ditambah bercandaannya yang sangat tidak masuk akal, memangnya siapa hari begini yang melucu dengan mengatakan kalau mereka manusia serigala?—membuat aku sedikit tersinggung. Hunter menelengkan kepalanya. “Kau lupa apa yang aku bilang tadi?” “Apa?” “Yang kau janjikan padaku?” katanya sambil melipat dua tangan di d**a. Aku memikirkan pertanyaannya, lalu mengangguk. “Dengarkan segalanya sampai akhir. Jangan lari. Jangan takut. Dan . . . jangan menghakimi. Itu?” Hunter mengangguk. “Iya benar. Lalu, kau sadar apa yang sedang kau lakukan sekarang ini?” Aku tahu apa yang coba dia katakan. Dia ingin membuat aku merasa bersalah. Dia ingin aku mengakui kalau aku baru saja mematahakan tiga, bahkan empat janji sekaligus dalam satu duduk. Tapi, dalam pembelaanku, memangnya seperti apa reaksi asli orang yang mendapat pengakuan dari lawan bicaranya kalau mereka itu manusia serigala? Terdiam di tempat? Terkejut karena manusia serigala itu nyata? Menjadi tergila-gila karena manusia serigala itu sangat keren? Atau mungkin . . . takut dan lari dengan cepat? Tidak. Aku rasa, reaksi dariku itu juga masuk akal. Aku tertawa. Iya, tertawa. Karena satu-satunya alasan seseorang biisa mengatakan kalau mereka itu manusia serigala adalah mereka sedang bercanda. Gurauan yang sangat tidak keren dan payah, tapi tetap saja itu sebuah candaan. Dan Hunter mencoba membuat aku merasa bersalah dengan reaksi itu? Tidak. “Memangnya ekspresi apa yang kau harapkan dariku? Ketika aku bercanda seperti itu—yang by the way sangat tidak keren dan lucu, ya! Hari begini, di jaman seperti sekarang ini, di mana ada mobil terbang, internet secepat kilat, siapa yang bisa mengatakan dengan wajah polos dan ekspresi datar kalau mereka itu manusia serigala?” protesku. Hunter mengernyitkan dahinya. “Siapa bilang aku bercanda?” “Sudahlah, Hunter. Jika kau tidak ingin mengatakan ada apa, maka baiklah. Kau tidak perlu dengan repot menghabiskan waktumu di sini,” kataku pasrah. “Dan lagi, di mana ini? Rumah sakit di rumahmu?” “Iya,” Hunter menjawab cepat. “Kau . . . kau pikir aku sedang melucu?” “Tentu saja.” “Cordelia . . .” Hunter berdecak kesal. Dia meremas rambutnya, frutasi. “Aku serius.” “Jika aku bilang aku penyihir muda yang imortal,” aku merentangkan dua tanganku. “Apa kau akan percaya?” “Tidak,” Hunter menyahut santai. “See? Dan kau terkejut karena aku tidak percaya dengan omong kosongmu? Manusia serigala itu tidak asli, Hunter. Mereka hanya fiksi. Buatan cerita orang-orang yang memiliki imajinasi tinggi. Manusia serigala itu hanya legenda. Tidak nyata.” “Aku tidak akan percaya karena kau bukan penyihir,” tambahnya rendah. “Aku tahu siapa semua penyihir di kota ini.” Aku mengeluarkan bunyi pft pada pernyataan Hunter. “Dan aku mengenal semua artis Hollywood.” Hunter menganga, mulutnya terbuka lebar. Aku tidak menggubrisnya. Terserah dia mau bertingkah seperti apa. Yang jelas, aku sudah lelah dengan caranya yang kekanak-kanakan. Manusia serigala. Memangnya dia pikir aku anak kecil? Lelaki di hadapanku tidak bereaksi untuk beberapa saat. Dia hanya diam, terduduk di kursi samping tempat tidurku. Dia tercengang. Mungkin ini memang bukan reaksi yang dia harapkan. Mungkin, dia ingin