"Ya nggak tahu. Ngikut kamu aja aku," jawabnya. "Sudah kuduga," kataku. "Sudah kamu duga apa?" tanyanya. "Kamu pasti akan bilang kayak gitu," jawabku. "Hahaha ... Ya sudah, karena kita enggak pakai helm, mending kita perginya jangan jauh-jauh. Kita ke restoran aja. Aku lapar. Nanti aku traktir, lah," ucap Shela. "Kamu mulu perasaan yang nraktir," ucapku. "Gak apa-apa. Kan aku yang mau, bukan kamu yang minta atau maksa," ucapnya. Aku menghela napas pelan. Selalu saja ia seperti itu. Untuk menolaknya pun percuma. Ujung-ujungnya dia tetap ingin melakukannya. Malahan, jika menolaknya, maka akan terjadi perdebatan panjang yang tidak ada ujungnya. Mau tidak mau, aku harus mengalah. Walaupun pada akhirnya, aku selalu merasa tidak enak hati. Singkatnya, kami sampai di sebuah restoran. Kami

