CHAPTER 6

2212 Kata
THE HAWKWOLF BROTHERS. Begitu mereka disebut. Aku baru mengenal mereka beberapa menit yang lalu, tapi rasanya aku sudah begitu akrab dan tinggal bersama mereka selama puluhan tahun. Aneh memang. Tetapi, ternyata mereka semua itu ramah dan tidak kaku. Semuanya sangat murah senyum dan tidak menjaga jarak denganku. Begitu Hunter memperkenalkan mereka, satu-persatu saling melambaikan tangan dengan baik. Aku rasa aku bisa berteman dengan mereka. Yah, walaupun yang namanya Damon masih juga begitu dindin dan kaku denganku. Hunter bilang, Damon, saudaranya kedua tertuanya memang bersifat seperti itu. Jika ditanya, dia hanya akan bergumam, atau mungkin mengangguk dan mengangkat alis saja. Katanya, itu juga masih untung. Sering kali jika ditanya, Damon bahkan tidak akan menjawab. Terdengar berlebihan memang, tapi jika dilihat dari tingkah lakunya sedari tadi, aku rasa Hunter tidak melebihkan perkataanya. Damon memang sangat pendiam dan sedikit judes. Atau memang, dia benci dengan orang baru. Atau dia benci padaku. Aku tidak akan terkejut. Aku memang tidak semenarik dan seramah itu. Toh, bukannya aku akan sering bertemu dengan mereka, bukan? Lagi pula . . . untuk apa Hunter mengajakku ke rumahnya? Ini sesatu yang tidak lazim. Tidak pada tempatnya. Bagaimana tidak? Biasanya ‘kan orang setampan dan sangat populer seperti Hunter bergaul dengan bangsanya sendiri. Bukan denganku yang yah, begini saja. Toh, jika dipikir-pikir lagi, memang Hunter memiliki teman yang sesuai dengan levelnya. Tapi entah untuk alasan apa, dia malah memiliki untuk mengajakku ke rumahnya di saat sekolah libur begini. Di hari sabtu! Saat orang-orang memilih untuk bangun siang dan malas-malasan, Hunter malah menjemputku tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Lelaki yang aneh untuk seseorang yang memiliki wajah begitu sempurna. “Cordelia, kau pindah dari mana?” tanya Owen basa-basi, membuka pembicaraan ketika kami sudah selesai tur rumah—yang by the way, mendadak semua saudara Hunter yang jumlahnya ada tujuh orang itu mendadak ikut keliling dengan kami, yang akhirnya membuat Hunter darah tinggi dan terus mengusir mereka—dan duduk di sofa ruang tengah yang besarnya mungkin seluas satu rumahku. Aku meminum jus buah yang diberikan oleh Hunter saat dia kembali dari dapur, lalu menjawab pertanyaan Owen. “Aku pindah dari Doveport.” “Jauh juga,” sahut Orion. “Apa kau ke sini dengan mobil pribadi?” “Iya, Ibuku yang menyetir.” “Dari Doveport?” tanya Wyatt terkejut. “Keren. Ibumu itu pasti orang yang kuat.” “Tentu saja.” Aku tersenyum mendapat pujian tentang Ibuku. Mendadak, aku mengingat kejadian tadi pagi. Jangan berteman lagi dengan mereka, terutama Hunter. Kenapa Hunter? Apa yang membuat Ibu tidak suka dengan mereka berdua? Jika Ibu bilang jangan bergaul dengan Hunter, apa itu berarti aku juga dilarang untuk berteman dengan suadaranya? Berhubung Hunter adalah seorang Hawkwolf, begitu juga sekumpulan lelaki di depanku ini, bukan? Sejujurnya, bukan hanya itu saja yang ada di dalam benakku. Begitu banyak pertanyaan yang tak terjawab mengenai kepindahan kita. Ibu selalu bertingkah aneh dengan bersikap begitu misterius. Mengapa dia tidak bisa menjawab dengan sederhana tentang pertanyaan yang begitu mudah, yaitu “Mengapa kita pindah rumah?” dan lebih parahnya lagi, bukan hanya itu, tapi “Mengapa kita harus pindah rumah ke New Cresthill?” Ibu masih saja menghindari topik itu, dan sekarang, berani-beraninya dia melarang aku untuk berteman dengan dua orang yang lebih dulu menawarkan untuk menjadi temanku pula. Sudah bagus aku ada teman, walau dua orang teman ini pun tidak akur. Tapi yang jelas, aku yakin ada yang aneh. Tapi apa? “Bagaimana menurutmu tentang New Cresthill?” tanya Archer. Senyum kecilnya terlihat sangat lucu. Berbeda dengan senyum kotak Hunter yang, walaupun juga sama menggemaskan, namun di beberapa tempat dan konteks, terlihat begitu seksi. “Hm . . . menarik.” “Yang artinya juga aneh.” Sahut Wyatt. Mataku terbuka lebar. Buru-buru aku membenarkan diri sebelum penduduk lokal New Cresthill di sekitarku ini tersinggung. “Bukan begitu! Aku tidak pernah bilang kota ini aneh.” “Lantas?” “Aku bilang kota ini menarik. Apa itu tidak cukup? New Cresthill lumayan menyenangkan. Sesuatu yang berbeda.” Mereka terkekeh geli. “Menarik? New Cresthill?” Aku mengangkat bahuku tinggi. Wyatt menunggu jawaban dariku. Lalu aku menghela napas berat. “Hanya saja . . .” “Hanya saja . . . ?” Wyatt menambahi. “Kota ini aneh?” “Oke, jika kau mengatakan aneh itu terdengar sedikit . . . menghina. Aku tidak tahu harus mengatakan apa tentang New Cresthill. Sejujurnya, bukannya aku menyombong kalau aku berasal dari kota metropolitan atau apa, tapi kota ini terlihat begitu sepi. Misterius. Sejauh mata memandang yang ada hanya hutan belantara, lalu kabut, lalu hutan lagi, lalu bintang buas yang entah berjenis apa, lalu hutan lagi, hutan lagi. Aku terbiasa dengan bangunan tinggi, dan perumahan yang saling menyatu. Kota yang bising dan penuh dengan kehidupan.” “Menurutmu di sini tidak penuh dengan kehidupan?” Orion yang kali ini bertanya. “Hanya saja . . .” Wyatt tertawa kecil. “Tenang saja, Cordelia. Kau boleh mengatakan apa yang kau pikirkan. Kami tidak akan tersinggung atau apa.” “Kenapa tidak? Aku tahu aku akan sedikit kesal jika ada orang yang berkata buruk tentang Doveport.” “Tidak ada yang begitu mencintai New Cresthill. Kami bukannya bodoh atau apa. Semua orang bisa melihat tidak ada yang begitu spesial tentang kota ini. Tapi penduduk lokal hanya tahu tentang New Cresthill, dan New Cresthill saja. Kami tumbuh dan besar di kota ini. Jika kami bilang kami tidak sayang dan peduli dengan kota ini, itu namanya bohong. Tapi toh, kami tahu kota ini tidak begitu menarik dan tak ada bagusnya.” Aku menatap Wyatt dengan serius. Laki-laki itu sedari tadi selalu bercanda dan tertawa. Tapi ternyata, kakak tertua itu bisa serius dan bijaksana juga. Yang lain ikut mengangguk, sementara Hunter menyenggol lenganku. “Jadi? Apa pendapat pribadimu tentang New Cresthill?” “Sesungguhnya? Aku takut dengan kota ini.” Para Hawkwolf bersaudara saling melirik dan menyenggol lengan orang disampingnya. Hunter membeku di sampingku. Ketika aku melihat reaksi itu, aku sempat menyesali perkataanku tadi. Namun, mendadak Hunter mengangguk menandakan aku untuk melanjutkan kalimatku. “Kota ini . . . seperti yang aku bilang. Misterius. Dan menakutkan. Hutan di mana-mana? Apa kalian tidak takut akan ada binatan buas yang keluar dan menyerang penduduk dengan tiba-tiba? Seperti beruang? Babi hutan? Atau serigala?” Mereka tertawa seperti aku baru saja mengatakan sesuatu yang sangat lucu dan polos. Aku memberengut, merasa dipermainkan dengan sesuatu yang tak aku ketahui. Saat mereka sudah kembali seperti semula, aku menaikkan alisku dengan kesal. “Selesai?” “Selesai apa?” Owen balik bertanya. “Menertawakanku.” Jawabku pendek. “Kalian bilang aku boleh mengatakan apa pendapatku tentang kota ini, dan begini reaksi kalian?” “Maaf,” Hunter tekekeh. “Kami minta maaf.” “Lagi pula apa yang begitu lucu hingga kalian tertawa lebar begitu?” Lagi, mereka hanya saling melirik, kali ini dengan senyum kecil penuh arti. Kecuali Damon. Dia hanya terlihat bosan dan datar seperti biasa. Kali ini, aku berterima kasih pada sifatnya yang ketus itu, karena hanya dia satu-satunya orang yang tidak menertawakanku. “Tidak. Tidak ada.” Jawab Wyatt. “Dan Cordelia, kau tidak perlu khawatir tentang binatang buas di dalam hutan. Percaya pada kami, tapi hutan belantar di sekitar New Cresthill ada penjaganya, dan tidak mungkin akan ada binatang yang keluar dan menyerang penduduk lokal.” “Kau yakin?” “Yakin.” Mereka semua menjawa bersamaan. Aku menoleh pada Hunter. “Lalu, apa yang kau inginkan dengan membawaku ke sini?” Pertanyaan itu membuat Hunter seketika salah tingkah. Aku rasa dia tidak mengira akan ditanya begitu mendadak. Yang lain menatap kami bergantian, seperti tidak tahu apa yang harus mereka lakukan atau katakan. Begitu aku melihat Wyatt menyenggol lengan Archer, tiba-tiba saja mereka semua berdiri dengan sinkronitas tinggi. “Kami . . . hm . . . kami harus pergi.” Kata Wyatt. Damon yang paling terakhir berdiri, gerakannya malas dan pelan. “Akhirnya.” “Ke mana?” tanyaku cepat. Aku tidak bisa memungkiri, aku menyukai kehadiran mereka. Satu, karena mereka semua enak dipandang jadi aku tidak mungkin ingin mereka pergi. Dua, mereka itu lucu semua dan sangat menghibur jadi jelas saja aku ingin terus berkumpul dengan mereka. Tiga, mereka di sini berguna sebagai dinding antara aku dan Hunter jadi jelas aku tidak ingin mereka meninggalkanku sendiri dengan saudara keenam mereka ini! Jika aku dan Hunter dibiarkan berdua saja, apa yang akan kami bicarakan? Suasana pasti akan menjadi sangat canggung. Dan . . . apa aku ingin tahu alasan mengapa Hunter mengajakku ke ini? Ya ampun! Bagaimana jika selama ini aku sudah bodoh dan membiarkan orang asing ini mengundangku masuk ke dalam perangkap mereka? Bagaimana jika mereka punya niat jahat? Cordelia bodoh! Apa berjam-jam mendengarkan kasus tentang kriminal dan teori konspirasi tidak cukup? Setelah semua itu, bisa-bisanya kau mau saja dibawa oleh orang asing ke tempat yang tidak kau ketahui dan tanpa memberitahu siapa pun tentang keberadaanmu? “Duduk saja! Kalian tidak perlu