"Parah. Tumor. Emang lo pikir gue arah mata angin?" tanyaku ikut bercanda. "Itu timur, Daniel. Astaghfirullah," ucapnya membetulkan. Aku tertawa pelan. Saat itu, padahal posisiku baru saja mendapatkan ancaman dari dua lelaki yang juga merupakan teman sekelasku. Tapi berkat Shela, aku bisa melupakannya. Dari gayanya yang sederhana, Shela berhasil menciptakan sebuah tawa yang sangat berharga untukku. Dia adalah berlian yang bukan sembarang orang bisa memilikinya. Hanya orang-orang yang tepat dan beruntung saja yang bisa memilikinya. Bahkan ketika sudah dimiliki pun, berlian harus tetap dijaga sepenuh hati. Karena pastinya, banyak sekali manusia yang menginginkannya. Dia itu bagai angin yang berhembus. Yang sepoi-sepoi nya bisa menghadirkan rasa nyaman pada diri manusia. Yang kencangnya b

