DEAN KABUR. Aku tidak mengerti mengapa dua kata, satu kalimat itu begitu membuat Hunter dan satu orang ini sangat cemas dan khawatir. Aku juga tidak melewatkan bagaimana perasaan takut terpancarkan dari sorot mata mereka. Dean. Bukankah dia si tukang kebun tadi? Kenapa mereka begitu khawatir dia pergi?
Tunggu dulu. Bukan pergi, tapi kabur! Dean kabur. Ya ampun, apa dia mencuri atau semacamnya? Apa dia karyawan tidak tahu terima kasih yang tidak bisa membalas budi keluarga Hawkwolf dan akhirnya melakukan sesuatu yang fatal lalu kabur? Tapi bagaimana bisa seseorang melakukan kriminal di tengah hari begini?
Yah, tapi jika dipikir lagi, bisa saja dia melakukan itu semua. Rumah ini begitu besar dan megah, sangat luas seperti sebuah istana jaman Eropa dulu. Jika ada penguntit, maling, atau orang yang berniat jahat pun, masuk entah dari pintu mana, aku rasa semua orang tidak akan langsung mengetahui hal itu. Saat ini pun, bisa saja ada seseorang yang menyelinap masuk ke dalam rumah ini tanpa sepengatahuan siapa pun.
Kenapa? Karena rumah sebesar ini tidak ada penjaganya sama sekali. Aku sudah berpikiran akan bertemu dengan penjaga atau semacamnya, tapi tidak ada. Satu pun. Tidak ada yang berjaga di gerbang depan, di bangungan tempat tukang kebun bekerja, di taman patung yang terlihat indah, di danau kecil belakang rumah, atau setidaknya di depan pintu. Atau yah, setidaknya seseorang yang berjaga di pos rumah atau semacamnya. Rumah ini bahkan tidak memiliki CCTV.
Apa mereka tidak takut jika ada orang yang berniat jahat?
“Dean? Kapan?” Hunter bertanya dengan otoritas penuh. Alisku terangkat naik, lagi-lagi terkejut dengan sikap itu. Kenapa Hunter selalu bersikap superior dari semua orang?
Bukan sikap superior yang buruk atau sombong, melainkan seperti seorang pemimpin yang memiliki wewenang tinggi. Seperti kemarin di hadapan Mr. Bart, dan sekarang di hadapan laki-laki ini. Seperti dugaanku, lelaki tadi menjawab dengan patuh dan hormat. Aku ulang, patuh dan hormat pada anak sekolah menengas atas yang mungkin jika dipikirkan, masih ingusan dan tidak tahu apa-apa!
Ya ampun, apa keluarga Hawkwolf sekaya itu? Apa Hunter ini semacam tuan muda kaya raya atau sejenisnya? Jangan bilang aku sudah masuk dalam sebuah kisan romansa picisan ala drama Korea di mana lelakinya seorang anak konglomerat yang memiliki kekayaan tiada habisnya, sementara aku gadis biasa saja yang butuh dilindungi.
Cih, aku tidak butuh dilindungi. Aku kuat, aku bisa melindungi diriku sendiri.
“Aku tidak tahu. Aku menunggunya semalaman, tapi tadi pagi aku pergi sebentar untuk mengambil baju dan obat-obatan di bangsal, namun saat aku kembali . . .” Lelaki itu menoleh padaku sedetik, lalu tidak melanjutkan kata-katanya lagi. Dia terdiam dan menengok ke arah Hunter. Hunter hanya mengangguk, seperti bisa menangkap apa pun itu yang akan dikatakan oleh lelaki yang tahu-tahu datang dengan gaya heboh dan panik itu.
Aku berdecak, merasa tidak dianggap dan tidak berarti. “Hm . . . kalau begitu, aku pulang saja? Aku rasa ada sesuatu yang genting yang sedang terjadi. Aku tidak ingin menghalangi kalian atau semacamnya.”
“Tidak, lebih baik kau tinggal di sini.” Kata Hunter.
Bukan hanya aku yang terkejut, namun lelaki di depanku juga sama kagetnya. Dia mengerutkan keningnya dengan bingung, sementara Hunter tidak memedulikan kami dan hanya terdiam, memikirkan sesuatu dengan sangat keras. Lalu tubuhnya menegang lagi, urat-urat di tangannya terlihat jelas. Aku tanpa sadar mundur satu langkah, merasa familiar dengan adegan Hunter yang naik pitam.
“Hunter? Apa yang kau katakan?” tanya lelaki itu akhirnya. Dia melihat aku, lalu Hunter, lalu kembali lagi padaku. Setelah beberapa lama tidak menerima jawaban dari Hunter, dia menganga. “Ini?”
“Iya.”
Apa?
“Oh . . . baiklah. Kalau begitu, apa kita ke atas saja? Di mana yang lain?”
Ke atas? Aku tidak diajak, ‘kan? Siapa yang mau ke atas! Aku tidak mau!
“Aku tidak tahu. Yang lain baru saja keluar, tapi mereka pasti tidak jauh dari sini. Aku bisa memanggil mereka.” Kata Hunter. Dia mengepalkan tangannya seperti bersiap-siap.
“Baiklah, aku mengerti.”
“Seperti apa saat kau melihat Dean terakhir kali?”
“Parah.”
Parah? Apa artinya itu? Apa dia sedang kesusahan? Sedang depresi? Sedang tidak terliat sehat? Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Kenapa juga Hunter begitu cemas! Jangan-jangan Dean ini orang yang sangat berbahaya sehingga mereka semua takut dan tegang begitu. Tapi ‘kan, dia hanya tukang kebun!
“Kamarku.” Satu kata itu keluar dari bibir Hunter sebelum mendadak aku ditarik olehnya ke arah tangga yang berbelok dan sangat tinggi. Mataku terbelalak, namun aku masih sempat untuk mencekal pergelangan tangannya. Yah, tentu saja tidak ada gunanya. Dia begitu kuat, sedangkan aku begitu kecil dan tidak berdaya. Jika dipikir, bisa saja Hunter tidak menarikku seperti ini, melainkan menggendongku hingga aku tidak bisa berkutik.
Ke kamarnya? Enak saja!
“Heh, apa yang kau lakukan? Jangan macam-macam ya! Aku akan teriak! Ini namanya pemaksaaan! Heh!”
“Bisakah kau diam? Aku sedang konsentrasi.”
Aku terdiam dan melihat keringat turun dari keninganya berkerut penuh konsentrasi. Matanya memandang jauh ke depan, seperti sedang berbicara dengan pikirannya sendiri.
Ya ampun, ini dia. Aku pikir Hunter itu orang yang sempurna. Tapi seharusnya aku tahu lebih baik.Tidak ada orang yang sempurna di dunia ini. Aku ulangi, tidak ada orang yang sempurna di dunia ini. Jika dipikir, Hunter memang aneh. Sejak pertama kami bertemu, dia sudah mengatakan kata-kata tidak bermakna seperti mate dan semacamnya. Lalu datang ke rumahku tanpa diundang. Bersikap sangat posesif entah kenapa. Protektif juga. Dan sekarang, bertingkah seperti orang yang memiliki kekuatan super atau sejenisnya.
Tidak ada orang yang sempurna di dunia ini.
Ternyata Hunter Hawkwolf itu orang gila.
“Apa yang kau lakukan? Bisakah kau berhenti sebentar dan mengatakan apa sedang terjadi? Hei, Hunter! Berhenti sekarang juga dan katakan apa yang sedang terjadi! Setidaknya jelaskan mengapa kau menarikku begini! Entah ke mana. Jangan berpikir yang tidak-tidak ya, aku tidak mau masuk ke dalam kamarmu. Kita baru kenal beberapa minggu!”
Tapi bukannya berhenti, lelaki itu malah menaiki tangga lebih cepat. Langkahnya besar-besar, alhasil aku harus berusaha untuk menyamakan langkahku dengannya. Kalau tidak, bisa-bisa aku malah diseret Hunter ke atas. Lelaki itu tidak menggubris perkataanku dan lanjut naik ke lantai tiga.
“Hunter!” bentakku tak sabar. “HUNTER!”
Kali ini dia berhenti. Ada rasa terkejut di wajahnya. Mungkin tidak pernah mengira akan ada orang yang berani berteriak di mukanya, atau yah, tidak pernah mengira aku akan bisa melawan dia. Dengan wajah sengak, aku menepis tangannya. Kali ini berhasil. Aku melihat bekas merah di pergelangan tanganku. Hunter terdiam dan menunggu apa yang akan aku katakan.
“Apa yang sedang terjadi? Kau tidak bisa seenaknya begitu! Setidaknya, jelaskan padaku kenapa kita harus naik ke sini. Kenapa aku begitu terburu-buru. Kenapa kau tegang, dan ada apa dengan Dean? Apa yang begitu penting hingga aku harus ke kamarmu? Bukankah lebih baik aku pulang saja?”
“Tidak, itu tidak aman.”
“Tidak aman kenapa?” tanyaku heran. “Aku akan pulang ke rumahku dan kau bisa menyelesaikan apa pun ini yang sedang terjadi.”
“Satu, aku tidak memiliki waktu yang banyak, yang artinya aku tidak bisa mengantarmu pulang. Dua, aku tidak bisa membiarkan kau pulang sendiri, itu terlalu beresiko dan berbahaya. Dean bisa saja masih berada di sini, dan aku tidak ingin kau bertemu dengannya di jalan pulang. Tiga, kau lebih baik berada di sini. Setidaknya, di sini kau akan aman. Dean pasti belum jauh, dan jika aku dan yang lain bergegas, kami masih bisa mengejarnya.”
Aku memutar kedua bola mataku. Hunter benar-benar pandai dalam mengubah realita dan memutar kata-katanya. Dia baru saja menjawab pertanyaanku tanpa menjelaskan apa pun. Satu pun! Kenapa dia tidak memiliki waktu yang banyak? Kenapa dia harus mengantarku pulang? Kenapa dia tidak bisa membiarkan aku pulang sendiri? Apa yang terlalu memiliki resiko dan bahaya? Memangnya apa yang Dean lakukan? Apa dia psikopat sakit jiwa yang sangat haus darah? Kenapa aku lebih aman di sini?
“Jelaskan lebih detail lagi, Hunter. Aku butuh lebih dari sekedar ‘di sini lebih aman’!”
Hunter bedecak tidak sabar. “Nanti saja! Aku akan menjelaskan segalanya nanti, jika kau berjanji akan ikut denganku ke atas dan diam di sana hingga aku kembali.”
“Kau bisa saja seorang psikopat, Hunter! Memangnya kau pikir aku akan ikut begitu saja ke kamarmu—“
Kalimatku tidak pernah selesai karena tahu-tahu saja Hunter membungkuk di hadapanku, lalu dengan tenaga yang tak besar, dia mengangkat tubuhku hingga terbalik di bahunya. Hunter lalu melangkah naik dengan pasti dan cepat. Aku berteriak, menendang-nendang kakiku dengan kesal dan jengkel.
“Hunter! Turunkan aku sekarang juga!”
“Tidak bisa.”
“Hunter, ini namanya penculikan!”
“Ini bukan penculikan, ini namanya penyelamatan. Percaya padaku Cordelia, lebih baik kau di sini dan jangan keluar dulu,” ucapnya saat kami sudah sampai di kamar yang Hunter sebut sebagai miliknya ini. “Aku berjanji, aku tidak bermaksud buruk atau semacamnya. Kebalikan dari itu, justru aku berniat untuk menolongmu. Jika aku sudah selesai dengan urusan ini, aku akan segera kembali dan mengantarmu pulang.”
“Urusan apa?” tanyaku. “Urusan apa yang begitu penting dan mencemakan sehingga aku tidak memiliki waktu banyak dan aku harus diam di sini? Di dalam kamarmu? Kau pikir aku bodoh!”
“Cordelia sungguh! Aku tidak akan pernah melukaimu. Dan . . . dan aku . . . tidak bisa menjelaskan segalanya sekarang. Yang jelas, lebih baik kau diam di sini, OK?
“Hunter, serius, ada apa? Jika Dean memang sangat bahaya seperti yang kau bicarakan, bukankah lebih baik kau menghubungi polisi? Biarkan pihak yang berwajib yang mengurus apa pun itu yang sudah Dean lakukan.”
“Tidak bisa. Kami yang harus menyelesaikan urusan ini. Lagi pula, pihak yang berwajib tidak bisa melakukan apa pun untuk menghentikan Dean.”
“Apa yang sebenarnya Dean lakukan?”
“Nanti. Nanti aku akan memberitahumu. Sekarang, kau diam di sini. Janji?”
Aku hanya mengangguk lemah, tidak lagi bisa melawan atau mencoba mencari jawaban dari Hunter yang masih tetap tidak ingin menjelaskan apa pun itu sekarang. Jadi, aku hanya terduduk lemas di kamar seorang Hunter Hawkwolf, sementara lelaki itu pergi meninggalkanku.
~ ~ ~
Beberapa jam berlalu, namun tidak ada satu pun orang yang datang menemuiku. Pintu itu tidak kunjung terbuka. Dan sejujurnya, melihat dari gelagat lelaki tadi, Hunter yang begitu panik dan cemas, aku tidak ingin mengetahui dengan bodoh apa yang sebenarnya terjadi. Aku setidaknya bisa mengetahui bahwa apa pun ini yang sedang terjadi di antara Dean dan Hunter dan lelaki tadi, sangat tidak aman.
Kamar Hunter berbeda dengan yang aku pikirkan. Aku pikir, kamarnya akan terlihat seperti kamar remaja lelaki pada umumnya. Berantakan dan bau. Yah, bukannya aku menghakimi setipa kaum remaja lelaki, tapi ‘kan pada umumnya memang begitu kenyataannya. Pakaian kotor di mana-mana, barang berantakan, bau tak sedap yang datang dari bekas bungkus makanan dan pakaian yang sudah berhari-hari, atau kamar gelap tanpa pencahayaan apa pun.
Yang aku temui saat Hunter keluar dan aku melihat ke sekeliling adalah kamar yang begitu rapih aku jadi minder untuk duduk di seprainya. Kamarnya bergaya Eropa seperti rumahnya. Lemari besar berdiri tegak di pojok ruangan. Kamar mandi dalam juga terlihat putih bersih, wangi, dan mengkilat. Peralatannya tertata rapih di meja dan kursi. Lalu kamarnya bersinar terang, cahaya matahari masuk dari tirai raksasa di jendela besar kamar Hunter.
Aku terkesiap. Ini seperti kamar raja rasanya.
Aku tidak lagi tahu harus berbuat apa selain menganga melihat barang-barang milik Hunter. Piala berbagai macam lomba olahraga, alat musik—gitar dan piano dan biola—berjejer rapih di pinggi jendela, buku-buku yang dipajang rapih di rak besar, lalu ada komputer bermerek apel yang paling terbaru.
Sial, apa di rumah ini ada Wi-Fi? Tau begitu sejak tadi aku menggunakan fasilitas gratis itu.
Saat aku akan mengampiri rak buku yang besar dan berisikan banyak buku yang menarik, mendadak aku mendengar keributa dari luar. Tanganku membeku di udara. Samar-samar aku bisa mendengar orang berteriak, tapi di antara teriakan itu aku bisa mendengar lolongan kencang yang membuat darahku rasanya berhenti berjalan.
Suara lolongan serigala yang mengerikan terdengar begitu jelas dari luar rumah. Aku rasanya ingin mati saja. Apa ada serigala nyasar? Apa dia keluar dari hutan dan masuk ke pekarangan rumah Hunter yang sangat besar itu?
Lalu siapa yang berteriak-teriak di luar sana?
Aku memberanikan diri dan menghampiri jendelan kamar Hunter. Di luar sana, pekarangan rumah yang besar dan taman patung terlihat jelas dari atas sini. Aku menelan ludah saat melihat beberapa saudara Hunter sedang sibuk berlarian ke sana-sini, tubuh mereka dipenuhi keringat basah dan adrenalin tinggi. Aku tidak mengeluarkan kata apa pun kecuali tarikan napas yang tinggi.
Di bawah sana, Archer, Talon, Owen, dan Orion sedang memutari sesuatu yang bergerak begitu cepat dan buas. Sebuah serigala raksasa.
Aku tidak bohong. Serigala itu memang benar-benar raksasa. Aku tidak bisa memungkiri bagaimana empat lelaki jangkung itu pun tidak bisa membuat serigala itu terasa kecil. Tinggi mereka hanya hampir menyentuh leher sang serigala, sedangkan si serigala masih terus melolong tanpa akal.
Aku rasanya ingin berteriak agar mereka kabur. Apa ini bahaya yang Hunter katakan? Kalau aku bisa bertemu dengan serigala nyasar di jalan pulang? Lalu bagaimana dengan Dean? Di mana dia? Di mana Hunter?
“Hunter . . .” gumamku pelan, sangat pelan hingga aku yakin jika ada orang di dalam ruangan ini pun, mereka tidak akan bisa mendengar apa yang aku katakan.
Tapi anehnya, serigala di bawah mendadak berhenti. Begitu juga napasku saat dua bola mata menakutkan milik serigala tersebut mendongak ke atas, dan berpas-pasan dengan mataku yang terbuka lebar. Aku menelan ludah. Serigala itu melolong sekali lagi dengan lantang, sebelum akhirnya menerobos masuk ke dalam rumah, membuat keributan yang menulikan telinga.
Aku meringis, sebelum melihat Archer yang berhenti paling akhir dan menatapku dengan tajam, “Cordelia, lari!”
Tapi aku tidak bisa lari. Aku hanya terdiam lemas. Apa dia akan ke sini? Apa serigala itu melihatku dan akan menerjangku di sini? Tapi Hunter bilang di sini aman! Hunter bilang aku di sini tidak bahaya!
Aku tersentak kaget begitu pintu kamar Hunter roboh, dan serigala besar dengan gigi taring dan mata yang lapar memandangku dari ambang pintu.
Aku menutup mataku, dan menggumamkan satu nama itu lagi dengan penuh harapan.
“Hunter . . .”