pergi. Aku tidak keberatan. Ya ‘kan Hunter?” Yang ditanya hanya meringis. “Siapa yang ingin aku bohongi? Aku berharap mereka selalu pergi meninggalkanku sendiri.” Terdengar protes yang membuatku hampir saja tertawa, tapi satu yang paling terdengar adalah, “Heh, apa ini balasanmu? Aku sudah membesarkanmu selama bertahun-tahun lamanya!” Wyatt mendapat cibiran dengki dari Hunter. “Ibu yang membesarkan aku!” “Aku!” “Ibu!” “Kau pikir jika Ibu sedang keluar dan ber—“ Owen menepuk perut bagian bawah Wyatt dengan kencang. Lelaki itu terdiam sementara aku menatap mereka dengan curiga. Apa yang hendak Wyatt katakan? Kenapa Hunter menjadi tegang? “Intinya,” Orion menimpali. “Kami harus segera pergi, Cordelia. Kau lihat bagaimana kami keluar bersama-sama tadi, bukan? Kami ada urusan. Senang bertemu denganmu.” Mereka saling dorong agar bisa cepat pergi dari hadapanku dan Hunter. “Jika sedari tadi ada urusan, kenapa tidak dari awal pergi? Kenapa ikut aku dan Hunter tur rumah?” “Oh, itu . . . itu . . . hm . . . pertanyaan yang bagus . . . dan akan dijawab oleh Owen.” Kata Orion cepat. Owen membelalakan matanya. “Oh . . . hm . . . kenapa kita pergi . . . ? Oh, Wyatt bisa membantu menjawab!” “Ha . . . ha . . . Cordelia, aku . . .  aku rasa Archer yang akan menjawab pertanyaanmu.” “Kenapa aku?” protes Archer cepat. “Talon! Ayo cepat jawab.” “Serius? Aku? Kalian ingin aku yang jawab?” “Tidak!” mereka semua langsung berseru. Seketika, mereka menoleh pada Damon yang sudah berdiri paling ujung, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana. Dengan muka yang datar, dia mendongak dan menatap saudaranya. “Bukan urusanmu.” Jawab Damon pendek. Lalu dia pergi, yang langsung diikuti oleh yang lain. Wyatt, Orion, Owen, Archer, dan Talon melambaikan tangannya padaku dan cengengesan tak jelas. Aku hanya menggeleng heran, tak menyangka jika saudara seorang Hunter Hawkwolf akan begini lucu dan bodohnya. Damon tidak menoleh ke belakang sama sekali, tubuhnya yang cukup tinggi namun sedikit bungkuk—mungkin saking malasnya berjalan—dengan gaya yang sok dan santai pergi meninggalkan aku dan Hunter. Aku harus berusaha agar bisa akrab dengan Damon. Eh, pikiran macam apa itu? Untuk apa juga aku akrab dengan Damon? Memangnya aku akan terus kembali ke sini dan bertemu mereka? Tidak ‘kan? Saat menyadari jika aku dan Hawkwolf sudah benar-benar sendiri, aku mendadak merasa sangat tidak percaya diri. Tanpa aku sadari, tubuhku menjauh dengan sendirinya dari samping Hunter. Aku bisa merasakan tatapan Hunter yang menoleh padaku, mungkin merasa bingung karena aku yang tiba-tiba menjauhkan diri darinya. Bagaimana tidak? Dia Hunter Hawkwolf. Dari gosip sekolah, dia lelaki paling ditakutkan di sekolah. Terkenal dan kaya raya. Bagian kaya rayanya ‘sih sudah bisa aku buktikan sekarang. Berhubung tempat tinggalnya yang sebesar istana begini. Kalau terkenal, aku rasa bagian itu juga memang benar. Sudah beberapa hari aku masuk sekolah, dan hampir semua orang tahu siapa Hunter. Bahkan, saat dia lewat pun banyak murid yang menyapa dan memandangnya pergi. Sial. Kenapa aku mati kutu begini? “Ada