aku panik dan takut dan lari setengah mati dari dirinya. Tapi, yang aku lakukan malah tertawa dan memarahi dia. Hunter lalu berdiri. Aku sudah siap menelan segala protes dan hardikan yang dia buat, tetapi lelaki yang membingungkan aku semenjak hari pertama sekolah itu tidak mengatakan apa-apa. Sebaliknya, dia berdiri di tengah ruangan, tangan terulur ke bawah. Dengan sigap dia melepas sepatu. Lalu jaket jeans yang sedang di kenakan. Dia menggerakkan badan seperti sedang pemanasan. Setelah menimbang sesuatu, mendadak dia melepas kaus hitam yang juga dia kenakan. “Hunter!” seruku kencang. Mataku terbuka lebar melihat tubuhnya yang terbentu sempurna. Otot dan urat saling bertabrakan. Six—yang mungkin bisa jadi eight—pack menghiasi bagian depan tubuh tingginya itu. “Apa yang kau lakukan?” “Membuatmu percaya.” “Percaya apa?” nada bicaraku semakin naik saja. Begitu juga rasa panas di seluruh wajahku. “Percaya kalau aku tidak bercanda. Percaya kalau ini bukan lelucon. Percaya kalau manusia serigala itu asli.” “Apa yang kau bicarakan?” aku berteriak dengan panik. “Hunter!” Tapi lelaki itu tidak pernah menjawab. Hunter Hawkwolf menggeram, merintih, tubuhnya membentuk sesuatu yang tidak lazim, bunyi retak tulang, gigi yang memanjang, wajah yang terdistorsi. Aku membeku di tempatku saat Hunter tidak lagi berdiri di tengah ruangan. Tidak. Itu bukan Hunter, melainkan seekor serigala raksasa berwarna hitam dan bulu yang tebal. Aku tidak tahu apa yang aku katakan setelah itu. Aku tidak ingat apa reaksiku saat melihat kejadian aneh tersebut. Aku bahkan tidak ingat apa itu asli atau hanya mimpi buruk yang berlangsung lama dan terasa sangat nyata. Karena tahu-tahu saja, aku kembali tenggelam dalam kegelapan. *** Jika aku ini robot, mungkin aku sudah korslet. Aku sudah bangun dan kehilangan kesadaran sampai mungin empat atau lima kali. Ini sudah keterlaluan. Tapi, berbeda dari yang tadi, kali ini aku mengingat segalanya. Aku ingat bagiamana Hunter berdiri di tengah ruangan. Aku ingat dia melepas sepatu, dan jaket jeans, lalu setelah berpikir beberapa saat, dia melepas kaus yang dia kenakan juga. Aku ingat saat dia mengerang dan merintih dan meringis. Aku ingat ada bunyi tulang patah, gigi yang memanjang, wajah yang terdistorsi. Aku ingat semua itu, dan aku hampir saja menyerah lagi pada kegelapan. Tidak. Kali ini aku harus bangun dan tersadar. Aku harus kuat. Aku harus tahu ada apa yang terjadi di sini. Hunter dan kota ini. karena aku bisa menebak kalau bukan hanya Hunter saja yang berbeda. Segalanya aneh. “Kau sudah bangun?” Aku abaikan rasa teror yang menyelimuti tubuhku. Mendengar suara itu, biasanya aku merasa aneh—aneh karena lututku lemas, hatiku yang merasa indah, wajahku yang memesona, dan lain-lain—sekarang, aneh yang aku rasakan yaitu rasa takut. Lari, aku ingin lari. Tapi aku sudah berjanji padanya untuk tidak menghakimi. Aku sudah berjanji padanya untuk tidak lari. Aku berjanji padanya untuk tidak lari. Dan yang lebih penting lagi, aku sudah berjanji padanya kalau aku akan mendengar semuanya sampai habis. Jadi aku hanya menelan ludah dan menelan ketakutan itu jauh-jauh, dan memaksakan senyum tipis. Aku tahu senyum itu pasti terlihat miris dan menyedihkan. “Iya, aku rasa begitu.” Hunter sudah mengenakan kaus yang berbeda lagi. Kali ini berwarna putih. Aku melirik sekeliling kami, dan kami masih sendiri. Tidak ada serigala raksasa yang menggantikan Hunter berdiri di tengah ruangan. Aku melihatnya dengan takut-takut, sedikit curiga dia akan berubah lagi hanya untuk menggodai aku, atau hanya untuk usil belaka. “Apa kau terkejut?” “Aku pingsan, Hunter.” Jawabku cepat. “Aku rasa aku lebih dari sekedar terkejut saja.” “Aku rasa juga begitu,” Hunter membalas perkataanku. “Apa kau sudah merasa lebih baik?” Aku tidak menjawab itu. Butuh beberapa saat bagi aku untuk mencerna keadaan ini. Satu, Hunter Hawkwolf itu manusia serigala. Dua, ada iblis jahat yang kemarin mengulur aku ke dalam hutan yang dalam dan gelap dan dipenuhi kabut. Tiga, Hunter Hawkwolf itu manusia serigala. Empat, bisa jadi semua makhluk di kota ini bukan benar-benar manusia. Lima, Hunter Hawkwolf itu manusia serigala. Enam, bisa jadi Ibu tidak ingin aku bergaul dengan Hunter karena dia tahu siapa itu Hunter. Tujuh, Hunter Hawkwolf itu manusia serigala. Delapan, apa Xander juga makhluk yang sama? Sembilan, sepuluh, sebelas, dua belas. Hunter Hawkwolf itu manusia serigala. Seberapa banyak aku mengulang kalimat dan pernyataan itu, rasanya otak kecilku tidak bisa mencerna fakta tersebut dengan baik.. Manusia serigala. Manusia serigala. Hunter Hawkwolf bukan manusia biasa, melainkan serigala jadi-jadian. Dia bukan orang pada umumnya, melainkan makhluk supernatural. Apa aku bermimpi? “Kau tidak bermimpi,” kata Hunter seperti bisa membaca air wajahku. “Ini asli. Dan . . . aku minta maaf karena sudah membuatmu terkejut hingga pingsan. Tidak seharusnya aku berubah di depanmu seperti itu.” “Sudah bagus aku tidak terkena serangan jantung . . .” gumamku pelan. Tapi aku lupa. Lelaki di sebelahku ini manusia serigala. Dia mempunyai kekuatan ghaib. Kekuatan yang supernaturan. Pendengaran dan perasa dan penglihatan yang lebih tinggi dari orang biasa. Lebih berfungsi dua kali lipat bahkan tiga atau empat dari manusia normal. Hunter mendengar gumamam rendah dariku. Dia membasahi bibirnya dengan resah. “Dengar, aku tidak punya pilihan lain. Kau terlihat sangat skeptis. Dan jujur, aku sedikit tersinggung saat kau mengatakan kalau aku hanya bercanda. Siapa yang bercanda seperti itu hari begini?” “Tidak ada,” sahutku. “Makanya, jangan bercanda.” “Aku tidak bercanda. Kau tahu itu. Kau sudah melihat apa yang terjadi padaku, bukan?” Hunter menambahkan.”Dan . . . aku minta maaf lagi . . . aku benar-benar tidak berniat membuatmu sampai kehilangan kesadaran.” “Apa . . . ?” “Yang lain juga manusia serigala?” sambung Hunter saat kalimatku terputus di udara. Aku mengangguk lemah. Hunter tersenyum tipis dan menggerakkan kepalanya ke bawah dan ke atas. Menandakan kalau pertanyaanku memang benar. Yang lain juga manusia serigala. Wyatt, Damon, Orion, Owen, Archer, dan Talon adalah manusia serigala. Mereka bukan manusia biasa. Mereka serigala jadi-jadian. “Dan serigala yang waktu itu . . . menyerangku?” Hunter membuang napas panjang, seperti memori itu membuat dirinya kesal dan jengkel. “Itu Dean.” “Dean . . . ?” mataku