"Hei Shel. Lo pernah gak sih, mikir kayak gini?" tanyaku. "Kayak gimana?" "Gini. Perempuan cantik hanya untuk lelaki yang tampan. Dan perempuan kaya, hanya untuk lelaki yang kaya pula. Pernah mikir kayak gitu, nggak?" tanyaku. "Enggak," jawabnya. "Beneran enggak?" tanyaku. "Iya beneran." "Kenapa nanya gitu?" tanyanya kemudian. "Hahaha ... Ya nggak kenapa-napa, sih. Cuma gue kayak gimana gitu soal itu," jawabku. "Gimana?" tanya Shela. "Kalau gue perempuan, mungkin gue bakalan sangat suka kalau dapat pasangan cowok yang kaya raya. Tapi gue laki-laki. Dapat pasangan yang kaya raya, sedangkan gue kayak gini, rasanya kayak minder gitu," ucapku. Ya, itu adalah perkataan yang sangat salah. Tanpa aku sadari, itu telah menunjukkan bahwa aku lelah menjalanj hubungan berpacaran dengan Shela

