Aku tersentak. Kuurungkan niat untuk pergi dari sana. Aku pun kembali duduk dan ingin melontarkan satu atau dua pertanyaan ke dia. Saat itu entah kenapa aku terlalu tertarik dengan ucapan terakhirnya. "Kenapa Paman ingin aku jadi suaminya Shela?" tanyaku. Dia tersenyum, kemudian menjawab. "Beberapa hari yang lalu Shela sudah banyak bercerita tentang kamu, termasuk bercerita tentang tindakan heroik kamu ketika menyelamatkan dia dari dua laki-laki sialan itu. Saya pikir kamu bisa menjadi pasangan yang baik bagi dia, yang bisa menjaga dan melindungi dia bahkan sekalipun itu harus bertaruh nyawa," ucapnya. Itu merupakan sebuah sanjungan untukku. Tindakan refleks ku di malam itu ternyata berpengaruh besar bagi masa depanku. Padahal, aku tidak ada niatan apa-apa lagi selain hanya ingin mengel