apa denganmu?” tanya Hunter seperti bisa membaca pikiranku. Aku meliriknya dengan dengki. Masih bisa dia bertanya ada apa denganku? Tentu saja semuanya! Apa yang dia mau dengan mengundangku ke rumahnya? Kenapa dia mau berteman denganku? “Tidak.” “Tidak yang artinya banyak?” Aku membuang napas panjang. “Tidak artinya tidak.” “Lantas mengapa menjauh?” “Aku tidak menjauh.” “Kau tadi duduk di sebelah sini,” katanya sambil memukul ruang kosong di sebelahnya. “Sekarang kau di sebelah sana.” “Mungkin kau salah. Aku sedari tadi duduk disini kok.” “Oh ya?” Hunter melipat kedua tangannya di d**a. “Baiklah.” Lalu tahu-tahu dia yang pindah ke sampingku, tidak meninggalkan satu titik jarak pun di antara kami. Mataku terbuka lebar, merasakan hangat tubuh Hunter yang mendadak memenuhi ruangan. Aku mencium baunya. Seperti bau pepohonan saat habis hujan. Hampir saja aku menghirup seperti orang aneh, sebelum aku akhirnya menahan diriku yang memalukan ini. “Apa yang kau lakukan? “Duduk.” “Aku tahu itu. Tapi mengapa kau duduk di sini?” “Ini sofaku.” “Ini juga rumahmu, tapi apa kau melihat jika aku peduli itu?” kataku jengkel. Aku berusaha mendorong tubuhnya yang raksasa itu agar menjauh sedikit dari sampingku, namun dia sama sekali tidak bergeming. Hampir saja aku melempar batu permata yang dipajang di meja sofa jika tidak mengingat kalau pembunuhan adalah perbuatan yang keji dan aku tidak memiliki agenda untuk menjadi seorang kriminal. “Hunter, apa yang kau lakukan mengundangku ke rumahmu?” tanyaku akhirnya. Hunter terdiam untuk beberapa saat sebelum menjawab, “Kau temanku. Teman sering melakukan ini, bukan?” “Kita baru mengenal . . . berapa hari? Seminggu mungkin?” “Lantas? Aku selalu mengundang teman-temanku ke rumah. Tidak ada yang spesial.” Tidak ada yang spesial. Tentu saja Cordelia. Apa yang kau pikirkan? Memangnya Hunter mengundangmu kemari dengan suatu maksud yang lain? Percaya diri memang bagus Cordelia, tapi jika berlebihan, rasanya itu bukan percaya diri, tapi narsis. Atau lebih parahnya lagi, gila. Aku harap wajahku tidak memerah atau semacamnya. Aku melihat Hunter akan mengatakan sesuatu lagi, ketika mendadak pintu depan terbuka lebar. Aku tersentak kaget begitu pintu itu menerjang dinding di sampingnya, hingga mengeluarkan bunyi tabrakan antar kayu dan semen dengan kencang. Hunter melompat berdiri, satu tangan di depanku seperti akan melindungiku dari sesuatu yang berbahaya. Seorang lelaki yang cukup tua namun masih gagah dan kekar masuk dengan wajah yang basah dan lelah. Keningnya mengerut. Napasnya tidak beraturan. Dia tidak mengenakan kaus, hanya sebuah celana pendek yang sudah lusuh. Hunter menegang di sebelahku, lalu tangan yang tadinya hanya terbentang di depanku, kini sudah menggenggam jemariku dengan erat. Hunter menarikku menghampiri lelaki tadi. Wajahnya sama serius. “Ada apa?” tanyanya dengan suara berat dengan penuh otoritas. Aku terkejut ketika lelaki yang lebih tua tadi menunduk, seperti hormat pada Hunter. “Master Hunter.” “Beritahu, ada apa?” “Dean,” jawabnya. “Dean kabur.”  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN