HUNTER HAWKWOLF itu orang yang sangat pemaksa. Walaupun aku sudah menolak berkali-kali, bahkan hinngga Xander turun tangan dan hampir saja ada perkelahian yang terjadi lagi, dia tidak mundur. Lelaki itu tetap teguh pada alasannya kemari menghampiriku di rumah. Dia ingin aku ikut dengannya melihat The Infernal Warriors yang tidak aku ketahui ini. Saat ditanya, dia hanya mengatakan, “Kau akan segera tahu.”
Ya, apa salahnya jika kau memberitahuku lebih dulu? Toh aku akan segera tahu!
Parahnya lagi, ketika aku berniat untuk melapor pada Ibu, yang aku harapkan malah sudah terhipnoti dengan sandiwara rapih dari Hunter. Di pikiran Ibu, Hunter itu laki-laki yang baik hati, tidak sombong, sopan santun yang sangat tinggi, dan dengan senyuman membunuh yang bisa membuat hati setiap kaum hawa terlena.
Well, aku juga terlena, tapi memangnya aku sudi mengakui hal itu?
Xander saja sempat kagum melihat bagaimana Hunter bisa dengan mudah merebut hati Ibuku. Bahkan setelah mereka berargumen, yang sejujurnya hanya berlangsung seperti ini:
“Jika Cordelia bilang tidak, maka artinya tidak. Apa kau tuli?” Xander memotong perkataan Hunter di tengah jalan. Yang dibicarakan hanya mengangkat satu alisnya. Bibirnya menyeringai Xander, seperti baru tersadar kami memiliki penonton yang tidak diundang. Saat Hunter maju beberapa langkah untuk mendekati Xander, aku merentangkan tanganku di hadapannya.
“Jangan.” Ucapku dengan keras. “Jangan buat keributan di sini, Hunter.”
Hunter membasahi bibirnya. “Atau apa?”
“Atau aku akan teriak.”
“Itu tidak cukup,” Hunter tertawa kecil. “Seeorang harus membuat laki-laki ini sadar kalau dia sudah kelewatan.”
“Kelewatan?”
Xander hanya tersenyum mengejek mendengar itu. “Kelewatan, ya?”
“Jangan menguji kesabaranku, Xander.” Ucap lelaki yang masih aku halangi dengan tanganku itu. “Pergi.”
“Pergi? Aku rasa kau tidak punya wewenang di sini.”
“Xander benar. Ini rumahku. Ini properti milikku dan milik Ibu. Kau tidak punya wewenang untuk mengusir siapapun dari lahan ini.” Kataku dengan percaya diri.
“Wewenang, ya?” Hunter mengolok perkataan Xander tadi. “Kau mau lihat seberapa besar wewenang yang aku miliki di sini?”
Aku tahu pertanyaan itu tidak ditujukan untuk diriku, melainkan pada lelaki yang sedang berdiri di hadapannya, namun aku tidak bisa menahan untuk merinding mendengar kalimat yang Hunter lontarkan.
“Hunter, tidak ada orang yang suka dengan penyombong.” Xander melipat kedua tangannya di depan d**a.
“Sayangnya, semua orang suka pada Hunter Hawkwolf.”
Sial. Percaya diri sekali. Di mana aku bisa membeli kepercayaan diri sebesar itu? Yang aku miliki hanyalah kepercayaan diri seorang anak sekolah dasar. Sangat tidak bisa diandalkan dan selalu kambuh di saat-saat yang tidak tepat.
Pernah suatu saat, aku harus melakukan presentasi di depan kelas. Selama dua minggu penuh waktu yang diberikan agar kami mempersiapkan presentasi itu, aku habiskan dengan menangis dan merasa sangat gugup. Hingga pada hari yang dinantikan datang, saking tidak kuatnya, aku pura-pura pingsan. Tentu saja, kemampuan sandiwara diriku tidak sebagus itu untuk membohongi para orangtua dan guru. Alhasil, berkat bantuan Axel yang heboh dan sangat berlebihan, setiap orang percaya bahwa aku sudah sekarat dan . . . minum cairan pencuci baju.
Hingga saat ini, aku masih dendam karena satu-satunya ide dalam otak Axel untuk alasan mengapa aku bisa jatuh dan pingsan adalah meminum deterjen. Sudah bagus aku tidak harus presentasi di depan kelas, namun sekarang aku menjadi korban rundung orang-orang sebagai gadis bodoh yang meminum cairan pencuci baju.
Ayah pun tidak membantu. Saat kami semua sudah pulang dan aku menceritakan yang sebenarnya, Ayah hanya tersenyum dan mengatakan, “Kalau begitu istirahat saja sekarang. Jangan mengulangi kesalahan itu lagi. OK?”
“Baiklah.” Ucapku.
“Dan Cordelia . . . jika kau haus, kita punya banyak air di lemari pendingin.”
Aku tersenyum mengingat memori tentang Ayah.
Hal itu tidak berlangsung lama, karena tahu-tahu Ibu keluar dan membawaku kembali ke realita. “Ada apa ini?”
“Nyonya Smith,” Hunter mengeluarkan jurus andalannya. Senyum kotak yang menawan dan seksi dan menggemaskan.
Curang! Bagaimana bisa dia seksi dan menggemaskan secara bersamaan?
“Halo,” Ibu tersenyum balik. Senyum yang mengatakan “Oh kau anak muda yang sangat tampan, aku tidak percaya bagaimana bisa anak putri yang aku miliki dengan kepribadian membosankan dan tidak pernah keluar dan hanya memiliki satu teman bisa mempunyai kenalan sebagus dirimu.”
Dan lebih parahnya lagi, saat Xander ikut menyapa, senyum Ibu semakin melebar menjadi “Oh tidak, ternyata ada dua orang yang terjebak bersama dengan putriku dan sebentar lagi takdir mereka akan menjadi berantakan karena sudah bergaul dengan anakku satu-satunya yang sangat sial.”
Aku meringis melihat mata Ibu yang berbinar melihat dua anak muda yang tampan dan gagah. Yah, like mother like daughter, I guess.
“Ibu, ini Hunter dan Xander.”
Saat mendengar nama Xander, wajah Ibu kembali saat tadi pagi aku mengatakan aku akan pergi menemuinya.
“Xander Deathbone?” tanya Ibu dengan nada yang tidak begitu ramah. Aku memberikannya tatapan untuk mengingatkan agar tidak bertingkah aneh-aneh, atau lebih parahnya lagi, mempermalukan diriku.
“Iya, Nyonya Smith. Aku Xander Deathbone.” Dia mengulurkan satu tangannya. “Senang bertemu denganmu.”
Ibu sedikit terlihat ragu untuk meraih tangan Xander. Ketika aku berdeham karena waktu yang terlewat sangat canggung dan mematikan, Ibu akhirnya tersadar dan menjabat tangan Xander. Walau aku yakin Ibu tidak berniat sama sekali. Entah apa yang membuat Ibu berperilaku seperti itu. Biasanya dia adalah orang yang ramah dan baik hati. Terlalu baik hati malah. Komunitas para Ibu rumah tangga di Deathbone bahkan menjuluki Ibu dengan sebutan Malaikat dari Langit. Karena, yah, Ibu sebaik malaikat. Sejujurnya, bagiku Ibu terlalu baik untuk dunia ini. Dia selalu melihat segalanya dari posisi yang positif.
Jadi mengapa dia tidak bersikap seperti biasa terhadap Xander?
Ketika aku pikir keadaan tidak akan mungkin bisa menjadi lebih parah lagi, Hunter harus membuka mulut dan memperkenalkan dirinya.
“Aku Hunter. Hunter Hawkwolf.”
Mata Ibu kini benar-benar terbelakak. Dia tidak menyembunyikan reaksinya saat mendengar nama itu. Dengan satu langkah yang tiba-tiba mundur ke belakang, aku memandang Ibu lekat. Ada apa dengannya? Ada apa dengan Hunter dan Ibu? Memangnya Ibu kenal dengan nama keluarga Hunter?
“Ibu?”
Ibu mengerjapkan matanya. “Oh. Uhm . . . iya. Senang bertemu denganmu.”
Kali ini Hunter tidak mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Aku rasa dia belajar dari pengelaman Xander yang tidak terlalu diterima oleh Ibu. Dia hanya tersenyum—senyum seksi sekaligus menggemaskan miliknya—dan menoleh padaku, menunggu apa jawaban dariku atas ajakannya yang sangat mendadak itu.
“Cordelia, bisa ikut dengan Ibu sebentar?”
“Ke mana?” tanyaku bingung.
“Ke dalam.” Ibu menegaskan. “Sekarang.”
Aku mengangkat alisku tinggi-tinggi. Hunter dan Xander diam seribu bahasa. Mungkin tidak ada yang bisa mengalahkan kemurkaan seorang Ibu. Tidak juga bagi dua orang remaja laki-laki yang tubuhnya besar-besar dan kekar. Jika dipikir, Hunter atau Xander bisa dengan mudah membalikkan Ibu, membantingnya ke kanan atau ke kiri. Semuanya bisa mereka lakukan dengan mudah. Namun, dia seorang Ibu.
Tidak ada yang akan bisa selamat dari kemurkaan seorang Ibu.
Ibu berjalan dengan kedua tangan di pinggang. Langkahnya besar-besar. Dia menggigit bibir dengan resah. Matanya terus melihat ke arah teras, di mana Hunter dan Xander sedang berdiri. Mungkin sedikit bingung dengan drama Ibu dan anak yang sedang terjadi ini.
Aku mengangkat kedua tanganku begitu kami sudah sampai di dapur belakang, “Ada apa?”
“Cordelia, kau tahu aku sayang denganmu, bukan?”
Oh, tidak. Tidak ini. Aku sudah tahu ke mana arah pembicaraan ini. Ketika Ibu memulai pembicaraan dengan mengatakan, “Kau tahu aku sayang padamu, kan?” itu tidak akan berakhir bagus bagiku. Aku sudah mengalami ini berpuluh-puluh kali. Mungkin ratusan. Dan tidak, aku tidak berlebihan.
Ibu memang selalu bersikap seperti ini. Protektif.
“Apa yang kau inginkan kali ini?”
Ibu mengernyitkan dahinya. “Apa maksudmu?”
“Iya, jika kau berkata seperti itu, sudah jelas ada yang tidak kau sukai. Kau pasti akan memaksakan kehendakmu padaku.” Kataku sinis. “Seperti biasa.”
“Cordelia, apa yang kau bicarakan?”
“Jangan berpura-pura tidak tahu. Bisakah kau cepat saja ke intinya? Temanku menunggu.”
“Temanmu itu . . .”
“Oh, tidak.” Aku menggeleng. “Kau tidak bisa mengatur aku bisa berteman dengan siapa.”
“Kau tahu aku bangga padamu karena kau bisa mencari teman di sekolah barumu, tapi . . . aku rasa Xander dan Hunter bukanlah pilihan yang paling bijaksana.”
“Bijaksana? Serius, Mom?” Aku menaikkan nadaku lebih tinggi. “Masih bagus mereka mau berteman denganku! Aku tidak memilih mereka, mereka yang datang sendiri ke sini. Mau meluangkan waktunya untuk aku.”
“Cordelia, hanya saja—“
“Apa?”
“Ibu . . . aku tidak suka dengan mereka.”
“Tidak suka?” Aku mengulang perkataan ibu dengan tidak percaya. “Apa yang membuatmu tidak suka dengan mereka?”
Ibu menggigit bibirnya lagi. “Pokoknya, Ibu tidak ingin kau berteman dengan mereka.”
“Jangan ngaco.”
“Cordelia!”
“Aku bisa berteman dengan siapa pun yang aku inginkan!”
“Jangan membantah! Mulai dari sekarang, Ibu tidak ingin kau bergaul dengan mereka lagi, terutama Hunter.”
Aku membelalakan kedua mataku. “Alasannya?”
“Tidak ada.”
Aku tertawa tanpa rasa humor. “Tidak ada? Apa kau mendengar dirimu sendiri, Mom? Semua ini tidak masuk akal. Aku bisa memilih temanku sendiri, terima kasih.”
“Cordelia—“
Tapi belum juga Ibu selesai bicara, aku sudah meninggalkannya di dapur. Kakiku berjalan cepat ke arah pintu depan, dengan perasaan yang campur aduk. Marah dan kecewa dan sedih, terutama bingung. Ada apa dengan Ibu? Mengapa dia tidak suka dengan Xander dan Hunter? Mereka cukup sopan untuk ukuran remaja. Mereka juga tidak bertingkah di depan Ibu. Aku tahu mereka sudah membuat kesan yang cukup menakjubkan saat hari-hari pertama aku masuk sekolah—dengan mendadak saling adu pukul di depan mataku sendiri—tapi saat ini mereka bahkan tidak saling adu mulut.
Terutama Xander? Apa artinya itu?
Aku langsung menarik tangan Hunter, begitu aku melihat lelaki tersebut masih bersandar di pilar rumahku. Xander sudah tak ada, mungkin pulang, atau sangat tidak nyaman dengan drama yang terjadi antara Ibu dan aku. Ya ampun, sangat memalukan. Apa dia bisa mendengar semua pembicaraan kami dari dalam?
Well, aku dan Ibu cukup keras.
Dan begitulah kami sampai di sini, di tempat yang Hunter bicarakan. The Infernal Warriors. Apa artinya itu? Jika lelaki tidak tahu aturan ini mau setidaknya menceritakan sedikit tentang tempat yang kita kunjungi ini, aku pasti tidak akan sangat kebingungan dan sedikit enggan pergi dengannya.
Apa pula The Infernal Warriors? Terdengar seperti sebuah grup band atau semacamnya. Oh tidak. Jangan bilang itu nama sebuah kumpulan sekte? Ilmu hitam? Aliran sesat? Sial. Apa aku akan dijebloskan ke dalam perkumpulan gelap yang mematikan?
“Cordelia,” Hunter menegurku. “Kita sudah sampai.”
Aku tidak mengira kami akan pergi ke sebuah rumah yang sangat besar hingga dapat dibilang istana. Sejujurnya, aku pikir Hunter akan membawaku ke sebuah kelab atau semacamnya. Yah, walaupun aku ragu ada sebuah kelab yang buka di tengah hari begini. Mungkin New Cresthill seaneh yang aku pikirkan. Namun, setelah melihat rumah dengan gaya bangunan seperti masa kerajaan Eropa di masa lalu ini, aku hanya bisa terkesiap.
Pekarangannya sangat indah, dihiasi oleh bunga dan pepohonan yang rindang. Gerbang rumahnya sangat tinggi dan lebar. Ada sebuah rumah kecil yang terlihat seperti gudang di ujung bagian belakang rumah. Terdapat patung-patung indah yang akan terlihat mengerikan di malam hari. Aku menoleh ke arah Hunter, mulutnya sedang tersenyum lebar membentuk kotak yang . . . menggemaskan.
“Bagaimana?”
“Bagaimana apanya?” Oh, aku sangat tidak keren.
“Apa kau suka?” tanyanya.
“Menagapa aku harus suka?”
Dia mengangkat bahu. “Aku hanya bertanya.”
“Tidak penting apa yang aku pikirkan juga, kan?” Hunter tidak menjawab. “Apa ini rumahmu?”
“Tentu saja,” jawab Hunter cepat. “Aku dibesarkan di rumah ini.”
“Keren.”
“Keren?”
Aku mendengus. “Apa kau tidak melihat seberapa besarnya rumahmu ini? Bangunan ini bisa dibilang sebuah istana! Lihat itu? Ya ampun, apa itu sebuah taman? Kau memiliki taman di rumahmu sendiri?”
Hunter tertawa kecil. “Aku akan membawamu ke sana.”
“Bolehkah?”
“Tentu saja.” Hunter menggerakkan kepalanya ke kiri. “Apa kau mau tur rumahku?”
“Tentu saja.”
Kami berjalan cukup lama. Memutari rumahnya yang megah dan sangat luas. Pertama, kami memasuki bangunan kecil yang aku pikir adalah gudang tersebut. Ternyata, itu adalah sebuah tempat peralatan. Aku tidak bertanya tempat siapa, namun dari banyaknya benda seperti gunting rumput dan penyiram tanaman, aku rasa ini tempat tukang kebun. Saat kami akan keluar, aku tak sengaja melihat beberapa rantai besi yang tersambung ke tembok bangunan.
“Hunter?”
“Ya?”
“Untuk apa itu?” tanyaku sambil menunjuk rantai panjang tersebut.
Hunter menegang di sampingku. “Hm . . . aku tidak tahu. Akan aku tanyakan pada Dean saat dia sudah kembali.”
“Dean?”
“Dia yang merawat tanaman kami.”
“Oh, tukang kebun?”
Hunter tertawa, namun dia tidak membagi informasi tentang apa yang begitu lucu dari pertanyaan sederhanaku itu. “Begitulah. Tapi jangan salah, dia juga salah satu bagian paling penting dari keluarga kami.”
“Keluarga kami? Kau punya keluarga besar, ya?”
“Bisa dibilang begitu,” Hunter tersenyum tipis. “Besar? Sangat. Kami saling menjaga satu sama lain, dan kami lebih dari sekedar keluarga.”
Aku hanya mengangguk. “Itu bagus.”
“Bagus kenapa?”
“Aku anak tunggal, dan Ibu atau Ayah tidak pernah bercerita tentang kehidupan pribadi mereka. Aku tidak begitu tahu tentang saudara apa pun yang aku miliki, sepupu atau apalah. Yang aku tahu hanya Doveport, Ibu, Ayah, dan Axel.”
“Axel?”
“Sahabat karibku.”
Hunter membuang napas lega. “Oh . . .”
“Kenapa?”
“Tidak.”
Berikutnya kami menuju ke arah patung yang tadi aku sebutkan. Beberapa patung tersebut membentuk dewa-dewi Yunani, sedangkan beberapa lagi membentuk serigala-serigala besar dan menakutkan. Aku menghampiri patung serigala tinggi dan besar berwarna hitam. Tingginya bahkan melebihi tinggiku, dan aku terlihat sangat mungil di sebelahnya.
“Patung yang menarik.”
Hunter menatapku tajam. Ada sesuatu yang terpancarkan dari sorot matanya, namun aku tak dapat mengerti apa yang sedang dia pikirkan. “Menarik?”
“Kenapa serigala?”
“Kenapa tidak serigala?”
Aku mengangkat bahuku. “Aku suka serigala, tapi—“
“Kau suka serigala?” nada bicara Hunter terdengar terlalu antusias bagiku.
“Aku rasa . . . kenapa?”
“Tidak.” Hunter tersenyum. “Itu bagus.”
Saat kami mengakhiri tur rumah tersebut, Hunter baru saja akan mengantarku masuk ke rumahnya, ketika mendadak saja pintu ganda rumah tersebut terbuka lebar. Aku tersentak, sementara Hunter memutar kedua bola matanya. Dari dalam rumah, beberapa lelaki yang sama tampan dan menggemaskannya seperti Hunter keluar dengan tawa dan langkah yang cepat. Lari mereka terhenti saat melihatku dan Hunter, tawa mereka meredup.
Oh tidak, ada enam lagi yang bentuknya seperti Hunter?