Tentu aku tidak mau kalah. Aku tetap memaksa ingin mengantarkan dia pulang karena aku merasa bahwa itu adalah kewajibanku. Menjaga keselamatannya adalah tugasku. Dan kalau sampai dia jatuh ke dalam marabahaya, maka aku lah yang akan merasa bersalah dan menyesal. "Kalau kamu tetap memaksa untuk pulang sendiri, maka anggap saja ini hari terakhir kamu untuk aku perbolehkan masuk di rumah ini," ancamku. "Kamu, ih. Maksanya kebangetan. Ya sudahlah. Daripada nggak dibolehin ke sini lagi, lebih baik ngalah aja," katanya. "Nah, iya. Itu lebih baik," kataku. "Jadi ngerepotin kamu tahu, nggak?" katanya. "Gak apa-apa. Aku suka direpotin," ucapku. Sore itu benar-benar aku antarkan dia pulang sampai ke rumahnya. Menyenangkan sekali rasanya belajar sambil ditemani olehnya. Aku merasa semangat bela

