Oh ya, tentang perihal permintaanku kepada pamannya Shela. Sehari setelah aku menemuinya, datang seorang lelaki yang mengaku sebagai pesuruhan pamannya Shela. Lelaki itu datang ke rumahku sembari membawa amplop yang aku tidak tahu isinya apa. Namun kata orang itu, isinya adalah uang gaji ibuku yang belum sempat dibayar. Aku pun menerimanya. "Gaji ibu kamu? Gaji apa, Niel?" tanya bapak setelah orang itu pergi. "Bapak lupa, ya? Kan dulu, ibu belum sempat menerima gaji dalam kerjanya selama sebulan. Kemarin aku meminta hak ibu ini ke orang itu. Eh, dikasih beneran," ucapku. "Jadi ini murni punya ibu kamu?" tanya bapak. "Iya," jawabku. Kami membuka amplop tersebut yang ternyata berisi uang pecahan seratusan ribu. Kami hitung berapa jumlahnya. Ternyata lumayan banyak juga meski tidak genap