terbelalak. “Dean juga . . . ?” “Hampir seluruh penduduk New Cresthill juga . . . manusia serigala, Cordelia.” Aku menelan ludah. Itu dia. Jawaban dari pertanyaanku tadi. Bisa jadi semua makhluk di kota ini bukan benar-benar manusia biasa. Hampir setengah? Hampir seluruh? Apa itu artinya mereka semua manusia serigala yang bisa berubah menjadi serigala raksasa kapan saja? Dan . . . melukai penduduk manusia normal? Seperti bisa membaca pikiranku lagi, Hunter menggeleng cepat. “Tidak, mereka tidak akan melukai siapa pun. Kami ini manusia serigala, bukan pemburu tidak punya hati atau hewan liar. Kami punya prinsip kehidupan juga. Pada umumnya, ya . . . kami hanya manusia. Bedanya, kami bisa berubah menjadi serigala.” “Serigala besar yang mengerikan . . . “ Hunter terlihat terluka. “Aku tidak akan pernah melukaimu, Cordelia.” “Aku tahu itu,” jawaban itu keluar dengan cepatnya, begitu refleks dan santai, seperti aku percaya sepenuh hati kalau Hunter tidak akan melukai aku. “Maaf, aku sudah bereaksi berlebihan.” “Tidak apa,” dia tersenyum kecil. “Setidaknya kau tidak lari ketakutan.” “Wow . . .” aku menghela napas. “Manusia serigala. Siapa sangka?” “Ya. Aku tahu. Tapi, kami sudah ada sejak ratusan dan ribuan tahun yang lalu. Hanya beberapa orang yang tahu keberadaan kami. Biasanya, para kumpulan serigala itu tinggal di kota terpencil, atau di dalam hutan yang tak tersentuh manusia. Seperti kita ini. Beberapa lagi ada yang membentu perkumpulan di kota besar dengan kedok berbeda-beda.” “Jadi kalian aman?” Mata Hunter menyala untuk beberapa saat, lalu kembali normal. “Ada yang tidak. Sama seperti makhluk yang lain, pada akhirnya, pasti ada yang tidak berniat baik. Terutama serigala yang tidak memiliki perkumpulan.” “Lalu . . .” aku menelan ludah saat harus mengingat kejadian waktu itu. “Siapa gadis kecil yang kemarin?” “Ingruth . . .” ucapnya dengan gigi gemeretak. “Dia iblis jahat.” “Demons? That was demons?” “Yes. Banyak iblis yang meresahkan manusia dan mengelabui makhluk supernatural lain. Kebanyakan dari mereka bekerja dengan penyihir, selebihnya mereka berjalan sendiri.” “Penyihir?” kepalaku semakin nyeri saat menerima semua informasi ini. Hunter mengangguk. “Apa itu berarti, vampir juga asli?” Hunter terkekeh geli. “Jangan ngaco. Vampir hanya fiksi.” Siapa yang dia bilang fiksi? Aku menggerutu di dalam hati. Sebelum beberapa jam lalu, aku juga mengira manusia serigala hanya fiksi. “Apa yang terjadi antara dia dan Damon?” “Itu bukan milikku untuk diceritakan,” jawabnya. “Jika aku harus menceritakan hal itu, akan butuh satu buku untuk menyelesaikannya.” Aku hanya mengangguk pelan. Lalu pikiranku kembali pada pertanyaan itu. “Lantas, apa artinya aku ini mate?” Hunter mendadak tersipu. “Kau tahu serigala, ‘kan?” aku mengangguk. “Serigala hanya memiliki satu pasangan jiwa seumur hidupnya. Bagi serigala laki-laki, pasangan mereka itu yang paling berarti di dunianya. Serigala jantan itu paling teritorial jika mengenai masalah pasangan. Dan . . . “ “Aku? Jangan bilang aku.” Hunter menyeringai aku dengan wajah sok sinis, tapi malah menggemaskan. “Cordelia, kau pasangan jiwaku. You’re my mate.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN