Tertawalah aku dengan puas karena bisa membuatnya salah tingkah. Kurasa saat itu wajahnya telah memerah karena malu. Atau mungkin bahkan ia sudah membenamkan wajahnya di kasurnya. Entahlah, aku tidak paham. Karena aku memang tidak ada di sampingnya. "Ya udah tutup aja," kataku. "Oke," katanya. "Ya udah tunggu apa lagi?" tanyaku. "Tunggu kamu selesai ngomong," jawabnya. "Ya udah, tunggu dulu ya. Aku mau ngomong. Panjang banget," ucapku. "Iya. Mau ngomong apa? Aku dengerin nih," katanya. Aku hembuskan napasku dulu untuk persiapan mengucapkan kata-kata yang harusnya tidak pernah aku ucapkan ke dia. Kenapa? Karena kata-kata itu layaknya janji yang harus ditepati. Padahal saat itu aku pun tidak tahu bisa menepatinya atau tidak. "Di olimpiade nanti, aku tidak akan mengecewakan kamu. Aku

