CHAPTER 5

2133 Kata
RASANYA NEW CRESTHILL dibuat untuk menertawakan eksitensiku yang sangat menyedihkan. Lebih dari menyedihkan, sesungguhnya. Tapi ‘kan, aku ingin sedikit memuji diri sendiri. Walau memuji diri sendiri juga sama menyedihkannya. Belum juga aku satu bulan pindah ke New Cresthill, tapi sepertinya seluruh penduduk di sini sudah membuatku semakin tidak percaya diri setiap harinya. Hunter dan Xander belum cukup, begitu juga dengan teman-teman kelasku, tapi di sini, di rumah Hunter, harus ada enam orang lagi yang memiliki wajah dan tubuh sempurna. Dan parahnya—ya, ini bisa lebih parah lagi—mereka semua adalah kaum Adam. Alias spesies laki-laki. Berkelamin pria. Aku, Cordelia menyedihkan, berada di tengah-tengah para Dewa Yunani Kualitas Bumi! Aku mati gaya. Payah sekali. Bukannya aku juga ingin menjadi percaya diri di depan mereka atau semacamnya, tapi bisakah aku tidak mempermalukan diriku barang sekali saja? Aku tidak pernah bisa bertingkah normal di depan lelaki tampan yang sesungguhnya membuat lututku lemas. Kemarin saja, saat pertama bertemu Hunter, sebenarnya aku sudah ingin terduduk lemas. Oh, jangan mengatakan aku berlebihan. Jika kalian bisa melihat wajah Hunter, kalian juga akan berpikiran yang sama. Rasanya dia terlalu indah untuk dunia ini. Seperti tidak mungkin ada kreasi sepertinya dan hanya seorang mortal biasa. Manusia yang normal. Aku tidak akan terkejut jika mereka ini ternyata diam-diam seorang vampir vegetarian yang sudah berumur ratusan tahun. Tapi mereka tidak bersinar terang seperti Edward Cullen saat berada di bawah matahari. Atau mereka menggunakan semacam jimat cincin seperti Salvatore bersaudara? “Apa yang kalian lakukan di sini?” Aku hampir saja menyipitkan mataku pada Hunter dan menyuruh lelaki itu untuk diam. Enak saja dia bertanya begitu. Aku tidak keberatan mereka ada di sini! Malah kalau bisa, mereka berlama-lama di sini. Maksudku, tidak di sini berdiri seperti orang bodoh, tapi di dalam sambil duduk dan berbicara basa-basi tentang cuaca yang tak penting, asalkan aku bisa terus bersama mereka. Tapi lagi, jika mereka ingin berdiri di sini hingga berjam-jam pun, aku tidak masalah. Tidak masalah sama sekali. Aku malah ingin berkenalan dengan mereka. Yah, lumayan ‘kan bisa berkenalan dengan sekumpulan lelaki tampan? Walaupun sebenarnya aku sangat merasa terintimidasi dengan kehadiran mereka semua. Rasanya mereka sedang menghakimi penampilanku. Ya ampun, satu laki-laki itu memiliki lesung pipi! “Ini rumah kami juga, Hunt.” Kata satu lelaki yang tingginya hampir sama dengan Hunter. Aku hampir saja terduduk lemas karena pernyataan itu. Rumah kami juga? Mereka dan Hunter satu rumah? Apakah itu artinya . . . ? “Cordelia, perkenalkan, suadara-suadaraku.” Kata Hunter dengan malas sambil melebarkan tangannya ke arah para lelaki tadi. Oh, tidak. Mereka ada tujuh? Tujuh bersaudara dan semunya memiliki gen yang bagus? Memiliki segalanya? Mulai dari tinggi, tampan, dan senyum yang indah? Dan tubuh yang atletis juga kekar? Dan rumah sebesar ini? Dunia ini tidak adil! Aku anak satu-satunya, tapi bahkan aku tidak mendapat gen yang bagus dari Ayah atau Ibu. Aku bisa tahu Ayah adalah lelaki yang sangat tampan, apalagi dulu saat masih muda. Sedangkan Ibu? Ibu bahkan masih sering dikira kakak perempuanku saat kami sedang keluar bersama. Sudah awet muda, dan tanpa kekurangan sedikit pun. Aku ulangi lagi, dunia tidak adil. “Cordelia?” Aku mengerjapkan mataku. Sial. Aku harap aku tidak memerah atau semacamnya. Itu sangat tidak keren. “Ya?” “Apa kau bisu?” tanya Hunter. “Aku bilang, perkenalkan, ini saudaraku.” “Oh ya, halo.” Halo? Serius, Cordelia? Begitu saja? Aku ingin mengubur diri hidup-hidup. Apa aku bisa menggali kuburku sendiri di taman patung tadi? Setidaknya aku akan dikubur di tempat yang indah dan di rumah sebesar ini. Jika Ibu bertanya aku di mana, aku bisa mengatakan aku terkubur di sebuah istana tersembunyi di New Cresthill. “Halo.” Ucap mereka bersamaan. Aku mati kutu. Untung saja Hunter membuka mulutnya lagi. “Dari yang paling kanan, itu Wyatt.” Aku melirik lelaki yang disebut Wyatt. Dia adalah pria yang mengatakan kalau ini juga rumah mereka tadi. Jika dilihat dengan seksama, di antara mereka semua, mungkin Wyatt yang paling tampan. Aku tidak tahu mengapa. Tapi bibir dan alisnya yang tebal, lalu tubuhnya yang tinggi, Wyatt terlihat sangat menarik. Tapi entah mengapa, aku masih terus memikirkan senyum kotak menggemaskan Hunter. “Halo Cordelia. Aku Wyatt. Yang paling tua dari mereka, tapi wajahku yang terlihat paling muda,” Hunter memutar kedua bola matanya pada Wyatt. “Senang bertemu denganmu.” “Halo.” Aku melambaikan tanganku dengan malu. Ah, lebih percaya diri sedikit, Cordelia! “Berikutnya, itu Damon.” Lanjut Hunter setelah Wyatt sudah berhenti memuji dirinya sendiri. Aku melirik Damon, yang sedari tadi hanya diam dengan wajah datar dan dingin. Rambutnya sedikit terlihat hitam tapi juga ada cokelat yang mengotori warna hitam tersebut. Aku menelengkan kepalaku sedikit, ketika Damon tidak juga memperkenalkan dirinya seperti apa yang Wyatt lakukan. Damon sedikit lebih pendek dari Wyatt dan Hunter, namun aku bisa merasakan dari auranya kalau aku tidak ingin macam-macam dengan lelaki ini. Kecuali jika aku cari mati. “Halo, aku Damon. Senang bertemu dengamu, Cordelia.” Kata Wyatt dengan senyum kecut sambil melambaikan tangan Damon seperti boneka yang tak bernyawa. Aku hanya menawarkan senyum tipis ketika Damon menepis Wyatt dan mendengus kesal. OK, apa dia marah padaku? “Jangan hiraukan dia,” sahut Hunter. “Damon memang seperti itu. Jika tidak mengingat dulu kami sering dimandikan bersama, aku akan curiga Damon itu sedang datang bulan.” Alisku terangkat satu. “Kalian sering mandi bersama?” Terdengar banyak protes dari sana sini, sehingga aku tertawa kecil. Sementara Hunter mengerang kesal, menyesali perkataanya yang tidak dipikirkan terlebih dahulu itu. “Kau tahu maksudku.” “Aku tidak punya saudara, jadi aku tidak tahu.” “Baiklah. Terserahmu, Cordelia.” Hunter mendengus lagi. “Yang di sebelah Damon, itu Orion.” Aku melirik lelaki di sebelah Damon. Itu dia! Lelaki dengan lesung pipi yang sangat lucu dan imut. Aku hampir saja tersenyum lebar saat laki-laki itu melontarkan senyum tipis dengan lesung pipi yang sangat dalam padaku. Buru-buru aku berlagak keren dan hanya melambaikan satu tangan. Orion mengenakan kaca mata yang cukup tebal dan besar, tapi itu tidak menutupi wajahnya yang menarik. Jika aku bandingkan, Orion bahkan lebih tinggi lagi dari Wyatt. Dan berbeda dengan yang lain, Orion mengenakan celana panjang dan sebuat baju hangat yang kebesaran. Gaya kutu buku. Orion adalah favoritku. “Halo, Cordelia. Aku Orion,” sapanya sambil membenarkan kaca mata. “Senang berkenalan denganmu.” “Halo, Orion!” OK, mungkin nada bicaraku terlalu semangat. “Senang berteman denganmu.” “Berteman?” protes Hunter. “Memangnya kenapa?” “Kau tidak perlu berteman dengan mereka. Anak-anak ini hanya akan menyusahkanmu, dan membuat hidupmu seperti neraka.” Dia bergidik ngeri, seperti sebuah ingatan akan saudara-saudaranya sangat mengerikan. Lagi, terdengar berbagai protes dari sana sini. Aku tertawa kecil, melihat tingkah mereka yang berbanding terbalik dengan tubuh dan kharisma yang mereka pancarkan. Kecuali mungkin Damon. “Lalu ada Owen.” Hunter menunjuk seorang lelaki di samping Orion. “Dia dan Orion kembar.” “Oh, kembar?” mataku beralih ke arah Orior lalu Owen, lalu kembali ke Orion, dan kembali lagi ke Owen. “Mereka tidak terlalu mirip.” “Tidak identik.” Jawab Hunter. “Tapi jangan salah, mereka itu seperti pasangan jiwa yang terpisahkan. A true soulmate. Bahkan koneksi mereka lebih tinggi dari pada mates.” “Mates?” tanyaku bingung. Hunter terdiam. Dia mencari-cari jawaban sebelum akhirnya Owen membuka mulut. “Halo Cordelia! Senang akhirnya bertemu denganmu! Aku Owen!” Wow, Owen sangat penuh dengan energi. Bibirnya merekah lebar, dan aura yang dia pancarkan sangat positif. Berbeda dengan saudaranya, Damon. Tapi telingaku menangkap satu kalimat yang berarti. “Akhirnya?” “Oh, Hunter tidak bisa diam tentangmu. Dia selalu bercerita tentangmu dari awal kalian bertemu. Oh, Cordelia ini . . . Cordelia itu . . .” Aku terkesiap saat Hunter melempar bebatuan ke arah saudaranya. “Diam.” Owen hanya tertawa dan bertepuk tangan ria dengan yang lain. “Lalu berikutnya, Archer.” “Halo, Cordelia.” Archer terlihat lebih seperti Damon. Dia sedikit lebih pendek dari yang lain. tubuhnya agak mungil dan imut. Dibandingkan lelaki di sebelahnya, Archer terlihat begitu kecil. Apalagi jika dia berdiri di samping Orion. Aku tersenyum ke arah lelaki itu, sambil melambaikan satu tangan. Archer bisa dibilang memiliki tubuh seorang atlit perenang. Slender. “Senang berkenalan denganmu.” Ucapku dengan suara yang aku harap terdengar ramah. “Senang berkenalan denganmu juga.” Balasnya pelan. Aku menoleh ke arah Hunter, menunggunya memperkenalkan anggota yang terakhir. “Dan . . . Talon. Dia yang terakhir.” Hunter menunjuk lelaki besar di sebelah Archer tadi. “Halo, Talon. Aku Cordelia.” Talon, tanpa sepengetahuanku sedang mengunyah makanan yang datang entah dari mana. Sepertinya kantung celananya itu berfungsi seperti kantung Doraemon yang bisa mengeluarkan dan menyimpan berbagai jenis makanan. Talon juga sama tampannya. Dia terlihat cukup kekar, seperti seorang atlit yang rajin olahraga. Talon melambaikan satu tangannya padaku, mulutnya masih sibuk mengunyah. “Halo . . .” ujarnya dibalik makanan yang menumpuk. “Aku . . . Talon . . . Senang . . . berkenalan . . . denganmu . . . Cordelia . . .” “Okay . . .” “Talon, kunyah dulu makananmu itu!” Wyatt berseru. “Aku . . . sedang . . . berusaha . . .” jawab Talon seadanya. Dia terlihat bersusah payah mengunyah makanan yang mungkin terlalu banyak dia masukkan ke dalam mulut sekaligus. Archer menggeleng. “Sudah berapa kali aku bilang, jangan memasukkan makanan sekaligus. Kau bisa mati tersedak!” “Kau . . . tahu . . . itu . . . tidak . . . mungkin!” “Bagaimana tidak mungkin?” kali ini Owen yang angkat bicara. “Ayo cepat, kunyah yang betul.” “Aku sarankan, kau tidak berurusan dengannya. Aku saja yang sudah bertahun-tahun ingin kabur jika sudah melihat dia bertingkah. Aku tidak mengerti apa yang ada di kepalanya. Hanya orang terpilih yang bisa mengerti jalan pikiran Talon.” Bisik Hunter di sampingku. Namun rupanya, Talon bisa menangkap bisikan yang seharusnya tak terdengar oleh siapa pun tersebut. “Hei . . . jaga . . . bicaramu . . . ya . . . ! Aku . . . ini . . . yang . . . paling . . . intelektual . . . di . . .  antara . . . kalian . . . ! Aku . . . ! Jangan . . .  karena . . . kau . . . keluar . . . lebih . . . dulu . . . kau . . . jadi . . . seenaknya . . . ya . . . !” “Keluar lebih dulu?” tanyaku. Hunter mengela napas panjang. Seperti yang akan dia katakan adalah hal terberat di hidupnya. “Archer, aku, dan Talon. Kita kembar tiga.” “Hah?” mulutku terbuka lebar. “Kembar tiga? As in triplets?” “Yes, we are triplets.” Aku masih tidak percaya. “Triplets? Kembar tiga?” “Iya, Cordelia. Rasanya aku sudah mengatakan itu tadi.” “Kembar tiga? Like Daehan, Minguk, and Manse?” “Siapa itu?” “Kau tidak tahu Daehan, Minguk dan Manse?” ini berita yang lebih mengejutkan lagi. “The most famous triplets? Kau kembar tiga tapi kau tidak mengenal The Triplets?” Hunter menggeleng. “Maaf mengecewakan.” “Memang benar.” Aku berdecak. “Bagaimana bisa kau tidak mengenal Daehan, Minguk, dan Manse? Mereka itu bayi terlucu yang pernah aku lihat. Mereka itu kesukaanku! Oh, aku akan menunjukkan berbagai video mereka. Kau harus melihat mereka makan seperti apa. Aku rasa Talon akan berteman baik dengan mereka.” “Hei . . . kau . . . pikir . . . aku . . . ini . . . bayi . . .?” “Masih belum selesai juga mengunyahnya?” sahut Owen. “Kau ini benar-benar keterlaluan. Seberapa banyak donat yang kau makan sekaligus?” Talon mengangkat tiga jari. “Aku . . . harus . . . menyelamatkan . . . mereka . . . sebelum . . . Dean . . .  datang . . .  dan  . . . menyembunyikan . . . mereka . . .  dariku . . . !” “Talon, berhenti bicara!” protes Owen sambil menggeleng. “Kau membuat Cordelia jijik.” “Cordelia . . . apa . . . kau . . . jijik . . . denganku . . . ?” “Hm . . . aku rasa tidak.” Jawabku pendek. “Lihat . . . ‘kan? Bahkan . . . orang . . . baru . . . pun . . . membelaku . . . ! Tidak . . . seperti . . . kalian . . . yang . . . tidak . . . sayang . . . dengan . . .  adik . . . sendiri . . . !” “Talon, berhenti menjadi ratu drama, dan telan donatmu itu.” Wyatt menimpali. “Aku . . . sedang . . . berusaha . . . !” “Berusaha lebih keras!” “Wyatt . . . kau . . . benar . . . benar . . . tidak . . . punya . . . belas . . . kasih . . . pada . . . adikmu . . . yang . . . bungsu . . . ini . . .” “Diam dan kunyah!” Wyatt berseru kencang. “Kunyah!” timpal Orion. “Kunyah!” Owen tidak tinggal diam. “Kunyah.” Bahkan Damon ikut bicara, tapi wajah dan nada bicaranya masih datar. “Kunyah!” Archer menepuk punggung Talon untuk menyemangati. “Kunyah! Kunyah! Kunyah!” Hunter berseru, tangannya dikepalkan ke atas. Mendadak adegan menyemangati yang jika dilihat tanpa konteks terlihat sangat mengharukan dan luar biasa, padahal hanya berupa segerombolan lelaki yang mendesak adik mereka agar menelan tiga donat sekaligus terjadi di depan mataku. Aku menggeleng sambil tertawa terbahak-bahak. Kenapa Ibu tidak suka dengan Hunter? Terutama Hunter? Kenapa terutama Hunter? Apa Ibu tidak melihat jika Hunter itu orang yang cukup baik? Dengan tingkahnya yang seperti ini, dan kelakuan saudaranya, aku yakin Hunter bukan orang yang jahat. Lalu apa alasan Ibu menyuruhku untuk menjauhi Xander, terutama Hunter? Aku mungkin tidak akan tahu sekarang. Masih banyak hal yang membingungkan tentang semua keputusan yang diambil Ibu. Mulai dari pindah rumah, memilih tempat seperti New Cresthill, dan mendadak melarangku bergaul dengan dua teman baruku. Tapi satu yang aku tahu pasti, aku akan mendapat jawaban itu cepat atau lambat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN